Renungan Jupiter
(Ketika Amarah Memenuhi Dada)

Time is running so fast, kadang aku merasa ‘hilang’ dalam cepatnya perputaran waktu. Banyak yang ingin dilakukan. Ingin diselesaikan. Ingin pergi ke banyak tempat, tapi bandul di kaki seperti menahan dan memerangkap keinginan demi keinginan dalam sebuah sangkar kecil bernama tanggung jawab dengan spanduk di jidat bertuliskan *Demi Bunda Tercinta*.
Ya sudahlah. Mungkin nanti. Bila waktunya sudah tepat. Sekarang aku harus bisa kembali menikmati zona tenang yang sebetulnya sudah mulai tidak nyaman ini. Untuk sementara akan kusimpan kunci bandul ini di satu ruang yang berisi tumpukan mimpi dan harapan masa depan tanpa mencoba untuk menariknya keluar dulu. Terlalu besar resiko yang harus aku pikul seandainya saat ini aku berusaha melepaskan bandul yang membelenggu langkahku ini.
Penyesalan tanpa akhir?
TIDAAAAAAK…
Tidak ada yang paling aku takuti selain sebuah penyesalan.
Maafkan anakmu ini Bunda. Mungkin mimpi-mimpiku memang terlalu tinggi sehingga membuat aku jadi seperti ini. Menempatkan tanggung jawabku sebagai anak yang sudah seharusnya berbakti dan menemani hari-hari sendiri dengan segala ketidak berdayaan masa tuamu sebagai beban.
Aku sadar. Kelak kalau umurku panjang, aku juga pasti akan mengalami kenyataan yang sebetulnya selalu ditentang oleh hati kecilmu yang selalu merasa diri masih kuat dan masih segala bisa itu. Tapi ini seandainya umurku panjang, seandainya tidak? Berarti aku sama sekali tidak mempunyai kesempatan untuk membuka ruang mimpiku lagi???
Oooooowhh GOD! Ada apa sebetulnya dengan kepalaku? Mengapa jiwa pemberontak ini mendadak keluar lagi? Satu sisi jiwaku ingin terbang lepas, sisi lain hati kecilku selalu menentang dan menyuruhku untuk tetap tinggal di samping bunda yang sama sekali sudah tidak bisa aku tinggal terlalu lama.
Dalam dilema seperti ini, rasa kecewa pada saudara-saudara kandungku yang seperti sudah tidak perduli pada keadaan bunda semakin menjadi-jadi. Di dalam kepalaku seperti ada lahar yang siap meledak. Dadaku sesak menahan segala gejolak pemberontakan yang tidak aku berikan kesempatan untuk keluar.
Aku benci saudaraku.
Aku benci diriku.
Aku benci keadaanku.
Aku benci undangan mereka.
Dalam penat kubuka kembali tiga pesan yang baru beberapa menit yang lalu masuk, selanjutnya dengan jemari bergetar menahan getir aku mengetik balasan,
Balasan satu : “Sorry, gue kayaknya gak bisa gabung dalam party nanti. Tolong mengerti keadaan gue ye, bro!” *send*
Balasan dua : “Bukannya sombong, masalahnya bunda gak bisa ditinggal lama-lama, euy! Jujur sebetulnya aku tertarik sekali dengan tema seminar itu. Tolong bilangin sama teman-teman juga, ya.” *send*
Balasan tiga : “Sumpah! Gue sama sekali gak ada maksud menghindar. Kalian tetap sohib-sohib gue yang paling the best dah. Tapi sekali lagi sorry banget, acara ngecamp ke Gede itu gue emang bener-bener gak bisa ikut. Lain kali kalau ada acara lagi gue usahain deh agar bisa gabung lagi. Gue juga udah kangen berat kok sama anak-anak.” *send*
Detik berikutnya tanpa menunggu balasan lagi, kutekan tombol ‘power off’. Aku sudah kehilangan kata-kata untuk menolak ajakan baik mereka yang di setiap acara tidak pernah melupakan keberadaanku yang seakan sudah berada di lain alam ini. Dan meski dengan sangat terpaksa aku lebih sering menolak daripada memenuhi undangan mereka, tapi mereka tetap tidak jera dan selalu berusaha dengan segala cara agar aku bisa eksis lagi seperti dulu.
Hanya lembaran putih ini yang bisa aku jadikan sasaran kemarahanku yang entah harus ditujukan kepada siapa. Kutumpahkan segala rasa sesak yang tidak pernah bisa aku bagi kepada orang-orang di sekitarku. Tidak ada gunanya mereka tahu segala rasa penatku ini. Mereka tidak mungkin bisa mengerti keadaanku yang sesungguhnya, dan lebih baik untuk selamanya mereka memang tidak perlu mengerti. Biarlah rasa sesak ini kudamparkan di sini, di gubuk persembunyian yang telah sarat dengan segala sampah hatiku sendiri.
Aku harus tetap yakin, segala rasa sesak ini hanya untuk sementara. Dan mudah-mudahan memang hanya untuk sementara.
