RENUNGAN JUPITER

Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam, di atas batu yang hitam, di malam yang amat kelam.

Arsip untuk September, 2008

Coretan Tanpa Arah

Ditulis oleh jupiter di/pada September 27, 2008

Aku, Sepi dan Diriku
(Coretan Tanpa Arah)


aku adalah pemain hati
di setiap aku bertahan memendam ingin sendiri
sapaan hangat seorang teman menarikku untuk segera pergi
aku berdiri dan mencoba terus berlari meninggalkan mimpi
walau pada akhirnya keadaan memaksaku kembali merangkul sepi

aku adalah pendengar setia
di setiap kesempatan mencoba menyimak kisah seorang teman
tak jarang lidahku kelu, mulutku gagu dan otakku mendadak buntu
aku bertahan demi bisa terus mendengar rangkaian kisah yang keluar
walau kisah yang dipaparkan hanyalah sebatas bualan sangat panjang

aku adalah penikmat diri
di setiap helaan nafas tak pernah bisa jauh dari asap dan kopi
teguran bertema kesehatan tak cukup kuat untuk membuatku berhenti
aku jalani hari dengan menghindar dari segala yang berbau sensi
walau tak jarang tanpa aku undang pemicunya selalu tiba-tiba datang

aku adalah penggemar senyap
di setiap purnama datang jiwaku selalu kembali meradang
bayangan suram masa depan selalu datang membekukan pikiran
aku lahirkan emosi dengan menghentakan jari tanpa henti
walau ujung jari mengucurkan darah aku sudah tidak perduli

aku adalah pecinta malam
di setiap pijakan kaki tak jarang menabrak terumbu karang
perih memang tapi itu sebanding dengan hasil yang ingin kuraih
aku meredam pedih dengan menebar banyolan asal ke sana ke mari
walau aku merasa segala yang kulakukan hanya sekedar basa basi

aku adalah pembenci pagi
di setiap purnama tenggelam otak bebalku dipaksa menyusun teori
perjuangan nyata melawan hari menuntutku bisa menanggalkan mimpi
aku berusaha tegar dan tak mencoba mengadakan pemberontakan
walau kata hati dan langkah kaki tidak sejalan dan sering bertentangan

aku adalah perindu mati
di setiap sunyi menyentuh hati kucoba untuk memahami diri
beragam tamparan sadarkanku akan jatah hidup yang tidak abadi
aku berusaha untuk mencair mengikuti garis hidup yang mengalir
walau asa tak pernah berhenti beraksi selalu menanti yang tak pasti

aku adalah bukan siapa-siapa dan juga bukan apa-apa
di setiap langkah yang tak sengaja salah kumaki diri tanpa henti
kujalani hari dengan kesadaran adanya kehidupan di hari kemudian
dengan harapan selalu terbangun ketika alfa kata menyelubungi rasa
walau setahun sekali kulantunkan terus rangkaian dzikir penyejuk hati

Semoga selamanya aku tetap bisa bernyanyi walau sepi mencabik hati

(Jupiter doc/dalam belenggu sepi/27Sep08)

Ditulis dalam Coretanku, Puisiku | 8 Komentar »

Bingkisan Hari Jadi untuk Naomi

Ditulis oleh jupiter di/pada September 26, 2008

Masa lalu, Waktu dan Ulang Tahunmu
(Bingkisan Hari Jadi untuk Naomi)

Jejak itu telah lama menjadi bisu
mengitari setiap inci ruang di kalbu
menggigilkan jiwa hingga menjadi beku
menghadirkan kaku dari mulai ujung kuku
menjalar ke setiap inci syaraf di tubuhku
membalut setiap sel pada ujung helai rambut
menyelimuti hingga menutupi bagian luar baju

Mengapa harus terjadi?
mengapa saling menodai?
mengapa tak pernah bisa berhenti?
mengapa rasaku tak pernah bisa mati?
mengapa kugenggam hati yang sudah meninggi?
dan mengapa aku tetap bertahan untuk sendiri?
padahal ada lembaran hati yang tengah menanti

Ini adalah ungkapan sisi hati yang paling suci
yang tak pernah mampu untuk bisa menepi
di kala warna pelangi telah menjadi basi
bias cahaya rembulanpun seperti di bui
aku sadar kisah indah itu telah berlalu
dan telah benar-benar menjadi masa lalu
tapi mimpi indah itu membuat hatiku membatu

