RENUNGAN JUPITER

Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam, di atas batu yang hitam, di malam yang amat kelam.

Arsip untuk Maret, 2008

Sandiwara Kehidupan

Ditulis oleh jupiter di/pada Maret 31, 2008

Sandiwara Kehidupan
Oleh : Jupiter

Apa yang akan terjadi seandainya kita dihadapkan pada pilihan, antara melanjutkan perjalanan dengan penuh kebimbangan atau memelihara terus harapan yang sudah nyata-nyata kosong?

Hwuaaahhh…!!! aku memukul-mukul jidat sendiri.

Sudah tiga hari ini pikiranku benar-benar lagi “blank”. Segala yang kulakukan menjadi serba salah. Aku tidak tahu pasti apa sebetulnya yang sedang aku inginkan dan aku butuhkan. Rasaku hambar, semangatku hilang.

Kucoba untuk mencari penghiburan diri dengan mencoba konsentrasi di depan televisi. Tayangan sinetron yang biasanya selalu aku tunggu karena menghadirkan sosok pemeran utama yang selalu sanggup membangkitkan imajinasiku, malam ini entah mengapa penampilannya terasa menjadi biasa-biasa saja, feelingku sama sekali tidak tersentuh.

Dengan malas, kucoba untuk mengganti channel. Sebuah acara musik yang biasanya selalu aku saksikan secara live di studio TV bersama beberapa sahabat dan selalu menjadi acara kegemaranku. Malam ini semua lagu yang dibawakan oleh group band favoritku tersebut menjadi terasa basi dan sangat membosankan.

“Huh! Mellow lagi, mellow lagi. Cyape dech!” Sungutku merasa tersindir oleh bait-bait lagu yang seperti sedang mengejek segala kegundahan hatiku ini.

Kutekan channel berikutnya yang tengah menayangkan sebuah acara komedi yang menurut teman-temanku, banyolan-banyolan yang disuguhkannya selalu segar dan sangat menghibur.

Selanjutnya aku menunggu adegan spontan serta banyolan yang katanya selalu lucu itu, dengan harapan bisa menggugah dan menghadirkan sedikit senyum di hatiku yang sedang beku ini. Tapi sampai tayangan komedi itu selesai, hatiku sama sekali tidak tergerak. Tetap hambar dengan tatapan kosong mengikuti beberapa adegan, sampai akhirnya aku merasa bosan sendiri dan kemudian dengan kesal aku mematikan TV.

“Kok malah dimatiin?” tegur mama mengagetkanku. “Emangnya kamu, lagi nunggu acara apa? dari tadi kok di pindah-pindah mulu. Mama ampe pusing ngeliatnya.” Lanjut mama sambil menatapku bingung.

Ups! Kiranya dari tadi aku tidak sendirian. Mama yang tadi sempat aku lihat masuk ke dalam kamar, ternyata sudah duduk kembali di belakangku. Waduh! Kenapa aku bisa sampai kehilangan kesadaran begini, ya? pikirku bingung.

“Nggak lagi nunggu acara apa-apa kok, ma. Lagi nggak puguhan aja, abis acaranya nggak ada yang bagus. Sinetron cengeng semua, lagu-lagunya cengeng juga, banyolannya garing. Bikin bete semua.” Jawabku sambil menyalakan TV kembali, kemudian memberikan remote controlnya kepada Mama.

“Terus kamu mau ngapain? Mau tidur?” tanya mama begitu melihat aku mau masuk ke dalam kamar.

“Yei! Siapa yang mau tidur. Emangnya mama, begitu masuk kamar langsung mendengkur. Mau ngelanjutin kerja aja, akh. Daripada melototin acara yang nggak jelas kayak gitu, cuma bikin bad mood aja. Mending ngelonin si *kokom, deh.” Elakku menyanggah dugaan mama. (*kokom=komputer)

“Jadi mama nonton sendirian lagi, nih?” mama merengut manja

“Lah emangnya kenapa kalo mama nonton sendirian? Aku juga biasanya sendirian. Lagian aku kan nggak kemana-mana, ma. Pintu kamar juga tetap di buka, kok. Nih, cuma dihalangin tembok ini doang.” Kataku sambil memukul tembok penyekat ruangan.

Akhir-akhir ini kemanjaan serta kebandelan mama terasa makin berlebihan. Setiap masakan serta makanan yang aku buat dan aku kasih selalu melahirkan komentar yang memanaskan telinga. Di lidah mama, semua makanan selalu dianggap kurang manis atau kurang asin. Padahal di lidahku sendiri rasanya sudah pas banget.

