RENUNGAN JUPITER

Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam, di atas batu yang hitam, di malam yang amat kelam.

Arsip untuk ‘Sepocikopi archives’ Kategori

Barang Itu Menua (Sepo doc)

Ditulis oleh jupiter di/pada Mei 23, 2008

Barang Itu Menua
Friday, May 23, 2008
Oleh: Jupiter
Aku tersenyum malas ketika seorang sales door to door menawarkan produk rumah tangga dengan setengah memaksa. Aku katakan baik-baik bahwa aku belum membutuhkan barang yang ditawarkannya tersebut. Sales itu bertubuh sedikit tambun dengan kemeja putih yang sudah mulai berubah warna. Mungkin karena terlalu banyak debu yang menyerap di antara rembesan peluh yang mengucur deras.

Astaga, ternyata dia tidak begitu saja menyerah. Dia mengeluarkan beberapa produk lain yang ada di dalam tas dora emon-nya; mulai dari alat pengusir tikus electrik, coffee maker, egg steamer, juice maker, infrared massage hammer, dan lain-lain. Aku hanya tersenyum sambil tetap menggelengkan kepala. Gerak gerikku terlihat enggan melayani penawarannya yang tidak kenal pantang menyerah itu.

Sebetulnya bisa saja aku mengusirnya. Kegigihannya sudah mulai mengganggu privacy-ku. Tapi entah mengapa tindakan kasar itu tidak mampu kulakukan terhadap orang-orang yang berjiwa pantang menyerah seperti dia. Muncul rasa iba dalam hati saat melihat kesabarannya menghadapi penolakan. Dia tetap bisa memamerkan senyum tulusnya yang akhirnya mencairkan kekesalanku.

Apalagi ketika melihat Bunda mulai tertarik dengan demo infrared massage hammer yang diperagakan pada kedua kakinya. Setelah mengalami stroke untuk yang kedua kalinya, kondisi kaki Bunda memang sulit untuk digerakan.

Bunda melirik ke arahku, seolah memohon untuk dibelikan produk yang dianggapnya ajaib tersebut. Aku mulai garuk-garuk kepala begitu melihat tatapan permohonan dari Bunda. Ini merupakan kelemahanku yang paling telak. Aku nggak tega menolak keinginan orang-orang yang sangat istimewa dalam hidupku.

Di saat aku menimbang-nimbang, tiba-tiba ponselku bernyanyi.

“Ya, Sayang? Sori tadi keputus, baterenya low,” jawabku sambil tetap memerhatikan ekspresi wajah sales yang sedang memeragakan produk unggulannya kepada Bunda.

“Bunda lagi jadi kelinci percobaannya Mas yang nawarin alat pijat modern, nih!” jawabku lagi ketika dia menanyakan keadaan Bunda. Aku menyebutkan satu persatu produk yang ditawarkan oleh sales bebal itu.

Tiba-tiba dia menjerit kegirangan. “Wow! Juice maker yang kayak diiklanin ama Ulfa itu, kan? Mau dong, Yang! Aku sudah seminggu mencari barang itu. Belum ada di mal di sini.”

Ups! Kepalaku tiba-tiba jadi bertambah gatal. Nambah lagi, neh! Sepertinya kegigihan sales bertubuh tambun itu tidak akan menjadi sia-sia. Infrared massage hammer dan juice maker-nya sudah mendapat respon yang positif dari dua orang yang sangat istimewa di hatiku.

“Hmm… iya, ntar aku tanya dulu, ya! Kalau cocok seperti yang lagi kamu cari, pasti aku ambil, deh!” kataku mengaminkan permohonannya. Selintas kulihat air muka si sales berubah cerah ketika berhasil mencuri dengar percakapan kami.

Setelah itu aku menyudahi pembicaraan di ponsel. Tanpa diminta, sales yang sudah merasa mendapatkan mangsanya itu langsung menjelaskan secara rinci kegunaan serta kelebihan juice maker. Bahkan dengan semangat menggebu-gebu, dia langsung memperagakan cara penggunaannya. Aku hanya manggut-manggut, melihat kelincahan gerakannya. Akhirnya, tas dora emon-nya kehilangan beban juga.

***

Pada kesempatan lain, adik perempuanku yang tinggal di luar kota datang mengunjungi Bunda. Dia memintaku untuk menemaninya berbelanja pakaian untuk kedua anaknya yang masih balita.

