Diam, pasrah dan tabah
(Menghirup Aroma Ikhlas)
Beberapa hari yang lalu pikiranku kalut, dadaku sesak dan rasaku begitu penat. Tapi itu terjadi beberapa hari yang lalu. Esoknya pikiranku bisa kembali jernih, dadaku lega dan rasaku kembali berbunga. Hari ini pikiranku kembali kalut, dadaku sesak dan rasaku kembali penat.
Hhhh, seandainya saja masalah hanya datang satu demi satu, mungkin aku bisa menjalaninya dengan lebih ringan. Namun sayangnya tidak demikian. Masalah yang datang sama sekali tak pernah mengenal belas kasihan dan tak pernah memberikan kesempatan kepadaku untuk mempersiapkan segala penangkal.
Ia datang tidak seperti hujan yang sebelum menggempur, terlebih dahulu memperdengarkan gelegar guntur untuk memberi aba-aba kepada seluruh penghuni bumi agar segera mencari perlindungan atau untuk sekedar menyiapkan payung.
Ia juga datang tidak seperti segerombolan preman yang menagih hutang, terlebih dahulu mengeluarkan teriakan yang menggelegar atau menggedor pintu depan sehingga orang yang akan di tagih mempunyai kesempatan untuk menyelinap pergi atau untuk sekedar menyiapkan beribu alibi.
Ia datang tanpa pernah aku undang dan selalu tiba-tiba menelikung seluruh panca indraku dari berbagai sudut sehingga mengakibatkan jiwaku mendadak lumpuh, terduduk dan meringkuk. Pada saat seperti ini seperti biasa tidak ada yang bisa aku lakukan selain berdiam diri dan mencoba mengatur strategi.
Dengan nafas yang mulai tersenggal aku memandang ke depan. Bintang terang yang kemarin sempat memayungi harapan masa yang akan datang kembali terlihat samar, memudar dan seperti menghilang di telan mendung yang kembali menghadirkan kabut tebal kebimbangan.
Lututku kaku, pikiranku buntu dan rasaku kembali menjadi beku. Walau aku paksakan, aku tidak akan sanggup untuk terus melangkah dalam keadaan kacau seperti ini. Aku harus segera melakukan sesuatu untuk dapat menghalau segala kekacauan ini.
Ku palingkan pandangan ke arah sebelah kiri, kerikil berupa materi yang kemarin telah bisa aku tendang dan aku singkirkan kembali bermunculan, menyebar dan untuk kesekian kalinya kembali merintangi dan membatasi langkah kakiku.
Aku menarik nafas panjang. Perlahan ku palingkan pandangan ke arah sebelah kanan, wajah pucat bunda yang tengah menahan segala rasa sakit akibat dari komplikasi penyakit menahun yang dideritanya membuat dadaku seketika langsung sesak dan jantungku seperti berhenti berdetak. Dengan sekuat tenaga aku berusaha menolak gejolak hasrat yang seperti memaksaku untuk menengok kembali ke belakang.
Tidak! Aku tidak boleh menengok ke belakang. Setebal apapun kabut kebimbangan yang menyelimuti hari ini, tak ada yang pantas aku pungut lagi dari belakang selain pelajaran yang saat ini sudah berhasil aku genggam.
Aku juga tidak boleh lagi lari ataupun menghindar. Semakin aku menghindar maka semua masalah ini akan semakin erat mendekap dan semakin mengakrabkan diri dengan hidupku. Masalah seperti ini pernah terjadi dan sebelumnya aku pernah mengalami masalah yang lebih kacau, tapi toh pada akhirnya aku bisa melepaskan diri dari segala himpitan yang mengganjal.
Untuk bisa keluar dari semua masalah ini hanya satu yang bisa aku lakukan. Aku harus bisa bertahan untuk tetap diam. Mulai saat ini aku akan mencoba berkenalan dan kalau mungkin aku harus bisa bersahabat dengan semua masalah yang melingkari hidupku. Tak akan lagi aku jadikan mereka sebagai musuh yang semakin aku menjauh malah semakin membuat hidupku rusuh.
Selamat datang rombongan masalah! Ku buka semua pintu panca indraku lebar-lebar agar memudahkan kalian untuk merasuk dan selanjutnya dapat langsung menyerap aroma kepasrahan serta ketabahan yang merupakan awal dari sebuah penerimaan diri.
Diam, Pasrah dan Tabah.
Dalam diam, aku mampu kembali mengendalikan pikiran. Memisahkan emosi dari hasrat yang tak henti meniupkan terompet perang pada semua masalah yang datang. Dan pada akhirnya aku dapat kembali merasa tenang.
Dalam pasrah, jiwaku membaur dengan beragam masalah yang selalu berubah-ubah dan selalu bertingkah. Tak ada perlawanan dan tak ada penolakan. Satu persatu rasa terbebani yang lahir akibat dari perbedaan hasrat serta kenyataan yang di dapat perlahan mulai mencair.
Dalam tabah, aku dapat menemukan satu ruang cadangan yang berisi pasokan udara yang masih jernih dan sama sekali tidak pernah tersentuh oleh pekatnya asap yang ditimbulkan oleh kobaran api masalah. Dalam sesak, aku kembali bisa bernafas lega.
Mungkin inilah yang dinamakan sebagai proses penerimaan diri. Pada akhirnya aku dapat mencium satu aroma yang sangat menyejukan, aroma yang jarang sekali bisa aku hirup di setiap pikiranku sedang kalut, aroma yang sanggup meluruskan benang kusut dan mendamaikan segala keonaran yang diakibatkan oleh huru-haranya masalah yang selalu membuat seluruh panca indraku gundah.
Ya, ini adalah aroma yang selama ini selalu aku cari dan tak pernah berhenti aku pelajari. Aroma keramat yang tidak pernah mampu aku lihat apabila hanya mengandalkan ketajaman panca indra yang selalu terpagar oleh batas. Aroma tak kasat mata yang sangat sulit untuk bisa di raba walau hanya di dunia fatamorgana. Aroma yang menghadirkan rasa lega dan hanya bisa di rasa apabila kita telah berhasil melewati proses dari ketiga paket jitu (diam,pasrah dan tabah) yang membuahkan penerimaan diri.
Bersama damai ku panjatkan puji syukur atas hadirnya aroma ikhlas di dalam diri. Semoga aroma yang sangat agung ini bisa kerasan dan kemudian bersedia menetap untuk selamanya sehingga mampu membentengi seluruh panca indraku dari segala ketidaksetabilan emosi yang selalu sanggup menghadirkan kekacauan di dalam diri.
Sedihku sakitku ku terima
ku rela ku pasrah jalanku
ini suratan aku dicoba
demi rahmat-Mu ku memohon…
Yaa Allah ridhoi ketulusan hati
yaa Allah beri aku ketabahan
yaa Allah aku sanggup berkorban
demi rahmat-Mu yaa Allah
*Ketulusan Hati-Marshanda*
Semoga hatiku tidak akan pernah berhenti menyenandungkan lagu yang semenjak bulan puasa kemarin ini selalu sanggup menjadi penyejuk jiwa dari semburan api amarah yang selalu meniupkan bara. Semoga kelak aku bisa duet dengan penyanyi belia Marshanda.
(*Ups! kok endingnya jadi ancur begini, yak?)
(Jupiter doc/dalam aroma ikhlas/25Okt08)