Dan yang membuat aku selalu bertambah jengkel, ujung-ujungnya Mama selalu minta untuk ditambahi gula atau garam pada makanannya. Padahal mama adalah penderita diabetes yang sama sekali sudah tidak bisa nahan kalau sudah pengen buang air, serta penderita darah tinggi yang sudah dua kali terserang stroke. Dan apabila keinginananya tersebut tidak segera dituruti, mama pasti langsung nangis seperti anak kecil yang mainannya aku rebut. Hhhh… benar-benar menguji kesabaranku.

“Percuma ada kamu di sini juga, mama tetap saja sendiri mulu!” ujar mama dengan memasang muka sedih, hingga akhirnya membuat aku mengurungkan niat untuk masuk ke dalam kamar.

“Ya sudah aku temanin, deh.” Kataku sambil duduk kembali di dekat mama.

Selama hampir tiga puluh menit, terpaksa aku harus mencoba untuk bisa menikmati tayangan sinetron yang membuat ekspresi wajah mama selalu berubah-ubah.

Ketika ada adegan yang menyedihkan, mama langsung menangis lebih keras daripada si aktor atau aktris kawakan yang memerankan adegan sedih tersebut. Dan apabila tiba pada adegan yang mengharukan, mama tetap mengeluarkan air mata yang dilanjutkan dengan isak tangis haru.

Aku benar-benar dibuat repot karena harus selalu bisa menetralisir keadaan dengan mengembalikan ingatan mama, serta menjelaskan bahwa semua adegan yang menghanyutkan perasaannya itu, hanya sekedar akting dan merupakan contoh dari sandiwara kehidupan semata.

Sekedar Akting? Sandiwara kehidupan? Dua kalimat ini tiba-tiba berputar di dalam kepalaku.

Yup! Bukankah segala kegundahan yang tengah aku rasakan ini sebetulnya juga hanya merupakan bagian dari sandiwara kehidupan? Pikirku sambil mengerutkan dahi, mencoba mengingat kembali segala peristiwa yang sudah berhasil aku lewati.

Bukan baru kali ini saja aku mengalami perasaan gundah seperti ini. Dulu aku pernah dihadapkan pada pilihan hidup yang lebih sulit, dan hampir membuat aku putus asa sehingga sempat berpikir untuk berhenti sebelum waktunya, dari ricuhnya panggung sandiwara kehidupan ini.

Tapi toh pada akhirnya aku bisa melewati semua masalah berat tersebut dengan sangat mulus, bahkan setelah itu aku mampu melangkahkan kaki kembali dengan sangat anggun plus berwibawa. Sehingga membuat orang-orang yang tadinya merendahkan kemampuanku menjadi berbalik menundukkan kepala.

Seperti halnya aktris dan aktor kawakan yang sudah berhasil mengaduk-aduk perasaan mama, akupun harus bisa memainkan peran yang telah menjadi bagianku ini, dan harus bisa menuntaskannya sampai pada akhirnya “sang sutradara” meneriakan satu kata penutup, “CUT!!”.

Secercah harapan tiba-tiba tumbuh dan perlahan mulai mengusir kegundahan hatiku. Meskipun tanpa skenario, aku harus sanggup untuk memainkan peran yang sudah di percayakan oleh “sang produser” yang menjadi pemilik segala kehidupan.

“Nak, si Rini anaknya bu Anto, katanya besok mau tunangan. Padahal dia kan masih kuliah.” Mama tiba-tiba membahas obrolan yang selalu aku hindari karena ujung-ujungnya pasti akan memojokan pilihan hidupku, yang sudah memutuskan untuk tetap menjalani sisa hidup tanpa ‘pasangan’.

“Hmm, bagus lah. Eh, itu kan anaknya Mark Sungkar. Mama pasti gak tahu, ya?” Jawabku asal sambil mencoba mengalihkan arah pembicaraan, dengan membahas tayangan sinetron yang diperankan oleh anak dari salah satu aktor idola yang juga pernah jadi teman mama di masa mudanya dulu.

Waaa… waaa… !!! tiba-tiba mama menangis kencang.

