RENUNGAN JUPITER

Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam, di atas batu yang hitam, di malam yang amat kelam.

Arsip untuk Desember, 2008

Menyambut datangnya tahun baru

Ditulis oleh jupiter di/pada Desember 27, 2008

Masa lalu, kisah baru dan kesiapanku
(Menyambut datangnya tahun baru)


Satu lagi tentang cinta
cinta yang tak pernah mati
sepanjang hidup kupupuk cinta ini
kubiarkan tumbuh dan terus bersemi
orang ‘suci’ bilang cintaku pekat dan hitam
Sungguh! Kini aku sudah tidak mau lagi peduli

Ada cinta di hatiku
cintaku datang dan pergi
cerahkan hari tepiskan sepi
meski tersingkir dan hampir mati
kuresapi makna cinta di dalam diri
kuikuti terus apa yang menjadi kata hati
sampai tiba masa di mana aku harus menepi

Satu jam yang lalu kamarku pengap dan berbau
bau yang sangat menyengat hingga membuat dadaku sesak
pandanganku kabur oleh kelambu masa lalu yang membuatku layu
langkahku limbung mendekati cermin yang memantulkan kenangan itu
samar aku melihat satu bayangan yang memancarkan satu kisah pilu
segera kutangkup wajahku, kuputar cermin menghadap ke dinding

Cukup! Kali ini aku tak boleh larut lagi dalam kenangan itu
luka masa lalu hanya sanggup membuat hasratku menjadi beku

Perlahan kusentuh tombol motivasi
kutanggalkan segala beban di dalam diri
kubalut goresan pedih yang memanjang di sanubari
kukubur kenangan yang dulu sempat melumpuhkan kaki
pelan-pelan aku beranjak dan mencoba untuk kembali berdiri
kini aku tak mau terkurung lagi dalam sepi dan menggigil sendiri
tak akan kubiarkan cintaku layu dan mati oleh sesuatu yang tak pasti

Satu minggu yang lalu aku mendapatkan cermin baru
cermin yang sama sekali tidak ternoda oleh aroma masa lalu
kupasang cermin baru itu dan perlahan kuhadapkan ke arahku
tersembul satu sosok bayangan dengan senyum yang masih kaku
walau masih ragu kuangkat tangan, kutelusuri setiap lekuk wajah itu
mulai dari dagu, puncak bibir, kelopak mata tak luput dari belaianku

Kutatap lekat-lekat wajah itu
mungkinkah ini wajahku yang baru?
semburat wajah yang memancarkan aura rindu
dengan aneka warna yang mendamaikan kalbu
warna kehidupan dengan satu senyuman
senyum yang sudah tidak lagi beku

Seiring berlalunya tahun yang membelenggu hati dan langkahku
gejolak semangat baru perlahan merebak memenuhi ruang di kalbu
cerahnya pagi serta merdunya kicau burung telah membangunkanku
dari tidur panjang yang selalu dipenuhi oleh bayangan pilu masa lalu
Kusingkap dan kulipat selimut mimpi sendu yang sudah lama berlalu

Selamat Datang Tahun Baru 2009
kusambut hadirmu tanpa sedikitpun tersisa ragu
penuh rindu kubuka lembaran putih yang masih bersih
dengan menanggalkan segala perhitungan harapan masa depan
kujelang datangnya tantangan yang akan menghadang
semoga perjalananku kemudian selalu dilancarkan
dan semoga aku kan terus sanggup bertahan
sampai denyut nadi penghabisan


(Jupiter doc/dalam aura rindu/27desember2008)

Ditulis dalam Puisiku | Leave a Comment »

Ini Bukan Perpisahan!

Ditulis oleh jupiter di/pada Desember 18, 2008

Ketika Penerimaan Diri Kembali di Uji
( Ini Bukan Perpisahan! )


Riuh pesta masih bergema dan rintik hujan baru saja reda
Aku, kamu dan kita semua tak ada yang pernah mengira
Saat tiba sebuah berita yang membuat bibir kita menganga

Sekejap kita semua dibuat menggigil dan tidak mampu bersuara
Ketika cerita ‘berbeda’ dengan terpaksa harus terengut tiba-tiba
Barisan tanya mendadak berputar dan berserabutan di kepala

Apa yang terjadi?
Haruskah secepat ini?
Mengapa pilihan itu menyapa dia?
Bagaimana kelak hubungan kedekatan kita?