Awalnya aku memang hanya sekedar menemani dia berbelanja, tapi ketika melihat beberapa potong pakaian yang menurutku cocok apabila dikenakan oleh kekasih serta buah hati kami, aku langsung tertarik dan mengambil beberapa potong. Lumayan, ini untuk menambah perlengkapan penyambutan kedatangannya kelak. Aku membayangkan masa-masa yang selalu kunantikan itu sambil tersenyum-senyum.

“Untuk siapa, Kak?” tanya adikku heran, melihat beberapa potong pakaian yang dilihatnya sama sekali tidak sesuai dengan ukuran tubuhku maupun ukuran tubuh anak-anaknya.

“Titipan teman. Tadi dia nelpon minta tolong dibelikan,” jawabku asal. Adikku hanya mengangguk sambil menggumam tak jelas. Aku yakin sebenarnya dia pasti merasakan aura kebohongan pada jawaban asalku tadi. Sebodo, ah, pikirku tidak memedulikan mimik muka bingung serta kalimat tak jelas pada gumam adik bungsuku itu.

Kini, barang-barang yang telah kubeli untuk menyambut kedatangannya masih mengisi satu rak di dalam lemari pakaianku. Namun hari yang kutunggu tidak akan menghampiriku. Dari pantulan cermin di lemari, aku menangkap segaris sembilu pada sorot mata sayuku. Harapan itu telah berlalu, menguap diredam heningnya sang waktu.

Aku menarik napas panjang. Aku sesak. Aku cair bersama sisa es krim dalam mangkuk kecil yang masih terhampar di telapak tanganku, ketika kata-kata terakhirnya kembali terngiang di telingaku, “Biarkan semua berjalan seperti ini, apa adanya. Hidupmu adalah milikmu, dan hidupku akan kujalani sendiri.”

Aku tahu, itu artinya hubungan kami sudah berakhir. Berakhir untuk selamanya. Tak ada ‘aku dan kamu’ lagi.

Setelah melalui ratusan hari dan minggu, dia tidak mengharapkan hubungan kami terjalin dalam bentuk apapun. Seperti debu yang tertiup oleh angin, musnah begitu saja. Dan aku tak mampu lagi berbuat apa-apa selain merelakan kepergiannya.

Aku menyandarkan tubuh yang mulai terasa berat pada pintu lemari. Sampai hari menjadi gelap aku belum beranjak, masih kutatap dengan bingung pada tumpukan barang-barang yang sudah menua usianya. Tanpa pemiliknya.

@Jupiter, SepociKopi, 2008

Labels: #Jupiter, Happy Hour, Tentang Cinta
posted by Lakhsmi, 12:15 PM

Ditulis dalam Sepocikopi archives | Leave a Comment »

Chat yang Menyegarkan (Sepo doc)

Ditulis oleh jupiter di/pada Mei 1, 2008

Chat yang Menyegarkan
Thursday, May 1, 2008
Oleh: Jupiter

Berkubang dalam kesedihan memang tidak mengenakkan. Kesedihan berlebihan membuat jalan pikiran menjadi buntu. Aku tengah berusaha melindungi diri agar tidak mudah diombang-ambingkan oleh perasaan mellow, akibat selalu memanjakan serta memelihara kesedihan.

Kok kesedihan dipelihara? Ihh.

Aku kepengin melakukan hal yang lebih positif, selain mengurung diri di dalam kamar, ditemani lirik lagu melankolis yang semakin menenggelamkan kesedihanku. Untuk mampu keluar dari mood bete ini, aku harus berhasil menciptakan suasana riang dalam diri. Yap! Mendengarkan lagu ber-beat cepat, misalnya atau berbuat jahil terhadap orang-orang yang tengah serius bekerja, seperti yang sering aku lakukan terhadap teman-temanku dulu. Hihihi. Jahil mode on.

Hmm, tapi jahil sama siapa?

Dalam kebingungan, tiba-tiba seorang teman dengan id yang baru saja aku setujui, masuk dan langsung menyapaku dengan nada yang serius. “Hai, lagi sibuk ya? Label kamu apa?”

Sesaat aku tertegun. Orang yang belum kukenal tapi kok langsung bertanya soal label segala? Aku menjawab dengan nada datar, “Andro. Kamu sendiri?”

