RENUNGAN JUPITER

Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam, di atas batu yang hitam, di malam yang amat kelam.

Arsip untuk ‘Myth Stories’ Kategori

The Golden Age of Classical Myths – Part. 8

Ditulis oleh jupiter di/pada Mei 1, 2008

The Golden Age of Classical Myths-Part.8

Sol (Helios)
Sol adalah dewa matahari, putra titan Hyperion dengan titanid Theia, saudara Luna, dewi bulan yang pucat, dan Aurora, dewi fajar keemasan.

Tiap hari dia melintasi angkasa dengan mengendarai keretanya yang ditarik kuda-kuda berapi dari timur ke barat memberikan cahaya dan kehangatan bagi bumi. Kala senja tiba dia akan turun ke bumi menuju Sungai Ocean di ujung barat di mana menunggu perahu emas yang akan membawanya kembali ke istana emasnya di timur.

Sol memiliki seorang putra dari Peri Clymene, yang bernama Phaeton. Suatu hari Phaeton bertengkar dengan Epaphos, putra Jupiter dari Io. Epaphos menantang Phaeton untuk membuktikan bahwa dirinya sungguh putra sang dewa matahari.

Phaeton kemudian pergi menghadap ayahnya agar diizinkan mengendarai keretanya yang ditarik kuda-kuda berapi selama satu hari. Mula-mula sang ayah tak mengizinkan. Namun karena Phaeton terus mendesak akhirnya Sol memberinya izin.

Sol menasehati agar putranya berhati-hati mengendarai keretanya di jalur yang tiap hari dilaluinya dan menjaga agar kereta tersebut tidak meleset sedikitpun dari jalur tersebut. Phaeton mengiyakan pesan ayahnya tersebut. Dengan hati mekar oleh rasa bangga dia keluar dari gerbang istana emas ayahnya mengendarai keretanya.

Tiba-tiba di tengah perjalanannya Phaeton dihadang oleh rasi bintang Scorpio yang mengejutkannya sehingga tanpa sengaja dia menghela kuda-kudanya secara keliru.

Kuda-kuda tersebut berlari tanpa kendali melewati garis edarnya. Kadang terlalu ke bawah sehingga bumi terbakar oleh terik apinya (konon karena hal ini penduduk yang tinggal di sekitar garis khatulistiwa berkulit gelap karena terbakar terik kereta matahari), kadang terlalu ke atas sehingga langit membara.

Dari bumi Terra berseru kepada Jupiter agar segera bertindak menyelamatkan alam dari kehancuran. Jupiter menampakkan diri di awan-awan sambil menggenggam petirnya yang kemudian dilontarkannya ke arah Phaeton. Phaeton bersama kereta dan kuda-kudanya, yang kini padam apinya, terjatuh ke bumi dan hancur.

Segera ibunya dan saudari-saudarinya, para Heliad, berlari mendapatkan mayatnya yang mengambang di permukaan Sungai Eridanus dan menangisinya berhari-hari lamanya sampai Jupiter mengubah mereka menjadi pohon-pohon poplar.

Sol sendiri meski berduka atas kematian putranya tidak dapat menyalahkan tindakan Jupiter. Dia tetap menjalankan tugasnya seperti biasa tiap hari. Hanya saja kadang kala dia teringat akan putranya dan menangisinya Maka apabila kadang-kadang di tengah hari hujan turun sementara matahari tetap bersinar, orang akan berkata bahwa Sol sedang menangisi putranya.

Ada versi yang menyebutkan bahwa ibu Phaeton adalah Peri Rhoda yang dicintai oleh Sol. Oleh karena itu Pulau Rhodes disucikan bagi Sol. Di pelabuhan pulau tersebut dibangun patung besar Sol (colossus) yang menjadi salah satu keajaiban dunia.

Selain Rhoda ada juga seorang peri bernama Clytie yang mencintai Sol namun bertepuk sebelah tangan. Berhari-hari lamanya Clytie duduk di atas tanah yang dingin, sama sekali tak beranjak dari tempatnya, hanya memandangi Sol yang melintasi angkasa di atas keretanya.

Kala malam tiba, dia akan menunduk menangis berharap dapat menyaksikan pujaan hatinya lagi besok. Hanya embun malam dan air matanya yang menjadi santapannya. Lama kelamaan wujudnya pun berubah. Kakinya berubah menjadi akar yang tertanam dalam tanah dan wajahnya berubah menjadi bunga yang selalu menghadap ke atas, ke arah sang surya bersinar. Kita mengenalnya sebagai bunga matahari. Sama seperti Clytie yang menundukkan kepala saat Sol telah menuntaskan tugasnya begitu pula bunga matahari akan merunduk saat malam tiba.

Luna (Selene)
Luna, dewi bulan yang pucat, tiap malam melintasi angkasa dari istana emasnya di timur dengan mengendarai keretanya yang dihela dua ekor sapi jantan bertanduk sabit.