Ketika logika dan hati bersilang serta beradu pendapat
Sebuah pembenaran serta kambing hitam mencoba untuk kita reka
Awalnya kenyataan ini memang berat dan sangat sulit untuk diterima

Tautan jemari persahabatan ’sehati’ akan segera dia lepaskan
Bukan! bukan oleh siapa-siapa yang membuat pilihan itu tiba
Bukan pula karena terjadi apa-apa yang melahirkan tekad di dada

Secercah hidayah telah menyapa dan menuntun sahabat tersayang kita
Untuk lebih dahulu melangkahkan kaki menuju ruang yang berbeda
Tapi yakinlah! Sesungguhnya dia sama sekali tidak meninggalkan kita
Hanya sekedar pindah ruang dan berganti busana yang berbeda

Masih lekat di dalam ingatan ketika pertama kali kita bersua
31 Januari 2008, merupakan awal kedekatan aku dengan dia
Saat itu aku tengah berada di antara garis tepi sebuah dilema
Antara tetap bertahan di dunia maya atau menutup segala cerita

Ketika tumpukan sampah di hati dan di kepala aku curahkan
Uluran jabat erat serta dekap hangat begitu tulus aku terima
Jujur aku katakan di sini, aku bertahan bukan karena siapa-siapa
Tapi karena DIA! karena dekap hangatnya yang selalu menyejukan

Siraman pencerahan serta dukungan moril yang dia berikan
Selalu sanggup membuat mata dan hatiku terbuka lebar
Sehingga akhirnya aku bisa kembali belajar untuk tegak berjalan
Dan mampu menepis segala sampah hati yang sangat menyesakan

Terima kasih sahabat untuk segala ketulusan yang telah diberikan
Jalinan sahabat sehati mungkin akan segera kamu tinggalkan
Namun semua itu bukanlah kendala untuk kita berbagi tawa dan cerita
Atas nama kebersamaan sepenuhnya kami mendukung pilihanmu

Mari kita buktikan bahwa jalinan kasih sayang kita tulus adanya
Tanpa ‘kotak’ di kepala dan tanpa topeng yang memagari wajah kita
Kini kita tidak hanya sahabat sehati dan bukan sekedar sahabat maya
Kebersamaan kita adalah nyata dan tak mengenal ruang yang berbeda

Sepenuh hati kami ikhlas melepas dan tulus mendo’akan
Semoga niat mulia untuk sepenuhnya berbakti pada keluarga
Serta tekad kukuh mendekatkan diri pada Sang Pemberi Segala Rasa
Selalu mendapat kemudahan serta dilancarkan segala tujuan


Selamat jalan untuk sahabat
Juga Kakanda kami tersayang
Semoga niat suci serta perjalananmu ke depan
Selalu mendapat limpahan keridhoanNya
Amiiiin… Amin yaa Rabbal ‘Alamiiiin…

(Jupiter doc/dalam tautan jemari untuk sahabat/18des08)

Ditulis dalam Coretanku, Puisiku | 5 Komentar »

Sosok idealis itu masih ada

Ditulis oleh jupiter di/pada Desember 13, 2008

Obrolan Yang Merubah Persepsiku
(Sosok idealis itu masih ada)


Sore tadi aku termenung di depan laptop, pandanganku tertuju pada barisan obrolan di tampilan yahoo messengerku dengan satu sosok yang… ehmmm… susah sekali untuk menggambarkan apa yang aku pikirkan dan aku rasakan saat itu. Yang pertama terlihat hanya keindahan parasnya saja. Tapi jujur, bukan itu yang membuatku tertarik untuk lebih mendekat. Seperti ada magnet lain yang membuatku semakin ingin berbagi cerita serta pengalaman baik yang sudah, sedang maupun yang akan kami coba wujudkan ke depan.

Setelah beberapa kali bertukar cerita. Sungguh! Aku sama sekali tidak mengira ternyata pengalamannya begitu dalam, wawasannya demikian luas, pola pikirnya laksana air yang mengalir serta membuatku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala dan berdecak kagum.