“Sama, kata teman-teman sih aku andro juga.” Jawabnya tak kalah datarnya

Aku menggaruk-garuk kepalaku, bingung; sepertinya orang ini malas mengobrol tapi kenapa menyapa aku duluan, ya? Ah, masa bodo! Yang penting aku mempunyai teman ngobrol, daripada menye-menye dalam lagu sedih terus-menerus.

“Kok kata teman-teman sih? Emang kamu sendiri ngerasanya gimana?”

“Hmm, gimana ya?! Sebetulnya aku sendiri takut menggunakan kata pelabelan ini.” Jawabnya terkesan ragu

“Lho, kenapa mesti takut? Takut sama siapa? Emang siapa yang melarang?”

“Ngelarang sih enggak. Cuma males saja. Nanti nggak nyambung dengan para feminis yang sudah bersusah payah mengedukasi tentang pelabelan yang dianggap sebagai budaya patriarki.”

“Ooo… itu toh maksudnya. Cuek aja lagi, yang penting kita kan nggak mengikuti budayanya. Yang ditentang para feminis itu sebetulnya budaya patriarkinya, dalam artian; pelabelan yang digunakan dengan tujuan untuk merendahkan atau mengagungkan salah satu label saja. Bukan pelabelan seperti yang kita gunakan seperti sekarang ini.” Jelasku mulai menguasai topik yang akan dibahas.

“Maksudnya?”

“Label yang kita gunakan di sini, hanya untuk menggambaran identitas atau kepribadian kita saja, biar topik yang akan kita bahas bisa lebih nyambung. Obrolan butch, andro, dan femme itu kan beda-beda.”

“Masa sih?”

“Yup! Ini berdasarkan pengalamanku pribadi, ya. Kalau ngobrol sama butch, topik yang dibahas lebih bebas, vulgar, ngocol, pokoknya lebih terbuka dalam segala hal. Sementara kalau ngobrol sama andro, topiknya lebih santai, terbuka tapi tidak terlalu bebas atau vulgar. Nah kalo ngobrol sama femme, topik yang dibahas biasanya lebih lembut, misalnya ngebahas penampilan atau kegiatan sehari-hari.” Sampai di sini aku kebingungan sendiri dengan ucapanku.

“Hahaha, bisa saja kamu. Eh, tapi benar juga deng. Pantas pas chat kemarin aku dicuekin abis sama teman baruku yang ngaku dirinya femme. Hmm, ternyata aku salah ngambil topik kali, ya?!”

“Emang waktu itu kamu ngebahas apa?”

“Apa ya? Lupa! Pokoknya obrolan kita nggak pernah nyambung, blas.”

“Hahaha, dulu aku juga pernah ngalamin seperti itu. Chat pertama di tanggapin tapi ogah-ogahan, besoknya status chat dia off terus. Pas ada kesempatan kopi darat, aku tanya kenapa dia kok seperti ngehindarin aku gitu. Tau nggak, apa jawabannya?” tanyaku sambil berusaha mencari jawaban atas pertanyaanku sendiri

“Apa?” tanya teman chat-ku, seakan menunggu keseriusan jawabanku

“Kata dia, ngobrol sama aku kayak bukan lagi ngobrol sama cewek. Nggak pernah serius alias kebanyakan bercanda. Capeee deh!” Kali ini jawabanku benar-benar asal.

“Gitu ya?!”

“Yo’i! Terus aku juga pernah chat sama teman baruku yang ngaku identitasnya seorang pure butch. Gilaaaa, yang dibahasnya bikin aku sport jantung. Aku sempat dibuat bingung, yang aku ajak chat ini cewek apa cowok? Macho abissss!”

“Jadi, feminis itu sendiri sebetulnya labelnya apa?”

Sejenak pertanyaan ini membuatku mengerutkan kening, sebelum akhirnya aku mencoba menjelaskan sesuai dengan apa yang kudengar dan baca. Walaupun sumbernya nggak tahu dari mana. Lupa jreng.

