Don’t Judge a Book by Its Cover
Ditulis oleh jupiter di/pada Juni 5, 2008
RENUNGAN JUPITER
(Don’t Judge a Book by Its Cover)
Malam ini dalam pencarianku, kembali aku membuka beberapa artikel serta cerita pencerahan yang bisa aku jadikan sebagai bahan renungan untuk membantuku menjadi sosok pribadi yang lebih baik.
Setelah melahap habis beberapa cerita pencerahan, tibalah mataku pada satu cerita yang apabila dilihat dari judulnya aku yakin, ini hanya merupakan dongeng pengantar tidur seperti yang biasa aku bacakan untuk keponakanku yang masih balita, “Kisah Burung Pipit”.
Awalnya aku berniat untuk melewatkannya, tetapi ketika sepintas kulihat cerita tersebut oleh pemilik ruang mayanya sendiri di masukan ke dalam kategori “Tidak Jelas Juntrungannya”. Seketika aku langsung berhenti menggerakan mouse. Hmm, kalau memang tidak jelas juntrungannya mengapa harus memaksakan untuk di posting juga.
Berikut dongeng sederhana yang sempat membuat keningku berkerut, alisku bertaut serta bibirku mengerucut tersebut;
Ketika musim kemarau baru saja mulai. Seekor burung pipit mulai merasakan tubuhnya kepanasan, dengan kesal ia lalu mengumpat pada lingkungan yang dituduhnya tidak bersahabat.
Kemudian ia memutuskan untuk meninggalkan tempat yang sejak dahulu menjadi habitatnya, lalu terbang jauh ke utara untuk mencari udara dingin dan sejuk seperti yang selalu diimpikannya.
Setelah terbang beberapa lama, perlahan ia mulai merasakan kesejukan udara, semakin ke utara semakin bertambah sejuk. Burung Pipit semakin bersemangat memacu terbangnya lebih ke utara lagi. Karena terbawa oleh nafsunya, ia tidak merasakan sayapnya mulai tertempel salju yang semakin lama semakin tebal, sampai akhirnya ia jatuh ke tanah karena tanpa sadar tubuhnya telah terbungkus oleh salju.
Begitu sampai ke tanah, salju yang menempel pada kedua sayapnya justru semakin bertambah tebal. Burung pipit tak mampu lagi berbuat apa-apa, tubuhnya menggigil, kedua sayapnya telah menjadi kaku. Saat itu ia sudah pasrah dan menyangka bahwa riwayat hidupnya telah tamat.
Selanjutnya hanya suara rintihan lirih yang keluar dari paruhnya yang perlahan mulai sulit untuk digerakan. Ia merintih menyesali nasibnya, menyesali kebodohannya yang tidak mampu mengendalikan hawa nafsunya sehingga tidak memperhitungkan kemampuan dirinya sendiri.
Dalam keputusasaan, tiba-tiba seekor kerbau yang kebetulan lewat datang menghampirinya. Burung Pipit yang sudah kehilangan harapan itu seketika langsung kecewa begitu melihat kedatangan seekor kerbau yang awalnya ia kira sebagai dewa penolongnya itu. Dengan paruh yang mulai membeku, ia menghardik si kerbau agar menjauh dan mengatakan, bahwa makhluk yang dungu tidak mungkin bisa berbuat sesuatu untuk menolongnya.
Si kerbau hanya berdiri dan menatap burung pipit dengan tidak berkedip. Beberapa saat kemudian, kerbau tersebut tiba-tiba membasahi tubuh burung pipit dengan air kencingnya. Mendapat perlakuan yang dianggapnya kurang ajar itu, burung pipit semakin marah dan memaki-maki si kerbau.
Namun lagi-lagi si kerbau tidak menghiraukan makian burung pipit, perlahan ia maju satu langkah lagi, kemudian mengeluarkan kotoran ke atas tubuh si burung. Seketika burung pipit yang tertimbun kotoran kerbau tidak sanggup untuk mengeluarkan caci makinya lagi. Saat itu ia mengira ajalnya sudah tiba karena kehabisan nafas. Dalam hati ia terus mengutuk kedunguan sang kerbau.
Namun setelah sang kerbau kembali meninggalkannya sendirian, rasa hangat mulai mengaliri tubuhnya, perlahan salju yang membeku pada bulu-bulu di tubuhnya mulai meleleh oleh hangatnya kotoran kerbau. Beberapa saat kemudian ia dapat bernapas lega dan bisa melihat kembali langit yang cerah. Seketika burung pipit berteriak kegirangan dan mengeluarkan nyanyian merdunya dengan sangat keras.
Mendengar ada suara burung bernyanyi, seekor anak kucing menghampiri sumber suara kemudian mengulurkan tangannya, mengais tubuh si burung yang masih tertutup oleh gundukan kotoran kerbau. Selanjutnya dengan lidahnya ia mulai menjilati, mengelus dan membersihkan sisa-sisa kotoran serta salju yang masih menempel pada bulu-bulu si burung.
Begitu bulunya bersih, si burung langsung bernyanyi dan menari kegirangan, ia mengira telah mendapatkan teman yang ramah dan baik hati.
Namun ketika sayapnya sudah mulai bisa kembali digerakan dan sebelum ia mulai kembali terbang. Tiba-tiba nyanyian merdunya seketika menghilang. Tidak ada lagi langit cerah, hilang sudah tawa riang, hanya ruang gelap yang akhirnya menyertai kebebasan sang burung serta decak nikmat yang keluar dari lidah sang kucing.

Dari cerita di atas, aku mencoba untuk memahami serta menarik beberapa pelajaran lagi. Kisah burung pipit ini betul-betul mencerminkan karakter manusia pada umumnya.
Ketidaksabaran dalam menghadapi cobaan dan menganggap rumah tetangga lebih nyaman dan indah di banding rumahnya sendiri, sehingga pada akhirnya memancing hasratnya untuk melarikan diri dari masalah yang sedang di hadapi.
Sifat rakus yang pada akhirnya tidak mengukur kemampuannya sendiri, membuatnya terpuruk dalam penderitaan.
Selalu mengukur kepribadian orang lain dari penampilan luarnya saja dan menganggap hanya orang-orang yang berpenampilan menarik yang bisa dijadikannya sebagai teman, sehingga tidak mampu meraba ketulusan hati orang yang sebetulnya memiliki niat untuk membantunya.
Terlalu bangga pada kenikmatan yang hanya sekejap, membuatnya lupa dan menjadi tidak waspada pada bahaya yang sebetulnya mengintai dan pada akhirnya malah berbalik membinasakan dirinya sendiri.
Demikian hikmah yang bisa aku ambil, mudah-mudahan kita selalu terhindar dari segala karakter negatif seperti yang telah digambarkan melalui cerita burung pipit, yang apabila kita tidak bisa segera meredam sisi negatif yang selalu keluar tanpa kita undang, cerita ini merupakan pantulan dari wajah kita yang sesungguhnya.
Satu pesan kuat yang tersirat dari cerita ini adalah :
“Don’t Judge a Book by Its Cover!”
(Sumber : http://agusmuhajir.blog.co.uk/edit by Jupiter/05Juni08)






Sinyo KJP berkata
Jupe, gue mo jadi si kebo aja..