Terlebih setelah ia menjabarkan apa yang selama ini di cita-citakan dan selalu diperjuangkannya untuk kemajuan bangsa tercinta yang sudah menganut paham hukum rimba ini. Wuiiiih… tidak ada kata yang lebih tepat untuk aku ucapkan selain, “Mulia Sekaliiiii…”

Aku katakan Mulia karena yang dicita-citakannya adalah yang selama ini selalu melemparkanku untuk kesekian kalinya ke jurang kekecewaan. Apa yang diungkapkannya mengingatkan aku pada keterlibatanku dulu dengan beberapa LSM yang selalu meneriakan beragam yel-yel bertemakan kemanusiaan.

DEMI RAKYAT JELATA!
DEMI BURUH TERPURUK!!
DEMI PEREMPUAN TERTINDAS!!!

Serta bermacam demi-demi lainnya yang inti dari semua misi perjuangan mereka itu mengatakan akan selalu memerjuangkan hak-hak rakyat kecil yang sudah dirampas oleh preman-preman yang berkedok ‘Jajaran Aktivis Politik Negara’.

Pada setiap kesempatan mengikuti adu argumen di meja pertemuan yang melibatkan para ‘pejuang kemanusiaan’ tersebut, rangkaian kalimat berbau idealis sudah menjadi makananku sehari-hari. Dari satu organisasi sosial ke organisasi sosial lainnya aku menemukan persamaan kenyataan yang cukup untuk membuatku lebih memilih jalan ‘keluar’ daripada tetap bertahan, tetapi hati kecil selalu bergolak ingin menentang segala kepalsuan yang mereka teriakan.

Aku menyerah di tengah perjalananku yang sebetulnya belum sempat menghasilkan apa-apa. Mulai saat itu, idealis menjadi kata yang hanya sanggup membuatku mencibir tidak percaya.

Apa betul di negara yang sudah menganut paham hukum rimba ini masih ada sesosok makhluk idealis yang masih bisa bertahan? Karena berdasarkan pengalamanku sendiri, setiap orang yang bertahan dengan idealisnya kalau tidak menyingkirkan diri atas kemauan sendiri, lambat laun dengan segala cara akan segera disingkirkan oleh para pejuang pundi-pundi pribadi dan berdasi itu.

Demikian besarnya kekecewaanku terhadap segala bentuk organisasi yang pernah aku ikuti serta aku amati. Bagiku semua organisasi apapun bentuk dan misinya baik yang bergerak di bidang politik, sosial maupun kemanusiaan, semua itu tak lebih dari ajang bisnis individu atau sekelompok orang yang tidak pernah merasa puas dengan isi kantongnya sendiri yang sebetulnya sudah berlimpah.

Kecewa, sedih, geram dan beragam persepsi negatif terus memenuhi kepala dan menyesakan dada setiap ada kesempatan aku melihat atau mengikuti jalannya aneka debat yang selalu mengatasnamakan; *Demi kemajuan negara tercinta serta kemakmuran rakyat jelata*.

Gerombolan orang-orang berpakaian perlente lengkap dengan dasi keluaran terbaru dari butik termahal, berkendaraan mewah dengan plat nomor merah yang kadang dimodifikasi sedemikian rupa dengan hanya mengeluarkan beberapa lembar amplop berisi uang hasil jarahan ‘mesra’ dari rakyat jelata agar bisa berubah warna menjadi hitam. Semua itu semakin membuat sudut mataku menitikan tangis dan hati kecilku menjerit miris.

Topeng-topeng idealis yang selalu mereka pamerkan baik di muka umum maupun di ruang sidang tak pernah mampu merubah persepsi negatifku terhadap segala mulut manis mereka yang di mataku hanya merupakan isapan jempol belaka. Habis manis sepah di buang. (*Ya iyalah masa sepahnya di telan juga. Sepahnya di buang saja perut mereka rata-rata tetap buncit apalagi seandainya sepahnya di telan juga, bisa kaya lagu balonku ada lima tuh perut. DUARRRR!!!).