“Ya, samalah seperti kita-kita, perempuan juga kan. Berdasarkan pemahamanku yang cetek ini, mereka adalah perempuan yang berusaha menegakan keadilan buat kaum perempuan, terutama yang seperti kita. Dengan kata lain feminis itu sama dengan aktivis pembela perempuan. Eh, tapi cowok juga bisa lho, di kategorikan sebagai feminis. Bukan dalam artian fisik. Mereka yang memperjuangkan keadilan buat perempuan biasanya dikategorikan sebagai aliran feminis juga.”

“Hmm, gitu ya? Ngerti aku sekarang. Kok kamu bisa menguasai soal beginian, sih? Emang kamu aktivis juga? Jangan-jangan kamu sebetulnya feminis juga, ya?”

“Aktivis? Feminis?! Mana ada feminis yang mensahkan identitas pelabelan? Aku cuma berusaha memahami apa yang selalu diributkan teman-teman kalau sudah menyangkut masalah pelabelan. Intinya, aku tidak pernah memihak kepada kelompok pro maupun yang kontra terhadap pelabelan tersebut. Yang penting, aku percaya sama logikaku sendiri. Selama tidak melanggar HAM, kenapa nggak?”

“Jadi menurutmu, pelabelan itu nggak masalah, ya?”

“Bagiku pelabelan sah-sah saja, selama kita bisa menempatkan mana yang baik dan mana yang tidak. Seperti halnya dosa, sepintar dan sesuci apapun yang namanya manusia, baik itu ulama, pendeta, biksu, maupun para pemuka agama lainnya, tidak ada yang bisa memastikan apakah yang kita lakukan sehari-hari itu berdosa apa tidak? Semuanya kembali kepada Yang di Atas.”

“Hahaha, Anda betuuuulll! Thanks ya! Senang bisa chat sama kamu. Mumet di kepalaku mulai berkurang. Kayaknya aku sudah bisa mulai berkonsentrasi kerja lagi, nih.”

“Ok. Thanks juga sudah mau mendengarkan ocehanku yang tidak aku jamin kebenaran sumber logikanya, dan tidak pernah tercantum di dalam ayat atau pasal manapun dalam UU Negara kita. Senang juga bisa membahas topik yang nyambung dan menyegarkan. Selamat bekerja lagi, ya.”

Pembicaraan kosong di siang hari bolong itupun ditutup dengan gelak tawa kami berdua, yang kembali hanya berupa ketukan kata-kata dan simbol emotikon belaka.

@Jupiter, SepociKopi, 2008

Labels: #Jupiter, Happy Hour, Perempuan
posted by Lakhsmi, 8:26 AM

Ditulis dalam Sepocikopi archives | Leave a Comment »

Sinetron Malam

Ditulis oleh jupiter di/pada April 12, 2008

Sinetron Malam
Friday, April 11, 2008
Oleh : Jupiter

Apa yang kamu pilih antara melanjutkan hidup dengan penuh kebimbangan atau bertahan dengan harapan yang kosong? Hwuaaahhh….!! Aku memukul jidat sendiri.

Sudah tiga hari ini pikiranku benar-benar lagi blank. Segala yang kulakukan menjadi serba salah. Rasaku hambar, semangatku hilang.

Aku mencoba untuk mencari penghiburan dengan berkonsentrasi di depan televisi. Tayangan sinetron yang biasanya selalu aku tunggu, entah mengapa penampilannya terasa menjadi biasa-biasa saja. Feeling-ku sama sekali tidak tersentuh.

Dengan malas, aku mengganti saluran televisi. Wah, ada cara musik yang menjadi acara kegemaranku. Aku biasa menonton secara live di studio TV-nya. Malam ini semua lagu yang dibawakan oleh group band favoritku menjadi terasa basi dan sangat membosankan. Mellow lagi, mellow lagi. Cape deh.

Kupindahkan saluran berikutnya. Acara komedi yang menurut teman-temanku lucu. Sampai tayangan komedi itu selesai, hatiku sama sekali tidak tergerak. Hambar. Aku merasa bosan. Kumatikan TV dengan kesal.

“Kok malah dimatiin?” tegur Mama mengagetkanku. “Emangnya lagi nunggu acara apa? Dari tadi kok di pindah-pindah channel mulu? Sampe pusing ngeliatnya.”

Ups! Kiranya dari tadi aku tidak sendirian. Rupanya Mama yang tadi kulihat sedang berada kamar ternyata duduk di belakangku.

