RENUNGAN JUPITER

Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam, di atas batu yang hitam, di malam yang amat kelam.

Arsip untuk Oktober, 2008

Menghirup Aroma Ikhlas

Ditulis oleh jupiter di/pada Oktober 25, 2008

Diam, pasrah dan tabah
(Menghirup Aroma Ikhlas)

Beberapa hari yang lalu pikiranku kalut, dadaku sesak dan rasaku begitu penat. Tapi itu terjadi beberapa hari yang lalu. Esoknya pikiranku bisa kembali jernih, dadaku lega dan rasaku kembali berbunga. Hari ini pikiranku kembali kalut, dadaku sesak dan rasaku kembali penat.

Hhhh, seandainya saja masalah hanya datang satu demi satu, mungkin aku bisa menjalaninya dengan lebih ringan. Namun sayangnya tidak demikian. Masalah yang datang sama sekali tak pernah mengenal belas kasihan dan tak pernah memberikan kesempatan kepadaku untuk mempersiapkan segala penangkal.

Ia datang tidak seperti hujan yang sebelum menggempur, terlebih dahulu memperdengarkan gelegar guntur untuk memberi aba-aba kepada seluruh penghuni bumi agar segera mencari perlindungan atau untuk sekedar menyiapkan payung.

Ia juga datang tidak seperti segerombolan preman yang menagih hutang, terlebih dahulu mengeluarkan teriakan yang menggelegar atau menggedor pintu depan sehingga orang yang akan di tagih mempunyai kesempatan untuk menyelinap pergi atau untuk sekedar menyiapkan beribu alibi.

Ia datang tanpa pernah aku undang dan selalu tiba-tiba menelikung seluruh panca indraku dari berbagai sudut sehingga mengakibatkan jiwaku mendadak lumpuh, terduduk dan meringkuk. Pada saat seperti ini seperti biasa tidak ada yang bisa aku lakukan selain berdiam diri dan mencoba mengatur strategi.

Dengan nafas yang mulai tersenggal aku memandang ke depan. Bintang terang yang kemarin sempat memayungi harapan masa yang akan datang kembali terlihat samar, memudar dan seperti menghilang di telan mendung yang kembali menghadirkan kabut tebal kebimbangan.

Lututku kaku, pikiranku buntu dan rasaku kembali menjadi beku. Walau aku paksakan, aku tidak akan sanggup untuk terus melangkah dalam keadaan kacau seperti ini. Aku harus segera melakukan sesuatu untuk dapat menghalau segala kekacauan ini.

Ku palingkan pandangan ke arah sebelah kiri, kerikil berupa materi yang kemarin telah bisa aku tendang dan aku singkirkan kembali bermunculan, menyebar dan untuk kesekian kalinya kembali merintangi dan membatasi langkah kakiku.

Aku menarik nafas panjang. Perlahan ku palingkan pandangan ke arah sebelah kanan, wajah pucat bunda yang tengah menahan segala rasa sakit akibat dari komplikasi penyakit menahun yang dideritanya membuat dadaku seketika langsung sesak dan jantungku seperti berhenti berdetak. Dengan sekuat tenaga aku berusaha menolak gejolak hasrat yang seperti memaksaku untuk menengok kembali ke belakang.

Tidak! Aku tidak boleh menengok ke belakang. Setebal apapun kabut kebimbangan yang menyelimuti hari ini, tak ada yang pantas aku pungut lagi dari belakang selain pelajaran yang saat ini sudah berhasil aku genggam.

Aku juga tidak boleh lagi lari ataupun menghindar. Semakin aku menghindar maka semua masalah ini akan semakin erat mendekap dan semakin mengakrabkan diri dengan hidupku. Masalah seperti ini pernah terjadi dan sebelumnya aku pernah mengalami masalah yang lebih kacau, tapi toh pada akhirnya aku bisa melepaskan diri dari segala himpitan yang mengganjal.

Untuk bisa keluar dari semua masalah ini hanya satu yang bisa aku lakukan. Aku harus bisa bertahan untuk tetap diam. Mulai saat ini aku akan mencoba berkenalan dan kalau mungkin aku harus bisa bersahabat dengan semua masalah yang melingkari hidupku. Tak akan lagi aku jadikan mereka sebagai musuh yang semakin aku menjauh malah semakin membuat hidupku rusuh.

Selamat datang rombongan masalah! Ku buka semua pintu panca indraku lebar-lebar agar memudahkan kalian untuk merasuk dan selanjutnya dapat langsung menyerap aroma kepasrahan serta ketabahan yang merupakan awal dari sebuah penerimaan diri.