Dan sekitar jam sepuluh pagi tadi yang lebih tepatnya siang hari bagi orang-orang kantoran, secara tidak sengaja aku mendapatkan satu cerita yang berbeda 1800 dari apa yang selama ini selalu aku pikirkan. Ketika obrolan ringanku dengan satu sosok yang aku sebutkan di atas mengalir dan berubah arah menjadi berbagi pengalaman hidup kami berdua, aku benar-benar dibuat takjub dan terkecoh dengan segala penampilan sangat modis dan feminimnya itu.

Sebut saja teman baruku ini bernama Bunga. Dari cerita Bunga yang panjang kali lebar sama dengan luas banget itu, aku dihadapkan pada satu kisah yang menampilkan sosok Srikandi serta Robin Hood di era hukum rimba sudah lebih banyak berbicara di negara kita tercinta ini.

Perjuangan mereka dalam mengangkat martabat anak bangsa serta niat tulusnya mewujudkan harapan rakyat jelata yang walau berungkali dihadapkan pada kenyataan pahit yang sama sekali tidak sesuai dengan apa yang mereka targetkan, tidak cukup mampu membuat mereka menyerah dan mundur dari kancah peperangan melawan ‘barisan kapal dagang’ yang selalu mengibarkan bendera kemanusian.

Jatuh bangun mereka terus berjuang untuk tetap bertahan dengan idealis murni mereka, demi terwujudnya satu cita-cita mulia yaitu ingin mendirikan partai rakyat yang benar-benar milik rakyat (dari rakyat, untuk rakyat dan oleh rakyat) tanpa embel-embel segala fasilitas mewah yang pada akhirnya hanya akan menyesatkan tujuan awal organisasi sosial yang mereka dirikan NGO ( Non Goverment Organisation). Selanjutnya satu persatu sumber daya rakyat yang terabaikan oleh negara, mereka bina dan mereka arahkan agar bisa berkembang sendiri tanpa adanya campur tangan dari pihak yang selalu jeli memanfaatkan situasi yang pada ahirnya selalu menjurus ke bisnis pribadi.

Jujur awalnya aku bertanya-tanya dalam hati. Kok bisa ya? di era millenium yang selalu menjunjung tinggi materi ini, dengan segala kerendahan hati mereka malah rela menanggalkan segala kemewahan pribadi yang sebetulnya telah mereka miliki. Bahkan dengan suka rela mereka berbaur dengan kalangan paling bawah, demi untuk lebih memahami dan memberikan motivasi yang bisa menumbuhkan rasa percaya diri pada kemampuan masing-masing individu yang merupakan mayoritas penduduk di negara tercinta kita ini.

Dalam ketidak yakinan akan keberhasilan usaha mereka itu, spontan aku mengutarakan apa yang membuat hatiku ragu, “Nanti dulu! Aku masih bingung dan tidak dapat membayangkan, apa mungkin sebuah organisasi bisa berkembang tanpa bantuan ataupun dukungan dari pihak pemerintah, memangnya bisa?”

Tanpa ditanya dua kali, dengan lugasnya Bunga sang Srikandi Millenium langsung menjabarkan strategi yang rencananya akan mereka terapkan, “Begini polanya; Setiap orang terdidik membangun organisasi rakyat secara ‘benar’, mengajarkan rakyat kebanyakan berorganisasi secara ‘benar’, kemudian menghubungkannya dengan organisasi rakyat yang lain guna melakukan kegiatan ekonomi bersama. Misalnya organisasi tani melakukan barter dengan organisasi nelayan dan menentukan harga diantara mereka sendiri. Saling bertukar pengetahuan serta pengalaman masing-masing organisasi tersebut, bagaimana jika pertanian sedang payah atau sebaliknya dan bagaimana kalau laut sedang berombak atau sedang ada badai dalam waktu yang tidak bisa ditentukan. Sistem ini untuk selanjutnya akan diterapkan terhadap organisasi rakyat dari sektor lainnya.” Tiba-tiba penjelasannya terhenti.

“Kamu masih di situ kan?” tanyanya mengagetkanku

“Yup, aku masih nyimak penjelasan kamu kok, lanjuuuuut…” jawabku meyakinkan kalau aku memang masih mengikuti apa yang ia jabarkan.