“Nggak lagi nunggu acara apa-apa kok, Ma. Acaranya nggak ada yang bagus. Bikin bete semua,” jawabku sambil menyalakan TV kembali, lalu memberikan remote control-nya kepada mama.

“Terus kamu mau ngapain? Mau tidur?” tanya Mama begitu melihat aku mau masuk ke kamar.

“Yey, siapa yang mau tidur? Mau ngelanjutin kerja aja, ah.”

“Terus, Mama nonton sendirian, dong?”

“Kenapa memangnya, Ma? Aku juga biasanya sendirian. Lagian aku kan nggak ke mana-mana, Ma. Pintu kamar juga tetap di buka, kok. Nih, cuma dihalangin tembok ini,” kataku sambil memukul tembok penyekat ruangan.

Akhir-akhir ini kemanjaan serta kebandelan Mama terasa makin berlebihan. Setiap makanan yang aku masak selalu melahirkan komentar yang memanaskan telinga. Di lidah Mama, semua makanan selalu dianggap kurang manis atau kurang asin. Padahal di lidahku sendiri sudah pas banget.

“Percuma, Mama tetap saja sendiri,” ujar Mama dengan memasang wajah sedih, hingga membuatku mengurungkan niat untuk masuk ke kamar

“Ya sudah, aku temani Mama, deh.”

Selama hampir tiga puluh menit, terpaksa aku menikmati tayangan sinetron menyebalkan yang membuat ekspresi wajah Mama selalu berubah-ubah.

Ketika ada adegan menyedihkan, Mama langsung menangis lebih keras daripada si aktor yang memerankan adegan sedih tersebut. Ketika ada adegan mengharukan, Mama tetap mengeluarkan air mata yang dilanjutkan dengan isak tangis haru. Aku benar-benar dibuat repot karena harus selalu menetralisir keadaan dengan mengembalikan ingatan Mama bahwa semua adegan yang menghanyutkan perasaannya itu hanya sekedar akting. Ini adalah sinetron.

Sekedar Akting? Sinetron? Dua kalimat ini tiba-tiba berputar di dalam kepalaku. Yap! Bukankah segala kegundahan yang aku rasakan ini sebetulnya juga merupakan bagian dari sinetron kehidupan?

Bukan baru kali ini aku mengalami perasaan gundah seperti ini. Dulu aku pernah dihadapkan pada pilihan hidup yang lebih sulit, tapi toh akhirnya aku bisa melewati semuanya dengan mulus. Aku membayangkan hidupku seperti film. Meski aku nggak tahu skenarionya seperti apa, aku yakin semua masalah akan berakhir saat sutradara meneriakan kata cut.

“Nak, si Rini anaknya Bu Anto, katanya besok mau tunangan. Padahal dia kan masih kuliah.” Mama tiba-tiba membahas obrolan yang selalu aku hindari karena ujung-ujungnya pasti akan berakhir dengan masalah pernikahan.

“Hmm, baguslah,” jawabku asal. Lalu cepat-cepat mencoba mengalihkan pembicaraan. “Eh, itu kan anaknya Mark Sungkar? Mama pasti nggak tahu, ya?” Aku membahas tayangan sinetron yang diperankan oleh anak dari artis yang juga merupakan teman Mama di masa mudanya dulu.

Tiba-tiba Mama menangis kencang.

Ya, salah ngomong lagi, deh, gumamku dalam hati begitu melihat reaksi Mama. Kepalaku pening mendadak. Mama pasti teringat pada kejayaan masa mudanya lagi.

Malam ini sekali lagi aku menekan segala perasaan bosanku dengan menghabiskan waktu di depan TV sambil mencoba melepaskan segala harapan kosong yang selalu membebani pikiran serta memberatkan langkah hidupku. Malam berlalu lagi. Aku mengucapkan bismmillah dalam hati. Aku ingin menjadi cahaya agar aku dapat mengubah kegelapan hatiku menjadi seribu kunang-kunang yang meneduhkan diri.

CUT!

@Jupiter, SepociKopi, 2008

Labels: #Jupiter, Happy Hour, Personal Life
posted by Lakhsmi, 9:31 AM

Ditulis dalam Sepocikopi archives | Leave a Comment »

At the Window

Ditulis oleh jupiter di/pada Maret 25, 2008

At the Window
Monday, March 24, 2008
Oleh : Jupiter

Sex party 2008 buat kaum lesbi? Diselenggarakan di Bandung?

