RENUNGAN JUPITER

Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam, di atas batu yang hitam, di malam yang amat kelam.

Arsip untuk ‘Pencerahan’ Kategori

Don’t Judge a Book by Its Cover

Ditulis oleh jupiter di/pada Juni 5, 2008

RENUNGAN JUPITER
(Don’t Judge a Book by Its Cover)

Malam ini dalam pencarianku, kembali aku membuka beberapa artikel serta cerita pencerahan yang bisa aku jadikan sebagai bahan renungan untuk membantuku menjadi sosok pribadi yang lebih baik.

Setelah melahap habis beberapa cerita pencerahan, tibalah mataku pada satu cerita yang apabila dilihat dari judulnya aku yakin, ini hanya merupakan dongeng pengantar tidur seperti yang biasa aku bacakan untuk keponakanku yang masih balita, “Kisah Burung Pipit”.

Awalnya aku berniat untuk melewatkannya, tetapi ketika sepintas kulihat cerita tersebut oleh pemilik ruang mayanya sendiri di masukan ke dalam kategori “Tidak Jelas Juntrungannya”. Seketika aku langsung berhenti menggerakan mouse. Hmm, kalau memang tidak jelas juntrungannya mengapa harus memaksakan untuk di posting juga.

Berikut dongeng sederhana yang sempat membuat keningku berkerut, alisku bertaut serta bibirku mengerucut tersebut;

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Coretanku, Pencerahan | 1 Komentar »

Virus Yang Menghancurkan

Ditulis oleh jupiter di/pada Juni 4, 2008

KISAH PERSAHABATAN
(Virus Yang Menghancurkan)


Bertahun-tahun yang lampau di sebuah kota, tinggal dua orang sahabat yang sangat berbeda karakter, dia adalah seorang pengrajin emas dan seorang pembuat kendi. Pengrajin emas ini adalah seorang materialis, gila hormat dan pecinta harta. Oleh sebab itu, dia senantiasa berusaha dengan segala cara untuk mendapatkan pengakuan, harta dan kekayaan. Semua orang tahu bahwa dia tidak pernah mengindahkan kejujuran.

Sebaliknya, pembuat kendi adalah seorang jujur dan pekerja keras. Dia dicintai oleh masyarakat. Setiap orang yang memiliki problema akan datang meminta bantuannya.

Si pengrajin emas berfikir, mengapa warga kota begitu mencintai pembuat kendi, padahal dia tidak memiliki harta benda. Menurutnya, cinta dan kasih sayang bisa diperoleh lewat tipu daya dan makar, bukan dengan kejujuran seperti yang selama ini ditunjukan oleh sahabatnya tersebut, menurutnya kejujuran adalah sumber dari kemiskinan. Karena merasa terkalahkan akhirnya, timbul rasa dengki di hati dan pikiran si pengrajin emas terhadap pembuat kendi.

Pada suatu hari, sewaktu petugas kota mengejar pencuri di pasar, si pengrajin emas melihat bahwa saat itu adalah momen yang tepat untuk menuntaskan dendamnya terhadap pembuat kendi. Oleh sebab itu, dia langsung memfitnah dan berbohong dengan menunjuk si pembuat kendi sebagai pelakunya, “Saya melihat pencuri masuk ke rumah orang ini.”

Petugas dengan segera memasuki rumah pembuat kendi dan ketika dia tidak menemukan tanda-tanda adanya pencuri, mereka langsung menyeret paksa pembuat kendi ke hadapan penguasa dan memintanya untuk menyerahkan si pencuri.

Pembuat kendi bersumpah bahwa ia tidak mengetahui apa-apa. Tapi apa daya, ia tetap dijebloskan ke penjara. Selang beberapa hari kemudian, pencuri yang sebenarnya tertangkap, ini membuktikan bahwa pembuat kendi tidak bersalah. Selanjutnya ia dibebaskan. Sebaliknya, pengrajin emas yang berbohong mendapatkan ganjaran yang setimpal atas perbuatannya.

Setelah peristiwa itu, si pengrajin emas itu bukan hanya tidak menyesal atas tindakannya, tetapi malah semakin dibakar oleh api kedengkian terhadap pembuat kendi. Apalagi, ketika ia menyaksikan bahwa si pembuat kendi semakin dicintai oleh masyarakat.