Dia memberikan cahayanya yang lembut keperakan bagi bumi di malam hari. Dalam perjalanan dia selalu disertai bintang-bintang yang dipimpin oleh Vesper, Bintang Senja. Kala fajar menyingsing, bersama mereka dia akan menuju ke Sungai Ocean di sebelah barat dan kembali ke istananya di timur dengan mengendarai perahu.

Di wajah Luna yang cantik dan murni selalu membayang kabut duka :( Konon suatu malam, saat dia sedang menjalankan tugasnya menerangi bumi, dia berjumpa seorang pemuda gembala yang tampan bernama Endymion di Gunung Latmos. Luna jatuh cinta pada Endymion. Namun sayang Endymion yang dianugerahi keabadian oleh Jupiter juga memohon agar diizinkan tidur selamanya Maka dia tak akan pernah terbangun oleh sentuhan lembut jemari Luna yang membelai wajahnya untuk mengatakan pada Luna bahwa dia juga mencintainya.

Luna dilukiskan sebagai wanita cantik bergaun dan berkerudung keperakan, wajahnya pucat oleh duka.

Aurora (Eos)

Aurora adalah dewi fajar keemasan yang berjari-jari merah bagai mawar. Tiap pagi, saat Luna hampir menuntaskan perjalanannya, Aurora akan membuka gerbang istana emasnya di timur lalu terbang dengan sayap-sayapnya yang bercahaya redup namun makin lama makin terang. Diikuti oleh Lucifer, Bintang Fajar, melintasi angkasa dari timur ke barat sambil menghalau bintang-bintang memasuki Sungai Ocean. Kecuali rasi Ursa Mayor dan Minor yang tak pernah tenggelam dan terbit di ufuk saat fajar menyingsing maupun senja menjelang.

Aurora membawa sekendi air dingin dalam perjalanannya dan memercikkan air tersebut ke atas permukaan rerumputan, dedaunan, dan bunga-bunga sebagai embun pagi.

Meski menikah dengan Aeolus, dewa angin, Aurora juga menjalin cinta dengan Orion. Orion adalah seorang pemburu bangsa Boetia yang tampan dan perkasa. Ketika menjalin cinta dengan Aurora, Orion pernah sesumbar akan memusnahkan semua hewan buas di muka bumi dan mempersembahkannya bagi Aurora.

Apollo yang mendengar hal tersebut kemudian mengirim seekor kalajengking raksasa untuk membunuh Orion. Aurora memohon bantuan Diana agar menyelamatkan Orion. Diana yang menyanyangi Orion sebagai sesama pemburu bersedia menyelamatkan Orion.

Pada saat Orion sedang dikejar-kejar oleh kalajengking raksasa tersebut, Diana bersiap-siap membidikkan panahnya untuk membunuh kalajengking tersebut. Tiba-tiba Apollo muncul dan mengaburkan pandangan Diana sehingga anak panahnya meleset, justru mengenai Orion yang tewas seketika.

Diana yang berduka karena tak dapat menepati janjinya pada Aurora kemudian menempatkan Orion di angkasa sebagai rasi bintang Orion, sedangkan kalajengking rakasasa tersebut oleh Apollo juga ditempatkan di angkasa sebagai rasi bintang Scorpio dalam posisi sedang memburu Orion.

Selain Orion, Aurora juga pernah menjalin cinta dengan Tithonus, putra Raja Laomedon dari Troy. Tithonus yang mencintai Aurora selalu bangun saat fajar merekah untuk menyaksikan kekasihnya tersebut menjalankan tugasnya mengumumkan kepada bumi bahwa sebentar lagi matahari akan kembali memberikan cahaya dan kehangatan bagi bumi.

Dari hasil hubungan mereka lahirlah seorang putra bernama Memnon. Sayang sekali saat Jupiter menganugerahkan keabadian bagi Tithonus, Aurora lupa memohon kemudaan abadi bagi kekasihnya tersebut, sehingga seiring berjalannya waktu Tithonus menjadi renta sementara ajalnya tak kunjung tiba. Akhirnya karena iba melihat Tithonus yang telah semakin lemah dalam kerentaannya, Aurora mengubahnya menjadi belalang, makhluk yang selalu bangun di saat fajar menyingsing.