Wow!!! Mataku tak berkedip. Ketika penjelajahanku berhasil mengintip satu postingan yang menarik di salah satu jendela maya yang secara tidak sengaja aku temukan.

Jiwa petualangku seketika melonjak-lonjak, menyuruh aku untuk segera melompat dan masuk ke balik jendela dan bergabung dengan para bidadari yang akan meramaikan party tersebut.

Perlahan kusibak tirai yang menghalangi pandanganku. Dengan masih menangkring di pundak jendela, aku coba mengintip segala persyaratan untuk bisa mengikuti party tersebut.

Hmm… persyaratannya tidak terlalu rumit, email serta nomor telepon penyelenggara party tersebut juga sudah aku dapatkan. Sejenak aku menimbang-nimbang; ikut-tidak-ikut-tidak-ikut.

Setelah melakukan pelayaran yang cukup sulit, saat ini aku memang sedang sangat membutuhkan hiburan. Tapi apakah hiburan seperti ini cocok buat aku yang masih dalam proses penyembuhan? Bagaimana seandainya nanti setelah pulang dari party malah timbul lagi masalah baru?

Walaupun aku bertekad untuk tidak melibatkan perasaan dalam beragam pergaulan, tapi aku sendiri masih belum sepenuhnya yakin untuk bisa menjalankan tekadku tersebut. Apalagi pikiran sehatku mengatakan untuk tidak terburu-buru masuk dalam satu pergaulan baru yang belum aku pahami kebenaran latar belakangnya.

Arghh… kepalaku mendadak panas. Hasrat serta logikaku langsung berperang.

“Apa yang kamu beratkan? Toh saat ini sudah tidak ada lagi yang perduli pada keberadaanmu! Ayolah, ini saatnya untuk bisa mengenal dunia luar, dunia lesbian yang sesungguhnya. Jangan terlalu banyak memikirkan orang lain, saat ini adalah waktu yang tepat untuk kamu bersenang-senang!” bujuk hasrat, mencoba menepis keraguanku.

“Jangan dulu! Kamu memang butuh hiburan, tapi bukan hiburan yang penuh dengan resiko seperti ini. Jiwa kamu masih labil, luka hatimu juga belum sembuh total. Kamu masih dalam proses penyembuhan dan masih perlu waktu untuk berdamai dengan diri. Jangan terburu-buru mencari pelarian. Akibatnya bisa fatal!” Logika mengingatkan kondisi yang tengah aku hadapi.

“Ah, omong kosong! Justru luka itu nggak bakalan sembuh kalau dipelihara dan dimanjakan terus. Dengan mengikut party ini, kamu dapat membuang segala rasa sakit hati kamu di sana. Dan kamu akan segera menemukan obat yang paling mujarab, yang tidak akan pernah bisa kamu dapatkan dengan hanya diam dan merenung terus seperti ini. Luka akibat cinta, obatnya adalah cinta yang baru.” Goda hasrat semakin keras berusaha mengalahkan keteguhan hatiku.

“Mencari cinta tidak semudah itu. Jatah tinggal kamu di dunia ini sudah tidak lama lagi. Bukan cinta buta seperti itu yang kamu butuhkan sekarang ini. Dengan mengikuti pesta liar seperti itu, sakit hati kamu mungkin bisa terobati, tapi itu hanya untuk sementara. Selanjutnya kamu pasti akan lebih terluka, karena cinta yang hanya berlandaskan hawa nafsu, hanya akan membuat kamu lebih tenggelam dalam kubangan penderitaan yang tanpa ikatan.” Logika mencoba mematahkan terus godaan hasrat yang mulai memenuhi pikiranku.

“Cinta lesbian yang sehat itu adalah cinta yang tanpa komitment! Itu sudah menjadi rahasia umum. Dari jaman nabi Luth sampai dengan jaman buyutnya Goerge Bush nanti, cinta lesbian tetap saja akan dianggap sebagai cinta terlarang. Anak TK sekarang juga sudah pada tahu. Ayolah! tunggu apa lagi? Buruan isi biodata yang mereka minta. Habis itu tinggal kamu tekan tombol send, beres deh!” Penjelasan dari hasrat hampir saja sanggup mematahkan logikaku.