Pada setiap peristiwa aku selalu berkata
hanya waktu yang bisa menjawab semua tanya
kepada waktu aku sandarkan asa yang tak bertepi
bersama waktu aku terdiam dan mencoba mengerti
dengan waktu aku ungkap segala yang belum pasti
karena waktu aku percaya akhirnya semua kan terbukti
hingga menguak tabir mimpi yang masih berupa misteri

Malam ini kembali aku terjajar
terdiam di satu sudut kehampaan
terjatuh ditampar ganasnya kenyataan
bersimpuh diantara titik ketidakberdayaan
pada detik terakhir menjelang tubuh terkapar
sepasang tangan penuh kelembutan menopang raga
Serentak membantu menyangga beban berat di jiwa

Aku adalah sepasang tangan ketegaran
keluar dari rapuhnya jiwa yang membatu
tak perlu dihapus jejak indah itu!
karena sepanjang gersang penuh rindu
geliatnya malah akan berteriak
dan semakin bertambah menghentak

Cinta adalah Pelangi penuh warna
yang bukan hanya terdiri dari dua warna
terkadang berubah menjadi sekedar kenangan
namun pada kenyataannya dia akan selalu datang
dan bukan hal yang mudah untuk membuatnya hilang

Mari… mari… kembali untuk berdiri
langkahkan kaki perlahan menuju pasti
singkirkan segala onak duri yang menikam
tepiskan bisikan sejuta sunyi yang mencekam
tanggalkan beragam beban kenangan yang merajam
bila saatnya tiba segala rasa itu pasti akan kembali menyapa
dan senja dengan semburat jingga akan kembali menjadi sempurna

SELAMAT HARI JADI PERI PEMBERI KENANGAN
tidak ada kado terindah yang bisa aku hadiahkan
selain rerumputan kata pada ubin hati yang tak henti menanti
yang terbingkis melalui senandung kidung kunang malam
yang dipersembahkan di bawah naungan rembulan ketulusan
dengan diiringi gemulai irama kedamaian penuh kasih sayang

Semoga kebahagiaan, kesehatan serta keselamatan
Selalu menyertai dan menaungi hari-hari tenangmu

(Jupiter doc/Dalam Kenangan/26Sep08)

Ditulis dalam Coretanku, Puisiku | 6 Komentar »

Ketika Hukum Rimba Bicara

Ditulis oleh jupiter di/pada September 18, 2008

Renungan Jupiter
(Ketika Hukum Rimba Bicara)

Deretan angka di sudut layar ponsel menampilkan 20:34 wib, ketika sebuah pesan dari seorang sahabat masuk, “Susah deh nelpon hp, lo!”

Segera aku melepaskan charger yang masih terhubung ke ponsel, selanjutnya aku tekan tombol panggil, *panggilan menunggu di pihak lain*. Kucoba memanggil lagi, lagi dan lagi. Dan hasilnya tetap sama. Tape deh!

Belum sempat ponsel aku letakan di meja, tiba-tiba sebaris pesan masuk, “Bentar ya darling, aku lagi telpon dulu.”

“Bibir lo jeding! bilang kek kalau dah berpaling sama selir.” Sungutku kesal. Ku lempar ponsel ke samping. Perlahan jemariku mulai iseng memindahkan chanel televisi. Daripada nunggu orang yang tengah asik bergunjing, mending nyoba keberuntungan di acara televisi yang jarang sekali aku pelototin. Semoga saja malam ini aku beruntung menemukan suguhan yang bisa membuat bibir miringku kembali tersungging.

Setelah melakukan pemilihan acak tanpa ada hasrat, tiba-tiba barisan kalimat bergerak yang ditampilkan di bagian bawah layar televisi mengundang perhatianku. Seketika aku langsung berhenti mengacak chanel.

*Pembagian zakat di Pasuruan rusuh, 21 meninggal, 14 lemas kehabisan oksigen. Identifikasi Korban rata-rata perempuan lanjut usia.*

Heh! Ada apa lagi nih? Mataku langsung fokus mengikuti barisan tulisan bergerak tersebut.

