RENUNGAN JUPITER

Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam, di atas batu yang hitam, di malam yang amat kelam.

Arsip untuk Januari, 2009

Tak mengerti yang mereka cari

Ditulis oleh jupiter di/pada Januari 23, 2009

Ada, mengada dan tiada
(Tak mengerti yang mereka cari)

Jiwaku, semalam aku sendirian di dunia ini
sebengis kematian… di dalam pikiran malam
semalam diriku adalah ribuan kata tak bersuara
ketika angin kembali meniupkan kisah masa silam
hatiku jadi mati suri, gagap rasa kemudian peka lagi
ingatanku melayang, memudar dan kembali amnesia
ketika hitam kembali selimuti kelamnya rimba maya

Jiwaku, saat mereka kembali mengada
bagai melewati tebing yang sangat curam
laksana berenang di genangan samudera tuba
mengaburkan realita, membuyarkan rajutan nyata
selalu saja tak mudah menafsirkan perilaku manusia
sesulit aku menghitung taburan bintang di langit kelam
dua sisi yang tak kupahami kapan diperankan berganti

Jiwaku, kau menasehati dan mengingatkan hatiku
bahwa air mata yang kukeluarkan dari hati lebih murni
daripada senyum sinis dan cibiran para pelakon drama hati
tetes air mataku membersihkan hati dari beragam kuman benci
menyadarkan diri bahwa sekarang aku sudah berdiri tegak di sini
menikmati masa kini dan menyongsong masa depan adalah takdirku
pertemuan tempo dulu hanyalah dejavu dari mirisnya garis nasibku

Jiwaku, hari ini aku menjelma menjadi sebuah nyanyian
nyanyian syahdu dan merdu yang tercipta di atas lidah hari
diantara syairnya ada pemikiran hari ini dan harapan hari esok
tarian jemariku selalu terinspirasi dan dikemas melalui dawai hati
jauhkan hati dari lidah yang enggan untuk menyatakan satu kebenaran
dari aneka sikap baik dengan selubung niat bertujuan meredupkan arti
katakan, aku sama sekali tidak sedang mencaci apalagi menebar benci
hanya menerangi labirin hati agar bisa menggapai apa yang kumaui
mereka bebas pergi tapi jangan coba kacaukan lagi kemudi diri
aku hanya penulis diary yang tidak mengejar materi
dan bukan pemain parodi yang tak punya gigi

(Jupiter doc/dalam kebenaran arti yang kembali dikebiri/23Jan09)

Ditulis dalam Coretanku, Puisiku | Leave a Comment »

Ternyata dia ada di bawah lemari

Ditulis oleh jupiter di/pada Januari 22, 2009

Mencari, semedi dan sembunyi
(Ternyata dia ada di bawah lemari)


Sudah tiga hari aku sibuk mencari-cari
mencari penyebab aku cuti meliukan jemari
kutelan sisa roti, kuteguk kopi lalu aku berdiri
sesaat gemerincing kunci terdengar nyaring sekali
kuputar anak kunci, kubuka lemari, kutarik gagang laci
kuaduk dan kutumpahkan pernak-pernik penghuni
ludes, kini laci sudah tidak lagi berpenghuni
tapi yang kucari masih saja tak kutemui

Ke mana lagi aku harus mencari?
di mana kah gerangan dia sembunyi?
sudah hampir satu minggu ini aku semedi
tak juga kutemukan ada tanda yang mendekati
aku tak bisa mengingat apa saja yang terlewati
kupejamkan mata dan kurapatkan sepuluh jemari
di dalam hening yang sudah ditinggalkan mimpi
bibir bergerak pelan merapalkan jampi-jampi
Simsalabim… Abrakadabra… Alakazam…

Hufh! tunggu dulu! bunyi apaan tuh?
berisik sekali, sepertinya dari bawah lemari
kedua mata mengernyit, jidat mengedip genit
kucoba mengintip dan mencari tahu yang terjadi
kutekuk kaki dan kudengarkan sumber berisik tadi
sepintas kulihat ada sesuatu bergerak lincah sekali
memantul ke setiap dinding di bawah lemari
kuambil korek api dan kucoba menerangi