“Hmm, gini aja deh. Aku hanya bisa ngasih pandangan buruknya buat kamu. Seandainya kamu ikut dalam party liar tersebut, trus tiba-tiba di tengah acara ada pengrebekan oleh pihak yang berwajib yang melibatkan media massa. Apa yang bisa kamu lakukan? Semua rekan bisnis, sahabat baik bahkan semua keluarga pastinya akan jadi tahu siapa sosok kamu yang sebenarnya. Perjuangan yang sudah kamu rintis selama bertahun-tahun akan musnah hanya karena kesenangan sesaat. Apa seperti itu yang kamu inginkan?”

Dug! Jantungku seperti di hantam satu benda yang sangat keras. Asumsi yang dikemukakan oleh logika membuat mata serta pikiranku langsung kembali terbuka. Tentu saja hal ini, membuat hasrat semakin berapi-api untuk merebut kembali keyakinanku yang sudah mulai goyah terhadap semua alibinya.

“Eit! Ntar dulu, kenapa harus mikir sejauh itu. Jangan mempersulit keadaan, deh! Kamu lihat kan, persyaratan yang mereka ajukan memang tidak begitu rumit. Tapi coba lihat juga, di sana dikatakan setiap peserta yang mendaftar akan dikonfirmasi terlebih dahulu kebenaran data-datanya. Dari email serta nomor telepon penyelenggara yang kamu dapat, kamu bisa lihat keseriusan mereka dalam menyelenggarakan acara tersebut. Berarti mereka bukan penyelenggara pesta yang asal-asalan, segala resiko tadi pasti sudah mereka antisipasi juga. Sudah lah, mau seneng-seneng kok mesti dibikin ribet!” seru hasrat terdengar mulai pasrah.

“Ok, kalau kita ribut seperti ini terus, pikiran kamu pasti malah bertambah suntuk. Sekarang yang bisa kamu lakukan cuma satu. Coba kamu tanyakan kepada sanubari kamu. Apa sebetulnya tujuan kamu ikut dalam pesta itu? Apakah sebagai hiburan semata atau hanya pelarian dari rasa kesepian kamu saja? Jangan perdulikan pertikaian kami berdua, karena hanya bisikan hati kecil kamulah yang selalu jujur dan bisa memberikan jawaban atas semua keraguanmu itu.”

Hening! Tak ada lagi kata-kata.

Hasrat serta Logika perlahan mulai terhisap oleh tarikan gravitasi purnama yang seakan-akan menyedot mereka untuk mendekati bulan yang mengambang di angkasa. Meninggalkan aku yang masih termenung, bingung di pundak jendela.

Tiba-tiba pendar purnama yang melingkar berlapis-lapis membatasi bulan, memantulkan bayangan perempuan-perempuan masa lalu yang pernah melintas dan sempat mengisi hatiku. Sesaat mereka berubah menjadi bintang-bintang yang berkerlip dan kemudian mengelilingi tempat aku terdiam. Bintang-bintang itu seakan mencoba mengingatkan aku pada tujuan perjalananku semula.

Malam ini, perempuan-perempuan masa laluku tampil sebagai mahluk angkasa yang sangat ramah dan secantik peri! Menggugah dan menyadarkan hatiku, kalau segala rasa perih ini bukan semata-mata karena perbuatan mereka, tapi karena kekerdilan jiwaku yang tidak pernah sanggup mengendalikan hasrat untuk dapat memiliki mereka seutuhnya.

Tidak sepantasnya aku melakukan balas dendam atas kesalahanku sendiri, dengan mencari sosok seperti mereka dan menebarkan benih cinta sesaatku di tempat yang salah.

Kini aku telah menemukan sahabat yang selama ini selalu kucari. Ia tak lain dari kehormatanku sendiri, yang membuatku mengambil keputusan untuk meninggalkan jendela maya tersebut tanpa terlibat dalam berbagai macam pesta yang hanya akan lebih meyesatkan arah perjalananku.

Selamat tinggal Lesbian Party. Gemerlap pestamu tidak sanggup mengalahkan keteguhan hatiku.

@Jupiter, SepociKopi, 2008

Labels: #Jupiter, Happy Hour, Thoughts
posted by Lakhsmi, 6:25 PM

Ditulis dalam Sepocikopi archives | Leave a Comment »