Malam yang sama sekali tidak indah ini kembali aku lalui dengan pikiran yang tidak bisa fokus walau hanya untuk sekedar membuat runtut satu cerita. Aku menyerah! Tanpa keluar dulu dari windows, aku menutup laptop. Saat kacau seperti ini walaupun sebetulnya kantuk belum datang tapi lebih baik aku coba untuk bergelung di balik selimut sambil menjernihkan hati serta pikiran yang sedang kusut ini.
Menjelang pagi ketika baru saja aku mau bermimpi, tiba-tiba…
DUK… DUK… (*ketukan kepalan tangan bunda yang sudah tidak bertenaga)
Hhhhhh… pasti bunda isengnya lagi kumat nih. Ganggu mimpiku aja. (*cuek mode on)
DUK… DUK… DUK…
Arghhh… ada apa lagi, sih? Pikirku sambil berusaha mengingat lagi siapa tahu aku lupa merapikan sesuatu. Waktu bunda pergi mandi tadi, segala aroma pesing di kamarnya sudah aku bersihkan. Nasi serta lauk pauk buat sarapan sudah aku hangatkan. Teh manis dengan gula khususnya bunda juga sudah aku letakan di atas meja. Sudah rapi semua kok, mau apa lagi sih, bunda?
Sebodo Akh! Kutarik guling yang sedang asik bercinta dengan dinding.
DUK-DUK-DUK
Aku tetap bergelung dan tambah merapatkan selimut dengan tetap mengepit guling
Hening
Hhhh, akhirnya bunda menyerah juga. Amaaan… (*bersiap terbang lagi ke nirwana)
TREK-TREK-TREK (*ceritanya ini bunyi pegangan pintu kamar)
DUK–DUK-DUK-DUK (*ketukan di pintu semakin terdengar gencar)
TREK-TREK–TREK-TREK (*Tape Lontong Bakwan, deh!)
Setengah keluar dari selimut aku tendang guling. (*kesel mode on)
“MAU APA LAGI SIH MAAAAA? SARAPAN KAN UDAH AKU SIAPIN Di MEJA. AKU BARU MAU TIDUR, NEH!”
Hening lagi…
Masih dalam kondisi setengah duduk, aku menunggu beberapa saat.
Ceplok-ceplok-ceplok. Langkah berat binti lengket khas penderita diabetes terdengar menjauh dari pintu kamar.
Akhirnyaaaa… Aku kembali menarik selimut dan bersiap melanjutkan mimpi omez bareng guling yang tadi sempat terpenggal.
Tapi ternyata tidak bisa.
Kepalaku tidak bisa diajak kompromi, kantuk yang baru beberapa menit yang lalu menyapa tiba-tiba sudah kembali terbang entah ke mana. Mataku mendadak sulit untuk dipejamkan. Rasa bersalah karena sudah membentak bunda menggantikan segala rasa kesalku. Aku menyesal, tidak seharusnya aku melampiaskan kemarahanku pada bunda. Bukan keinginan bunda untuk tidak berdaya seperti itu.
Setengah tersentak, aku langsung bangkit. Kubuka pintu kamar pelan-pelan. Bunda tidak ada? Kemana dia? Ku cari di semua ruangan, tidak ada juga. Waduh! Jangan-jangan? Aku buru-buru naik ke lantai dua. Sepi. Kakak iparku pasti sedang mengantar keponakanku sekolah. Bunda di mana sih? Aku mulai panik.
Baru saja aku mau turun, kudengar ada suara mencurigakan dari ruang tamu.
“Teh Dewa ini mama barusan mau jatuh di depan.” Rina tetangga depan rumah sudah ada di ruang tamu sedang membantu bunda yang sudah berurai air mata untuk duduk.
“Kok bisa?” tanyaku tanpa basa-basi lagi langsung menyambar gelas air minum bunda yang ada di atas meja.
“Iya, tadi katanya mama teteh mau nengokin mamaku yang barusan pulang dari rumah sakit. Aku bilang nanti saja bareng teteh, tapi mama teteh ngotot, katanya kalau nunggu teteh mah kelamaan soalnya barusan tidur.”
DEUGHT! Spontan aku langsung lemas mendengar penjelasan Rina. Dalam kondisi yang untuk berdiri saja kadang sudah harus di bantu, jiwa sosial bunda masih tetap seperti masih sehat dulu. Padahal sebelum masuk ke kamar tadi, aku sudah mengingatkan bunda agar tidak pergi kemana-mana dulu. Acara menjenguk tetangga sudah aku jelaskan juga agak siangan sekalian menunggu kakak iparku pulang dari mengantar sekolah anaknya.
Rasa miris kembali memenuhi dada. Seandainya tadi bunda jatuh terus kenapa-kenapa? Aku begidik sendiri. Aku peluk bunda dan aku usap sisa air mata bunda tanpa bisa berkata apa-apa lagi. Beribu kata maaf sudah tidak mungkin bisa mewakili rasa sesalku yang tadi sempat menjadi anak durhaka.
***

(Jupiter doc/dalam aura sesal/27Nov08)