Hey! Ini dia yang sedang aku cari
di sini rupanya tempat dia bersembunyi
setelah kelimpungan mencari ke sana ke mari
ternyata dia sengaja main petak umpet di tempat ini
di bawah rongga lemari yang gelap dan pengap sekali
kuulurkan jemari, kurengkuh dan kudekatkan dia ke hati
pantas saja beberapa hari ini aku mendadak autis sekali
ternyata pundi ingatanku bersembunyi di bawah lemari

(Jupiter doc/dalam memahami arti/22Jan09)

Ditulis dalam Coretanku, Puisiku | 3 Komentar »

Kunikmati yang hari ini terjadi

Ditulis oleh jupiter di/pada Januari 17, 2009

Hati, pikiran dan penerimaan diri
(Kunikmati yang hari ini terjadi)

Hatiku, apa sebetulnya yang terjadi?
mengapa hati ini menjadi semakin beku?
beberapa sosok hilir mudik dan mencoba mampir
aku meraba hati, tak bergeming dan tetap saja dingin
aku melangkah ke depan cermin besar di satu sudut kamar
kutatap dan kuraba bibirku, bibir ini sudah tidak sama lagi
kulihat ada sebaris senyum tapi ini bukan senyumku yang dulu
hati dan senyumku hambar dan tidak lagi tersentuh kehangatan

Dulu aku tidak seperti ini, tidak kaku dan tak mudah beku
setiap kali sentuhan dan dekap hangat aku rasa dan aku terima
mudah sekali hati ini berbunga dan melambung hingga ke nirwana
curiga serta perasangka sama sekali tidak pernah menyentuh hatiku
dulu aku selalu percaya pada apa yang pertama aku rasa dan aku lihat
aku selalu percaya selama hatiku masih bisa percaya, tulus dan terbuka
selama itu pula aku yakin akan mendapatkan timbal balik yang sama
dulu aku selalu yakin perasaaan dan penglihatanku tidak pernah salah

Tapi itu dulu, ketika rasa kecewa baru menyentuh beberapa ruang
kini virus kecewa sudah hampir menempati seluruh ruang di pikiran
aku merasa ada sesuatu yang berubah, hatiku tidak lagi sehangat dulu
meski sering aku tepis namun sepertinya hatiku sudah mulai terinfeksi
aku sudah tidak percaya lagi pada segala perasaan dan penglihatanku
akh… apakah memang harus seperti ini yang dinamakan perubahan?
hatiku yang dulu selalu percaya pada siapa saja yang menyapa
kini selalu curiga dan waspada pada tiap orang yang datang

Benarkah semua rasa ini merupakan cermin dari trauma?
sudah demikian traumanya kah hatiku pada sebuah ketulusan?
perjuanganku untuk bisa selalu berpikiran positif pada semua orang
sepertinya sudah sirna, menguap dan mulai menghilang dari dalam diri
aku sadar apa yang aku rasa ini sangat salah dan sama sekali tidak benar
ini adalah jelmaan dari penyakit hati yang selalu aku hindari dan aku takuti
kini penyakit yang awalnya hanya menggerogoti pikiran ini mulai menyebar
mewabah dan menjangkiti satu persatu ruang jernih yang tersisa di hati

Apa yang bisa aku lakukan untuk menepis dan mengusirnya?
sudah aneka pil dan tablet antibody aku teguk dan aku kunyah
mulai dari segala pencerahan dan motivasi yang selalu aku baca
menyediakan waktu untuk menyepi, merenung dan introspeksi diri
menjernihkan pikiran dengan beragam nasihat yang mampir ke telinga
semuanya seakan menjadi sia-sia, hanya sesaat sanggup menepisnya
disaat berikutnya seperti biasa, aku selalu kembali terdampar di sini
terdampar di satu ruang yang membuat hatiku beku dan membatu

Sejujurnya aku tidak mau berubah apabila harus seperti ini
hati kecilku berontak dan menolak pada perubahan yang terjadi
aku benar-benar merasa asing dan tidak lagi mengenal diriku sendiri
tetapi mengapa di satu sisi terkadang aku merasa lebih baik seperti ini
dengan tidak mudah percaya berarti aku tidak akan mudah lagi terluka
dengan tidak menggunakan hati berarti aku tidak akan pernah tersakiti
dengan membangkitkan rasa benci berarti aku akan bisa mudah melupakan
bilakah setiap perubahan harus selalu melewati proses asing seperti ini?

Entahlah! Aku sendiri tidak mengerti apa yang sedang terjadi
saat ini hati dan pikiranku sama sekali tidak bisa berkompromi
mungkin ini merupakan satu proses dari sebuah penerimaan diri
untuk dapat melupakan segala perasaan sakit yang pernah terjadi
untuk bisa meresapi dan menikmati apa yang sedang menghampiri
untuk mampu menepis segala mimpi yang belum tentu akan terjadi
sepertinya kalimat-kalimat pencerahan tersebut sederhana sekali
namun ternyata sangat sulit merealisasikannya ke dalam diri

Satu yang pasti, aku harus selalu percaya pada takdir
seberapapun kuatnya aku berjuang dan berusaha
apabila takdirku memang tidak mengizinkan
selamanya aku tetap akan terus seperti ini
garis hidupku mungkin sedikit lebih rumit
dari garis hidup saudara-saudaraku sendiri
tetapi aku yakin dari semua yang terjadi
selalu ada hikmah yang bisa aku petik

hari ini kembali bebanku bisa keluar
hari ini hatiku kembali merasa damai
hari ini pikiranku sudah beranjak tenang
hari ini kembali kutemukan pencerahan
hari ini aku mendapatkan perenungan
hari ini sementara masalahku teratasi
tapi hari ini tak akan pernah berubah
tetap hanya akan menjadi hari ini

Seperti yang aku rasakan kemarin
esok hari aku tidak bisa memprediksi
perasaan seperti apa yang akan mampir
untuk itu aku akan terus belajar tidak peduli
berusaha keras untuk tidak lagi memikirkan
apa yang sudah terlewati dan akan terjadi
semoga selamanya aku bisa terus begini
menikmati hanya yang hari ini terjadi

(Jupiter doc/dalam proses penerimaan diri/17Jan09)

Ditulis dalam Puisiku | Leave a Comment »

Tarian tanpa hati

Ditulis oleh jupiter di/pada Januari 13, 2009

Aku, bintang dan langkah ke depan
( Tarian tanpa hati )


du bi du bi dam…
hati berdendang riang
jantung berdetak kencang
kedua kaki bergoyang-goyang
jemari tangan bergerak perlahan
papan keyboard yang menjadi tujuan

Tak tuk tak tak tuk…
ketukan jemari terdengar lamban
awali petang sambut datangnya malam
kutepis segala yang berbau usang
kurengkuh aroma masa depan
bintang itu pasti kan datang

Dalam diam aku tatap satu bintang
berpijar temaram temani cahaya rembulan
seiring berlalunya satu alunan nada sumbang
kusingkap satu tabir penghalang arah masa depan
bibirku akan terus berdendang dengan sangat riang
tidak lagi bimbang menyambut datangnya terang
walau genderang perang selalu di dendangkan
tanpa beban kupanjat tangga malam

Menarilah terus jemari hati
hingga malam mencabik sepi
dan basi merengut sunyinya hari
aku sudah terlalu lelah mencari arti
lenyap daya memahami yang kau cari
sabarku sudah terkontaminasi rasa benci
tarianmu sudah tidak lagi menyentuh hati

Menarilah! lemaskan ibu jari
tebarkan kepalsuan satu sisi hati
kini aku sudah tidak mau lagi peduli
karena aku sudah merasa damai di sini
sendiri dan akan terus melangkahkan kaki
selamat tinggal mimpi, kututup lembaran basi
kulepas segala bayangan yang tidak pernah pasti
kulanjutkan perjalanan tanpa hati bermain dalam diri

Satu keyakinan, di puncak tangga sudah menunggu satu bintang
bersinar sangat terang dengan satu dekap hangat ketulusan
aku harus bertahan untuk tidak lagi menoleh ke belakang
tak peduli kaki sudah pincang aku akan terus berjalan
abaikan masa suram tanggalkan genderang perang
malam, pagi, siang dan petang terus berdendang
tanpa menunggu lagi hadirnya bintang kelam
aku terus berjalan dan enggan bertahan
tarianmu sudah cukup membuktikan
bukan aku yang pendendam
itu sudah kucampakkan
di masa silam
titik
doa

(Jupiter doc/dalam diam yang terus dibayangi/13Jan09)

Ditulis dalam Puisiku | Leave a Comment »