*Berita selengkapnya akan ditayangkan lima menit kemudian*

Perlahan aku menarik nafas, ada rasa miris yang tiba-tiba memenuhi dadaku. Setelah diselingi beberapa tayangan iklan, selanjutnya seorang penyiar berita perempuan yang lumayan sekseh dengan sangat lugas langsung membawakan berita yang membuat miris hatiku itu;

“Seperti tahun-tahun sebelumnya, salah seorang pengusaha sarang burung walet yang sangat sukses di Pasuruan Jawa Timur, membagikan zakat kepada warga fakir miskin yang bertempat tinggal di sekitar wilayah kediamannya. Berdasarkan informasi dari mulut ke mulut, ratusan warga tidak mampu yang sebagian besar perempuan lanjut usia tersebut segera berbondong-bondong dan rela antri di halaman rumah si pemberi zakat mulai dari pagi hari demi mendapatkan yang menjadi hak mereka tersebut.”

Di layar kaca aku melihat warga tidak mampu yang antri sangat padat, berdesakan, saling dorong, saling sikut demi mendapatkan zakat yang menjadi hak mereka tersebut. Masa Allah, demi menyambung hidup mereka sekeluarga dan demi mendapatkan tiga lembar uang sepuluh ribuan, mereka rela berjejalan begitu? gumamku benar-benar miris. Aku semakin fokus mengikuti alur cerita tragis tersebut.

Puluhan mimik wajah yang tersorot kamera terlihat pucat pasi, mereka terlihat mencoba bertahan di tengah himpitan sesama warga fakir yang mengantri rezeky demi bisa menyambung kehidupan mereka sehari-hari..

Sesaat kemudian diperlihatkan beberapa petugas zakat berusaha mengeluarkan sebagian perempuan lanjut usia yang sudah lemas karena kehabisan oksigen, akibat terjepit dan terhimpit di tengah-tengah kerumunan sesama warga fakir tersebut.

Berikut kronologis korban yang meninggal di tempat;

*Sesak, terjerembab, terinjak, tidak kuat, selanjutnya wafat*

*Berdiri, terhimpit, menahan nyeri dan ternyata sudah mati*

Inalillahi wa inna illahi rojiun… Seketika dadaku bergolak dan merasa sesak, mataku pedih dan hatiku seperti ada yang mengiris. Demi uang tiga puluh ribu rupiah mereka rela mengorbankan jiwa di halaman rumah seorang juragan kaya yang sama sekali tidak bersedia menampakan muka? Benar-benar berita yang sangat tragis.

Seketika aku teringat pada bunda, seandainya bunda yang berada diantara mereka. Hhh, bibirku bergetar menahan amarah, mendadak aku benci sekali kepada si pemberi zakat. Ingin sekali aku menudingkan jari di depan muka si pengusaha yang sudah berubah menjadi sang raja tega itu.

Seandainya aku bisa, akan ku maki dan kuludahi si pengusaha yang telah berubah penjadi penjagal nyawa rakyat jelata itu. Tega sekali dia memamerkan kekuasaanya dengan merengut nyawa sesama.

Kalau memang niatnya membagikan zakat, mengapa harus dengan cara seperti itu? Mengapa tidak dia bagikan ke rumah orang-orang fakir itu? Mengapa harus memancing rakyat kecil untuk saling bertanding kekuatan phisik mereka di halaman rumahnya sendiri? Seolah dengan begitu, dia menikmati setiap pertunjukan miris dengan harapan dapat mengharumkan nama besar yang katanya sudah sangat sukses itu.

Menurut si pembawa berita yang juga seorang wanita muda, pengusaha itu adalah seorang haji yang di mata warga merupakan orang yang sangat dermawan.

Dermawan? Cuih! Tiba-tiba aku merasa mual. Di mataku dan mungkin di mata orang-orang yang menyaksikan berita tragis itu, gelar dadakan yang tidak membutuhkan surat pengesahan itu hanya merupakan embel-embel yang ditujukan untuk meningkatkan nama baiknya di mata warga fakir yang sebagian besar adalah para manula.

Entah mengapa akhir-akhir ini kemarahanku selalu tiba-tiba meninggi, setiap berkesempatan menyaksikan atau mendengar berita adanya oknum-oknum yang berbuat aniaya terhadap sesama dengan mengatasnamakan kesucian agama. Padahal aku yakin sekali jauh di lubuk hati mereka, mereka sendiri pasti menyadari dan mengakui kalau yang sedang atau telah mereka lakukan itu sama sekali tidak sesuai dengan syariat agama. Hakikatnya semua agama selalu mengajarkan umatnya untuk selalu berbuat kebaikan, tidak ada satupun agama yang mengesahkan segala perbuatan yang menganiaya orang-orang tidak berdosa.

