RENUNGAN JUPITER

Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam, di atas batu yang hitam, di malam yang amat kelam.

Arsip untuk Mei, 2008

Virus Yang Menghancurkan

Ditulis oleh jupiter di/pada Mei 30, 2008

KISAH PERSAHABATAN
(Virus Yang Menghancurkan)


Bertahun-tahun yang lampau di sebuah kota, tinggal dua orang sahabat yang sangat berbeda karakter, dia adalah seorang pengrajin emas dan seorang pembuat kendi. Pengrajin emas ini adalah seorang materialis, gila hormat dan pecinta harta. Oleh sebab itu, dia senantiasa berusaha dengan segala cara untuk mendapatkan pengakuan, harta dan kekayaan. Semua orang tahu bahwa dia tidak pernah mengindahkan kejujuran.

Sebaliknya, pembuat kendi adalah seorang jujur dan pekerja keras. Dia dicintai oleh masyarakat. Setiap orang yang memiliki problema akan datang meminta bantuannya.

Si pengrajin emas berfikir, mengapa warga kota begitu mencintai pembuat kendi, padahal dia tidak memiliki harta benda. Menurutnya, cinta dan kasih sayang bisa diperoleh lewat tipu daya dan makar, bukan dengan kejujuran seperti yang selama ini ditunjukan oleh sahabatnya tersebut, menurutnya kejujuran adalah sumber dari kemiskinan. Karena merasa terkalahkan akhirnya, timbul rasa dengki di hati dan pikiran si pengrajin emas terhadap pembuat kendi.

Pada suatu hari, sewaktu petugas kota mengejar pencuri di pasar, si pengrajin emas melihat bahwa saat itu adalah momen yang tepat untuk menuntaskan dendamnya terhadap pembuat kendi. Oleh sebab itu, dia langsung memfitnah dan berbohong dengan menunjuk si pembuat kendi sebagai pelakunya, “Saya melihat pencuri masuk ke rumah orang ini.”

Petugas dengan segera memasuki rumah pembuat kendi dan ketika dia tidak menemukan tanda-tanda adanya pencuri, mereka langsung menyeret paksa pembuat kendi ke hadapan penguasa dan memintanya untuk menyerahkan si pencuri.

Pembuat kendi bersumpah bahwa ia tidak mengetahui apa-apa. Tapi apa daya, ia tetap dijebloskan ke penjara. Selang beberapa hari kemudian, pencuri yang sebenarnya tertangkap, ini membuktikan bahwa pembuat kendi tidak bersalah. Selanjutnya ia dibebaskan. Sebaliknya, pengrajin emas yang berbohong mendapatkan ganjaran yang setimpal atas perbuatannya.

Setelah peristiwa itu, si pengrajin emas itu bukan hanya tidak menyesal atas tindakannya, tetapi malah semakin dibakar oleh api kedengkian terhadap pembuat kendi. Apalagi, ketika ia menyaksikan bahwa si pembuat kendi semakin dicintai oleh masyarakat.

Dengki dan dendam semakin membakar jiwa dan hatinya sehingga ia mengambil keputusan yang berbahaya. Selanjutnya ia mulai menyediakan racun dan memperalat seorang “anak muda bodoh” untuk meracun pembuat kendi dengan mengupahnya dengan seratus keping emas.

Hari yang ditetapkan pun tiba. Pengrajin emas menanti suara jerit tangis dari rumah pembuat kendi. Tetapi hal itu tidak terjadi. Sebaliknya keesokan harinya ia melihat, pembuat kendi tetangga yang juga sahabatnya itu masih sehat dan segar bugar seperti biasa.

Pengrajin emas merasa heran dan dengan segera ia mencari “anak muda bodoh” suruhannya itu untuk menyelidiki apa yang terjadi. Setelah tidak berhasil menemukan anak muda tersebut, ia baru sadar bahwa bukan hanya si pembuat kendi itu saja yang tidak diracun, tetapi anak muda yang sebetulnya tidak bodoh tersebut ternyata sudah melarikan diri dari kota dengan membawa seratus keping emas pemberiaannya.

