Ditulis oleh jupiter di/pada Februari 26, 2009

Aku dan sujud syukurku
(Sejumput makna dibalik peristiwa)
Arghhhhhhh…
aku ingin teriak
aku ingin lompat
aku ingin terbang
aku ingin melayang
Tapi aku tak berdaya
lidahku kelu dan hampir bisu
kakiku tersandung segunung batu
sayapku ngilu dan sudah menjadi kaku
hasratku sekarat dan perlahan beranjak beku
Aku hanya bisa memeluk ingin
dan memendam beragam angan
rasaku diterbangkan oleh semilir angin
badanku panas terbakar bara api ungun
tapi hati tak bergeming dan tetap saja dingin
Aku harus terus bergerak
berputar dan berhenti merangkak
menjaga jarak agar tidak lagi terinjak
bangkitkan semangat dan keluar dari kotak
mendekap sejumput harap untuk menggapai puncak
Aku harus belajar tega bilang TIDAK
pada semua mimpi yang tak mungkin nyata
tak peduli orang tergelak aku tetap harus berontak
karena ternyata… aku masih menjadi manusia biasa
belum sempurna walau katanya sudah setengah DEWA

Aku terduduk sangat khusu
di atas hamparan sajadah beludru
mata tertutup, bibir terkatup, jiwa menunduk
mencerna beragam makna dari rangkaian peristiwa
yakinkan jiwa pada asa yang segera menjelma nyata
Aku berjalan di ujung senja
mantapkan langkah tegakan kepala
abaikan segala rasa lapangkan rongga dada
seberkas cahaya bersinar terangi jiwa tajamkan mata
Puji syukur… kini sebagian masalah telah berangsur sirna

***
Ditulis dalam Puisiku | 1 Komentar »
Ditulis oleh jupiter di/pada Februari 14, 2009
Aku, dua bidadari dan undangan peresmian
( Hingar bingar malam kasih sayang )
Bagi sebagian orang valentine adalah malam yang special
malam yang sangat tepat untuk mencurahkan kasih sayang
tapi tidak sedikit pasangan yang mencibir bahkan menentang
akh… peduli setan, malam ini aku sedang tidak minat berperang
hanya ingin melewati malam dengan sedikit merasakan riang
bersama sepasang bidadari kami menghadiri satu undangan
peresmian satu tongkrongan gaul di jantung kota kembang
bertiga kami meluncur dan membelah dinginnya malam
bagai bodyguard kuikuti dua pasang langkah jenjang
hingar bingar musik sambut langkah kami datang
Tongkrongan milik seleb sangat kondang ini tidak begitu besar
ramainya undangan yang datang membuat kaki sulit dilangkahkan
diantara kerumunan orang tatapanku berpendar ke seluruh ruangan
mencari sosok sahabat yang merupakan salah satu pemilik tongkrongan
hentakan musik bertambah kencang ketika satu tangan menggapai riang
aku yang sebetulnya tidak suka keramaian melangkah ke sudut ruangan
kucoba nikmati hingar bingar serta aura riang undangan yang datang
janji telpon teman terpaksa kubatalkan karena tidak memungkinkan
kuteguk leci martini dan kunyalakan sebatang rokok kesayangan
kaki bergoyang seiring dentuman musik menghentak jantung
Di bawah gemerlap lampu pesta kulihat sepasang seleb kondang
sibuk sekali mereka berpose memuaskan keinginan tamu undangan
sepertinya hanya kami yang sama sekali tidak tertarik mengabadikan
terlintas dalam pikiranku, apa sebetulnya yang rata-rata mereka cari?
sekedar memenuhi undangan seperti kami bertiga? atau ada yang lain?
pertanyaan tak penting berlompatan di kepala yang mulai sedikit pening
malam beranjak pergi, tak ada yang special selain bising tamu undangan
lewat dini hari dua bidadari menganggukan kepala mengajak aku pulang
pesta malam kasih sayang berlalu tanpa meninggalkan banyak kesan
selain satu keyakinan; dunia hingar bingar sudah bukan duniaku lagi
Di sudut kamar kusandarkan lelah ini pada dinding malam
kuceritakan padanya tentang ketulusan sentuhan kasih sayang
tanpa hingar bingar, tak tersentuh oleh sorak sorai keriangan sesaat
hanya bersama heningnya malam tempatku mengurai beragam kisah
tentang manisnya persahabatan, tentang indahnya belaian cinta kasih
tentang kenangan masa silam yang tak pernah sanggup aku tepiskan
tentang segala rasa yang tak mampu aku ungkapkan secara lisan
di bawah temaram cahaya rembulan aku berjanji pada bintang
untuk selalu tegar menghadapi hantaman badai cobaan
untuk bisa lepas dari cengkraman kekecewaan
untuk selalu ada untukmu, sahabatku
sungguh, aku sayang kalian
sepenuh hatiku
(Jupiter doc/dalam hingar bingar malam kasih sayang/14Peb09)
Ditulis dalam Coretanku, Puisiku | 4 Komentar »