“Ok, setelah bisa berkembang hingga menjadi besar, mereka akan diarahkan untuk dapat mendirikan partai yang terdiri dari kalangan mereka sendiri. Kemudian mengirimkan wakil yang mereka pilih tersebut untuk bisa masuk di parlemen. Untuk sekedar kamu tahu, sekarang ini jajaran para pejuang yang selalu mengatasnamakan wakil rakyat itu sebetulnya sama sekali bukan berasal dari kalangan mereka, tapi berasal dari golongan orang-orang yang memang mempunyai modal serta kemampuan untuk mensosialisasikan ide-ide idealisnya. Hanya sekedar ide ya, karena untuk pelaksanaannya rata-rata mereka sendiri lepas tangan dan menyerahkan secara total kepada pihak-pihak yang mengaku sebagai ‘wakil rakyat’ terpilih yang sebetulnya hanya pura-pura paham saja dengan segala ide yang mereka sampaikan itu. Itulah mengapa pada pelaksanaan serta hasil akhirnya selalu menjadi NOL BESAR alias sama sekali tidak bisa dirasakan oleh rakyat kecil tapi malah masuk ke pundi masing-masing yang katanya ‘wakil rakyat’ tersebut.” Jelas bunga menunjukan kematangan cara berpikir serta kesungguhannya dalam menggapai apa yang selama ini selalu ingin ia wujudkan sebagai anak bangsa yang sesungguhnya.

Phiuh! Bicara soal politik selalu membuat kepalaku tiba-tiba pening. Mungkin mentalku memang sudah terlanjur melorot atau bahkan terpuruk pada beberapa pengalaman pahit berorganisasi dulu. Aku benar-benar salut pada kegigihan lawan bicaraku ini. Selain masih muda, cantik, berpendidikan dan bukan orang sembarangan tapi dia masih mau menyempatkan diri untuk berpusing-pusing memikirkan bahkan memerjuangkan nasib orang-orang kebanyakan yang selalu menjadi korban kekejaman hukum rimba di negara tercinta kita ini.

Hanya satu kata yang sanggup aku katakan, SALUT! Disaat kawan-kawan sebayanya berkeliaran di mall-mall, tempat dugem atau arena konkow yang tersebar di pusat kota. Dia malah rela berkotor-kotoran di gang-gang becek dan sempit di daerah pinggiran kota yang rata-rata penduduknya hidup serba kekurangan. Untuk sekedar makan saja kadang mereka harus mengais nasi sisa yang tercecer atau yang sengaja dibuang oleh orang-orang seperti aku atau beberapa sahabat yang dengan bebasnya berseliweran di dunia maya yang tidak bisa dipungkiri sebetulnya hanya demi memuaskan hasrat pribadi ini.

Yang lebih sulit aku bayangkan lagi. Tidak jarang demi bertahan agar tidak terserang busung lapar, Srikandi dan Robin Hood Milleniumku ini dengan sabar dan dengan menanggalkan segala rasa jijik ikut memungut buah yang berserakan di tempat pembuangan sampah akhir yang ada di tempat mereka tinggal untuk sementara tersebut. Dalam keadaan mendesak pun mereka sama sekali tidak terpancing untuk memanfaatkan fasilitas mewah yang sebetulnya mereka miliki.

Masih banyak kisah-kisah miris lainnya yang sulit sekali aku bayangkan terjadi di era serba canggih dan serba ada ini. Inti dari semuanya, sekarang mataku mulai bisa terbuka bahwa meski mungkin hanya ’satu berbanding sejuta’, pada kenyataannya sosok berjiwa idealis itu ternyata masih ada yang sanggup bertahan dan terus berjuang demi untuk kemajuan bangsa kita tercinta ini. Mudah-mudahan perjuangan mereka tidak sia-sia dan selalu diberikan kemudahan olehNya, amiiiin…

MAJU TERUS PANTANG MUNDUR!!!
Mudah-mudahan kelak aku bisa kembali bergabung. Bismillah….

***

(Jupiter doc/dalam aura Kagum/13Des08)

Ditulis dalam Coretanku | 3 Komentar »

Bukan orang yang Tepat

Ditulis oleh jupiter di/pada Desember 11, 2008

Kupu-kupu, getir dan air
(Bukan orang yang Tepat)


Dinda sedang asik menikmati keindahan taman, tatapannya memandang tak berkedip pada seekor kupu-kupu kecil yang terlihat sangat cantik dengan paduan warna kuning terang dengan riasan garis hitam dan bintik merah di sayapnya terlihat terang menyala. Ia terus memandang keindahan kupu-kupu kecil itu dengan kekaguman yang terpancar dari air mukanya yang jernih semakin menambah binar kecantikan wajahnya yang selalu menghadirkan decak kagum di mata orang-orang yang menatapnya.

Dinda memang cantik dan karena kecerdasan serta keramahannya yang sama sekali tidak pernah di buat-buat, ia selalu menjadi gadis tambatan hati, tempat muara perasaan para pria serta menjadi panutan gadis lain di mana pun ia berada. Tiap hari yang dilaluinya adalah bentangan pelangi yang membuat hati semua orang ingin selalu bermain dalam keindahan yang dipancarkannya.

Di tengah keasikannya mengagumi keindahan kupu-kupu, tiba-tiba dadanya terasa sesak, pandangannya kabur oleh genangan air mata yang tanpa ia sadari telah menggenang di sudut pelupuk mata indahnya. Keindahan kupu-kupu itu membuatnya kembali teringat pada segala kesedihan masa lalu yang tak pernah mampu untuk dilupakannya.

Sungguh kontras sekali, dibalik segala keindahan yang terpancar, tabir kelabu kembali menghadirkan kehampaan di sudut hatinya yang sudah terbalut oleh gumpalan darah mengering.

Hanya beberapa sahabat saja yang tahu bahwa di balik segala keindahannya itu, sesungguhnya ia memendam hasrat berbeda yang akan membuat semua orang yang ada di lingkungan sekitarnya menganga dan membeliak tak percaya. Dinda sendiri tidak pernah sadar sejak kapan segala perbedaan rasa itu tumbuh dan berkembang dalam jiwanya. Keindahan kupu-kupu selalu sanggup memukau hatinya dibanding keperkasaan seekor kumbang penghisap madu yang selalu mengincar aroma manisnya.

Dalam kurun usianya yang masih terbilang ranum, entah sudah berapa kali langkahnya tergelincir di tangga yang sangat licin. Buaian keindahan beberapa kupu-kupu yang selalu ia dambakan tak pernah sanggup ia genggam. Kupu-kupu elok itu hanya mampir dan tidak pernah sanggup bertahan lama menuntaskan dahaganya akan sentuhan tulus sebuah kasih. Satu demi satu kupu-kupu yang mampir dalam hidupnya pergi menjauh, semakin ia kejar semakin menjauh dan pada akhirnya menghilang dari pandangannya.

Walau luka di hatinya belum mengering namun senyum di bibir indahnya tidak pernah ia biarkan memudar. Dalam kesehariannya Dinda selalu tampil ceria dan penuh ketegaran, tak ada seorangpun yang akan menyangka kalau di balik segala aura keindahan, keramahan serta ketegaran yang terpancar, tersimpan beberapa goresan luka yang tak pernah bisa mengering dan selalu menghadirkan tangis diam-diam di dalam hatinya.

“Mengapa segala keindahan itu seperti enggan menyapaku? Di saat aku mulai menemukan kembali sosok yang menghadirkan harapan baru dalam hidupku, di saat yang sama satu rahasia yang menyesakan dada kembali mengoreskan luka di tempat yang sama. Kali ini sepertinya aku sudah tidak sanggup lagi menahan segala pedihnya.” Ujarnya terdengar miris di telingaku

Kunyalakan sebatang rokok, menghisap kemudian mengepulkan asapnya perlahan, “Yakinlah kalau itu semua bukan takdir miris hidupmu? Tapi ujian yang selalu menyimpan hikmah dan pelajaran yang akan membuatmu semakin matang. Mungkin Tuhan terlalu menyayangi kamu sehingga dalam usai yang masih belia kamu sudah diberikan banyak sekali cobaan yang membuatmu terus belajar memahami arti sebuah kebahagiaan yang hanya sesaat.”