Dengki dan dendam semakin membakar jiwa dan hatinya sehingga ia mengambil keputusan yang berbahaya. Selanjutnya ia mulai menyediakan racun dan memperalat seorang “anak muda bodoh” untuk meracun pembuat kendi dengan mengupahnya dengan seratus keping emas.

Hari yang ditetapkan pun tiba. Pengrajin emas menanti suara jerit tangis dari rumah pembuat kendi. Tetapi hal itu tidak terjadi. Sebaliknya keesokan harinya ia melihat, pembuat kendi tetangga yang juga sahabatnya itu masih sehat dan segar bugar seperti biasa.

Pengrajin emas merasa heran dan dengan segera ia mencari “anak muda bodoh” suruhannya itu untuk menyelidiki apa yang terjadi. Setelah tidak berhasil menemukan anak muda tersebut, ia baru sadar bahwa bukan hanya si pembuat kendi itu saja yang tidak diracun, tetapi anak muda yang sebetulnya tidak bodoh tersebut ternyata sudah melarikan diri dari kota dengan membawa seratus keping emas pemberiaannya.

Mengetahui kenyataan tersebut, pengrajin emas merasa sangat sedih. Begitu sedihnya sampai ia jatuh sakit. Tidak ada dokter yang bisa mengobatinya. Ya, karena memang tidak ada obat yang bisa menyembuhkan api dendam dan kedengkian yang bersemayam di dalam dirinya. Lelaki pengrajin emas telah kehilangan segala-galanya dan dunia menjadi gelap baginya. Hal ini menyebabkan isteri dan anak-anaknya tidak tahan dan kemudian meninggalkannya sendirian.

Berita kesendirian pengrajin emas yang sakit itu diketahui oleh tetangganya, si pembuat kendi yang jujur dan baik hati. Dia berpikir, inilah waktunya untuk pergi mengunjungi pengrajin emas. Dia menyediakan makanan yang enak dan membawanya ke rumah pengrajin emas.

Pengrajin emas, tidak dapat berkata apa-apa ketika melihat kedatangan pembuat kendi. Pembuat kendi duduk di sisinya dan dengan lemah lembut menanyakan keadaan dirinya dan berkata:

“Aku datang karena memenuhi hakmu sebagai tetanggaku.” Pengrajin emas menundukkan kepalanya karena malu.

Pembuat kendi melanjutkan: “Aku mengetahui segala apa yang berlaku pada masa lalu. Anak muda itu satu hari datang kepadaku dan memberitahu apa yang terjadi dan menyarankan supaya aku meninggalkan kota ini karena nyawaku akan tidak selamat dari mu. Tetapi oleh karena aku menganggap kamu tetap adalah sahabatku, aku berharap kepada rahmat dan karunia Ilahi, setiap hari aku berdoa untuk mu semoga dirimu dibebaskan dari rasa dengki dan hasad terhadapku.”

Kata-kata pembuat kendi seketika menyebabkan pengrajin emas itu menangis. Pembuat kendi memegang tangan tetangganya dan berkata, “Sahabatku, ketahuilah bahwa kedengkian laksana api yang membakar dan orang yang mula-mula dibakarnya adalah diri insan itu sendiri. Alangkah baiknya jika dalam masa yang pendek dan singkat di kehidupan dunia ini, kita saling kasih mengasihi sehingga kita meninggalkan nama yang baik.”

Kata-kata pembuat kendi seketika membuat wajah pengrajin emas seperti di tampar, ia malu pada dirinya sendiri, malu pada kedengkian dan rasa dendamnya yang sebetulnya sama sekali tidak pantas ia limpahkan kepada sahabatnya yang ternyata betul-betul berhati bersih itu. Dengan suara yang bergetar dan dengan penuh penyesalan, ia meminta maaf atas segala yang terjadi di masa lalu dan ia berjanji bahwa selepas ini ia akan menggantikan rasa dengki yang memenuhi hatinya dengan kasih sayang dan persahabatan kepada orang lain.