Mengetahui kenyataan tersebut, pengrajin emas merasa sangat sedih. Begitu sedihnya sampai ia jatuh sakit. Tidak ada dokter yang bisa mengobatinya. Ya, karena memang tidak ada obat yang bisa menyembuhkan api dendam dan kedengkian yang bersemayam di dalam dirinya. Lelaki pengrajin emas telah kehilangan segala-galanya dan dunia menjadi gelap baginya. Hal ini menyebabkan isteri dan anak-anaknya tidak tahan dan kemudian meninggalkannya sendirian.

Berita kesendirian pengrajin emas yang sakit itu diketahui oleh tetangganya, si pembuat kendi yang jujur dan baik hati. Dia berpikir, inilah waktunya untuk pergi mengunjungi pengrajin emas. Dia menyediakan makanan yang enak dan membawanya ke rumah pengrajin emas.

Pengrajin emas, tidak dapat berkata apa-apa ketika melihat kedatangan pembuat kendi. Pembuat kendi duduk di sisinya dan dengan lemah lembut menanyakan keadaan dirinya dan berkata:

“Aku datang karena memenuhi hakmu sebagai tetanggaku.” Pengrajin emas menundukkan kepalanya karena malu.

Pembuat kendi melanjutkan: “Aku mengetahui segala apa yang berlaku pada masa lalu. Anak muda itu satu hari datang kepadaku dan memberitahu apa yang terjadi dan menyarankan supaya aku meninggalkan kota ini karena nyawaku akan tidak selamat dari mu. Tetapi oleh karena aku menganggap kamu tetap adalah sahabatku, aku berharap kepada rahmat dan karunia Ilahi, setiap hari aku berdoa untuk mu semoga dirimu dibebaskan dari rasa dengki dan hasad terhadapku.”

Kata-kata pembuat kendi seketika menyebabkan pengrajin emas itu menangis. Pembuat kendi memegang tangan tetangganya dan berkata, “Sahabatku, ketahuilah bahwa kedengkian laksana api yang membakar dan orang yang mula-mula dibakarnya adalah diri insan itu sendiri. Alangkah baiknya jika dalam masa yang pendek dan singkat di kehidupan dunia ini, kita saling kasih mengasihi sehingga kita meninggalkan nama yang baik.”

Kata-kata pembuat kendi seketika membuat wajah pengrajin emas seperti di tampar, ia malu pada dirinya sendiri, malu pada kedengkian dan rasa dendamnya yang sebetulnya sama sekali tidak pantas ia limpahkan kepada sahabatnya yang ternyata betul-betul berhati bersih itu. Dengan suara yang bergetar dan dengan penuh penyesalan, ia meminta maaf atas segala yang terjadi di masa lalu dan ia berjanji bahwa selepas ini ia akan menggantikan rasa dengki yang memenuhi hatinya dengan kasih sayang dan persahabatan kepada orang lain.

”Jika manusia kehilangan sahabatnya, dia bisa segera melihat sekitarnya kemudian akan mendapatkan sahabat-sahabat baru datang dan menghiburkannya. Akan tetapi apabila hati manusia kehilangan kedamaiannya, di manakah dia akan menemukannya? bagaimanakah dia akan bisa memperolehnya kembali? Tanpa ketulusan dan kejujuran mungkinkah semua itu akan bisa tercapai? Untuk sementara mungkin jawabannya bisa, namun itu hanya untuk sementara. Selanjutnya? Hanya waktu yang bisa menjawab semuanya.” (Jupiter doc/04Juni’08)

Sumber : Dari kumpulan kisah-kisah teladan

***

Ditulis dalam Pencerahan | Leave a Comment »

Aku Percaya, Aku Bisa!

Ditulis oleh jupiter di/pada Mei 27, 2008

RENUNGAN JUPITER
(Aku Percaya, Aku Bisa!)

Pernahkah kalian terjebak ke dalam satu permasalahan yang sama? Aku pernah, bahkan sering. Bodoh ya?! Ya, aku akui. Tapi dibalik kebodohan itu aku menikmati hentakan-hentakan emosinya.

