Renungan Jupiter
(Ketika Hukum Rimba Bicara)
Deretan angka di sudut layar ponsel menampilkan 20:34 wib, ketika sebuah pesan dari seorang sahabat masuk, “Susah deh nelpon hp, lo!”
Segera aku melepaskan charger yang masih terhubung ke ponsel, selanjutnya aku tekan tombol panggil, *panggilan menunggu di pihak lain*. Kucoba memanggil lagi, lagi dan lagi. Dan hasilnya tetap sama. Tape deh!
Belum sempat ponsel aku letakan di meja, tiba-tiba sebaris pesan masuk, “Bentar ya darling, aku lagi telpon dulu.”
“Bibir lo jeding! bilang kek kalau dah berpaling sama selir.” Sungutku kesal. Ku lempar ponsel ke samping. Perlahan jemariku mulai iseng memindahkan chanel televisi. Daripada nunggu orang yang tengah asik bergunjing, mending nyoba keberuntungan di acara televisi yang jarang sekali aku pelototin. Semoga saja malam ini aku beruntung menemukan suguhan yang bisa membuat bibir miringku kembali tersungging.
Setelah melakukan pemilihan acak tanpa ada hasrat, tiba-tiba barisan kalimat bergerak yang ditampilkan di bagian bawah layar televisi mengundang perhatianku. Seketika aku langsung berhenti mengacak chanel.
*Pembagian zakat di Pasuruan rusuh, 21 meninggal, 14 lemas kehabisan oksigen. Identifikasi Korban rata-rata perempuan lanjut usia.*
Heh! Ada apa lagi nih? Mataku langsung fokus mengikuti barisan tulisan bergerak tersebut.
*Berita selengkapnya akan ditayangkan lima menit kemudian*
Perlahan aku menarik nafas, ada rasa miris yang tiba-tiba memenuhi dadaku. Setelah diselingi beberapa tayangan iklan, selanjutnya seorang penyiar berita perempuan yang lumayan sekseh dengan sangat lugas langsung membawakan berita yang membuat miris hatiku itu;
“Seperti tahun-tahun sebelumnya, salah seorang pengusaha sarang burung walet yang sangat sukses di Pasuruan Jawa Timur, membagikan zakat kepada warga fakir miskin yang bertempat tinggal di sekitar wilayah kediamannya. Berdasarkan informasi dari mulut ke mulut, ratusan warga tidak mampu yang sebagian besar perempuan lanjut usia tersebut segera berbondong-bondong dan rela antri di halaman rumah si pemberi zakat mulai dari pagi hari demi mendapatkan yang menjadi hak mereka tersebut.”
Di layar kaca aku melihat warga tidak mampu yang antri sangat padat, berdesakan, saling dorong, saling sikut demi mendapatkan zakat yang menjadi hak mereka tersebut. Masa Allah, demi menyambung hidup mereka sekeluarga dan demi mendapatkan tiga lembar uang sepuluh ribuan, mereka rela berjejalan begitu? gumamku benar-benar miris. Aku semakin fokus mengikuti alur cerita tragis tersebut.
Puluhan mimik wajah yang tersorot kamera terlihat pucat pasi, mereka terlihat mencoba bertahan di tengah himpitan sesama warga fakir yang mengantri rezeky demi bisa menyambung kehidupan mereka sehari-hari..
Sesaat kemudian diperlihatkan beberapa petugas zakat berusaha mengeluarkan sebagian perempuan lanjut usia yang sudah lemas karena kehabisan oksigen, akibat terjepit dan terhimpit di tengah-tengah kerumunan sesama warga fakir tersebut.