Diam, Pasrah dan Tabah.

Dalam diam, aku mampu kembali mengendalikan pikiran. Memisahkan emosi dari hasrat yang tak henti meniupkan terompet perang pada semua masalah yang datang. Dan pada akhirnya aku dapat kembali merasa tenang.

Dalam pasrah, jiwaku membaur dengan beragam masalah yang selalu berubah-ubah dan selalu bertingkah. Tak ada perlawanan dan tak ada penolakan. Satu persatu rasa terbebani yang lahir akibat dari perbedaan hasrat serta kenyataan yang di dapat perlahan mulai mencair.

Dalam tabah, aku dapat menemukan satu ruang cadangan yang berisi pasokan udara yang masih jernih dan sama sekali tidak pernah tersentuh oleh pekatnya asap yang ditimbulkan oleh kobaran api masalah. Dalam sesak, aku kembali bisa bernafas lega.

Mungkin inilah yang dinamakan sebagai proses penerimaan diri. Pada akhirnya aku dapat mencium satu aroma yang sangat menyejukan, aroma yang jarang sekali bisa aku hirup di setiap pikiranku sedang kalut, aroma yang sanggup meluruskan benang kusut dan mendamaikan segala keonaran yang diakibatkan oleh huru-haranya masalah yang selalu membuat seluruh panca indraku gundah.

Ya, ini adalah aroma yang selama ini selalu aku cari dan tak pernah berhenti aku pelajari. Aroma keramat yang tidak pernah mampu aku lihat apabila hanya mengandalkan ketajaman panca indra yang selalu terpagar oleh batas. Aroma tak kasat mata yang sangat sulit untuk bisa di raba walau hanya di dunia fatamorgana. Aroma yang menghadirkan rasa lega dan hanya bisa di rasa apabila kita telah berhasil melewati proses dari ketiga paket jitu (diam,pasrah dan tabah) yang membuahkan penerimaan diri.

Bersama damai ku panjatkan puji syukur atas hadirnya aroma ikhlas di dalam diri. Semoga aroma yang sangat agung ini bisa kerasan dan kemudian bersedia menetap untuk selamanya sehingga mampu membentengi seluruh panca indraku dari segala ketidaksetabilan emosi yang selalu sanggup menghadirkan kekacauan di dalam diri.

Sedihku sakitku ku terima
ku rela ku pasrah jalanku
ini suratan aku dicoba
demi rahmat-Mu ku memohon…

Yaa Allah ridhoi ketulusan hati
yaa Allah beri aku ketabahan
yaa Allah aku sanggup berkorban
demi rahmat-Mu yaa Allah

*Ketulusan Hati-Marshanda*
Semoga hatiku tidak akan pernah berhenti menyenandungkan lagu yang semenjak bulan puasa kemarin ini selalu sanggup menjadi penyejuk jiwa dari semburan api amarah yang selalu meniupkan bara. Semoga kelak aku bisa duet dengan penyanyi belia Marshanda.
(*Ups! kok endingnya jadi ancur begini, yak?)

(Jupiter doc/dalam aroma ikhlas/25Okt08)

Ditulis dalam Coretanku | 10 Komentar »

Nafas Kasih Bunda

Ditulis oleh jupiter di/pada Oktober 6, 2008

Aku, Bunda dan Lebaran kedua
( Nafas Kasih Bunda )

Matahari baru beranjak menghangatkan bumi ketika kulihat bunda sudah secantik peri. Aku dan kedua adikku yang masih asik bertukar cerita seketika saling sikut melihat bunda keluar dari kamar dengan busana lebaran keduanya. “Mau kemana, ma? Tumben masih pagi udah cantik?” godaku beranjak memenuhi isyarat panggilan tangan bunda yang meminta bantuan mengenakan jam tangan kesayangannya.

“Jam tangan mama yang dua lagi kemana ya, nak? Kok di laci lemari mama nggak ada? Jam yang ini rantainya udah gak nyaman di tangan mama, lagian mama bosan pakai jam tangan ini terus kalau pergi kemana-mana.” Aku tersenyum mendengar pertanyaan yang lebih tepatnya sebagai keluhan kebosanan bunda yang walaupun sudah renta masih tetap memperhatikan keserasian busana serta perlengkapan yang biasa dikenakannya.