Sering terjadi konflik dalam diriku. Satu sisi aku menolak dan mencoba untuk berontak. Namun di sisi lain, aku tidak mau keluar dan merasakan kenikmatan tersendiri, ketika sisi cengengku itu keluar dan melarutkan khayalanku pada harapan-harapan yang aku sendiri tidak tahu bagaimana sebetulnya cara untuk menggapai serta mewujudkan harapanku tersebut.

Dalam perenunganku kali ini, aku mencoba untuk melakukan perjalanan ke dalam diri dan mencoba mengenal pribadi seperti apa saja sebetulnya yang bersemayam di dalam diriku ini.

Terkadang aku sering merasa Tuhan telah berlaku tidak adil karena telah menentukan jalan hidupku yang begitu rumit dan tidak semulus dan selurus jalan hidup saudara-saudaraku yang lain. Begitu banyak beban, masalah, hambatan yang harus aku hadapi dalam mendaki jalan kehidupan ini.

Tapi di saat yang lain, aku sadar Tuhan tidak mungkin memberikan cobaan yang di luar batas kemampuanku. Layaknya sebongkah besi, jiwaku selalu di tempa oleh segala rintangan serta cobaan yang selalu menghantam langkahku. Ketajaman perasaanku terus menerus di asah melalui segala ujian yang menuntutku untuk terus berlatih dan bisa bertahan agar hatiku menjadi kebal dan tahan tehadap segala tikaman yang selalu dilancarkan.

Ketidakmampuanku dalam memahami apa sebetulnya yang aku mau dan aku butuhkan, terkadang membuat jiwaku lelah, pikiranku buntu dan semangat berjuangku mengkerut. Pada saat seperti ini biasanya aku bersembunyi di balik satu kata ajaib yang sudah sangat akrab dengan diri, dia adalah “Pasrah” yang sebelumnya telah aku manipulasi dengan balutan kata yang sangat agung yaitu “Ikhlas”.

Yup! Kata “Ikhlas” ini menjadi senjata paling ampuh dalam menutup satu permasalahan yang tidak mampu aku selesaikan. Dengan bersembunyi di balik satu kata yang sebetulnya selalu membuatku merinding itu, beberapa saat aku bisa merasa terbebas dari beban yang tidak mampu aku hadapi. Namun di saat yang lain, kejujuran di dalam diri selalu berontak dan mencaci maki jiwa pengecutku tersebut.

“Kamu belum mampu untuk bisa semulia itu. Hati dan pikiranmu masih terlalu rumit. Emosimu masih jauh dari stabil, tidak pantas kamu bersembunyi di balik satu kata yang sangat keramat itu!” sisi positifku menghardik dan mengingatkan segala kelemahan yang belum mampu aku atasi.

“Tapi aku tidak mau tejebak dalam kata pasrah, terlalu sakit rasanya kalau aku menggunakan kata itu. Kata Pasrah itu terlalu mencerminkan ketidak berdayaanku dan itu bukan diriku banget. Aku tidak selemah itu!” Sisi negatif mencoba membela diri.

“Kalau kamu tidak mau terlihat lemah, kamu harus mengenal dan memahami permasalahannya terlebih dahulu. Coba kamu terlusuri apa sebetulnya akar permasalahan yang membuat jiwamu menjadi labil dan tertekan seperti itu. Aku yakin, semua beban itu pasti bukan berawal dari orang lain.”

“Tapi bagaimana caranya aku bisa mengetahui akar permasalahannya, sementara aku sendiri tidak merasa bersalah. Apa yang aku lakukan adalah wajar dan selalu ada alasan mengapa aku bersikap demikian terhadap orang lain. Orang lainnya saja yang memang tidak bisa mengerti apa yang aku mau.”

“Itulah kesalahan kamu yang paling fatal. Kamu selalu menyandarkan harapan terhadap orang lain, sementara apakah kamu sendiri mengerti apa sebetulnya yang kamu mau?”

“Aku? Ya jelas tahu lah. Yang aku mau, tanpa aku jelaskan secara rinci, seharusnya orang lain bisa mengerti apa yang aku mau. Seperti halnya aku selalu berusaha mengerti apa yang mereka mau.”