Tak akan ada habisnya apabila aku mengutuk terus si pengusaha dan antek-anteknya yang sudah berbuat riya itu. Toh tidak ada yang bisa aku lakukan untuk mencegah suatu kezaliman yang memang sudah terjadi. Aku hanya bisa miris dan hatiku menangis melihat ketidak berdayaan warga tidak mampu tersebut dalam melawan hukum rimba yang kembali meraja.

Sebaris do’a mengiringi kepergian para pejuang keluarga yang tentunya sangat mulia di sisi Sang Maha Pencipta. Semoga perjuangan mereka tidak sia-sia. (Jupiter doc/16Sep08)

Matahari terbit pagi ini
mencium bau kencing orok di kaki langit
melihat kali coklat menjalar ke lautan
dan mendengar dengung di dalam hutan

kita bertanya :
kenapa maksud baik tidak selalu berguna?
kenapa maksud baik dan maksud baik bisa berlaga?

orang berkata : “kami ada maksud baik”
dan kita bertanya : “maksud baik untuk siapa?”

di bawah matahari ini kita bertanya :
ada yang menangis, ada yang mendera
ada yang habis, ada yang mengikis
dan maksud baik kita
berdiri di pihak yang mana ?

Dari penggalan Sajak buah karya penyair besar anak bangsa
WS RENDRA
(Jakarta, 1 desember 1977)

Ditulis dalam Coretanku | 8 Komentar »

Puisi atau Sajak?

Ditulis oleh jupiter di/pada September 15, 2008

Satu Jam Yang Menyesakan Malam
( Puisi atau Sajak? )

Tik Tak Tik Tak Tik Tak…
Waktu terus melaju, hati menjadi beku, pikirku kembali buntu
Malam ini entah mengapa aku sangat rindu dengan ikhlas
Dan sangat ingin menghapus segala yang beraroma bekas

Aku tak tahu apakah coretan ini masuk kategori puisi atau sajak
Tak pernah ada ilmu khusus yang aku pelajari untuk menuangkannya
Buncahan kata mengucur dan mengalir dengan sendirinya
Laksana sekumpulan laron di musim pertama penghujan
Berlompatan, berdesakan, bergumul memenuhi pikirku
Aku tak sanggup lagi untuk menahan gejolaknya

Berungkali kucoba untuk menarik garis lurus alur sebuah cerita
Tapi semakin aku arahkan malah semakin bertambah berantakan
Ribuan kata berhamburan, berjejalan dan berlomba untuk bisa keluar

Malam ini aku tak perduli lagi dengan runtut
Segala beban ini harus bisa aku lepaskan
Kubiarkan kalian keluar dari penatnya pikirku
Mungkin dengan keluar, sesak di dadaku bisa berkurang
Semoga setelah ini, hati dan pikirku bisa kembali jernih
Agar aku bisa bebas dari himpitan yang selalu bernada lirih

***
Perkutut itu ribut sekali
Bangunkanku dari lembah mimpi
Suruh dia pergi!
Atau cekik mereka sampai mati!
Agar rupamu tak semakin meninggi

***

Kemarin kembali aku bermimpi
Mimpi yang serba tak pasti
Ada kamu, ada dia, ada aku
Kucoba meraih satu-satu
Tiba-tiba mimpi itu menjadi buntu
Kamu pergi
Dia pergi
Dan aku kembali bermimpi

***

Ini bukan yang pertama
Ini bukan pula yang terakhir
Entah apa yang aku rasa
Ini tidak biasa dan sulit untuk kuraba
Ada pedih, ada haru, ada rindu
Aku tahu pintu itu sudah tertutup sangat rapat
Beberapa kali aku mencoba untuk mengetuk
Tak ada suara, tak ada gema, tak ada gejala
Rasa telah berselimut jelaga sunyi
Dan aku tetap bertahan untuk sendiri

***

Ini comberan bukan kali! tegas kamu

Apa bedanya? tanyaku
Buatku mereka terlihat sama saja
Ada lubang, ada air, ada hitam, membaur dan mengalir

Tidak sama!
Coba perhatikan baik-baik!
Air di comberan hitam dan tidak mengalir
Mereka terlihat seperti kumpulan yang selalu diam
Tapi sebetulnya mereka sama sekali tidak sedang diam
Mereka sedang menunggu untuk bisa menghisap dan memakan
Mereka itu selalu lapar dan selalu siap untuk membantai
Bagi mereka, hitam adalah kesukaan yang bisa mengenyangkan