Aurora dilukiskan sebagai wanita jelita berambut keemasan dengan jari-jari yang berwarna kemerahan bagai mawar serta bersayap. (Jupiter doc)

to be continued…

The Greek names of the classical deities:
Jupiter: Zeus
Juno: Hera
Minerva: Pallas Athena
Mars: Ares
Venus: Aphrodite
Vulcan: Hephaestus
Mercury: Hermes
Diana: Artemis
Latona: Leto
Aesculapius: Asclepius
Meditrina: Epione
Juventus: Ivy/Hebe
Lucina: Eileithyia
Ceres: Demeter
Vesta: Hestia
Neptune: Poseidon
Pluto/Dis: Hades
Proserpine: Persephone/Kore
Mors: Thanatos
Somnus: Hypnos
Morpheus: Oneiros
Cupid: Eros
Hermione: Harmonia
Discordia: Eris
Sol: Helios
Luna: Selene
Aurora: Eos
Lucifer: Phosphor
Vesper: Hesperus
Bacchus: Dionysus
Saturn: Chronos
Cybele: Rhea
Caelus: Uranus
Terra/Tellus: Gaia/Gea
Amor: Agape
Dia: Emera
Justitia: Themis
Pax: Irene
Victoria: Nike
Fortis: Bia
Fury: Eumenides/Erinnies
Parcae/Fata: Moirae
Grace: Charites
Felicitas/Fortuna: Tyche
Ver: Thallo (Tunas)
Aestas: Auxo (Tumbuh)
Autumna: Karpo (Masak)
Hyem: Chionia (Salju)
Aquilo: Boreas
Favonius: Zephyr
Eurus: Argestes
Auster: Notus
Catamite: Ganymede
Hercules: Heracles/Alcides
Arianna: Ariadne

(Sumber:Forum KG/Legenda Dewa&Dewi Yunani/Hansel/Jupiter doc/Mei’08)

Ditulis dalam Myth Stories | Leave a Comment »

The Golden Age of Classical Myths – Part. 8

Ditulis oleh jupiter di/pada April 30, 2008

The Golden Age of Classical Myths-Part.8

Sol (Helios)
Sol adalah dewa matahari, putra titan Hyperion dengan titanid Theia, saudara Luna, dewi bulan yang pucat, dan Aurora, dewi fajar keemasan.

Tiap hari dia melintasi angkasa dengan mengendarai keretanya yang ditarik kuda-kuda berapi dari timur ke barat memberikan cahaya dan kehangatan bagi bumi. Kala senja tiba dia akan turun ke bumi menuju Sungai Ocean di ujung barat di mana menunggu perahu emas yang akan membawanya kembali ke istana emasnya di timur.

Sol memiliki seorang putra dari Peri Clymene, yang bernama Phaeton. Suatu hari Phaeton bertengkar dengan Epaphos, putra Jupiter dari Io. Epaphos menantang Phaeton untuk membuktikan bahwa dirinya sungguh putra sang dewa matahari.

Phaeton kemudian pergi menghadap ayahnya agar diizinkan mengendarai keretanya yang ditarik kuda-kuda berapi selama satu hari. Mula-mula sang ayah tak mengizinkan. Namun karena Phaeton terus mendesak akhirnya Sol memberinya izin.

Sol menasehati agar putranya berhati-hati mengendarai keretanya di jalur yang tiap hari dilaluinya dan menjaga agar kereta tersebut tidak meleset sedikitpun dari jalur tersebut. Phaeton mengiyakan pesan ayahnya tersebut. Dengan hati mekar oleh rasa bangga dia keluar dari gerbang istana emas ayahnya mengendarai keretanya.

Tiba-tiba di tengah perjalanannya Phaeton dihadang oleh rasi bintang Scorpio yang mengejutkannya sehingga tanpa sengaja dia menghela kuda-kudanya secara keliru.

Kuda-kuda tersebut berlari tanpa kendali melewati garis edarnya. Kadang terlalu ke bawah sehingga bumi terbakar oleh terik apinya (konon karena hal ini penduduk yang tinggal di sekitar garis khatulistiwa berkulit gelap karena terbakar terik kereta matahari), kadang terlalu ke atas sehingga langit membara.

Dari bumi Terra berseru kepada Jupiter agar segera bertindak menyelamatkan alam dari kehancuran. Jupiter menampakkan diri di awan-awan sambil menggenggam petirnya yang kemudian dilontarkannya ke arah Phaeton. Phaeton bersama kereta dan kuda-kudanya, yang kini padam apinya, terjatuh ke bumi dan hancur.

Segera ibunya dan saudari-saudarinya, para Heliad, berlari mendapatkan mayatnya yang mengambang di permukaan Sungai Eridanus dan menangisinya berhari-hari lamanya sampai Jupiter mengubah mereka menjadi pohon-pohon poplar.

Sol sendiri meski berduka atas kematian putranya tidak dapat menyalahkan tindakan Jupiter. Dia tetap menjalankan tugasnya seperti biasa tiap hari. Hanya saja kadang kala dia teringat akan putranya dan menangisinya Maka apabila kadang-kadang di tengah hari hujan turun sementara matahari tetap bersinar, orang akan berkata bahwa Sol sedang menangisi putranya.

Ada versi yang menyebutkan bahwa ibu Phaeton adalah Peri Rhoda yang dicintai oleh Sol. Oleh karena itu Pulau Rhodes disucikan bagi Sol. Di pelabuhan pulau tersebut dibangun patung besar Sol (colossus) yang menjadi salah satu keajaiban dunia.