“Tapi mengapa harus aku? Aku tidak pernah menyimpan pikiran negatif terhadap siapapun? Mengapa mereka selalu memandang aku dari satu sisi kelemahanku saja? Di mata mereka sepertinya aku sama sekali tidak memiliki sifat yang positif, padahal aku kan sama sekali tidak pernah melakukan apapun yang merugikan mereka.” Jawab Dinda dengan nada suara penuh kekecewaan.

“Sekali lagi kamu harus kembali tanamkan dalam diri, mungkin orang-orang yang hadir dalam perjalanan hidupmu itu memang bukan orang yang tepat buat kamu. Seharusnya kamu bersyukur karena selalu dibukakan mata pada segala ketidak tulusan yang telah mereka sodorkan. Masih banyak orang-orang yang benar-benar tulus sayang dan peduli pada kebahagiaan kamu. Kamu masih punya keluarga yang ’sempurna’ dan banyak sahabat yang selalu ‘ada’ kapanpun dan di manapun kamu butuh di dengarkan.” Kataku mencoba menghibur dan mencairkan kekecewaan serta kesedihan hati sahabat beliaku ini.

Dinda menarik nafas kemudian menggumam pelan, “Kamu pasti sudah merasa cape dan bosan mendengar segala sampah hatiku. Tapi aku juga selalu yakin kalau ini hanya untuk sementara meski aku sendiri tidak tahu sampai kapan aku sanggup melupakan segala kepedihan hatiku ini.”

Nada getir masih sangat kental terdengar dari gumaman yang lebih mirip desah ke tidak yakinan pada kemampuan dirinya itu. “Aku mengerti sekali apa yang kamu rasakan, saat ini kamu sama sekali tidak membutuhkan solusi dari siapapun termasuk dari aku sendiri. Kamu hanya butuh di dengarkan dan selagi aku bisa, kapanpun aku akan selalu siap menampung segala sampah hatimu itu. Karena seperti yang pernah aku rasakan, di kala sampah busuk itu sudah berkurang maka akan tersedia kembali satu ruang jernih untuk kamu bisa menemukan segala pencerahan yang akan mampu kembali menghadirkan rada damai di hatimu.”

“Amiiiin… mudah-mudahan aku selalu dikuatkan. Thanks banget ya gak pernah bosan mendengarkan segala kecengenganku ini. Jujur, tidak kepada semua orang aku bisa terbuka begini. Mudah-mudahan pada kesempatan aku bisa kembali menemukan segala rasa damai itu, kita masih bisa terus berbagi cerita ya.” Kali ini nada suaranya mulai terdengar kembali tenang.

“Mudah-mudahan. Tetap semangat ya. Biarkan waktu yang menunjukan di mana orang yang tepat untukmu itu berada. Melangkahlah kembali dengan tenang, ikuti garis hidupmu layaknya air yang mengalir. Dinda pasti bisa!”

***


Masa lalu memang tidak mudah untuk dilupakan
Semakin kuat kita berjuang untuk melupakan
Maka akan semakin kuat pula ia mencengkram
Pada saat seperti ini kesabaran sungguh di uji
Hanya sifat air yang bisa mendamaikan hati
Karena apabila segala rasa dibiarkan mengalir
Setiap celah yang mulai beku akan kembali terisi
Dan perlahan akan kembali ikut mencair
Mengikuti garis hidup yang terus mengalir
Sampai tiba pada denyut nadi yang terakhir.

Terima kasih atas segala curahan hatimu sahabat
Sesungguhnya akupun sama masih terus belajar
Untuk bisa hidup seperti air, mencair dan mengalir
Mudah-mudahan kita selalu terhindar dari segala sifat batu
Yang keras dan angkuh menantang setiap cobaan yang datang
Hingga lupa pada kenyataan yang pada akhirnya akan terjadi
Sekeras apapun desakan air akan mengikis dan membuatnya habis
Karena raga yang selalu kita bawa serta bumi yang kita pijak
Sebagian besar terdiri dari AIR

(Jupiter doc/dalam kegalauan hati seorang sahabat/11Des08)

Ditulis dalam Coretanku | 4 Komentar »