“Gotcha! Sekarang aku tanya, apakah kamu sendiri benar-benar sudah tahu apa yang sebetulnya mereka mau?”

“Yang mereka mau? Ehmm….” Untuk pertama kalinya sisi negatifku tidak bisa berkelit dan tidak mampu menjawab pertanyaan yang mematikan itu.

“Nah, kamu sendiri nggak yakin kan, dengan perasaan kamu sendiri? Bagaimana orang lain bisa mengerti apa yang kamu inginkan, kalau kamu tidak pernah memberitahukan kepada mereka. Ketajaman perasaan manusia itu berbeda-beda. Ada yang bisa membaca hanya melalui kata-kata dan gerak tubuh kita, ada yang sebaliknya, sulit untuk mencerna karena terlalu banyaknya beban dalam dirinya sendiri yang belum sanggup untuk dia selesaikan. Seperti yang terjadi pada dirimu saat ini.”

Penjelasan dari sisi positif membuat sisi negatif semakin tersudut, “Jadi, apa yang harus aku lakukan?”

“Ada banyak teknik yang bisa digunakan. Salah satunya dengan mencoba mengerti dan memahami dulu apa yang sebetulnya kamu inginkan. Untuk itu, langkah pertama yang harus kamu lakukan adalah terlebih dahulu kamu harus bisa mengenali keberadaan “diri”. Setelah itu menerima keberadaan, sikap, karakter, atau kepribadian dari diri kamu sendiri. Belum tentu akar permasalahan yang sedang kamu hadapi itu berasal dari orang lain, bisa jadi dari keangkuhanmu yang merasa sudah bisa memahami apa yang mereka mau, padahal sebetulnya kamu hanya menebak-nebak dan hanya memandang kebutuhan orang lain dari sudut pandang kebutuhanmu sendiri.”

Perlahan sisi negatif mulai menguap dan mengakui kebenaran yang dijabarkan oleh sisi positif.

“Langkah berikutnya kamu lakukan koordinasi. Cari tahu hubungan antara hati serta pikiranmu yang sedang konflik. Apa sebetulnya yang membuat kamu merasa terbebani. Selanjutnya bantu “diri” yang konflik untuk bisa menemukan resolusi, atau paling tidak melakukan kompromi, sehingga hati dan pikiranmu dapat bekerja sama dengan baik.”

“Apabila kamu sendiri sudah mengenal dan memahami akar permasalahannya. Ini berarti kamu sudah menyadari siapa diri kamu yang sesungguhnya dan apa sebetulnya yang kamu inginkan. Pada saat seperti ini, aku yakin kamu akan bisa memahami apa yang sebenarnya dipikirkan oleh orang yang selama ini kamu anggap tidak peka pada apa yang kamu inginkan, dan selanjutnya kamu akan bisa memaklumi ketidak pekaan mereka tersebut.”

Pada akhirnya aku mengerti, untuk menyelesaikan pertikaian di dalam diriku ini. Aku harus selalu percaya. Karena percaya adanya di dalam hati, maka akan kutanamkan terus hal itu dalam kalbu. Karena rasa percaya tersimpan dalam hati, maka akan kupenuhi nuraniku dengan kekuatan itu. Aku percaya, akan ada petunjuk-petunjuk Sang Pencipta dalam setiap langkahku menapaki jalan kehidupan ini.

Akan kucari, gali, dan temukan rasa percaya itu dalam hatiku. Sebab, saat aku telah percaya, maka petunjuk itu akan datang dengan tanpa disangka. Aku percaya, aku pasti bisa melewati serta mengambil hikmah dari setiap cobaan yang menyapa. (Jupiter doc./27Mei08)

“Perjalanan yang paling panjang dan paling melelahkan adalah perjalanan masuk ke dalam diri sendiri.”