”Jika manusia kehilangan sahabatnya, dia bisa segera melihat sekitarnya kemudian akan mendapatkan sahabat-sahabat baru datang dan menghiburkannya. Akan tetapi apabila hati manusia kehilangan kedamaiannya, di manakah dia akan menemukannya? bagaimanakah dia akan bisa memperolehnya kembali? Tanpa ketulusan dan kejujuran mungkinkah semua itu akan bisa tercapai? Untuk sementara mungkin jawabannya bisa, namun itu hanya untuk sementara. Selanjutnya? Hanya waktu yang bisa menjawab semuanya.” (Jupiter doc/04Juni’08)

Sumber : Dari kumpulan kisah-kisah teladan

***

Ditulis dalam Pencerahan | Leave a Comment »

Virus Yang Menghancurkan

Ditulis oleh jupiter di/pada Mei 30, 2008

KISAH PERSAHABATAN
(Virus Yang Menghancurkan)


Bertahun-tahun yang lampau di sebuah kota, tinggal dua orang sahabat yang sangat berbeda karakter, dia adalah seorang pengrajin emas dan seorang pembuat kendi. Pengrajin emas ini adalah seorang materialis, gila hormat dan pecinta harta. Oleh sebab itu, dia senantiasa berusaha dengan segala cara untuk mendapatkan pengakuan, harta dan kekayaan. Semua orang tahu bahwa dia tidak pernah mengindahkan kejujuran.

Sebaliknya, pembuat kendi adalah seorang jujur dan pekerja keras. Dia dicintai oleh masyarakat. Setiap orang yang memiliki problema akan datang meminta bantuannya.

Si pengrajin emas berfikir, mengapa warga kota begitu mencintai pembuat kendi, padahal dia tidak memiliki harta benda. Menurutnya, cinta dan kasih sayang bisa diperoleh lewat tipu daya dan makar, bukan dengan kejujuran seperti yang selama ini ditunjukan oleh sahabatnya tersebut, menurutnya kejujuran adalah sumber dari kemiskinan. Karena merasa terkalahkan akhirnya, timbul rasa dengki di hati dan pikiran si pengrajin emas terhadap pembuat kendi.

Pada suatu hari, sewaktu petugas kota mengejar pencuri di pasar, si pengrajin emas melihat bahwa saat itu adalah momen yang tepat untuk menuntaskan dendamnya terhadap pembuat kendi. Oleh sebab itu, dia langsung memfitnah dan berbohong dengan menunjuk si pembuat kendi sebagai pelakunya, “Saya melihat pencuri masuk ke rumah orang ini.”

Petugas dengan segera memasuki rumah pembuat kendi dan ketika dia tidak menemukan tanda-tanda adanya pencuri, mereka langsung menyeret paksa pembuat kendi ke hadapan penguasa dan memintanya untuk menyerahkan si pencuri.

Pembuat kendi bersumpah bahwa ia tidak mengetahui apa-apa. Tapi apa daya, ia tetap dijebloskan ke penjara. Selang beberapa hari kemudian, pencuri yang sebenarnya tertangkap, ini membuktikan bahwa pembuat kendi tidak bersalah. Selanjutnya ia dibebaskan. Sebaliknya, pengrajin emas yang berbohong mendapatkan ganjaran yang setimpal atas perbuatannya.

Setelah peristiwa itu, si pengrajin emas itu bukan hanya tidak menyesal atas tindakannya, tetapi malah semakin dibakar oleh api kedengkian terhadap pembuat kendi. Apalagi, ketika ia menyaksikan bahwa si pembuat kendi semakin dicintai oleh masyarakat.

Dengki dan dendam semakin membakar jiwa dan hatinya sehingga ia mengambil keputusan yang berbahaya. Selanjutnya ia mulai menyediakan racun dan memperalat seorang “anak muda bodoh” untuk meracun pembuat kendi dengan mengupahnya dengan seratus keping emas.

Hari yang ditetapkan pun tiba. Pengrajin emas menanti suara jerit tangis dari rumah pembuat kendi. Tetapi hal itu tidak terjadi. Sebaliknya keesokan harinya ia melihat, pembuat kendi tetangga yang juga sahabatnya itu masih sehat dan segar bugar seperti biasa.

