RENUNGAN JUPITER

Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam, di atas batu yang hitam, di malam yang amat kelam.

Mendengar Curhat – Jupiter

Posted by jupiter pada Agustus 3, 2007

Mendengar Curhat
Friday, August 3, 2007
Oleh : Jupiter

Sudah beberapa hari ini kekasih berubah menjadi over protected padaku. Setiap lima menit sekali dia menyerangku dengan SMS yang seolah tak pernah bosan mengungkapkan kerinduaan dan kekhawatirannya pada keadaanku. Semenit saja aku terlambat membalas, dia langsung uring-uringan.

Awalnya aku merasa bangga diperlakukan sangat spesial. Tapi lama kelamaan aku merasa jengah juga, mungkin karena sudah merasa kekenyangan terlalu dimanjakan. Segala perhatiannya yang mulai berlebihan membuat langkahku seperti dibatasi, bahkan semakin hari aku merasa semakin tidak diberi kepercayaan. Apa saja yang kukerjakan, harus melalui persetujuan dia terlebih dahulu. Dan parahnya lagi aku merasa, segala kejujuran dan keterbukaanku selalu menjadi salah di matanya.

Setelah terlebih dahulu mematikan ponsel, kunikmati pemandangan di sepanjang ruas jalan tol. Hari ini aku sama sekali tidak ingin diganggu oleh serangan gencar SMS dan teleponnya yang kuanggap hanya merusak konsentrasi bisnisku saja. Toh bisnis yang sedang aku perjuangkan ini juga semata hanya untuk mewujudkan segala impian dan cita-cita kami berdua.

Kurang lebih 1 jam 30 menit, akhirnya Honda Jazz merah metalik yang membawaku beserta partner bisnis sampai ke tempat yang dituju. Layaknya pasangan eksekutif muda kebanyakan, dengan penuh wibawa kami melangkah memasuki gedung pertemuan. Yang selanjutnya menenggelamkan kami dalam kumpulan orang-orang yang berkedok politik.

Hanya memakan waktu kurang dari satu jam, akhirnya pertarungan tender tersebut berakhir dengan kekalahan berada di pihak kami. Keterlambatanku dalam mengajukkan surat penawaran telah membuat segala harapanku untuk segera memboyong kekasih musnah seketika. Dengan langkah lunglai aku berjalan meninggalkan ruang eksekusi tersebut.

Begitu sampai di luar gedung, dengan alasan ada keperluan lain, aku mempersilakan partner bisnisku untuk pulang dulu. Aku tidak mau membawa kekalutan pikiranku ini ke rumah. Masih terbayang jelas di pelupuk mataku, wajah bunda yang tadi mengiringi kepergianku dengan rangkaian doa demi kelancaran usahaku. Berita buruk ini tak boleh tercium oleh bunda, biarlah beliau tetap menganggap aku selalu jaya. Cukup sudah segala penderitaan yang dihadirkan oleh saudara-saudaraku, aku nggak mau melihat bunda meneteskan air mata hanya karena kekalahan yang aku terima hari ini.

Dengan punggung tangan, kuseka peluh yang mengucur deras di dahi. Kutebar pandangan ke sekitar. Di antara deretan mobil tersebut aku melihat sebuah taksi dengan lampu atasnya yang menyala. Setelah melambaikan tangan, kuhampiri taksi kosong tersebut. Fhiuhhh… lega rasanya, begitu udara dingin yang ditebarkan AC menerobos masuk melalui pori-pori kulitku yang terasa mulai mengering. Aroma lemon menjadi terapi yang sangat ampuh, dalam sekejap aku sudah merasa rileks kembali.

“Bekasi, Pak,” ujarku begitu sudut mataku bertemu dengan tatapan tanya dari sopir.

Dengan langkah tenang, aku menuju pintu gerbang sebuah mal terbesar yang ada di kota kenangan ini. Setelah melalui satu tangga berjalan yang menuju ke lantai dua, akhirnya aku sampai di depan sebuah toko kosmetik yang dulu menjadi tempat tongkrongan favoritku.

“Permisi,” sapaku lembut, begitu melihat dua gadis yang mengenakan blazer warna biru langit tengah asyik menikmati santap siang mereka di balik meja kasir.