Selain Rhoda ada juga seorang peri bernama Clytie yang mencintai Sol namun bertepuk sebelah tangan. Berhari-hari lamanya Clytie duduk di atas tanah yang dingin, sama sekali tak beranjak dari tempatnya, hanya memandangi Sol yang melintasi angkasa di atas keretanya.

Kala malam tiba, dia akan menunduk menangis berharap dapat menyaksikan pujaan hatinya lagi besok. Hanya embun malam dan air matanya yang menjadi santapannya. Lama kelamaan wujudnya pun berubah. Kakinya berubah menjadi akar yang tertanam dalam tanah dan wajahnya berubah menjadi bunga yang selalu menghadap ke atas, ke arah sang surya bersinar. Kita mengenalnya sebagai bunga matahari. Sama seperti Clytie yang menundukkan kepala saat Sol telah menuntaskan tugasnya begitu pula bunga matahari akan merunduk saat malam tiba.

Luna (Selene)
Luna, dewi bulan yang pucat, tiap malam melintasi angkasa dari istana emasnya di timur dengan mengendarai keretanya yang dihela dua ekor sapi jantan bertanduk sabit.

Dia memberikan cahayanya yang lembut keperakan bagi bumi di malam hari. Dalam perjalanan dia selalu disertai bintang-bintang yang dipimpin oleh Vesper, Bintang Senja. Kala fajar menyingsing, bersama mereka dia akan menuju ke Sungai Ocean di sebelah barat dan kembali ke istananya di timur dengan mengendarai perahu.

Di wajah Luna yang cantik dan murni selalu membayang kabut duka :( Konon suatu malam, saat dia sedang menjalankan tugasnya menerangi bumi, dia berjumpa seorang pemuda gembala yang tampan bernama Endymion di Gunung Latmos. Luna jatuh cinta pada Endymion. Namun sayang Endymion yang dianugerahi keabadian oleh Jupiter juga memohon agar diizinkan tidur selamanya Maka dia tak akan pernah terbangun oleh sentuhan lembut jemari Luna yang membelai wajahnya untuk mengatakan pada Luna bahwa dia juga mencintainya.

Luna dilukiskan sebagai wanita cantik bergaun dan berkerudung keperakan, wajahnya pucat oleh duka.

Aurora (Eos)

Aurora adalah dewi fajar keemasan yang berjari-jari merah bagai mawar. Tiap pagi, saat Luna hampir menuntaskan perjalanannya, Aurora akan membuka gerbang istana emasnya di timur lalu terbang dengan sayap-sayapnya yang bercahaya redup namun makin lama makin terang. Diikuti oleh Lucifer, Bintang Fajar, melintasi angkasa dari timur ke barat sambil menghalau bintang-bintang memasuki Sungai Ocean. Kecuali rasi Ursa Mayor dan Minor yang tak pernah tenggelam dan terbit di ufuk saat fajar menyingsing maupun senja menjelang.

Aurora membawa sekendi air dingin dalam perjalanannya dan memercikkan air tersebut ke atas permukaan rerumputan, dedaunan, dan bunga-bunga sebagai embun pagi.

Meski menikah dengan Aeolus, dewa angin, Aurora juga menjalin cinta dengan Orion. Orion adalah seorang pemburu bangsa Boetia yang tampan dan perkasa. Ketika menjalin cinta dengan Aurora, Orion pernah sesumbar akan memusnahkan semua hewan buas di muka bumi dan mempersembahkannya bagi Aurora.

Apollo yang mendengar hal tersebut kemudian mengirim seekor kalajengking raksasa untuk membunuh Orion. Aurora memohon bantuan Diana agar menyelamatkan Orion. Diana yang menyanyangi Orion sebagai sesama pemburu bersedia menyelamatkan Orion.

Pada saat Orion sedang dikejar-kejar oleh kalajengking raksasa tersebut, Diana bersiap-siap membidikkan panahnya untuk membunuh kalajengking tersebut. Tiba-tiba Apollo muncul dan mengaburkan pandangan Diana sehingga anak panahnya meleset, justru mengenai Orion yang tewas seketika.

Diana yang berduka karena tak dapat menepati janjinya pada Aurora kemudian menempatkan Orion di angkasa sebagai rasi bintang Orion, sedangkan kalajengking rakasasa tersebut oleh Apollo juga ditempatkan di angkasa sebagai rasi bintang Scorpio dalam posisi sedang memburu Orion.

Selain Orion, Aurora juga pernah menjalin cinta dengan Tithonus, putra Raja Laomedon dari Troy. Tithonus yang mencintai Aurora selalu bangun saat fajar merekah untuk menyaksikan kekasihnya tersebut menjalankan tugasnya mengumumkan kepada bumi bahwa sebentar lagi matahari akan kembali memberikan cahaya dan kehangatan bagi bumi.