Ditulis dalam Coretanku, Pencerahan | Leave a Comment »

Dibalik Sebuah Kegagalan

Ditulis oleh jupiter di/pada Mei 25, 2008

RENUNGAN JUPITER
(Dibalik Sebuah Kegagalan)

Malam ini ditengah kesibukanku mengutak-atik deretan angka serta urutan bahan dasar produksi yang harus aku siapkan untuk keesokan harinya, kembali aku menyempatkan waktu untuk membaca beberapa artikel yang selama ini telah aku jadikan sebagai “Vitamin Kehidupan” yang selalu bisa meredam berbagai sisi negatif yang selalu tiba-tiba muncul walau tanpa pernah aku undang.

Artikel yang aku baca kali ini mengulas seputar motivasi dalam menyikapi kegagalan. Sebetulnya topik seperti ini sudah ratusan kali aku baca dan sudah aku hapal di luar kepala. Pada saat pikiranku sedang terang, semua yang dijabarkan pasti akan langsung bisa aku serap dan untuk selanjutnya aku takadkan dalam hati untuk menerapkannya ke dalam kehidupan sehari-hari.

Namun itu hanya bisa terjadi apabila pikiran serta hatiku sedang dalam keadaan tidak bertentangan. Sementara kenyataannya, kondisi yang aku harapkan itu jarang sekali terjadi. Seperti layaknya pergantian musim yang selalu meleset dari yang diperkirakan oleh para ahli meteorologi, pikiran dan hatiku tidak pernah bisa kompak.

Seperti yang terjadi malam ini, walau sudah kucoba untuk memusatkan pikiran hanya pada masalah pekerjaan. Namun di dalam hatiku seolah ada yang berontak, menghentak dan siap untuk memberikan serangan yang maha dasyat untuk memecahkan konsentrasi berpikirku.

Dengan sekuat tenaga aku berusaha untuk menekan segala gejolak hati yang aku tahu pasti hanya akan menggoyahkan ketegaranku saja. Beberapa detik aku berhasil menahannya, namun pada detik berikutnya hentakan itu semakin kuat dan semakin mendesak hingga membuat dadaku tiba-tiba terasa sesak.

Akh, aku tak boleh seperti ini terus. Kali ini aku harus bisa bertahan dan tidak menyerah begitu saja pada dorongan yang hanya akan menenggelamkan harapanku pada kekosongan lagi. Aku harus kuat! Aku pasti bisa meredam segala kecengenganku ini! Hidupku harus terus berjalan dan tidak terjebak lagi dalam segala urusan yang melibatkan perasaan yang pada akhirnya hanya akan membuat jiwaku semakin terluka.

Sejenak aku berhenti menghentakan angka-angka. Kupejamkan mata dan kutarik nafas dalam, kemudian aku keluarkan lagi dengan perlahan. Setelah beberapa kali melakukan kegiatan tersebut, sesak di dadaku perlahan mulai berkurang. Lamat-lamat kabut yang tadi tiba-tiba menyelimuti pikiranku mulai menguap.

Selanjutnya kuganti tampilan Microsoft Word dengan Media Player, kunyalakan sebatang rokok kemudian beranjak untuk mengisi kembali gelas kopi hitamku yang ternyata sudah tinggal ampasnya saja.

Rangkaian senandung cinta yang selanjutnya memenuhi seluruh penjuru kamar seolah mewakili gejolak hatiku. Kuhempaskan tubuh pada sandaran kursi kebesaranku. Kepulan asap yang aku keluarkan seakan menyiratkan tebalnya kabut yang tadi memenuhi dan menyesakan dadaku. Dalam diam kucoba untuk menjernihkan kembali pikiran.

Kegagalan? Apa sebetulnya makna dari segala kegagalan yang menyapaku ini? Mengapa hati dan pikiranku tidak pernah bisa lepas dari bayangan kegagalan itu. Sudah ribuan kata serta kalimat yang aku serap dan aku keluarkan demi untuk menghilangkan penyakit hati juga pikiranku ini. Namun harapan yang sudah kosong itu seolah tidak pernah mau beranjak. Hanya mampu aku hilangkan sesaat, namun di saat berikutnya kehadirannya selalu tiba-tiba dan tak pernah sanggup aku tolak.