Mereka terbelalak. ”Tetehhh… Wuizz ke mana aja? Sombong… mentang-mentang udah jadi business woman, nggak ingat lagi sama kita!” seru gadis yang berperawakan agak kurus memberondong kedatanganku di sela kunyahan di mulutnya yang masih terlihat penuh. Sementara gadis yang satu lagi yang berperawakan sangat ideal dan berwajah lebih manis, hanya terpana menatap kehadiranku yang tiba-tiba tersebut.

Dengan hanya melemparkan senyum dan berlaga tidak menghiraukan kekagetan mereka, aku langsung masuk dan duduk di sofa favorit yang letaknya di pojok ruangan. Kukeluarkan sebungkus rokok filter yang ada di tas kerjaku. Setelah mengembuskan kepulan asap pertama, aku menarik napas lega. Akhirnya aku bisa menikmati ketenanganku kembali, setelah hampir 5 jam aku menahan untuk tidak menyentuh sahabat setiaku ini.

Beberapa menit kemudian, Amel menghampiri dengan membawa segelas kopi hitam kesukaanku. Setelah meletakkan kopi tersebut di atas meja, Amel duduk di sofa yang ada di samping kiriku, ”Apa kabar, Teh?” sapanya lembut sambil mencium punggung tanganku.

“Alhamdulillah, baik,” jawabku. ”Makasih kopinya ya.”

Setelah mematikan puntung rokok yang hampir membakar jariku, aku meneguk kopi yang disuguhkan Amel.

“Gimana sekarang, udah dapat bodyguard baru belum?” Pertanyaan yang kulontarkan ini sanggup mencairkan kekakuan yang tadi sempat hadir di antara kami. Beberapa menit kemudian, kami larut dalam perbincangan hangat seputar perjalanan cintanya dengan beberapa pria yang selau silih berganti mengisi hari-harinya.

Walau raut mukanya berusaha untuk tampil seceria mungkin, namun dari sorot matanya aku bisa melihat kekosongan hati yang dipancarkannya. Kekosongan yang sampai kapanpun tak akan pernah sanggup aku isi. Kedua orang tuanya memintaku untuk selalu menjaga anak perempuan semata wayangnya itu dari berbagai godaan hidup yang dianggap menyesatkan. Meski hasratku selalu berbicara lain setiap ada kesempatan tidur seranjang dengannya. Namun tanggung jawab yang kuterima, sanggup mematahkan keinginan gilaku untuk membelokkan orientasi seksnya.

Hampir tiga jam kami menghabiskan waktu dalam perbincangan hangat yang penuh dengan segala kenangan manis tersebut. Bercengkerama dengan Amel ternyata membantu membulatkan tekadku untuk mempertahankan serangkum ketulusan cinta yang baru semalam hampir saja aku akhiri. Ketegaran Amel dalam mengarungi perjalanan cinta yang rumit dan selalu kandas karena segala perhatiannya tidak pernah mendapat tanggapan dari pasangan, ditambah keadaan ekonomi keluarganya yang selalu sulit telah membuat diriku sadar, kalau selama ini aku telah mengabaikan segala keindahan yang sebetulnya selalu mengelilingi kehidupanku.

Fiuh. Lega rasanya setelah mendengarkan curhat Amel. Aneh sekali, dia yang curhat, tapi aku yang merasa plong. Inikah hadiah dari Tuhan jika kita menyediakan waktu dan sepasang telinga kita kepada sesama?

Setelah seharian aku mematikan ponsel, aku merasakan ada sesuatu yang hilang. Perasaan kehilangan yang sangat hebat, tiba-tiba memenuhi setiap ruang di jiwaku. Aku rindu dengan segala ungkapan sayang dan kesepiannya. Rindu dengan segala tingkah isengnya yang selalu membangunkan tidurku yang baru beberapa menit. Rindu dengan rangkaian pujian yang selalu sanggup melambungkan anganku. Aku buru-buru menyalakan ponsel dan segera mengirimkan pesan singkat cintaku kepada kekasih.

Terima kasih, Amel, atas obrolan dan curhatnya.

@Jupiter, SepociKopi, 2007

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: