Obrolan Yang Merubah Persepsiku
(Sosok idealis itu masih ada)

Sore tadi aku termenung di depan laptop, pandanganku tertuju pada barisan obrolan di tampilan yahoo messengerku dengan satu sosok yang… ehmmm… susah sekali untuk menggambarkan apa yang aku pikirkan dan aku rasakan saat itu. Yang pertama terlihat hanya keindahan parasnya saja. Tapi jujur, bukan itu yang membuatku tertarik untuk lebih mendekat. Seperti ada magnet lain yang membuatku semakin ingin berbagi cerita serta pengalaman baik yang sudah, sedang maupun yang akan kami coba wujudkan ke depan.
Setelah beberapa kali bertukar cerita. Sungguh! Aku sama sekali tidak mengira ternyata pengalamannya begitu dalam, wawasannya demikian luas, pola pikirnya laksana air yang mengalir serta membuatku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala dan berdecak kagum.
Terlebih setelah ia menjabarkan apa yang selama ini di cita-citakan dan selalu diperjuangkannya untuk kemajuan bangsa tercinta yang sudah menganut paham hukum rimba ini. Wuiiiih… tidak ada kata yang lebih tepat untuk aku ucapkan selain, “Mulia Sekaliiiii…”
Aku katakan Mulia karena yang dicita-citakannya adalah yang selama ini selalu melemparkanku untuk kesekian kalinya ke jurang kekecewaan. Apa yang diungkapkannya mengingatkan aku pada keterlibatanku dulu dengan beberapa LSM yang selalu meneriakan beragam yel-yel bertemakan kemanusiaan.
DEMI RAKYAT JELATA!
DEMI BURUH TERPURUK!!
DEMI PEREMPUAN TERTINDAS!!!
Serta bermacam demi-demi lainnya yang inti dari semua misi perjuangan mereka itu mengatakan akan selalu memerjuangkan hak-hak rakyat kecil yang sudah dirampas oleh preman-preman yang berkedok ‘Jajaran Aktivis Politik Negara’.
Pada setiap kesempatan mengikuti adu argumen di meja pertemuan yang melibatkan para ‘pejuang kemanusiaan’ tersebut, rangkaian kalimat berbau idealis sudah menjadi makananku sehari-hari. Dari satu organisasi sosial ke organisasi sosial lainnya aku menemukan persamaan kenyataan yang cukup untuk membuatku lebih memilih jalan ‘keluar’ daripada tetap bertahan, tetapi hati kecil selalu bergolak ingin menentang segala kepalsuan yang mereka teriakan.
Aku menyerah di tengah perjalananku yang sebetulnya belum sempat menghasilkan apa-apa. Mulai saat itu, idealis menjadi kata yang hanya sanggup membuatku mencibir tidak percaya.
Apa betul di negara yang sudah menganut paham hukum rimba ini masih ada sesosok makhluk idealis yang masih bisa bertahan? Karena berdasarkan pengalamanku sendiri, setiap orang yang bertahan dengan idealisnya kalau tidak menyingkirkan diri atas kemauan sendiri, lambat laun dengan segala cara akan segera disingkirkan oleh para pejuang pundi-pundi pribadi dan berdasi itu.
Demikian besarnya kekecewaanku terhadap segala bentuk organisasi yang pernah aku ikuti serta aku amati. Bagiku semua organisasi apapun bentuk dan misinya baik yang bergerak di bidang politik, sosial maupun kemanusiaan, semua itu tak lebih dari ajang bisnis individu atau sekelompok orang yang tidak pernah merasa puas dengan isi kantongnya sendiri yang sebetulnya sudah berlimpah.
Kecewa, sedih, geram dan beragam persepsi negatif terus memenuhi kepala dan menyesakan dada setiap ada kesempatan aku melihat atau mengikuti jalannya aneka debat yang selalu mengatasnamakan; *Demi kemajuan negara tercinta serta kemakmuran rakyat jelata*.
Gerombolan orang-orang berpakaian perlente lengkap dengan dasi keluaran terbaru dari butik termahal, berkendaraan mewah dengan plat nomor merah yang kadang dimodifikasi sedemikian rupa dengan hanya mengeluarkan beberapa lembar amplop berisi uang hasil jarahan ‘mesra’ dari rakyat jelata agar bisa berubah warna menjadi hitam. Semua itu semakin membuat sudut mataku menitikan tangis dan hati kecilku menjerit miris.
Topeng-topeng idealis yang selalu mereka pamerkan baik di muka umum maupun di ruang sidang tak pernah mampu merubah persepsi negatifku terhadap segala mulut manis mereka yang di mataku hanya merupakan isapan jempol belaka. Habis manis sepah di buang. (*Ya iyalah masa sepahnya di telan juga. Sepahnya di buang saja perut mereka rata-rata tetap buncit apalagi seandainya sepahnya di telan juga, bisa kaya lagu balonku ada lima tuh perut. DUARRRR!!!).
Dan sekitar jam sepuluh pagi tadi yang lebih tepatnya siang hari bagi orang-orang kantoran, secara tidak sengaja aku mendapatkan satu cerita yang berbeda 1800 dari apa yang selama ini selalu aku pikirkan. Ketika obrolan ringanku dengan satu sosok yang aku sebutkan di atas mengalir dan berubah arah menjadi berbagi pengalaman hidup kami berdua, aku benar-benar dibuat takjub dan terkecoh dengan segala penampilan sangat modis dan feminimnya itu.
Sebut saja teman baruku ini bernama Bunga. Dari cerita Bunga yang panjang kali lebar sama dengan luas banget itu, aku dihadapkan pada satu kisah yang menampilkan sosok Srikandi serta Robin Hood di era hukum rimba sudah lebih banyak berbicara di negara kita tercinta ini.
Perjuangan mereka dalam mengangkat martabat anak bangsa serta niat tulusnya mewujudkan harapan rakyat jelata yang walau berungkali dihadapkan pada kenyataan pahit yang sama sekali tidak sesuai dengan apa yang mereka targetkan, tidak cukup mampu membuat mereka menyerah dan mundur dari kancah peperangan melawan ‘barisan kapal dagang’ yang selalu mengibarkan bendera kemanusian.
Jatuh bangun mereka terus berjuang untuk tetap bertahan dengan idealis murni mereka, demi terwujudnya satu cita-cita mulia yaitu ingin mendirikan partai rakyat yang benar-benar milik rakyat (dari rakyat, untuk rakyat dan oleh rakyat) tanpa embel-embel segala fasilitas mewah yang pada akhirnya hanya akan menyesatkan tujuan awal organisasi sosial yang mereka dirikan NGO ( Non Goverment Organisation). Selanjutnya satu persatu sumber daya rakyat yang terabaikan oleh negara, mereka bina dan mereka arahkan agar bisa berkembang sendiri tanpa adanya campur tangan dari pihak yang selalu jeli memanfaatkan situasi yang pada ahirnya selalu menjurus ke bisnis pribadi.
Jujur awalnya aku bertanya-tanya dalam hati. Kok bisa ya? di era millenium yang selalu menjunjung tinggi materi ini, dengan segala kerendahan hati mereka malah rela menanggalkan segala kemewahan pribadi yang sebetulnya telah mereka miliki. Bahkan dengan suka rela mereka berbaur dengan kalangan paling bawah, demi untuk lebih memahami dan memberikan motivasi yang bisa menumbuhkan rasa percaya diri pada kemampuan masing-masing individu yang merupakan mayoritas penduduk di negara tercinta kita ini.
Dalam ketidak yakinan akan keberhasilan usaha mereka itu, spontan aku mengutarakan apa yang membuat hatiku ragu, “Nanti dulu! Aku masih bingung dan tidak dapat membayangkan, apa mungkin sebuah organisasi bisa berkembang tanpa bantuan ataupun dukungan dari pihak pemerintah, memangnya bisa?”
Tanpa ditanya dua kali, dengan lugasnya Bunga sang Srikandi Millenium langsung menjabarkan strategi yang rencananya akan mereka terapkan, “Begini polanya; Setiap orang terdidik membangun organisasi rakyat secara ‘benar’, mengajarkan rakyat kebanyakan berorganisasi secara ‘benar’, kemudian menghubungkannya dengan organisasi rakyat yang lain guna melakukan kegiatan ekonomi bersama. Misalnya organisasi tani melakukan barter dengan organisasi nelayan dan menentukan harga diantara mereka sendiri. Saling bertukar pengetahuan serta pengalaman masing-masing organisasi tersebut, bagaimana jika pertanian sedang payah atau sebaliknya dan bagaimana kalau laut sedang berombak atau sedang ada badai dalam waktu yang tidak bisa ditentukan. Sistem ini untuk selanjutnya akan diterapkan terhadap organisasi rakyat dari sektor lainnya.” Tiba-tiba penjelasannya terhenti.
“Kamu masih di situ kan?” tanyanya mengagetkanku
“Yup, aku masih nyimak penjelasan kamu kok, lanjuuuuut…” jawabku meyakinkan kalau aku memang masih mengikuti apa yang ia jabarkan.
“Ok, setelah bisa berkembang hingga menjadi besar, mereka akan diarahkan untuk dapat mendirikan partai yang terdiri dari kalangan mereka sendiri. Kemudian mengirimkan wakil yang mereka pilih tersebut untuk bisa masuk di parlemen. Untuk sekedar kamu tahu, sekarang ini jajaran para pejuang yang selalu mengatasnamakan wakil rakyat itu sebetulnya sama sekali bukan berasal dari kalangan mereka, tapi berasal dari golongan orang-orang yang memang mempunyai modal serta kemampuan untuk mensosialisasikan ide-ide idealisnya. Hanya sekedar ide ya, karena untuk pelaksanaannya rata-rata mereka sendiri lepas tangan dan menyerahkan secara total kepada pihak-pihak yang mengaku sebagai ‘wakil rakyat’ terpilih yang sebetulnya hanya pura-pura paham saja dengan segala ide yang mereka sampaikan itu. Itulah mengapa pada pelaksanaan serta hasil akhirnya selalu menjadi NOL BESAR alias sama sekali tidak bisa dirasakan oleh rakyat kecil tapi malah masuk ke pundi masing-masing yang katanya ‘wakil rakyat’ tersebut.” Jelas bunga menunjukan kematangan cara berpikir serta kesungguhannya dalam menggapai apa yang selama ini selalu ingin ia wujudkan sebagai anak bangsa yang sesungguhnya.
Phiuh! Bicara soal politik selalu membuat kepalaku tiba-tiba pening. Mungkin mentalku memang sudah terlanjur melorot atau bahkan terpuruk pada beberapa pengalaman pahit berorganisasi dulu. Aku benar-benar salut pada kegigihan lawan bicaraku ini. Selain masih muda, cantik, berpendidikan dan bukan orang sembarangan tapi dia masih mau menyempatkan diri untuk berpusing-pusing memikirkan bahkan memerjuangkan nasib orang-orang kebanyakan yang selalu menjadi korban kekejaman hukum rimba di negara tercinta kita ini.
Hanya satu kata yang sanggup aku katakan, SALUT! Disaat kawan-kawan sebayanya berkeliaran di mall-mall, tempat dugem atau arena konkow yang tersebar di pusat kota. Dia malah rela berkotor-kotoran di gang-gang becek dan sempit di daerah pinggiran kota yang rata-rata penduduknya hidup serba kekurangan. Untuk sekedar makan saja kadang mereka harus mengais nasi sisa yang tercecer atau yang sengaja dibuang oleh orang-orang seperti aku atau beberapa sahabat yang dengan bebasnya berseliweran di dunia maya yang tidak bisa dipungkiri sebetulnya hanya demi memuaskan hasrat pribadi ini.
Yang lebih sulit aku bayangkan lagi. Tidak jarang demi bertahan agar tidak terserang busung lapar, Srikandi dan Robin Hood Milleniumku ini dengan sabar dan dengan menanggalkan segala rasa jijik ikut memungut buah yang berserakan di tempat pembuangan sampah akhir yang ada di tempat mereka tinggal untuk sementara tersebut. Dalam keadaan mendesak pun mereka sama sekali tidak terpancing untuk memanfaatkan fasilitas mewah yang sebetulnya mereka miliki.
Masih banyak kisah-kisah miris lainnya yang sulit sekali aku bayangkan terjadi di era serba canggih dan serba ada ini. Inti dari semuanya, sekarang mataku mulai bisa terbuka bahwa meski mungkin hanya ’satu berbanding sejuta’, pada kenyataannya sosok berjiwa idealis itu ternyata masih ada yang sanggup bertahan dan terus berjuang demi untuk kemajuan bangsa kita tercinta ini. Mudah-mudahan perjuangan mereka tidak sia-sia dan selalu diberikan kemudahan olehNya, amiiiin…
MAJU TERUS PANTANG MUNDUR!!!
Mudah-mudahan kelak aku bisa kembali bergabung. Bismillah….
***
(Jupiter doc/dalam aura Kagum/13Des08)