Pengrajin emas merasa heran dan dengan segera ia mencari “anak muda bodoh” suruhannya itu untuk menyelidiki apa yang terjadi. Setelah tidak berhasil menemukan anak muda tersebut, ia baru sadar bahwa bukan hanya si pembuat kendi itu saja yang tidak diracun, tetapi anak muda yang sebetulnya tidak bodoh tersebut ternyata sudah melarikan diri dari kota dengan membawa seratus keping emas pemberiaannya.

Mengetahui kenyataan tersebut, pengrajin emas merasa sangat sedih. Begitu sedihnya sampai ia jatuh sakit. Tidak ada dokter yang bisa mengobatinya. Ya, karena memang tidak ada obat yang bisa menyembuhkan api dendam dan kedengkian yang bersemayam di dalam dirinya. Lelaki pengrajin emas telah kehilangan segala-galanya dan dunia menjadi gelap baginya. Hal ini menyebabkan isteri dan anak-anaknya tidak tahan dan kemudian meninggalkannya sendirian.

Berita kesendirian pengrajin emas yang sakit itu diketahui oleh tetangganya, si pembuat kendi yang jujur dan baik hati. Dia berpikir, inilah waktunya untuk pergi mengunjungi pengrajin emas. Dia menyediakan makanan yang enak dan membawanya ke rumah pengrajin emas.

Pengrajin emas, tidak dapat berkata apa-apa ketika melihat kedatangan pembuat kendi. Pembuat kendi duduk di sisinya dan dengan lemah lembut menanyakan keadaan dirinya dan berkata:

“Aku datang karena memenuhi hakmu sebagai tetanggaku.” Pengrajin emas menundukkan kepalanya karena malu.

Pembuat kendi melanjutkan: “Aku mengetahui segala apa yang berlaku pada masa lalu. Anak muda itu satu hari datang kepadaku dan memberitahu apa yang terjadi dan menyarankan supaya aku meninggalkan kota ini karena nyawaku akan tidak selamat dari mu. Tetapi oleh karena aku menganggap kamu tetap adalah sahabatku, aku berharap kepada rahmat dan karunia Ilahi, setiap hari aku berdoa untuk mu semoga dirimu dibebaskan dari rasa dengki dan hasad terhadapku.”

Kata-kata pembuat kendi seketika menyebabkan pengrajin emas itu menangis. Pembuat kendi memegang tangan tetangganya dan berkata, “Sahabatku, ketahuilah bahwa kedengkian laksana api yang membakar dan orang yang mula-mula dibakarnya adalah diri insan itu sendiri. Alangkah baiknya jika dalam masa yang pendek dan singkat di kehidupan dunia ini, kita saling kasih mengasihi sehingga kita meninggalkan nama yang baik.”

Kata-kata pembuat kendi seketika membuat wajah pengrajin emas seperti di tampar, ia malu pada dirinya sendiri, malu pada kedengkian dan rasa dendamnya yang sebetulnya sama sekali tidak pantas ia limpahkan kepada sahabatnya yang ternyata betul-betul berhati bersih itu. Dengan suara yang bergetar dan dengan penuh penyesalan, ia meminta maaf atas segala yang terjadi di masa lalu dan ia berjanji bahwa selepas ini ia akan menggantikan rasa dengki yang memenuhi hatinya dengan kasih sayang dan persahabatan kepada orang lain.

”Jika manusia kehilangan sahabatnya, dia bisa segera melihat sekitarnya kemudian akan mendapatkan sahabat-sahabat baru datang dan menghiburkannya. Akan tetapi apabila hati manusia kehilangan kedamaiannya, di manakah dia akan menemukannya? bagaimanakah dia akan bisa memperolehnya kembali? Tanpa ketulusan dan kejujuran mungkinkah semua itu akan bisa tercapai? Untuk sementara mungkin jawabannya bisa, namun itu hanya untuk sementara. Selanjutnya? Hanya waktu yang bisa menjawab semuanya.” (Jupiter doc/04Juni’08)

Sumber : Dari kumpulan kisah-kisah teladan

***

Ditulis dalam Pencerahan | Leave a Comment »

Aku Percaya, Aku Bisa!