Dari hasil hubungan mereka lahirlah seorang putra bernama Memnon. Sayang sekali saat Jupiter menganugerahkan keabadian bagi Tithonus, Aurora lupa memohon kemudaan abadi bagi kekasihnya tersebut, sehingga seiring berjalannya waktu Tithonus menjadi renta sementara ajalnya tak kunjung tiba. Akhirnya karena iba melihat Tithonus yang telah semakin lemah dalam kerentaannya, Aurora mengubahnya menjadi belalang, makhluk yang selalu bangun di saat fajar menyingsing.

Aurora dilukiskan sebagai wanita jelita berambut keemasan dengan jari-jari yang berwarna kemerahan bagai mawar serta bersayap. (Jupiter doc)

to be continued…

The Greek names of the classical deities:
Jupiter: Zeus
Juno: Hera
Minerva: Pallas Athena
Mars: Ares
Venus: Aphrodite
Vulcan: Hephaestus
Mercury: Hermes
Diana: Artemis
Latona: Leto
Aesculapius: Asclepius
Meditrina: Epione
Juventus: Ivy/Hebe
Lucina: Eileithyia
Ceres: Demeter
Vesta: Hestia
Neptune: Poseidon
Pluto/Dis: Hades
Proserpine: Persephone/Kore
Mors: Thanatos
Somnus: Hypnos
Morpheus: Oneiros
Cupid: Eros
Hermione: Harmonia
Discordia: Eris
Sol: Helios
Luna: Selene
Aurora: Eos
Lucifer: Phosphor
Vesper: Hesperus
Bacchus: Dionysus
Saturn: Chronos
Cybele: Rhea
Caelus: Uranus
Terra/Tellus: Gaia/Gea
Amor: Agape
Dia: Emera
Justitia: Themis
Pax: Irene
Victoria: Nike
Fortis: Bia
Fury: Eumenides/Erinnies
Parcae/Fata: Moirae
Grace: Charites
Felicitas/Fortuna: Tyche
Ver: Thallo (Tunas)
Aestas: Auxo (Tumbuh)
Autumna: Karpo (Masak)
Hyem: Chionia (Salju)
Aquilo: Boreas
Favonius: Zephyr
Eurus: Argestes
Auster: Notus
Catamite: Ganymede
Hercules: Heracles/Alcides
Arianna: Ariadne

(Sumber:Forum KG/Legenda Dewa&Dewi Yunani/Hansel/Jupiter doc/Mei’08)

Ditulis dalam Myth Stories | Bertanda: | Leave a Comment »

The Golden Age of Classical Myths – Part. 7

Ditulis oleh jupiter di/pada April 1, 2008

Neptune (Poseidon)

Neptune adalah dewa penguasa samudra, saudara Jupiter yang dijuluki si pengguncang bumi. Dengan trisulanya dia dapat menimbulkan badai yang menghempaskan kapal-kapal, namun dapat pula mendatangkan berkat bagi para pelaut.

Bagi bangsa Yunani Kuno, yang merupakan bangsa maritim, Neptune adalah personifikasi dari sifat-sifat lautan itu sendiri. Di kala tenang lautan merupakan sumber kekayaan yang amat berharga, namun di kala bergolak dapat berarti bencana bagi yang mengarunginya. Karena itu Neptune terkadang dilukiskan kejam terkadang murah hati.

Neptune berkuasa atas lautan dan semua perairan di permukaan bumi menggantikan Oceanus sejak Jupiter bertahta di Olympus. Permaisurinya adalah Amphitrite, putri dewa laut Nereus dengan dewi laut Doris.

Nereus dan Doris memiliki lima puluh orang putri yang disebut para Nereid. Di antara para Nereid yang terkenal adalah Amphitrite, Thetis, dan Galatea.

Suatu hari, di kala Neptune menjelajah samudra di atas keretanya yang ditarik kuda-kuda putih, dia melihat Amphitrite beserta saudari-saudarinya sedang bermain-main bersama makhluk-makhluk penghuni lautan lainnya. Neptune langsung jatuh hati melihatnya.

Namun rupanya Amphitrite justru ngeri melihat sosok Neptune yang menakutkan sehingga dia lari bersembunyi ke ujung dunia untuk menghindarinya. Neptune menjadi murka dan memukulkan trisulanya ke permukaan air sehingga timbullah badai dahsyat berbulan-bulan lamanya, sampai Jupiter bertindak mengirimkan serombongan lumba-lumba yang menuntun Neptune ke tempat Amphitrite.

Akhirnya Amphitrite bersedia menjadi istri Neptune dan menjadi ratu samudra. Perkawinan mereka dikaruniai dua orang putra, yaitu Triton dan Proteus.

Pasangan ini sering menjelajah samudra bersama di atas kereta yang ditarik kuda-kuda putih diiringi para Nereid lainnya, dengan lumba-lumba berloncatan riang serta burung-burung laut yang memekik girang beterbangan di sekeliling mereka. Arak-arakan tersebut dipimpin oleh Triton yang meniup sangkakala kerangnya yang dapat menimbulkan atau menentramkan badai.