Ya, salah ngomong lagi, deh! Gumamku dalam hati begitu melihat reaksi mama yang selalu tiba-tiba membuat pening kepalaku itu. Mama pasti teringat pada kejayaan masa mudanya lagi, deh. Pikirku sambil kemudian mencoba dengan segala cara untuk meredakan kembali kesedihan mama, dengan memancing obrolan seputar kejayaan masa mudanya dulu.

Dan pada akhirnya, malam ini kembali aku harus menekan segala perasaan bosanku dengan menghabiskan waktu di depan TV, tanpa bisa menikmati rangkaian acara yang disuguhkannya. Karena pikiranku sudah disibukan dengan satu pilihan yang telah sampai pada satu keputusan, untuk melepaskan segala harapan kosong yang selama ini selalu membebani pikiran serta memberatkan langkahku.

Bismillah, mudah-mudahan aku sanggup memainkan dan menyelesaikan segala skenario kehidupan yang telah dipercayakan-Nya, dengan tanpa beban. (Jupiter doc/31Mar08)

***

Ditulis dalam Coretanku | 1 Komentar »

Hati, Gypsi dan Sapu Terbang

Ditulis oleh jupiter di/pada Maret 31, 2008

Hati, Gypsi dan Sapu Terbang
(Hati Yang Ikut Terbang)
Oleh : Jupiter

Kent masih berdiri di bibir jendela, ketika hujan yang turun sangat deras sejak sore tadi telah mulai reda. Wajahnya tengadah menatap langit kelam yang mulai berubah terang. Meski masih malu-malu, dewi bulan mulai menampakan kembali bias cahayanya. Kerlip bintang pun mulai terlihat satu-satu.

Dua bola mata Kent menatap tak berkedip, menyaksikan perubahan alam yang selalu dinantikannya itu. Kedua tangannya menggenggam erat sebatang sapu, bibir pucatnya komat-kamit seperti tengah merapalkan sebuah mantra.

Dengan takjub, dilihatnya kerlip sebuah bintang berubah menjadi lebih terang, bertambah terang, makin terang, dan akhirnya membuat matanya terpejam karena tak kuasa menahan kilau yang dipancarkannya.

BUM!!! BUZZZ!!!

Satu dentuman yang sangat keras, tiba-tiba menghantam teras di depan jendela. Sesaat dirasakan lantai kamar yang dipijaknya bergetar, tubuh Kent terhuyung ke belakang, dihempas hembusan angin yang menyertai suara dentuman tersebut.

Kedua tangan Kent refleks mencari pegangan untuk menahan keseimbangan tubuhnya agar tidak jatuh. Sapu yang digenggamnya terpental entah kemana. Dengan posisi tubuh yang terduduk di pinggiran tempat tidur dan dengan bibir yang masih komat-kamit, perlahan Kent mulai membuka kedua kelopak matanya.

Sekejap kemudian kedua bola mata Kent seperti mau melompat keluar. Komat-kamitnya terhenti, mulutnya terbuka lebar, ketika dilihatnya sesosok tubuh yang selama ini selalu dirindukannya telah berdiri dihadapan.

“Zwe… Zweeth?” hanya kata itu yang selanjutnya sanggup keluar dari bibir Kent. Dengan satu tangan, ia mengucek kedua matanya seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Benarkah gadis yang sedang berdiri di hadapannya ini adalah Zweeth? Zweeth si gadis gypsi yang selalu berkelana dengan sapu terbangnya. Zweeth yang setiap malam selalu menjadi bunga dalam tidur yang tidak lelapnya. Zweeth yang di setiap hembusan nafas selalu ia nantikan kehadirannya?

Dengan sekuat tenaga, Kent langsung menampar pipinya sendiri. “ADUHH!!!” jeritnya kemudian.

Menyaksikan hal tersebut, gadis gypsi itu langsung menarik kedua tangan Kent. “Hei! Mengapa kamu menyakiti diri sendiri? Apakah kamu tidak senang dengan kehadiranku?”

Suara itu? Ya ampun! Suara lembut itu adalah suara yang selalu dirindukannya. “Zweeth? Apakah kamu betul-betul Zweethku?” tanya Kent, sambil menatap tak berkedip, lekuk wajah lembut yang sudah menjadi candu dalam setiap mimpi-mimpinya itu. Ia ragu karena sudah beberapa kali pandangannya tertipu, oleh fatamorgana yang selalu muncul akibat dari kerinduannya yang sudah memuncak.