Ditulis oleh jupiter di/pada Mei 27, 2008

RENUNGAN JUPITER
(Aku Percaya, Aku Bisa!)

Pernahkah kalian terjebak ke dalam satu permasalahan yang sama? Aku pernah, bahkan sering. Bodoh ya?! Ya, aku akui. Tapi dibalik kebodohan itu aku menikmati hentakan-hentakan emosinya.

Sering terjadi konflik dalam diriku. Satu sisi aku menolak dan mencoba untuk berontak. Namun di sisi lain, aku tidak mau keluar dan merasakan kenikmatan tersendiri, ketika sisi cengengku itu keluar dan melarutkan khayalanku pada harapan-harapan yang aku sendiri tidak tahu bagaimana sebetulnya cara untuk menggapai serta mewujudkan harapanku tersebut.

Dalam perenunganku kali ini, aku mencoba untuk melakukan perjalanan ke dalam diri dan mencoba mengenal pribadi seperti apa saja sebetulnya yang bersemayam di dalam diriku ini.

Terkadang aku sering merasa Tuhan telah berlaku tidak adil karena telah menentukan jalan hidupku yang begitu rumit dan tidak semulus dan selurus jalan hidup saudara-saudaraku yang lain. Begitu banyak beban, masalah, hambatan yang harus aku hadapi dalam mendaki jalan kehidupan ini.

Tapi di saat yang lain, aku sadar Tuhan tidak mungkin memberikan cobaan yang di luar batas kemampuanku. Layaknya sebongkah besi, jiwaku selalu di tempa oleh segala rintangan serta cobaan yang selalu menghantam langkahku. Ketajaman perasaanku terus menerus di asah melalui segala ujian yang menuntutku untuk terus berlatih dan bisa bertahan agar hatiku menjadi kebal dan tahan tehadap segala tikaman yang selalu dilancarkan.

Ketidakmampuanku dalam memahami apa sebetulnya yang aku mau dan aku butuhkan, terkadang membuat jiwaku lelah, pikiranku buntu dan semangat berjuangku mengkerut. Pada saat seperti ini biasanya aku bersembunyi di balik satu kata ajaib yang sudah sangat akrab dengan diri, dia adalah “Pasrah” yang sebelumnya telah aku manipulasi dengan balutan kata yang sangat agung yaitu “Ikhlas”.

Yup! Kata “Ikhlas” ini menjadi senjata paling ampuh dalam menutup satu permasalahan yang tidak mampu aku selesaikan. Dengan bersembunyi di balik satu kata yang sebetulnya selalu membuatku merinding itu, beberapa saat aku bisa merasa terbebas dari beban yang tidak mampu aku hadapi. Namun di saat yang lain, kejujuran di dalam diri selalu berontak dan mencaci maki jiwa pengecutku tersebut.

“Kamu belum mampu untuk bisa semulia itu. Hati dan pikiranmu masih terlalu rumit. Emosimu masih jauh dari stabil, tidak pantas kamu bersembunyi di balik satu kata yang sangat keramat itu!” sisi positifku menghardik dan mengingatkan segala kelemahan yang belum mampu aku atasi.

“Tapi aku tidak mau tejebak dalam kata pasrah, terlalu sakit rasanya kalau aku menggunakan kata itu. Kata Pasrah itu terlalu mencerminkan ketidak berdayaanku dan itu bukan diriku banget. Aku tidak selemah itu!” Sisi negatif mencoba membela diri.

“Kalau kamu tidak mau terlihat lemah, kamu harus mengenal dan memahami permasalahannya terlebih dahulu. Coba kamu terlusuri apa sebetulnya akar permasalahan yang membuat jiwamu menjadi labil dan tertekan seperti itu. Aku yakin, semua beban itu pasti bukan berawal dari orang lain.”

“Tapi bagaimana caranya aku bisa mengetahui akar permasalahannya, sementara aku sendiri tidak merasa bersalah. Apa yang aku lakukan adalah wajar dan selalu ada alasan mengapa aku bersikap demikian terhadap orang lain. Orang lainnya saja yang memang tidak bisa mengerti apa yang aku mau.”

“Itulah kesalahan kamu yang paling fatal. Kamu selalu menyandarkan harapan terhadap orang lain, sementara apakah kamu sendiri mengerti apa sebetulnya yang kamu mau?”