Bandung Bangeeet! Gumamku geli, mengingat aku yang anaknya saja boro-boro deh sempet mikirin penampilan. Biarpun kalau mau pergi kemana-kemana selalu dibawelin oleh bunda, tetap saja tidak pernah mau direpotkan dengan segala tetek bengek yang berbau penampilan. Cuek bebek banget lah, yaw! Perduli amir sama pandangan orang lain, yang penting nyaman di badan dan pede di hati, that’s enough.

“Lah emangnya mama suka pergi ke mana? Keluar rumah aja udah setahun ini hampir nggak pernah. Jam tangan yang ini juga masih bagus banget kok, ma. Tuh jarum jamnya aja putarannya masih lincah, rantainya juga masih gak kalah kinclongnya sama kalung yang mama kenakan, kurang apa lagi coba? Mana ada sih nenek-nenek sekeren mama kita ini. Iya nggak, de?!” kataku mengedipkan mata ke dua adikku yang senyam-senyum melihat rayuan mautku telah menghadirkan kembali senyum di bibir bunda.

“Ya udah, kamu buruan mandi. Nanti ke makamnya keburu panas.” Jawaban bunda spontan mengagetkan aku dan kedua adikku.

“Ups! Ke makam? Kan tadi udah sepakat pergi ke makamnya minggu depan nunggu yang pergi nyekarnya berkurang.” Protesku seketika menatap wajah bunda, berharap bunda memberikan jawaban kalau beliau memang lupa dengan kesepakatan kami satu jam yang lalu, sebelum bunda masuk ke kamar mandi.

Mendengar penjelasanku, bukannya meralat ucapannya, bunda malah langsung terisak. Halah! Nggak bisa deh kalau sudah begini. Aku melirik ke dua adikku sambil mengangkat bahu.

“Ya udah, kalau mama maunya sekarang, aku mandi dulu deh. Jangan nangis dong, ma. Sayang latulipnya nih, jadi belepotan lagi deh.” bujukku mencoba meredakan isak tangis bunda yang kalau keinginannya tidak segera di turuti bisa berubah menjadi raungan yang berkepanjangan.

“De, kalian sudah pada mandi kan? Tolong bantu rapihkan dandanannya mama lagi nih, gaswat banget kalau nanti di jalan jadi nggak ada yang naksir gara-gara latulipnya luntur. Bisa mendadak tumbang deh predikat janda kembang mama kita ini.” Seruku mencoba mencairkan suasana begitu melihat raut wajah dua adikku yang masih kebingungan menghadapi kenyataan kepikunan bunda yang entah sudah mencapai stadium berapa.

***

Seperti dugaan kami sebelumnya, suasana di pemakaman umum begitu padat. Tak ubahnya suasana di pasar tradisional ketika menjelang lebaran, ratusan orang berjejalan. Puluhan motor dan mobil parkir tidak beraturan di sepanjang jalan menuju pemakaman umum tempat jenazah almarhum papa di semayamkan.

Keringat di dahi adik lelakiku sampai bercucuran ketika berusaha memarkirkan Opel Blazernya di sebuah halaman rumah penduduk yang mendadak berubah fungsi menjadi lahan parkir berbayar.

Hhhh, masyarakat Indonesia memang paling jeli kalau dalam urusan memanfaatkan situasi. Keadaan apapun bisa dijadikan sebagai ajang mengumpulkan materi. Salut!!

“Kok parkirnya jauh banget, makam papa kalian kan yang di sana tadi!” protes bunda pada adikku seraya menunjuk beberapa blok pemakaman yang sudah kami lewati.

“Wuizzz… hebat! Kalau udah menyangkut cinta sejati mah segala yang berbau pikun mendadak jadi luntur, deh.” Bisikku usil ditelinga adik bungsuku.

“Hush! Ntar kedengaran bunda, loh!” bisik adikku terkekeh, menyikut lenganku ketika melihat bunda menengokan kepala ke arah kami.

“Ups!” Spontan aku langsung menutup mulut usilku.

“Yup! Dah sampai deh, gimana ma mau ikut turun atau nunggu di mobil aja? Lumayan jauh loh jalannya.” Jelasku seraya berusaha mengoyahkan keyakinan mama yang tetap ngotot ingin ikut nyekar makam almarhum papa.

“Ikut lah, ngapain jauh-jauh ke sini kalau cuma mau nunggu di mobil. Lagian kesian papa kalian kalau nggak mama tengokin.”

“Hhhh, benar-benar deh mama kita ini, tubuh renta kemauan baja!” mulut usilku kembali berkicau yang di sambut dengan pukulan tanpa tenaga di kepala.

“Syukurin! usil banget sih.” Seru kedua adikku kompak begitu melihat aku pura-pura meringis dan mencoba menangkis dua pukulan yang dilancarkan bunda.

Selanjutnya dengan di papah aku, adik lelaki dan satu keponakan lelaki yang sudah beranjak remaja, bunda terus berusaha menyeret kaki kanannya yang sebetulnya sudah susah untuk digerakkan. Sementara adik bungsu serta adik iparku mengawal dari belakang.

Selintas retinaku yang memang selalu jeli membaca situasi menangkap puluhan mata yang mencuri pandang ke arah kerja kelompok kami. Tatapan mata yang berbeda-beda, mulai dari tatapan iba, haru sampai dengan kekaguman tersirat dari sorot mata mereka.

Satu… dua… tiga… empat belas… tepat di langkah yang ke lima belas akhirnya bunda menyerah. “Masih jauh ya, nak? Mama udah nggak kuat, kaki mama sakit banget.” Ini adalah keluhan pertama yang keluar dari bibir bunda.

“Ini baru seperempat jalan, ma. Ya udah kalau nggak kuat jangan dipaksakan, mama tunggu di sini aja, ya. Biar aku dan adik-adik aja yang ngewakilin mama nengokin makam papa.” Kataku yang di aminkan oleh ketiga adikku.

Dengan sorot mata yang terlihat tidak terima dengan kondisi phisiknya yang sudah jauh dari prima tersebut, akhirnya bunda pasrah ketika kami menitipkan beliau pada seorang ibu penjaja kembang yang dengan sukarela langsung menyodorkan kursi tunggunya kepada bunda.

Perjalanan bunda bertemu belahan jiwanyapun berakhir di kursi ibu penjaja kembang yang mangkal di sepanjang pinggiran jalan pemakaman.

***

Bunda, setelah sekian lama. Kini aku bisa melihatnya, melihat cinta sejati yang tidak hanya berupa kata-kata. Aku melihatnya dengan sangat jelas dari besarnya tekadmu walau hanya untuk bisa menyentuh nisan belahan jiwamu.

Dalam haru yang sangat membiru, ingin rasanya aku membekukan sang waktu agar tidak beranjak memandang wajah tegarmu. Wajah yang selalu dipenuhi dengan aura kedalaman Kasih yang sangat indah…

Bunda, besarnya kasih serta kuatnya tekadmu selalu sanggup menebarkan benih asa di sepanjang hidupku. Aku sangat bangga memiliki bunda setegar dan sehebat dirimu. Kuhirup terus hembusan udara kasih di setiap helaan nafasmu.

(Jupiter doc/dalam nafas kasih bunda/02Oktober08)

Ditulis dalam Coretanku | 3 Komentar »

Geliat Hari Raya

Ditulis oleh jupiter di/pada Oktober 5, 2008

Aku, Bunda dan Lebaran Pertama
( Geliat Hari Raya )

Pagi tadi rumah ini penuh dengan jerit
Jerit tangis yang entah ditujukan untuk apa dan untuk siapa
Bergantian anak-anakmu bersujud dan memeluk kaki kakumu
Kakak tertua, kakak kedua, kakak ketiga, dan… tiba giliranku
Tanpa bersujud aku cium punggung tanganmu
Aku kecup kedua pipimu
Aku usap kedua sudut matamu
Dengan jenaka aku berbisik di telingamu
“Gak usah pake nangis, kan udah dapet baju baru.”
Disela isak bunda tertawa dan mencubit lenganku

Maafkan keisengan anakmu ini bunda
Aku tak pernah bisa bersikap seperti mereka
Aku yakin walau tanpa air mata maafmu selalu seluas samudera
Bagiku raungan tangis penyesalan mereka hanya sekedar sandiwara
Yang keluar bukan dari lubuk hati yang terdalam
Dan hanya bisa mereka lakukan beberapa detik di hari raya
Karena sebelum dan setelah hari raya sikap mereka tetap seperti biasa
Yang tak pernah peka dan bisa meraba apa yang membuatmu bahagia

Siang hari rumah ini kembali sepi
Hanya ada aku, kamu dan beberapa orang cucumu
Semua anak-anakmu sibuk kembali dengan kehidupan mereka
Mungkin mereka menganggap tugas mereka sebagai anak telah impas
Hanya dengan jerit tangis dan sedu sedan mereka tadi pagi
Atas nama anak-anakmu aku kembali mendekap erat tubuh bunda
Tubuh renta dengan jiwa yang telah kembali beranjak balita

