RENUNGAN JUPITER

Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam, di atas batu yang hitam, di malam yang amat kelam.

The Constraint of Freedom – Jupiter

Posted by jupiter pada Agustus 21, 2007

The Constraint of Freedom
Tuesday, August 21, 2007
Oleh: Jupiter

17 Agustus 2007. Hari ini, di sini. Inilah hari yang seharusnya menggoreskan satu cerita indah tentang arti kata ’merdeka’. Hari istimewa yang sudah kami nantikan selama hampir dua minggu memberikan ironi yang berbeda. Akhirnya kami dipaksa untuk menerima kenyataan pahit bahwa sesungguhnya cinta yang kami punya selamanya tidak akan pernah bisa terwujud nyata.

Mungkin kekasihku telah disuntik sejenis racun anti kebebasan. Mereka yang menyebut diri ”keluarga terkasih” tega menjebloskan kekasih ke dalam satu jeruji rumah tangga yang teramat sangat pengap. Kebebasan? Astaga. Bagi kami, kata itu adalah kata yang sangat mahal harganya. Jangankan mempunyai dan menikmatinya, sekadar mengemisnya pun kami tak sanggup.

17 Agustus 2007. Hari ini, di sini. Di dataran kota yang sama, yang hanya berjarak 200 meter dari istana emas yang memenjarakan kekasih, aku check in. Setelah menabung sekian lama, akhirnya aku berani membumbungkan sayapku tinggi-tinggi, terbang melintas ratusan kota dan desa, menuju kota terkenal di Sumatra, kota tempat kekasih merajut mimpi bertemu denganku.

Dalam taksi yang membawaku ke hotel, ponselku menjerit. Sepotong SMS masuk. Dari kekasih. Aku membaca cepat, seketika hatiku berdarah. Kelopak mataku memanas menahan desakan buliran air mata. Inilah bunyi SMS itu.

My parents finally know. I think I am coming out now. I am sorry, forgive me. I didn’t mean to make you suffered by them.

Aku termangu.

Kekasih merupakan sosok perempuan yang mempunyai banyak potensi. Pendidikan serta keterampilan yang dimilikinya merupakan cermin dari kemajuan zaman. Namun semua itu menjadi sia-sia. Tak ada seorang pun diperbolehkan untuk melihat, merasakan, apalagi menikmati segala keindahan yang dimilikinya.

Seperti Siti Nurbaya, dia dinikahkan dengan Datuk Maringgih. Di balik istana emasnya, dia menggigil dalam Gua Rumah Tangga kamuflase, yang dikibarkan untuk mengusung kehormatan keluarga besar. Tak ada cinta, tak tersentuh hasrat. Hak merdekanya telah dirampas secara paksa. Di era globalisasi, di mana teknologi sudah menjadi santapan sehari-hari, cerita hidup kekasih memang sulit untuk dipahami.

Di hotel, aku hanya bisa menunggu. Tak ada yang bisa aku perbuat selain bersabar. Sunyi, sepi dan hampa. Bibirku bergetar hebat, menahan geram yang mulai tak sanggup kutahan. Mendadak aku yakin, perjalananku yang telah melintasi hamparan samudra serta rimbunnya hutan Sumatra sama sekali tidak akan membuahkan hasil.

Dia tidak diizinkan pergi oleh bundanya, bahkan untuk sekadar menengokku di hotel. Cinta kami dianggap hina dan nista oleh mereka. Tiga hari aku nggak bisa melakukan apa-apa, hanya bengong dan menunggu. Kekasih berusaha berontak, nekat mengunjungiku. Tapi pertemuan lima belas menit kami menjadi hambar karena ternyata suaminya berhasil memergoki kami berdua di kamar hotel. Hhhh… Kutatap wajah suaminya. Tampaknya dia adalah lelaki yang baik hati. Tapi kekosongan jiwanya terpancar sangat jelas sehingga membuatku turut iba. Dia tidak ada bedanya dengan kondisiku.

17 Agustus 2007. Hari ini, di sini. Di satu kota yang menjunjung tinggi nilai agama, aku dihadapkan pada satu kenyataan pahit yang mengiris hati dan melecehkan perjuangan pahlawan perempuan Indonesia. Bayang-bayang impian tentang pertemuan penuh kebahagiaan kami kandas. Kekasih dipenjara di rumahnya. Aku diinterogasi bak seorang pencuri ketahuan mencuri ayam. Padahal tidak ada niat jahat sedikit pun. Hatiku penuh cinta.

Abang kekasih sepenuhnya menyalahkanku, sebagai perempuan perusak rumah tangga orang. Mereka mengancam akan melibatkan pihak berwajib jika aku tidak mengakhiri hubunganku dengannya. Dengan tetap menjaga ketenangan, aku terpaksa harus berbohong, mengatakan aku tidak tahu apa yang mereka maksud. Kukatakan bahwa aku dan kekasih adalah teman, titik. Aku datang ke kota ini dengan tujuan bisnis, bukan pertemuan romantis ala sepasang lesbian yang saling kesengsem. Meski harus bohong, tapi itu bohong demi kebaikan. Karena kalau saat itu aku jujur, aku takut terjadi hal yang lebih buruk pada kekasihku. Saat itu, kuhadapi kemarahan mereka dengan sangat tenang dan sama sekali tidak ada rasa gentar!

Maafkan aku, kekasih. Aku tahu dia pasti akan menangis semalaman, sampai matanya sembap. Aku tak sempat melihat bilur tubuh dan lengannya yang lebam disebabkan oleh cekalan tangan perkasa dari tujuh orang. Cekalan yang bertujuan agar kekasih tidak nekat kabur bersamaku. Kata kekasih, tubuhnya sakit, tapi lebih sakit lagi jiwanya.

Sementara aku? Gara-gara interogasi mereka, aku ketinggalan pesawat. Untung Air Asia mempunyai kursi kosong pada jam berikutnya, sehingga aku tetap bisa pulang. Aku tidak dapat membayangkan apa lagi yang harus kuhadapi jika aku harus tinggal sehari lagi.

17 Agustus 2007. Hari ini, di sini. Kemerdekaan menjadi barang usang bagiku dan kekasih. Lupakan kebebasan. Lupakan freedom. Yang kupunya hanyalah kertas kumal yang isinya tulisan tanganku. Tulisan dari jari-jari gemetar dan kertas yang penuh air mata. Tulisan kacau balau. Berantakan, tentang arti kata merdeka yang sesungguhnya…

@Jupiter, SepociKopi, 2007

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: