RENUNGAN JUPITER

Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam, di atas batu yang hitam, di malam yang amat kelam.

Arsip untuk November, 2008

Bingkisan Manis Untuk Sohib Termanis

Ditulis oleh jupiter di/pada November 30, 2008

Coretan Hari Ulang Tahun
(Bingkisan Manis Untuk Sohib Termanis)


Jemari kita terus menari, menari dan membumbung tinggi
Membentuk awan menjadi lingkaran yang sangat sempurna
Memayungi hati dari hembusan badai dan kobaran api
Mendendangkan senandung puisi yang terlahir di dinihari

Pada jam yang telah ditetapkan bumi telah melahirkanmu
Menampilkan pribadi yang selalu dinanti sahabat sehati
Malam pun menepi melambai tahun yang beranjak pergi
Menyelipkan sepucuk sisa waktu di bawah celah pintu

Bersama pagi yang selalu setia membawa kehangatan matahari
Bersama senyuman yang bermuatan wangi bunga persahabatan
Di hari yang sangat bersejarah ini, Minggu. 30 Nopember 2008
Penuh kasih aku ucapkan SELAMAT HARI JADI Suhu sayang

Teriring sebaris doa untuk keselamatan, kesehatan serta kebahagiaan Suhu Sekeluarga. Hanya bingkisan kata-kata yang bisa aku berikan;

jupitergreetings.com

Untuk persahabatan yang tanpa syarat;
Thank You.

Untuk nasehat-nasehat bijaksana yang tidak menggurui;
Thank You.

Untuk mendukung setiap pilihan yang aku jalani dalam hidup;
Thank You.

Untuk tidak pernah bosan mendamaikan hati yang lagi galau;
Thank You.

Untuk curhat-curhat yang membuat diriku merasa ‘penting’ dan dipercaya;
Thank You.

Untuk ketekunan dan ketabahan yang membuat aku semakin mengerti makna bersyukur;
Thank You.

Untuk tetap bertahan menghadapi jiwa sensiku yang kadang menjelma menjadi perempuan paling menyebalkan sedunia:
Thank You.

Untuk rasa setia kawan ketika salah seorang sahabat di timpa kemalangan:
I Love You.

Untuk perhatian-perhatian yang mengharukan, dan bukan kata-kata belaka:
I Love You.

Untuk menempatkanku sebagai prioritas, ketika aku merasa sepi dan sendiri:
I Love You.

Untuk rasa nyaman yang tidak bisa ditukar dengan banyaknya senyum basa-basi;
I Love You.

Untuk tidak pernah lupa menelepon, “Kamu gak kenapa-kenapa? Jangan lupa jaga kesehatan. Baik-baik ya.”:
I Love You.

Untuk senantiasa menekankan bahwa yang terpenting bukanlah apa yang kita miliki, melainkan bagaimana cara kita menjalani hidup:
I Love You.

Untuk mengingatkan bahwa yang terpenting bukanlah siapa kita, melainkan kebersamaan yang dijalin dengan ketulusan tanpa pernah mementingkan diri sendiri:
I Love You.

Untuk selalu ada, kapan pun, dimana pun:
I Miss You.

Untuk setiap dekapan hangat saat kita bertemu:
I Miss You.

Untuk bercandaan yang garing tapi tetap kocak:
I Miss You.

Untuk selalu siap mendengarkan segala sampah di hati dan kepala:
I Miss You.

Untuk rasa nyaman yang tidak bisa diciptakan dengan image yang dijunjung tinggi. Tidak juga dengan uang sebanyak apapun, dan liburan kemanapun;
I Miss You.

Untuk menjadi diri sendiri dengan segala kegilaan, kejahilan serta kegokilan yang tidak di buat-buat; sosok yang selalu membuat aku merasa nyaman dan diterima apa adanya:
I Miss You

Untuk setiap pertemuan yang selalu menumbuhkan kembali benih-benih kerinduan akan pertemuan selanjutnya, yang menandakan betapa nyamannya kebersamaan yang didasari oleh rasa kasih yang tanpa pamrih:
I Miss You.

Untuk Semua Kebersamaan Manis kita;
Thank You, I Love You, I Miss You
and
I will always be so much proud of you.

Last but not least,
HaPPy…hApPY and hAPpy biRThDAy
to my beloved SINYO

Hidup ini indah karena berbagai rasa dan warnanya,
Semoga selamanya kita bisa terus berbagi.

Dekap Paling Erat buat Sinyo tersayang,


~Jupie~

***

(*Pssst… mo ikut ngintip partynya Sinyo? Yuk Yak Yuuuu…)

KAMPOENG GOKIL

Ditulis dalam Puisiku | 11 Komentar »

Apa sebetulnya yang salah?

Ditulis oleh jupiter di/pada November 28, 2008

Renungan dan Sampah Jupiter
(Apa sebetulnya yang salah?)


Kemarin siang ketika seorang sahabat menanyakan seputar kabarku serta kondisi kesehatan bunda, dengan segala topeng kekonyolan yang bergaya militer lagi patroli dengan sangat enteng aku menjawab, “Siap! Keadaan sudah aman terkendali. Aku dan bunda aman-aman saja.”

Tanpa membahas lebih lanjut, detik berikutnya obrolan kami langsung lari membahas segala remeh temeh sehari-hari dengan diselingi saling mengejek kekonyolan dan kebodohan masing-masing yang seperti biasa pada akhirnya membuat kami terpingkal-terpingkal gak jelas. (*Kalau bahan yang buat ngakaknya jelas, pelawak Tukul sih pasti liwat daaaah)

Semua orang yang sudah kenal dekat denganku pasti tahu, aku di kehidupan sehari-hari sama sekali tidak pernah menampilkan segala beban perasaan yang sebetulnya saat itu tengah aku rasakan. Beragam kekecewaan, kesedihan, kemarahan bahkan penyesalan selalu aku telan sendiri. Bukan? Sama sekali bukan maksudku untuk selalu dianggap sebagai ‘miss no problem’ atau demi mendapat gelar biangnya gokil. (*gokil kok ya jadi gelar? Kalo dengan gokil bisa dapet gelar Doctor atau Phd sih bisa bangetlah aku kejar)

Seperti yang pernah aku ceritakan di entri sebelumnya, dalam menghadapi masalah yang datang terkadang aku mengambil sikap ‘ndableg’ dengan berusaha untuk tidak larut dalam masalahku sendiri. Hal-hal bodoh dan tolol yang pernah aku lakukan selalu aku anggap sebagai sesuatu yang lucu. Dengan menertawakan segala masalah yang tengah dihadapi terkadang aku merasa jauh lebih baik. Dan menurut yang pernah aku baca entah sumbernya dari mana (*alzhemeir mode on) yang mengatakan, ‘kemampuan’ menertawakan diri sendiri menunjukan rasa percaya diri yang sehat.

Sekacau apapun masalah yang tengah aku hadapi, pada dasarnya aku tidak mau larut dalam rasa bersalah serta penyesalan akibat dari kebodohan serta kesalahan konyol yang pernah aku lakukan. Lagipula, buat apa? Penyesalan yang berkepanjangan sama sekali tidak akan menyelesaikan masalah dan hanya akan membuat jerawat di wajah menjadi bertambah betah. (*Kalo mellow mulu, kapan neh pipi bisa mulus lagi?! *Sigh*)

Yang terpenting bagiku, ketika segala beban bisa keluar baik itu secara lisan maupun dalam bentuk tulisan, dengan sendirinya otak warasku bisa kembali mendapatkan sedikit ruang kosong untuk menegur kebodohan dan kekonyolan yang pernah aku lakukan agar tidak kembali terulang.

Aku selalu percaya, rasa bersalah adalah sesuatu yang baik yang bersumber dari kesadaran dan keinginan untuk melakukan apa yang benar. Rasa bersalah adalah tanda bahwa hati kecil ini masih mampu berbisik, mengingatkan dan menegur. Bahwa nurani ini masih terus terjaga. Rasa bersalah adalah rambu yang akan menjaga dan memberikan sinyal agar aku tidak jatuh ke lubang yang sama.

Kata orang bijak; Hanya ‘keledai dungu’ yang masuk ke lubang yang sama’ dan aku ini masih manusia yang katanya ‘baru setengah dewa’, mana mungkin aku mau jadi keledai apalagi dengan ditambah gelar dungu. (*gak gue banget lah, yaw!)

Tapi kalau nanti aku salah lagi gimana?
Kalau kejeblos lagi berati aku gak konsekuen dong dengan prinsip yang anti jadi keledai dungu itu?

Selama masih menjadi manusia, selama matahari masih bersinar, selama pagi terus menjelang dan selama masih ada nafas di tubuhku; aku yakin, akan selalu ada kesempatan untuk bisa memperbaiki keadaan dan menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Dewa yang benar-benar Dewa aja bisa melakukan kesalahan apalagi aku yang hanya manusia biasa yang katanya jauh sekali dari sempurna. (*katanya udah setengah dewa? Ngeles bow! Kqkqkq…)

“Ya sutra kalau bebannya sudah keluar berati tuh cerbung bisa dilanjut lagi dunk?”

Eits! Ntar dulu, belum semuanya keluar neh. Alzhemeirku belum sembuh total, masih ada beberapa beban lagi yang masih mengganjal. Dan ini baru terjadi pagi, siang dan sore tadi. Semuanya masih seputar tingkah saudara-saudaraku yang selalu bikin aku mengelus dada.

“Tape deeeeeh! Ya sud, sebelum muntab mending gue lanjut blogwalking yang asik-asik aja dah.”

“Silahkeun. Masih inget pintu keluarnya kan?” (*ngusir mode on)

Oks, untuk mempercepat proses penyembuhan gejala alzhemeirku. Aku mulai saja dengan kejadian tadi pagi ketika baru saja aku selesai melaksanakan tugas ‘mother sitter’ku.

“Wa, punya uang nganggur gak?” tanya kakak nomor tiga yang biasanya pulang-pergi gak pernah ingat kalau di lantai bawah ini ada kehidupan yang masih merupakan kewajibannya juga. (*uang nganggur? Dipikirnya aku ini pohon duit apa? ingat masih punya saudara kalau lagi ada butuhnya doang. HUH!)

Aku tidak langsung menjawab. Hanya melirik sekilas kemudian pura-pura sibuk lagi mengotak-ngatik deretan angka di layar komputer yang dua bulan belakangan ini telah membuat uban di kepalaku tumbuh dini. Dan tanpa aku tanya, selanjutnya kakakku langsung ngoceh tentang segala tetek bengek usaha sampingan yang inti dari panjang lebar ceritanya itu sudah bisa aku tangkap, *minta pasokan modal*.

“Kalau segitu gak ada. Kan sudah aku bilang usahaku sendiri setelah lebaran kemarin lagi agak macet. Jangankan untung buat nutupin biaya operasianal saja aku nombok dari kas balik modal kok.” Jawabku setengah tega. Aku bilang setengah karena pada dasarnya aku ini termasuk kategori orang yang gak tegaan, apalagi kalau lawan bicaraku sudah pasang muka seperti yang sudah satu bulan gak nemu sebakul nasi. (*lumer deh hati yang lagi belajar tega)

Sapaan pagi hari yang sebetulnya paling aku benci itu berakhir dengan satu kartu atmku berpindah ke tangan dia. “Separo aja ya, separonya lagi buat nutupin tagihan bulananku.” (*Hhhh, setengah KO deh jadinya).

Kejadian berikutnya sekitar jam makan siangnya orang-orang yang ngantor. (bahasanya? Kqkqkq… tapi biar gini-gini aku mantan orang kantoran juga, loh! biarpun sekarang sudah pensiun dini. Ciee… jadi mantan orang gajian aja bangga)

Ketika kakak nomor dua datang, pintu kamar dalam keadaan sengaja aku tutup, biar dipikir bunda aku sedang ‘bbs’. Soalnya kalau bunda tahu aku melek, terus dia lihat kerjaanku cuma melototin laptop doang, bunda selalu mencari perhatian dengan memamerkan segala kemanjaanya (*mungkin dipikirnya aku pengangguran yang tidak ada kemauan. Udah perawan tua, pengangguran lagi. *Kesian deh gue*).

Singkat cerita dari obrolan singkat kakak perempuanku dengan bunda, aku jadi tahu kalau kedatangan kakak nomor duaku ini hanya sekedar mampir dari pulang mengantar anaknya sekolah dan hanya mau mengambil barang kesayangan anak sulungnya yang tertinggal waktu nginap di rumah neneknya ini dua minggu yang lalu. Setelah itu gak sampai setengah jam, tanpa menanyakan keadaan bunda sama sekali dia langsung kabur lagi. (*Sekali lagi aku hanya bisa mengelus dada sendiri. Seandainya yang aku elus dada si ‘ehm’, sedep kali yak?! *omez mode on*)

Sore harinya, sepulang dari kantor kakak sulungku menyempatkan diri untuk mampir. Seperti sudah menjadi kewajiban rutin yang hanya sebulan sekali, kedatangannya bukan sengaja untuk menjenguk bundanya tapi hanya untuk menyetor yang dia anggap sebagai kewajiban seorang anak yang sudah menjabat sebagai kepala bagian di kantornya, kepada bunda yang sudah melahirkan dan membesarkannya dengan hanya menyisihkan secuil dari gaji bulanannya yang hanya cukup untuk keperluan belanja bunda sehari. (*Lumayan lah daripada gak inget sama sekali)

Sumpah! Kadang aku sama sekali tidak mengerti dengan jalan pikiran saudara-saudaraku. Mungkin mereka memang sudah benar-benar lupa kalau kelak mereka pun akan tua dan tidak berdaya seperti bunda yang semasa masih mudanya merupakan mantan militer ini.

Padahal seingatku, bunda dan almarhum ayah telah mendidik aku dan saudara-saudaraku dengan penuh perhatian. Ibaratnya kepala di jadikan kaki dan kaki di jadikan kepala. Secara dulu almarhum ayah hanya merupakan pegawai negeri sipil dengan penghasilan yang sangat pas-pasan dan rela tiap hari pulang tengah malam bekerja sampingan demi menutupi isi perut dan biaya sekolah ke enam anak-anaknya yang proses kelahirannya rata-rata hanya berjarak dua tahun ini.

Inti dari semua cerita ketidak harmonisan keluargaku ini adalah sebuah pertanyaan yang terus berputar-putar di kepala. Apa sebetulnya yang salah dalam cara mendidik kedua orang tuaku dulu? Sehingga mereka bisa demikian tidak pedulinya pada keadaan bunda yang sebetulnya tidak membutuhkan apa-apa selain perhatian dan kasih sayang mereka. (*Kalau dari sisi materi sih, aku rasa pensiunan almarhum ayah cukup kalau hanya untuk menutupi keperluan bunda sehari-hari)

Akh, sutralah kalau menceritakan masalahku terus sih gak bakalan kelar-kelar. Yang penting beban di kepalaku sudah bisa keluar dan taburan bintang di pipiku sudah mulai berkurang. (“Gitu aja kok repot!!” *Ngutip gaya cueknya Gus Dur)

***

PS: Pssst, udah pada muntab belon? Kalo belon, besok aku posting yang bikin eneg lagi akh… *Makan lontong pake bakwan trus pake rawit tambah sambal kacang. Kenyank euy!* (Kqkqkq… ceritanya mo bikin peribahasa ala Jupie. Kacruuuuuut…)

jupitergreetings.com
(Jupiter doc/dalam aura lieur/28Nov08)

Ditulis dalam Coretanku | 6 Komentar »

Ketika Amarah Memenuhi Dada

Ditulis oleh jupiter di/pada November 27, 2008

Renungan Jupiter
(Ketika Amarah Memenuhi Dada)


Time is running so fast, kadang aku merasa ‘hilang’ dalam cepatnya perputaran waktu. Banyak yang ingin dilakukan. Ingin diselesaikan. Ingin pergi ke banyak tempat, tapi bandul di kaki seperti menahan dan memerangkap keinginan demi keinginan dalam sebuah sangkar kecil bernama tanggung jawab dengan spanduk di jidat bertuliskan *Demi Bunda Tercinta*.

Ya sudahlah. Mungkin nanti. Bila waktunya sudah tepat. Sekarang aku harus bisa kembali menikmati zona tenang yang sebetulnya sudah mulai tidak nyaman ini. Untuk sementara akan kusimpan kunci bandul ini di satu ruang yang berisi tumpukan mimpi dan harapan masa depan tanpa mencoba untuk menariknya keluar dulu. Terlalu besar resiko yang harus aku pikul seandainya saat ini aku berusaha melepaskan bandul yang membelenggu langkahku ini.

Penyesalan tanpa akhir?
TIDAAAAAAK…
Tidak ada yang paling aku takuti selain sebuah penyesalan.

Maafkan anakmu ini Bunda. Mungkin mimpi-mimpiku memang terlalu tinggi sehingga membuat aku jadi seperti ini. Menempatkan tanggung jawabku sebagai anak yang sudah seharusnya berbakti dan menemani hari-hari sendiri dengan segala ketidak berdayaan masa tuamu sebagai beban.

Aku sadar. Kelak kalau umurku panjang, aku juga pasti akan mengalami kenyataan yang sebetulnya selalu ditentang oleh hati kecilmu yang selalu merasa diri masih kuat dan masih segala bisa itu. Tapi ini seandainya umurku panjang, seandainya tidak? Berarti aku sama sekali tidak mempunyai kesempatan untuk membuka ruang mimpiku lagi???

Oooooowhh GOD! Ada apa sebetulnya dengan kepalaku? Mengapa jiwa pemberontak ini mendadak keluar lagi? Satu sisi jiwaku ingin terbang lepas, sisi lain hati kecilku selalu menentang dan menyuruhku untuk tetap tinggal di samping bunda yang sama sekali sudah tidak bisa aku tinggal terlalu lama.

Dalam dilema seperti ini, rasa kecewa pada saudara-saudara kandungku yang seperti sudah tidak perduli pada keadaan bunda semakin menjadi-jadi. Di dalam kepalaku seperti ada lahar yang siap meledak. Dadaku sesak menahan segala gejolak pemberontakan yang tidak aku berikan kesempatan untuk keluar.

Aku benci saudaraku.
Aku benci diriku.
Aku benci keadaanku.
Aku benci undangan mereka.

Dalam penat kubuka kembali tiga pesan yang baru beberapa menit yang lalu masuk, selanjutnya dengan jemari bergetar menahan getir aku mengetik balasan,

Balasan satu : “Sorry, gue kayaknya gak bisa gabung dalam party nanti. Tolong mengerti keadaan gue ye, bro!” *send*

Balasan dua : “Bukannya sombong, masalahnya bunda gak bisa ditinggal lama-lama, euy! Jujur sebetulnya aku tertarik sekali dengan tema seminar itu. Tolong bilangin sama teman-teman juga, ya.” *send*

Balasan tiga : “Sumpah! Gue sama sekali gak ada maksud menghindar. Kalian tetap sohib-sohib gue yang paling the best dah. Tapi sekali lagi sorry banget, acara ngecamp ke Gede itu gue emang bener-bener gak bisa ikut. Lain kali kalau ada acara lagi gue usahain deh agar bisa gabung lagi. Gue juga udah kangen berat kok sama anak-anak.” *send*

Detik berikutnya tanpa menunggu balasan lagi, kutekan tombol ‘power off’. Aku sudah kehilangan kata-kata untuk menolak ajakan baik mereka yang di setiap acara tidak pernah melupakan keberadaanku yang seakan sudah berada di lain alam ini. Dan meski dengan sangat terpaksa aku lebih sering menolak daripada memenuhi undangan mereka, tapi mereka tetap tidak jera dan selalu berusaha dengan segala cara agar aku bisa eksis lagi seperti dulu.

Hanya lembaran putih ini yang bisa aku jadikan sasaran kemarahanku yang entah harus ditujukan kepada siapa. Kutumpahkan segala rasa sesak yang tidak pernah bisa aku bagi kepada orang-orang di sekitarku. Tidak ada gunanya mereka tahu segala rasa penatku ini. Mereka tidak mungkin bisa mengerti keadaanku yang sesungguhnya, dan lebih baik untuk selamanya mereka memang tidak perlu mengerti. Biarlah rasa sesak ini kudamparkan di sini, di gubuk persembunyian yang telah sarat dengan segala sampah hatiku sendiri.

Aku harus tetap yakin, segala rasa sesak ini hanya untuk sementara. Dan mudah-mudahan memang hanya untuk sementara.

Malam yang sama sekali tidak indah ini kembali aku lalui dengan pikiran yang tidak bisa fokus walau hanya untuk sekedar membuat runtut satu cerita. Aku menyerah! Tanpa keluar dulu dari windows, aku menutup laptop. Saat kacau seperti ini walaupun sebetulnya kantuk belum datang tapi lebih baik aku coba untuk bergelung di balik selimut sambil menjernihkan hati serta pikiran yang sedang kusut ini.

Menjelang pagi ketika baru saja aku mau bermimpi, tiba-tiba…

DUK… DUK… (*ketukan kepalan tangan bunda yang sudah tidak bertenaga)

Hhhhhh… pasti bunda isengnya lagi kumat nih. Ganggu mimpiku aja. (*cuek mode on)

DUK… DUK… DUK…

Arghhh… ada apa lagi, sih? Pikirku sambil berusaha mengingat lagi siapa tahu aku lupa merapikan sesuatu. Waktu bunda pergi mandi tadi, segala aroma pesing di kamarnya sudah aku bersihkan. Nasi serta lauk pauk buat sarapan sudah aku hangatkan. Teh manis dengan gula khususnya bunda juga sudah aku letakan di atas meja. Sudah rapi semua kok, mau apa lagi sih, bunda?

Sebodo Akh! Kutarik guling yang sedang asik bercinta dengan dinding.

DUK-DUK-DUK

Aku tetap bergelung dan tambah merapatkan selimut dengan tetap mengepit guling

Hening

Hhhh, akhirnya bunda menyerah juga. Amaaan… (*bersiap terbang lagi ke nirwana)

TREK-TREK-TREK (*ceritanya ini bunyi pegangan pintu kamar)

DUK–DUK-DUK-DUK (*ketukan di pintu semakin terdengar gencar)

TREK-TREK–TREK-TREK (*Tape Lontong Bakwan, deh!)

Setengah keluar dari selimut aku tendang guling. (*kesel mode on)

“MAU APA LAGI SIH MAAAAA? SARAPAN KAN UDAH AKU SIAPIN Di MEJA. AKU BARU MAU TIDUR, NEH!”

Hening lagi…

Masih dalam kondisi setengah duduk, aku menunggu beberapa saat.

Ceplok-ceplok-ceplok. Langkah berat binti lengket khas penderita diabetes terdengar menjauh dari pintu kamar.

Akhirnyaaaa… Aku kembali menarik selimut dan bersiap melanjutkan mimpi omez bareng guling yang tadi sempat terpenggal.

Tapi ternyata tidak bisa.

Kepalaku tidak bisa diajak kompromi, kantuk yang baru beberapa menit yang lalu menyapa tiba-tiba sudah kembali terbang entah ke mana. Mataku mendadak sulit untuk dipejamkan. Rasa bersalah karena sudah membentak bunda menggantikan segala rasa kesalku. Aku menyesal, tidak seharusnya aku melampiaskan kemarahanku pada bunda. Bukan keinginan bunda untuk tidak berdaya seperti itu.

Setengah tersentak, aku langsung bangkit. Kubuka pintu kamar pelan-pelan. Bunda tidak ada? Kemana dia? Ku cari di semua ruangan, tidak ada juga. Waduh! Jangan-jangan? Aku buru-buru naik ke lantai dua. Sepi. Kakak iparku pasti sedang mengantar keponakanku sekolah. Bunda di mana sih? Aku mulai panik.

Baru saja aku mau turun, kudengar ada suara mencurigakan dari ruang tamu.

“Teh Dewa ini mama barusan mau jatuh di depan.” Rina tetangga depan rumah sudah ada di ruang tamu sedang membantu bunda yang sudah berurai air mata untuk duduk.

“Kok bisa?” tanyaku tanpa basa-basi lagi langsung menyambar gelas air minum bunda yang ada di atas meja.

“Iya, tadi katanya mama teteh mau nengokin mamaku yang barusan pulang dari rumah sakit. Aku bilang nanti saja bareng teteh, tapi mama teteh ngotot, katanya kalau nunggu teteh mah kelamaan soalnya barusan tidur.”

DEUGHT! Spontan aku langsung lemas mendengar penjelasan Rina. Dalam kondisi yang untuk berdiri saja kadang sudah harus di bantu, jiwa sosial bunda masih tetap seperti masih sehat dulu. Padahal sebelum masuk ke kamar tadi, aku sudah mengingatkan bunda agar tidak pergi kemana-mana dulu. Acara menjenguk tetangga sudah aku jelaskan juga agak siangan sekalian menunggu kakak iparku pulang dari mengantar sekolah anaknya.

Rasa miris kembali memenuhi dada. Seandainya tadi bunda jatuh terus kenapa-kenapa? Aku begidik sendiri. Aku peluk bunda dan aku usap sisa air mata bunda tanpa bisa berkata apa-apa lagi. Beribu kata maaf sudah tidak mungkin bisa mewakili rasa sesalku yang tadi sempat menjadi anak durhaka.

***

jupitergreetings.com

(Jupiter doc/dalam aura sesal/27Nov08)

Ditulis dalam Coretanku | 5 Komentar »

Nikmat Yang Tertunda

Ditulis oleh jupiter di/pada November 26, 2008

Curhat, Solusi dan Sikap
( Nikmat Yang Tertunda )


Minggu-minggu ini entah ada angin apa, beberapa sahabat tiba-tiba menghampiriku dengan curahan hati yang bernada sama yaitu GALAU.

Sahabat satu, tanpa tedeng aling-aling langsung membeberkan permasalahan yang tengah dihadapinya seputar ketidaksiapan mentalnya dalam menghadapi resepsi pernikahan yang kurang lebih satu bulan ke depan akan segera dilaksanakan.

Semakin mendekati hari ‘H’, beberapa orang mantannya yang dulu sangat dicintainya tiba-tiba kembali datang dan menggodanya untuk kembali melanjutkan hubungan mereka yang dulu kandas tanpa ada sebab yang jelas.

Karena satu dan beberapa kelebihan mantan yang tidak bisa ia temukan pada sosok pribadi calon pendamping hidupnya yang sekarang, keyakinan yang beberapa bulan ke belakang sudah bulat untuk segera melepas masa lajangnya kembali menjadi GALAU. (*mirip sekali dengan kasusku dulu)

Sahabat dua, di tengah haru biru biduk rumah tangga yang penuh dengan perjuangan nyata dalam membenahi ekonomi keluarga yang semakin hari semakin menuntut mereka untuk bisa lebih mengencangkan ikat pinggang, sehubungan dengan semakin membengkaknya kebutuhan rumah tangga yang harus mengeluarkan biaya ekstra demi kemajuan pendidikan buah hati mereka yang semakin hari semakin bertambah besar. Tiba-tiba ia dihadapkan pada kenyataan bahwa pendamping hidup yang dari awal merintis usaha sampai sekarang sudah bisa dikatakan maju ternyata ditemukan ada main dengan perempuan selain dirinya.

Alhasil sahabatku ini dilanda GALAU antara menegur pasangan hidupnya dengan resiko terjadi keributan dalam keluarga kecil mereka yang sudah dilengkapi oleh beberapa buah hati, atau tetap bersikap pasrah dan menganggap penghianatan pasangan hidupnya itu sebagai hiburan yang hanya sementara dengan resiko si perempuan idaman lain yang secara phisik tentunya lebih fresh dari dirinya itu akan semakin menambah keruh suasana. (*semasa masih gadis sahabatku ini termasuk idaman para calon pendamping hidup)

Sahabat tiga, dalam usaha kerasnya yang selalu mencoba mempertahankan rasa sayangnya yang sudah terlanjur dalam kepada seseorang yang kini sudah berubah status menjadi mantan, membuat pikiran dan hatinya selalu terbelengu oleh rasa gamang pada kenyataan yang harus dihadapi yang sebetulnya sudah melenceng jauh dari apa yang selama ini selalu ia harapkan.

Walau cara bicara serta mimik wajahnya selalu dibungkus dengan segala topeng ceria serta ketegaran, namun semua itu tidak cukup sanggup untuk menutupi perasaan terluka yang tanpa ia katakan selalu bisa aku raba dan aku rasakan.

Ketidak sabarannya dalam menahan segala beban rasa rindu yang selalu menggebu pada kenangan serta harapan masa lalu membuat hari-harinya selalu di hantui oleh rasa GALAU, antara menerima kenyataan, melepaskan kenangan atau menunggu kesempatan harapan itu kembali datang. (*serupa tapi tidak sama dengan kasus yang pernah dan tengah aku hadapi)

Sahabat empat, kasusnya lebih kepada perlakuan keluarga besar yang selalu memperlakukannya sebagai anak kecil yang sama sekali belum bisa menentukan langkah sendiri. Limpahan kasih sayang yang selalu di ukur dari sisi materi membuat keluarga besarnya selalu menganggap sahabatku ini sampai kapanpun tidak akan bisa mandiri tanpa bantuan ekonomi dari keluarga.

Beberapa kali keputusannya untuk mencoba mengadu nasib dengan menerima tawaran pekerjaan selalu kandas, karena ditentang oleh keluarga besar yang selalu menghembuskan kemungkinan-kemungkinan yang membuat sahabatku ini untuk kesekian kalinya kembali melepaskan peluang emas yang hanya dianggap sebagai omong kosong belaka dan tidak akan mampu mencukupi kebutuhan hidup sehari-harinya yang sudah terbiasa hidup serba berkecukupan.

Dalam kesadarannya akan masa depan yang semakin menantang dan tidak mungkin selamanya bisa mengandalkan kekayaan keluarga besar, saat ini ia mulai dibebani perasaan GALAU. Antara menentang kemauan keluarga besar yang sepertinya mengharapkan ia bisa meneruskan usaha keluarga yang sebetulnya tidak sesuai dengan kata hatinya, atau nekat melangkah keluar dan melepaskan diri dari jeratan emas yang mengatas namakan ‘rasa kuatir’ keluarga besarnya. (*berbanding kebalik dengan apa yang terjadi dalam perjalanan hidupku yang dari usia belia sudah dituntut untuk bisa mandiri)

Dari semua kasus yang tengah melanda sahabat-sahabatku ini, tidak banyak yang bisa aku lakukan untuk membantu meringankan beban mereka yang sebetulnya bisa mereka selesaikan sendiri walau tanpa ada bantuan atau sumbang saran dariku yang bukan siapa-siapa ini.

Aku selalu yakin, seberat apapun masalah yang tengah dihadapi oleh sahabat-sahabatku, pada dasarnya mereka bukan termasuk orang yang tidak berwawasan dan juga bukan termasuk kategori orang yang sama sekali tidak berpengalaman. Mereka adalah orang-orang yang cukup pintar dan bijak yang sebetulnya sudah cukup tahu apa yang seharusnya mereka lakukan dalam menghadapi semua masalah yang tengah mereka hadapi.

Inti dari semua permasalahan mereka itu menurut pemikiran dangkalku sebetulnya lebih ke masalah waktu dan penerimaan diri.

Selama masa-masa sulit mereka, aku selalu berusaha menempatkan diri sebagai sahabat yang meskipun sudah sangat dekat tapi pada kenyataannya posisiku tetap hanya sebagai orang luar yang hanya bisa menyediakan telingga untuk mendengarkan, menyiapkan bahu untuk menahan beban keterpurukan serta usapan jemari pada setiap tetes air mata yang keluar.

Apabila momennya sedang tepat, tak jarang aku memberikan beberapa advice ringan yang sering kali aku ‘bungkus’ dengan candaan, tanpa membuatnya menjadi tambahan beban yang menuntut dia harus mengikuti apa yang telah aku sampaikan.

Sebagai orang luar, aku tak pernah berhenti mengingatkan diri bahwa tugasku sebagai sahabat adalah mengingatkan mereka agar selalu memilih yang terbaik, menghormati apapun keputusan yang mereka pilih tanpa berusaha untuk memaksakan pendapatku sendiri, mendukung dan mendoakan segala usaha mereka agar bisa berhasil.

Aku bukanlah seseorang yang hidup tanpa masalah. Apabila dirinci satu persatu perjalanan hidupku sendiri cukup rumit dan hampir selalu dibalut oleh beragam masalah yang saking mumetnya terkadang aku malah cenderung mengambil sikap ‘ndableg’ (belaga tidak mau memikirkan masalah yang datang walau hati serta kepala terkadang penatnya bukan kepalang).

Dalam setiap menghadapi masalah, aku selalu berusaha untuk membebaskan pikiran, melapangkan hati serta menerima datangnya semua masalah tanpa sedikitpun berusaha untuk melakukan penolakan. Semakin di tolak maka masalah yang datang akan terasa semakin berat.

Proses menerima masalah yang datang memang bukan hal yang mudah. Senjata yang paling ampuh yang bisa aku rasakan manfaatnya sampai sekarang cukup sederhana dan tidak memerlukan pemikiran yang rumit.

Selalu berusaha untuk tetap berpikiran positif dan menganggap semua masalah yang datang adalah merupakan ujian kesabaranku yang bersifat sementara, dengan tetap berkeyakinan bahwa di luar sana masih banyak orang-orang yang lebih menderita dan lebih susah dari segala masalah yang aku hadapi.

Kesadaran serta keyakinan seperti ini cukup bisa membuatku selalu merasa bersyukur bahwa masalah yang aku hadapi tidak pernah serumit mereka yang dalam kenyataan hidupnya sehari-hari harus selalu berjuang keras dengan hanya diberikan dua pilihan yang sangat sulit yaitu antara hidup dan mati.

Dalam setiap menghadapi masalah yang sebetulnya aku dan sahabat-sahabat perlukan hanya kebesaran hati untuk mengakui dan menerima apa yang telah terjadi (lengkap dengan segala konsekuensinya), dan secepatnya berpaling dari kesalahan atau kekacauan yang sudah terlanjur terjadi itu. Memperbarui diri dengan segenap kesungguhan, dan terus menjelang hidup dengan berani.

Beberapa peristiwa di tahun ini telah memberikan begitu banyak pelajaran buatku. Pelajaran paling berharga dari semuanya adalah, aku belajar melihat setiap masalah dengan kacamata yang lebih bijaksana. Menyesali diri dan berkubang dalam kekecewaan adalah hal yang biasa. Tapi yang bisa menjadikan aku luar biasa adalah saat aku berani mengambil keputusan untuk bangkit dari keterpurukan itu.

Tidak kabur dari kenyataan, melainkan menerima dengan hati berserah dan bibir tersenyum. Tidak terjebak untuk mengasihani diri sendiri, melainkan berdamai dengannya, dan belajar mencintai hidup apa adanya sebagai anugerah terbesar yang dipercayakan Sang Pencipta kepada diriku. Tidak terpaku dan larut pada kesalahan maupun kegagalan, melainkan menikmati setiap proses berikut ‘ups & downs’nya dengan jiwa yang besar. Tidak terpesona dengan keberhasilan, namun memandangnya sebagai berkah yang patut disyukuri dan senantiasa ‘dikembalikan’ kepada Si Pemberi Rejeki. Bertekad untuk bisa terus lebih bijaksana dan menyongsong hari dengan kekuatan yang baru. Kekuatan yang membuat aku bisa terus tersenyum, bahkan di tengah kegagalan dan airmata.

Aku selalu percaya dibalik semua cobaan yang menghadirkan rasa perih di dada dan menguras air mata selalu tersimpan keberhasilan serta kebahagiaan yang sudah menunggu. Seperti layaknya pelangi yang selalu sabar dan setia menanti saat-saat kemunculannya sampai hujan reda. Mudah-mudahan semua sahabat yang tengah dirundung duka memiliki keyakinan yang sama. Bahwa dibalik segala masalah mereka tersimpan kenikmatan yang tertunda.

***

(Jupiter doc/dalam aura prihatin/26Nov08)

Ditulis dalam Coretanku | 6 Komentar »