Beda sekali dengan kali
Air di kali tidak selalu hitam dan terus mengalir
Mereka terlihat membaur antara jernih dan hitam
Tak ada yang mereka kejar selain waktu yang berjalan
Mereka tetap mengalir tenang tanpa terbebani oleh hitam
Mereka memang sedikit usil tapi jauh sekali dari bathil
Bagi mereka, hitam dan jernih adalah bagian tak terpisahkan

Menjauhlah dari comberan karena laparnya bisa mematikan
Membaurlah ke dalam kali maka hidupmu akan lebih berarti

***

Mengapa kamu suka sekali dengan hitam?
Hitam itu identik dengan gelap
Gelap itu identik dengan kematian
Apakah kamu memang merindukan mati?

Aku terdiam mendengar tanyamu yang memojokan
Nafas sedikit tersenggal sebelum kulontarkan sanggahan

Didalam hitam aku menemukan gelap
Di antara gelap aku bisa melihat terang
Mungkin aku memang selalu merindukan mati
Tapi bukan mati dalam keadaan sendiri
Karena bagiku mati bukanlah yang hakiki
Mati adalah awal terjadinya reinkarnasi
Dari kehidupan yang bertitik akhir
Menuju kehidupan yang katanya abadi
Semoga jiwaku tak akan pernah mati
Sampai mati itu menjemputku sendiri

***

Cinta, apakah kamu masih percaya cinta?
Cinta itu buta, cinta itu bagian dari sandiwara
Tak pernah kutemukan cinta yang benar-benar cinta
Cinta ada karena kita yang selalu meminta

Cinta itu ilusi
Cinta itu fantasi
Cinta itu imajinasi
Kutepis cinta yang selalu membuatku menderita

(ungkapan miris seorang sahabat yang baru putus cinta)

***

Mereka selalu bilang nyatamu tak seindah yang kubayangkan
Aku tak perduli dan sungguh aku tak mau perduli
Tak akan kubiarkan celoteh mereka mencabik kenangan indah kita
Hanya kenangan indah ini satu-satunya yang masih aku punya
Walau tak akan pernah berubah menjadi nyata
Dan meski hanya merupakan bagian dari fatamorgana
Sampai kapanpun akan selalu aku jaga dan aku pelihara
Karena bersamamu kutemukan segala yang aku damba
Kunikmati bercinta dengan angan yang tak bisa menjelma nyata

***

Bodoh!
Goblok!
Dungu!
Kumaki hatiku yang tak pernah mampu mengusir mimpi

Dia sudah pergi!
Dia sudah enggan!
Dia sudah menghilang!
Aku tak mau mendengar dan berusaha untuk bisa tetap bertahan

Kamu cuma mainan!
Kamu hanya pelengkap!
Kamu tak pernah benar-benar dianggap ada!
Aku berusaha percaya tapi hati tak mampu untuk berdusta

Palingkan wajahmu!
Matikan rasamu!
Langkahkan kakimu!
Kucoba perlahan tapi pintu itu mengundangku kembali datang

Akh… bilakah bayangan indah itu akan kembali datang?
Atau mungkin akan benar-benar menghilang?
Kembali hanya rumput bergoyang yang sanggup menampung tanya

***

Aku berjalan limbung dengan perut yang sangat kembung
Aku terseok ketika tiba di jalan yang sangat berkelok
Aku tersandung ketika menendang batu yang bergelung
Aku tertatih ketika belati kembali mengucurkan perih
Aku terhenti ketika jiwaku kembali merasa sendiri
Aku tak akan pernah benar-benar berhenti
Aku akan terus melangkah walau jiwaku sudah sangat lelah
Aku hanya butuh sejenak untuk melepas segala penat

***

Kamu pernah menjadi perempuanku
Dia pernah menjadi perempuanku
Mereka pernah menjadi perempuanku
Tapi kamu, dia dan mereka tidak sama
Dia dan mereka sudah lama hilang dari pikir dan hatiku

Sementara kamu?
Sampai detik ini masih dan selalu menghantuiku
Hantu yang begitu indah dan tidak pernah mampu untuk aku cegah
Kubiarkan hantumu merambah dan menjelajah ke setiap celah
Sampai hantumu benar-benar merasa lelah dan kemudian menyerah

***

(Satu jam yang menyesakan malam/Jupiter doc/14Sep08)

Ditulis dalam Coretanku, Puisiku | 17 Komentar »