Berikut kronologis korban yang meninggal di tempat;
*Sesak, terjerembab, terinjak, tidak kuat, selanjutnya wafat*
*Berdiri, terhimpit, menahan nyeri dan ternyata sudah mati*
Inalillahi wa inna illahi rojiun… Seketika dadaku bergolak dan merasa sesak, mataku pedih dan hatiku seperti ada yang mengiris. Demi uang tiga puluh ribu rupiah mereka rela mengorbankan jiwa di halaman rumah seorang juragan kaya yang sama sekali tidak bersedia menampakan muka? Benar-benar berita yang sangat tragis.
Seketika aku teringat pada bunda, seandainya bunda yang berada diantara mereka. Hhh, bibirku bergetar menahan amarah, mendadak aku benci sekali kepada si pemberi zakat. Ingin sekali aku menudingkan jari di depan muka si pengusaha yang sudah berubah menjadi sang raja tega itu.
Seandainya aku bisa, akan ku maki dan kuludahi si pengusaha yang telah berubah penjadi penjagal nyawa rakyat jelata itu. Tega sekali dia memamerkan kekuasaanya dengan merengut nyawa sesama.
Kalau memang niatnya membagikan zakat, mengapa harus dengan cara seperti itu? Mengapa tidak dia bagikan ke rumah orang-orang fakir itu? Mengapa harus memancing rakyat kecil untuk saling bertanding kekuatan phisik mereka di halaman rumahnya sendiri? Seolah dengan begitu, dia menikmati setiap pertunjukan miris dengan harapan dapat mengharumkan nama besar yang katanya sudah sangat sukses itu.
Menurut si pembawa berita yang juga seorang wanita muda, pengusaha itu adalah seorang haji yang di mata warga merupakan orang yang sangat dermawan.
Dermawan? Cuih! Tiba-tiba aku merasa mual. Di mataku dan mungkin di mata orang-orang yang menyaksikan berita tragis itu, gelar dadakan yang tidak membutuhkan surat pengesahan itu hanya merupakan embel-embel yang ditujukan untuk meningkatkan nama baiknya di mata warga fakir yang sebagian besar adalah para manula.
Entah mengapa akhir-akhir ini kemarahanku selalu tiba-tiba meninggi, setiap berkesempatan menyaksikan atau mendengar berita adanya oknum-oknum yang berbuat aniaya terhadap sesama dengan mengatasnamakan kesucian agama. Padahal aku yakin sekali jauh di lubuk hati mereka, mereka sendiri pasti menyadari dan mengakui kalau yang sedang atau telah mereka lakukan itu sama sekali tidak sesuai dengan syariat agama. Hakikatnya semua agama selalu mengajarkan umatnya untuk selalu berbuat kebaikan, tidak ada satupun agama yang mengesahkan segala perbuatan yang menganiaya orang-orang tidak berdosa.
Tak akan ada habisnya apabila aku mengutuk terus si pengusaha dan antek-anteknya yang sudah berbuat riya itu. Toh tidak ada yang bisa aku lakukan untuk mencegah suatu kezaliman yang memang sudah terjadi. Aku hanya bisa miris dan hatiku menangis melihat ketidak berdayaan warga tidak mampu tersebut dalam melawan hukum rimba yang kembali meraja.
Sebaris do’a mengiringi kepergian para pejuang keluarga yang tentunya sangat mulia di sisi Sang Maha Pencipta. Semoga perjuangan mereka tidak sia-sia. (Jupiter doc/16Sep08)
Matahari terbit pagi ini
mencium bau kencing orok di kaki langit
melihat kali coklat menjalar ke lautan
dan mendengar dengung di dalam hutan
kita bertanya :
kenapa maksud baik tidak selalu berguna?
kenapa maksud baik dan maksud baik bisa berlaga?
orang berkata : “kami ada maksud baik”
dan kita bertanya : “maksud baik untuk siapa?”
di bawah matahari ini kita bertanya :
ada yang menangis, ada yang mendera
ada yang habis, ada yang mengikis
dan maksud baik kita
berdiri di pihak yang mana ?
Dari penggalan Sajak buah karya penyair besar anak bangsa
WS RENDRA
(Jakarta, 1 desember 1977)