Neptune dilukiskan sebagai pria berambut ikal keperakan dengan janggut panjang berwarna sama memakai jubah bersilang sebelah di dada. Mengenakan mahkota di atas kepalanya dan menggengam trisula di tangannya.

Amphitrite dilukiskan sebagai wanita cantik yang berhiaskan kalung mutiara di leher dan pergelangan tangan, sementara di atas kepalanya dia mengenakan mahkota dari rangkaian tetumbuhan laut. Triton dilukiskan sebagai pemuda tampan yang berekor ikan sedang meniup sangkakala kerangnya.

Kota yang disucikan bagi Neptune adalah Corinth dan Samos. Sebelumnya dia menginginkan Attica namun rupanya Minerva yang lebih beruntung mendapatkannya, lalu Argos namun Juno yang menjadi pemiliknya, dan kemudian Delphi yang menjadi milik Apollo.

Ketika memperebutkan Attica dengan Minerva, Neptune menjanjikan kota tersebut akan menjadi kota pelabuhan yang termasyhur, sedangkan Minerva memberikan tanaman zaitun yang banyak kegunaannya bagi penduduk Attica. Cecrops, Raja Attica, tak dapat memutuskan hal tersebut sehingga dewa-dewi Olympus turun tangan memutuskan. Keputusan dewa-dewi Olympus menempatkan Neptune di pihak yang kalah.

Hal ini menimbulkan murka Neptune sehingga Attica kemudian dilanda bencana dari laut. Akhirnya amarah Neptune mereda setelah kaum wanita Attica dihukum harus kehilangan hak-hak mereka dalam pemerintahan.

Pluto (Hades)

Pluto adalah saudara Jupiter yang menjadi raja di kerajaan orang mati, Hades. Kerajaan Hades yang terletak di bawah bumi adalah tempat jiwa-jiwa orang mati menantikan penghakiman atas diri mereka.

Jiwa-jiwa yang baik akan tinggal di Padang Elysium dan mengalami kebahagiaan abadi setelah penghakiman, sedangkan jiwa-jiwa yang jahat akan disiksa sampai kekal di Tartarus.

Sebelum mencapai Hades yang gerbangnya dijaga Cerberus, anjing yang berkepala tiga, suatu jiwa harus menyeberangi Sungai Styx, yang airnya berkekuatan gaib karena menjadi tempat dewa-dewi bersumpah, dengan mengendarai perahu yang dikemudikan oleh seorang dewa bernama Charon.

Di Hades selain Pluto dan permaisurinya, Proserpine, juga tinggal Justitia, dewi keadilan yang memakai penutup mata dan membawa pedang serta neraca di tangannya, yang menjatuhkan keputusan bagi setiap jiwa. Justitia dalam menjatuhkan keputusannya dibantu oleh tiga hakim Hades, yaitu Aeacus, Minos, dan Rhadamanthis.

Para Fury adalah tiga dewi pembalasan yang bertugas menghukum jiwa-jiwa yang jahat. Mereka adalah Alecto, Megaera, dan Tisiphone yang berdiri di sekitar tahta Pluto dan Proserpine.

Selain itu masih ada dewa-dewa lain yang juga tinggal di Hades, yaitu Mors, dewa maut; Somnus, dewa tidur, saudara kembar Mors, keduanya adalah putra Nox; dan Morpheus, putra Somnus, yang merupakan dewa mimpi.

Pluto dilukiskan sebagai pria berambut dan berjanggut kelabu, di tangannya tergenggam dwisulanya yang digunakannya untuk membelah bumi, saat berkunjung ke permukaan bumi dengan mengendarai keretanya yang dihela kuda-kuda hitam. Nama Pluto sendiri berarti ‘pembawa kekayaan’ karena dia adalah raja di bawah permukaan bumi, di mana tersimpan banyak kekayaan yang tak ternilai.

Proserpine dilukiskan sebagai wanita muda jelita bermahkotakan rangkaian bunga, memakai gaun yang semarak serta membawa cornucopia (tanduk kelimpahan) yang sarat dengan buah-buahan, lambang kekayaan, di tangannya.

Charon dilukiskan sebagai seorang berjubah dan berkerudung hitam dengan tangan-tangan kurus yang memegang kayuh perahu jiwa-jiwa. Wajahnya tak terlihat karena terselubung kerudung hitamnya. (jupiter doc)

to be continued…

The Greek names of the classical deities:
Jupiter: Zeus
Juno: Hera
Minerva: Pallas Athena
Mars: Ares
Venus: Aphrodite
Vulcan: Hephaestus
Mercury: Hermes
Diana: Artemis
Latona: Leto
Aesculapius: Asclepius
Meditrina: Epione
Juventus: Ivy/Hebe
Lucina: Eileithyia
Ceres: Demeter
Vesta: Hestia
Neptune: Poseidon
Pluto/Dis: Hades
Proserpine: Persephone/Kore
Mors: Thanatos
Somnus: Hypnos
Morpheus: Oneiros
Cupid: Eros
Hermione: Harmonia
Discordia: Eris
Sol: Helios
Luna: Selene
Aurora: Eos
Lucifer: Phosphor
Vesper: Hesperus
Bacchus: Dionysus
Saturn: Chronos
Cybele: Rhea
Caelus: Uranus
Terra/Tellus: Gaia/Gea
Amor: Agape
Dia: Emera
Justitia: Themis
Pax: Irene
Victoria: Nike
Fortis: Bia
Fury: Eumenides/Erinnies
Parcae/Fata: Moirae
Grace: Charites
Felicitas/Fortuna: Tyche
Ver: Thallo (Tunas)
Aestas: Auxo (Tumbuh)
Autumna: Karpo (Masak)
Hyem: Chionia (Salju)
Aquilo: Boreas
Favonius: Zephyr
Eurus: Argestes
Auster: Notus
Catamite: Ganymede
Hercules: Heracles/Alcides
Arianna: Ariadne

(Sumber:Forum KG/Legenda Dewa&Dewi Yunani/Hansel/Jupiter doc/April’08)

Ditulis dalam Myth Stories | Leave a Comment »

The Golden Age of Classical Myths – Part. 7

Ditulis oleh jupiter di/pada Maret 31, 2008

Neptune (Poseidon)

Neptune adalah dewa penguasa samudra, saudara Jupiter yang dijuluki si pengguncang bumi. Dengan trisulanya dia dapat menimbulkan badai yang menghempaskan kapal-kapal, namun dapat pula mendatangkan berkat bagi para pelaut.

Bagi bangsa Yunani Kuno, yang merupakan bangsa maritim, Neptune adalah personifikasi dari sifat-sifat lautan itu sendiri. Di kala tenang lautan merupakan sumber kekayaan yang amat berharga, namun di kala bergolak dapat berarti bencana bagi yang mengarunginya. Karena itu Neptune terkadang dilukiskan kejam terkadang murah hati.

Neptune berkuasa atas lautan dan semua perairan di permukaan bumi menggantikan Oceanus sejak Jupiter bertahta di Olympus. Permaisurinya adalah Amphitrite, putri dewa laut Nereus dengan dewi laut Doris.

Nereus dan Doris memiliki lima puluh orang putri yang disebut para Nereid. Di antara para Nereid yang terkenal adalah Amphitrite, Thetis, dan Galatea.

Suatu hari, di kala Neptune menjelajah samudra di atas keretanya yang ditarik kuda-kuda putih, dia melihat Amphitrite beserta saudari-saudarinya sedang bermain-main bersama makhluk-makhluk penghuni lautan lainnya. Neptune langsung jatuh hati melihatnya.

Namun rupanya Amphitrite justru ngeri melihat sosok Neptune yang menakutkan sehingga dia lari bersembunyi ke ujung dunia untuk menghindarinya. Neptune menjadi murka dan memukulkan trisulanya ke permukaan air sehingga timbullah badai dahsyat berbulan-bulan lamanya, sampai Jupiter bertindak mengirimkan serombongan lumba-lumba yang menuntun Neptune ke tempat Amphitrite.

Akhirnya Amphitrite bersedia menjadi istri Neptune dan menjadi ratu samudra. Perkawinan mereka dikaruniai dua orang putra, yaitu Triton dan Proteus.

Pasangan ini sering menjelajah samudra bersama di atas kereta yang ditarik kuda-kuda putih diiringi para Nereid lainnya, dengan lumba-lumba berloncatan riang serta burung-burung laut yang memekik girang beterbangan di sekeliling mereka. Arak-arakan tersebut dipimpin oleh Triton yang meniup sangkakala kerangnya yang dapat menimbulkan atau menentramkan badai.

Neptune dilukiskan sebagai pria berambut ikal keperakan dengan janggut panjang berwarna sama memakai jubah bersilang sebelah di dada. Mengenakan mahkota di atas kepalanya dan menggengam trisula di tangannya.

Amphitrite dilukiskan sebagai wanita cantik yang berhiaskan kalung mutiara di leher dan pergelangan tangan, sementara di atas kepalanya dia mengenakan mahkota dari rangkaian tetumbuhan laut. Triton dilukiskan sebagai pemuda tampan yang berekor ikan sedang meniup sangkakala kerangnya.

Kota yang disucikan bagi Neptune adalah Corinth dan Samos. Sebelumnya dia menginginkan Attica namun rupanya Minerva yang lebih beruntung mendapatkannya, lalu Argos namun Juno yang menjadi pemiliknya, dan kemudian Delphi yang menjadi milik Apollo.

Ketika memperebutkan Attica dengan Minerva, Neptune menjanjikan kota tersebut akan menjadi kota pelabuhan yang termasyhur, sedangkan Minerva memberikan tanaman zaitun yang banyak kegunaannya bagi penduduk Attica. Cecrops, Raja Attica, tak dapat memutuskan hal tersebut sehingga dewa-dewi Olympus turun tangan memutuskan. Keputusan dewa-dewi Olympus menempatkan Neptune di pihak yang kalah.

Hal ini menimbulkan murka Neptune sehingga Attica kemudian dilanda bencana dari laut. Akhirnya amarah Neptune mereda setelah kaum wanita Attica dihukum harus kehilangan hak-hak mereka dalam pemerintahan.

Pluto (Hades)

Pluto adalah saudara Jupiter yang menjadi raja di kerajaan orang mati, Hades. Kerajaan Hades yang terletak di bawah bumi adalah tempat jiwa-jiwa orang mati menantikan penghakiman atas diri mereka.

Jiwa-jiwa yang baik akan tinggal di Padang Elysium dan mengalami kebahagiaan abadi setelah penghakiman, sedangkan jiwa-jiwa yang jahat akan disiksa sampai kekal di Tartarus.

Sebelum mencapai Hades yang gerbangnya dijaga Cerberus, anjing yang berkepala tiga, suatu jiwa harus menyeberangi Sungai Styx, yang airnya berkekuatan gaib karena menjadi tempat dewa-dewi bersumpah, dengan mengendarai perahu yang dikemudikan oleh seorang dewa bernama Charon.

Di Hades selain Pluto dan permaisurinya, Proserpine, juga tinggal Justitia, dewi keadilan yang memakai penutup mata dan membawa pedang serta neraca di tangannya, yang menjatuhkan keputusan bagi setiap jiwa. Justitia dalam menjatuhkan keputusannya dibantu oleh tiga hakim Hades, yaitu Aeacus, Minos, dan Rhadamanthis.

Para Fury adalah tiga dewi pembalasan yang bertugas menghukum jiwa-jiwa yang jahat. Mereka adalah Alecto, Megaera, dan Tisiphone yang berdiri di sekitar tahta Pluto dan Proserpine.

Selain itu masih ada dewa-dewa lain yang juga tinggal di Hades, yaitu Mors, dewa maut; Somnus, dewa tidur, saudara kembar Mors, keduanya adalah putra Nox; dan Morpheus, putra Somnus, yang merupakan dewa mimpi.

Pluto dilukiskan sebagai pria berambut dan berjanggut kelabu, di tangannya tergenggam dwisulanya yang digunakannya untuk membelah bumi, saat berkunjung ke permukaan bumi dengan mengendarai keretanya yang dihela kuda-kuda hitam. Nama Pluto sendiri berarti ‘pembawa kekayaan’ karena dia adalah raja di bawah permukaan bumi, di mana tersimpan banyak kekayaan yang tak ternilai.

Proserpine dilukiskan sebagai wanita muda jelita bermahkotakan rangkaian bunga, memakai gaun yang semarak serta membawa cornucopia (tanduk kelimpahan) yang sarat dengan buah-buahan, lambang kekayaan, di tangannya.

Charon dilukiskan sebagai seorang berjubah dan berkerudung hitam dengan tangan-tangan kurus yang memegang kayuh perahu jiwa-jiwa. Wajahnya tak terlihat karena terselubung kerudung hitamnya. (jupiter doc)

to be continued…

The Greek names of the classical deities:
Jupiter: Zeus
Juno: Hera
Minerva: Pallas Athena
Mars: Ares
Venus: Aphrodite
Vulcan: Hephaestus
Mercury: Hermes
Diana: Artemis
Latona: Leto
Aesculapius: Asclepius
Meditrina: Epione
Juventus: Ivy/Hebe
Lucina: Eileithyia
Ceres: Demeter
Vesta: Hestia
Neptune: Poseidon
Pluto/Dis: Hades
Proserpine: Persephone/Kore
Mors: Thanatos
Somnus: Hypnos
Morpheus: Oneiros
Cupid: Eros
Hermione: Harmonia
Discordia: Eris
Sol: Helios
Luna: Selene
Aurora: Eos
Lucifer: Phosphor
Vesper: Hesperus
Bacchus: Dionysus
Saturn: Chronos
Cybele: Rhea
Caelus: Uranus
Terra/Tellus: Gaia/Gea
Amor: Agape
Dia: Emera
Justitia: Themis
Pax: Irene
Victoria: Nike
Fortis: Bia
Fury: Eumenides/Erinnies
Parcae/Fata: Moirae
Grace: Charites
Felicitas/Fortuna: Tyche
Ver: Thallo (Tunas)
Aestas: Auxo (Tumbuh)
Autumna: Karpo (Masak)
Hyem: Chionia (Salju)
Aquilo: Boreas
Favonius: Zephyr
Eurus: Argestes
Auster: Notus
Catamite: Ganymede
Hercules: Heracles/Alcides
Arianna: Ariadne

(Sumber:Forum KG/Legenda Dewa&Dewi Yunani/Hansel/Jupiter doc/April’08)

Ditulis dalam Myth Stories | Bertanda: | Leave a Comment »