Di hari yang fitri ini aku kembali dapat memetik hikmah
Hikmah atas keputusan untuk bertahan dalam kesendirianku
Seandainya aku ditakdirkan memiliki keluarga seperti mereka
Tidak menutup kemungkinan aku pun akan bersikap seperti mereka
Yang lupa kalau kelak mereka pun akan menua dan bernasib sama

Sore hari rumah ini kembali ramai oleh pekik
Pekik jenaka dari cucu-cucumu yang masih balita
Dua adikku datang dari luar kota bersimpuh di pangkuanmu
Sebelum berurai air mata aku mencuri bisik di telinga mereka
Aku isyaratkan untuk bersikap biasa
Mereka mengerti dan memelukmu dengan tawa
Pada akhirnya segala kepedihan hati bunda
Yang tak henti menyesali ketiadaan sosok belahan jiwa
Karena telah lebih dahulu dijemput Yang Maha Kuasa
Bisa ditepis dengan kelakar dan canda mereka
Aroma hari raya pun kembali semarak dengan tawa di bibir bunda


(Jupiter doc/Dalam geliat hari raya/01Oktober08)

Ditulis dalam Coretanku, Puisiku | Leave a Comment »

Menjemput Hari Kemenangan

Ditulis oleh jupiter di/pada Oktober 1, 2008

Aku, Damai dan Lebaran
(Menjemput Hari Kemenangan)

Malam ini kembali aku bersenggama dengan kata
Tak terhitung banyaknya huruf dan angka yang berjejalan di kepala
Dengan mengerahkan segenap daya kucoba melapangkan dada
Kuhentakan nada demi menuangkan ribuan kata yang terpenjara

Beberapa hari yang lalu aku terpaku pada satu cerita pilu
Bibirku bergetar menahan amarah yang tidak bisa keluar
Dada bergolak melihat kenyataan rimbaku penuh kemelaratan
Mata membeliak ditikam serbuan hujan yang tak berkesudahan
Atas nama kemanusiaan aku mengutuk segerombolan penjagal
Kedua tanganku gemetar menghiba surga untuk para korban

Kemarin malam kedua tanganku kembali menadah gemetar
Memohon ampunan penguasa alam atas segala kealfaan kata
Kekhilafan sikap yang sudah terlanjur dicatat oleh malaikat
Kelalaian hati yang tak pernah berhenti memagut mimpi
Kesalahan diri yang telah mengabaikan hikmah yang tersirat

Dari arah belakang tiba-tiba terdengar suara penjaga malam
Membisikan untaian kata yang menyejukan hati dan juga kepala

Selama rembulan masih bisa bersinar terang
Jangan pernah kamu risaukan datangnya masa depan
Ketakutan hanya akan membuat dada berlubang
Teguran yang datang merupakan simbol kasih sayang Tuhan

Sore tadi aku beranjak sejenak dari dunia maya
Kucoba mencerna segala peristiwa yang terjadi di dunia nyata
Tanpa sengaja kulihat ada bias pelita menuju jalan yang kudamba
Perlahan kuayunkan langkah dengan lantunan dendang penuh irama

Di malam penuh kemenangan tanpa genderang aku tengadah pasrah
Untuk pertama kalinya aku dapat melihat bias pelangi memancar
Satu demi satu butiran sisa hujan yang membeku mencair perlahan
Kepingan harapan di masa silam sedikit demi sedikit mulai terangkai
Nafas bijaksana merontokan ribuan uban yang mengincar kulit kepala

Diantara syahdu dendang takbir-Mu
Gradasi warna langkah mulai tertata
Tirai selubung tanya mulai terbuka
Pelangi di ujung ramadhan menopang sukma
Biasnya seperti mozaik yang menari di mataku
Meredakan hujan merobohkan portal

Tiada lagi risau yang menghujam
Hilang sudah lirih yang merintih
Aku terbang melayang bersama damai
Dalam gema takbir “Allah Hu Akbar”
Ku ucapkan selamat menjemput hari kemenangan
“Minal Aidin Wal Fa Idzin. Mohon maaf lahir dan bathin.”

Semoga kita dilahirkan kembali menjadi puisi
dengan metafora yang tak pernah berdusta
dan rasa yang enggan berbuat dosa

Semoga kata dilahirkan kembali sebagai mantra
dengan makna yang tak lagi menyakiti mata
dan hati yang tak lekas menjadi basi

(Jupiter doc/Dalam buaian kemenangan/01Oktober08)

Ditulis dalam Coretanku, Puisiku | 2 Komentar »