Ditengah lamunanku, tiba-tiba seekor lalat menyusup melalui sela gorden jendela kamar yang memang sengaja aku buka. Lalat yang tersesat itu selanjutnya berputar-putar mengganggu dan membuyarkan lamunanku.

Kukibaskan tangan, kubuka lebar kain gorden dengan harapan lalat pengganggu itu akan segera keluar. Namun yang terjadi selanjutnya sungguh diluar dugaan, walau gorden sudah tidak menghalangi jalan keluar, tapi lalat sialan itu malah terus membentur-benturkan dirinya pada kaca jendela.

Hush-hush!! Usirku sambil mengibaskan selembar kertas mencoba mengarahkan lalat itu ke jendela yang sudah aku buka lebar. Namun bukannya mengikuti arahanku, lalat yang terjebak itu malah kembali membentur-benturkan dirinya ke kaca jendela tanpa berusaha mencari jalan keluar.

”Bodoh kali, kau! Sudah tahu jalan keluar sangat lebar, malah ngajak berantem kaca!” Umpatku kesal dan akhirnya membiarkan lalat itu meneruskan kegiatan konyolnya tersebut tanpa berusaha untuk mengarahkannya lagi.

Selanjutnya tanpa sadar aku jadi terus mengikuti atraksi konyol yang dipertontonkan oleh makhluk bodoh dan menjijikan itu, sampai akhirnya ia kehabisan tenaga dan jatuh dengan sendirinya.

Beberapa detik kemudian, segerombolan semut yang entah datang darimana langsung mengerubungi lalat sekarat tersebut. Seperti kedatangannya yang tiba-tiba, semut-semut itupun akhirnya menghilang dengan membawa bangkai lalat tanpa meninggalkan jejak sama sekali.

Mulanya aku menganggap kejadian yang barusan aku tonton itu hanya merupakan kejadian biasa yang sama sekali tidak ada yang istimewa. Namun ketika aku sudah menutup jendela dan bermaksud untuk melanjutkan lamunanku. Tiba-tiba aku merasa beban yang menyesakan dadaku tadi sudah tidak ada. Kabut yang menyelimuti pikiranku pun sudah benar-benar menghilang. Semangat untuk kembali melanjutkan pekerjaan tiba-tiba kembali membara.

Hmm, ternyata kekonyolan yang dipertontonkan oleh lalat tadi telah membuatku sadar. Kalau selama ini aku tidak jauh berbeda dengan apa yang tadi binatang bodoh itu lakukan.

Meskipun sudah sadar kalau segala perasaan ini hanya akan membuatku kembali terjebak dalam kesedihan, namun aku sendiri malah seperti enggan untuk mendengarkan beragam arahan, baik yang aku dapat secara lisan dari beberapa sahabat maupun dalam bentuk tulisan seputar motivasi dan pencerahan yang selalu aku baca.

Aku cenderung malah lebih percaya pada keyakinanku yang sebetulnya salah, hingga untuk kesekian kalinya aku kembali membentur-benturkan diri pada masalah yang sebetulnya tidak jauh berbeda.

Waduh! Kalau begitu, aku sebetulnya sama bodohnya dengan lalat tadi. Hiiiy!! Aku bergidik membayangkan nasibku pada akhirnya berakhir tragis seperti makhluk bodoh yang mati karena kehabisan tenaga dan mubazir menggunakan potensi dirinya itu.

Aku tidak boleh mati konyol seperti lalat tadi! Semut yang hanya binatang saja bisa menemukan jalan keluar meskipun kelihatannya sudah tidak ada sela. Masa aku manusia yang diciptakan lebih sempurna dengan diberikan akal serta pikiran tidak bisa seperti mereka. Aku harus bisa! Aku harus bisa seperti semut yang selalu bisa mencium aroma keberhasilan serta menemukan jalan keluar meskipun tanpa mendapat pengarahan.

Tidak ada kegagalan! Yang ada hanyalah hasil yang belum sesuai dengan yang aku harapkan. Gagal itu biasa. Dengan gagal berarti aku mendapat pelajaran, sehingga aku mempunyai pengalaman untuk bisa menemukan peluang serta jalan keluar agar tidak terjebak lagi ke dalam masalah yang sama.

Terima kasih Lalat bodoh. Terima kasih juga Semut cerdik. Atraksi yang kalian pertunjukan tadi, akhirnya bisa menyadarkan pikiran dangkalku tentang hikmah yang terkandung di balik sebuah kegagalan. (Jupiter doc/25Mei08)

“Para pemenang tidak melakukan hal-hal yang berbeda, mereka hanya melakukannya dengan cara yang berbeda”

Ditulis dalam Coretanku, Pencerahan | Leave a Comment »

Pelajaran dari Ikan

Ditulis oleh jupiter di/pada Mei 24, 2008

RENUNGAN JUPITER
(Memetik Pelajaran dari Ikan)

Memandang keindahan pantai serta menyusuri aliran air di sungai adalah salah satu kegemaranku sejak aku mulai nekat pergi merantau. Maklum dari kecil aku lahir dan dibesarkan di satu kota yang jauh sekali dari sungai apalagi pantai.

Meskipun beberapa kali sempat pindah rumah, namun tetap rumah tinggal yang dipilih oleh orang tuaku selalu berada di lingkungan komplek yang jauh sekali dari keindahan lautan. Sepanjang mata memandang hanya pegunungan yang membentengi kota kelahiranku.

Banyak orang bilang, pemandangan di daerah pegunungan lebih indah apabila dibandingkan dengan pemandangan di lautan, yang katanya hanya berupa hamparan air dan sama sekali tidak memiliki banyak variasi.

Hmm, pegunungan memang indah dan sangat menantang untuk bisa ditaklukan. Tapi apabila kita sudah tahu dan hapal seluk beluk kerimbunan hutan serta tebingnya, semua tantangan itu akan segera menguap. Dan untuk selanjutnya sesulit apapun sebuah pendakian akan menjadi tidak menggairahkan lagi. Karena kita sudah bisa memperkirakan sampai pada titik resiko terburuknya.

Sementara lautan, sejauh mata memandang yang terlihat memang hanya hamparan air yang seolah tidak berujung. Namun dibalik hamparan air tersebut tersimpan banyak sekali keajaiban serta tantangan yang sama sekali tidak pernah bisa diprediksi cara untuk menaklukannya.

Seperti hantaman ombak serta ganasnya terjangan badai yang sering kali tidak mampu terdeteksi kedatangannya oleh beragam peralatan super canggih, hasil karya cipta otak manusia. Ini membuktikan kekuasaan samudera lebih bisa mencerminkan betapa maha-nya sang Pencipta dan betapa kecilnya kita sebagai manusia, yang selalu lekat dengan segala keponggahan yang sebetulnya sama sekali tidak berdaya apabila dihadapkan pada kemarahan samudera.

Demikian pula dengan kekayaan alam yang tersimpan jauh di kedalamannya. Para pakar geologi yang selalu dianggap sebagai orang yang paling mengerti segala ilmu bumi, sampai kapanpun tidak akan pernah sanggup menciptakan alat yang bisa mencapai dasar kedalaman samudera yang sebenar-benarnya. Karena sepintar dan sejenius apapun, pada dasarnya mereka tetap tidak jauh beda dengan kita, hanya manusia biasa yang diciptakan dengan segala keterbatasannya.

Setiap ada kesempatan menikmati keindahan samudera. Terkadang aku berkhayal, seandainya ada reinkarnasi aku ingin berubah menjadi ikan. Karena hanya dengan menjadi ikan, aku bisa berenang sampai ke dasar lautan, menikmati keindahan samudera serta menjelajahi seluruh penjuru pantai yang tidak mungkin aku lakukan apabila aku tetap hanya menjadi diriku yang sekarang.

Beberapa bulan yang lalu, ketika aku tengah memandangi ikan-ikan yang berenang di sungai. Beberapa sahabat pernah melontarkan ejekan kepadaku. “Apa sih yang menarik dengan ikan-ikan itu? Mentang-mentang doyan makan ikan, kalau sudah ketemu mereka suka lupa sama teman sendiri.”

Yup! Apa sebetulnya yang menarik dari ikan-ikan itu, selain kelejatan serta kegurihan dagingnya yang selalu mampu membuat aku menambah porsi makan siangku?

Apabila dilihat dari fungsi penciptaan serta populasinya. Ikan adalah salah satu makhluk ciptaan-Nya yang tentunya sangat bermanfaat bagi ekosistemnya, termasuk juga bagi manusia. Ikan dengan ukuran besar maupun kecil selalu bergerak dan tiada pernah berhenti bergerak sampai ikan itu mati.

Aku ingat sewaktu sedang asik mengamati ikan-ikan itu, mereka bergerak seringkali melawan arus sungai. Terkadang mereka mempertahankan gerakannya di posisi yang mereka kehendaki untuk berhenti sebentar.

Jarang sekali kulihat ikan-ikan itu bergerak mengikuti arus. Bahkan ikan-ikan itu terkadang bergerak bersama pasangannya melawan arus untuk bertelur di suatu tempat, atau mungkin mereka sedang mencari lokasi yang tepat untuk bisa dijadikan sebagai tempat yang nyaman untuk mereka “memadu kasih”. Seandainya ada yang mengikuti arus, hanya ikan yang sudah mati saja yang terseret oleh arus yang selanjutnya membawa bangkainya entah kemana.

Mengingat hal itu aku mencoba memetik satu pelajaran lagi, bahwa ternyata untuk mempertahankan hidupnya, untuk mengembangkan keturunan dan mencari makanan. Ikan-ikan itu berusaha untuk terus bergerak dalam menghadapi tantangan arus dan derasnya air yang mengalir. Dengan bergerak dan menghadapi tantangan mereka bisa survive di dalam ekosistemnya.

Bagaimana dengan kita, manusia? Aku rasa sama. Untuk bisa tetap survive menjalani hidup, kita harus terus bergerak. Semakin banyak serta beratnya cobaan yang menghadang, apabila kita jadikan sebagai tantangan dalam meraih suatu keberhasilan. Aku sangat yakin segala cobaan itu bisa terasa lebih ringan, sehingga akan membuat jiwa kita menjadi lebih matang dan siap untuk melewati tantangan hidup selanjutnya yang belum tentu akan lebih mudah.

Ikan terus bergerak. Demikian pula dengan kita, manusia. Bergerak adalah ikhtiar tiada henti untuk merealisasikan doa serta impian kita. Manusia yang berhenti berikhtiar tidak jauh berbeda dengan ikan yang sudah mati dan terseret arus sesuka arah aliran yang membawanya.

Manusia yang sukses meraih keberhasilan dan kebahagiaan, hanyalah manusia yang penuh optimis, penuh semangat dan antusias, serta yang tidak pernah berhenti untuk terus berikhtiar mengejar apa yang dicita-citakannya. Walau terkadang kita perlu berhenti sejenak untuk beristirahat, berkontemplasi, merenung, berdoa untuk mengisi bahan bakar ikhtiar. Sebagaimana ikan yang aku lihat terkadang berhenti tetapi tetap bergerak di tempatnya.

Kesimpulan akhir, hanya ikan yang mati saja yang berenang mengikuti arus.

Bagaimana dengan diriku sendiri?? Apakah aku akan berhenti bergerak, setelah beberapa kali mengalami kegagalan dalam menyikapi cobaan hidup? Pilihannya ada pada diriku sendiri. Karena keberhasilan dan juga kebahagiaan hidup adalah merupakan sebuah pilihan. Dan aku memilih untuk terus bergerak meskipun harus terluka karena melawan derasnya arus. (Jupiter doc./24mei’08)

“Setiap orang yang sukses awalnya adalah pemimpi-pemimpi besar. Mereka berimajinasi tentang masa depan mereka. Berbuat sebaik mungkin dalam berbagai hal. Bergerak terus menuju visi jauh ke depan yang menjadi tujuan mereka” (H. Jackson Brown, Jr.)

(Terinspirasi dari artikel seputar motivasi untuk kehidupan dan bisnis)

.

Ditulis dalam Coretanku, Pencerahan | 3 Komentar »