“Aku? Ya jelas tahu lah. Yang aku mau, tanpa aku jelaskan secara rinci, seharusnya orang lain bisa mengerti apa yang aku mau. Seperti halnya aku selalu berusaha mengerti apa yang mereka mau.”

“Gotcha! Sekarang aku tanya, apakah kamu sendiri benar-benar sudah tahu apa yang sebetulnya mereka mau?”

“Yang mereka mau? Ehmm….” Untuk pertama kalinya sisi negatifku tidak bisa berkelit dan tidak mampu menjawab pertanyaan yang mematikan itu.

“Nah, kamu sendiri nggak yakin kan, dengan perasaan kamu sendiri? Bagaimana orang lain bisa mengerti apa yang kamu inginkan, kalau kamu tidak pernah memberitahukan kepada mereka. Ketajaman perasaan manusia itu berbeda-beda. Ada yang bisa membaca hanya melalui kata-kata dan gerak tubuh kita, ada yang sebaliknya, sulit untuk mencerna karena terlalu banyaknya beban dalam dirinya sendiri yang belum sanggup untuk dia selesaikan. Seperti yang terjadi pada dirimu saat ini.”

Penjelasan dari sisi positif membuat sisi negatif semakin tersudut, “Jadi, apa yang harus aku lakukan?”

“Ada banyak teknik yang bisa digunakan. Salah satunya dengan mencoba mengerti dan memahami dulu apa yang sebetulnya kamu inginkan. Untuk itu, langkah pertama yang harus kamu lakukan adalah terlebih dahulu kamu harus bisa mengenali keberadaan “diri”. Setelah itu menerima keberadaan, sikap, karakter, atau kepribadian dari diri kamu sendiri. Belum tentu akar permasalahan yang sedang kamu hadapi itu berasal dari orang lain, bisa jadi dari keangkuhanmu yang merasa sudah bisa memahami apa yang mereka mau, padahal sebetulnya kamu hanya menebak-nebak dan hanya memandang kebutuhan orang lain dari sudut pandang kebutuhanmu sendiri.”

Perlahan sisi negatif mulai menguap dan mengakui kebenaran yang dijabarkan oleh sisi positif.

“Langkah berikutnya kamu lakukan koordinasi. Cari tahu hubungan antara hati serta pikiranmu yang sedang konflik. Apa sebetulnya yang membuat kamu merasa terbebani. Selanjutnya bantu “diri” yang konflik untuk bisa menemukan resolusi, atau paling tidak melakukan kompromi, sehingga hati dan pikiranmu dapat bekerja sama dengan baik.”

“Apabila kamu sendiri sudah mengenal dan memahami akar permasalahannya. Ini berarti kamu sudah menyadari siapa diri kamu yang sesungguhnya dan apa sebetulnya yang kamu inginkan. Pada saat seperti ini, aku yakin kamu akan bisa memahami apa yang sebenarnya dipikirkan oleh orang yang selama ini kamu anggap tidak peka pada apa yang kamu inginkan, dan selanjutnya kamu akan bisa memaklumi ketidak pekaan mereka tersebut.”

Pada akhirnya aku mengerti, untuk menyelesaikan pertikaian di dalam diriku ini. Aku harus selalu percaya. Karena percaya adanya di dalam hati, maka akan kutanamkan terus hal itu dalam kalbu. Karena rasa percaya tersimpan dalam hati, maka akan kupenuhi nuraniku dengan kekuatan itu. Aku percaya, akan ada petunjuk-petunjuk Sang Pencipta dalam setiap langkahku menapaki jalan kehidupan ini.

Akan kucari, gali, dan temukan rasa percaya itu dalam hatiku. Sebab, saat aku telah percaya, maka petunjuk itu akan datang dengan tanpa disangka. Aku percaya, aku pasti bisa melewati serta mengambil hikmah dari setiap cobaan yang menyapa. (Jupiter doc./27Mei08)

“Perjalanan yang paling panjang dan paling melelahkan adalah perjalanan masuk ke dalam diri sendiri.”

Ditulis dalam Coretanku, Pencerahan | Leave a Comment »