Gadis gypsi itu tidak langsung menjawab pertanyaan Kent, ia tersenyum kemudian mengecup jemari Kent dengan lembut. Seketika adrenalin di sekujur tubuh Kent tiba-tiba terasa bergolak.

“Apakah kecupanku ini tidak bisa meyakinkanmu?” goda gadis gypsi yang ternyata memang Zweeth yang selama ini selalu dirindukannya.

Mendengar pertanyaan yang sekaligus merupakan jawaban atas segala keraguannya itu. Kent langsung menarik tubuh Zweeth ke dalam pelukannya. Air mata bahagia berhamburan dari kedua sudut matanya.

“Aku sangat merindukanmu, Zweeth. Maafkan aku, aku mohon jangan pergi lagi dariku.” Isak kent sambil mendekap erat tubuh kekasih yang sangat dicintainya itu.

“Maafkan aku, Kent. Aku tidak bisa!” ujar Zweeth hambar, kemudian berusaha melepaskan diri dari pelukan Kent.

“Kenapa? Apa kamu sudah tidak mencintai aku lagi?” tanya Kent bingung, melihat sikap Zweeth yang tiba-tiba berusaha menjauh dari dirinya.

Zweeth menarik nafas dalam, sebelum akhirnya menjelaskan alasannya, “Dunia kita sangat berbeda, Kent! Sampai kapanpun kita tidak mungkin bisa bersatu. Lupakan saja aku! Buang semua rasa cintamu padaku! Karena aku juga telah melupakan semua tentang kita. Aku kembali ke sini hanya ingin mengambil sapu terbangku yang dulu pernah kamu sembunyikan”

Kent terbelalak mendengar jawaban Zweeth yang sama sekali tidak disangkanya itu, bibirnya bergetar menahan isak yang masih tertahan, “Apa? Buang? Tidak semudah itu, Zweeth! Sudah hampir tiga bulan aku mencoba untuk menekan semua perasaan rindu ini. Tapi aku tidak pernah sanggup menghapus bayanganmu dari hati serta pikiranku. Setiap malam aku malah makin terpuruk, dan tidak pernah berhenti menyesali kebodohanku yang telah membiarkan kamu pergi.”

Hanya hembusan nafas berat yang keluar dari mulut Zweeth, ketika mendengar pengakuan jujur dari Kent. “Percuma, semua sudah terlambat. Jangan paksa aku lagi! Karena sampai kapanpun aku tidak akan pernah bisa mewujudkan harapanmu. Bagiku, cinta kita dulu adalah sebuah kesalahan dan aku tidak mau mengulang kesalahan itu lagi. Aku sudah memutuskan untuk mengabdi pada kerajaan langit.”

“Tapi aku tidak bisa hidup tanpa kamu, Zweeth! Please, beri aku kesempatan satu kali lagi. Aku janji untuk berubah dan tidak akan memaksakan kehendakku lagi. Aku akan menerima kamu apa adanya. Kamu tidak perlu berubah menjadi manusia seperti aku. Kamu bebas berkelana dengan sapu terbangmu. Tapi aku mohon, untuk selalu pulang ke rumah cinta kita.” ungkap Kent sambil menatap mata Zweeth dengan sorot penuh permohonan.

Zweeth tersenyum sinis mendengar janji orang yang pernah mengecewakannya itu, “Sudahlah, Kent! Aku sudah tidak bisa percaya lagi sama janji-janji kamu. Kamu tidak ada bedanya dengan manusia lain yang selalu mengobral janji hanya demi memenuhi segala harapanmu. Dan melupakan janji itu dikala harapanmu tidak bisa terwujud. Aku sudah tidak bisa merubah keputusanku. Aku tetap harus pergi.” Lanjut Zweeth tanpa memerdulikan sorot mata kecewa serta penyesalan dari mata Kent.

Sesaat Kent termenung mendengar pernyataan sinis yang telah diucapkan oleh kekasih yang biasanya selalu penuh kelembutan itu. Kent merasa ditampar dan langsung sadar, bahwa perasaan kekasihnya sudah tidak sama lagi dengannya.

Kent mengutuk kebodohannya sendiri yang sudah dibutakan oleh keyakinan palsunya, yang selalu mengatakan; kalau kekasihnya itu masih mempunyai kerinduan serta harapan yang sama dengan apa yang selalu ia rasakan. Dan ternyata kenyataannya tidak demikian, kerinduannya selama ini ternyata hanya bertepuk sebelah tangan. Cinta di hati Zweeth sudah tidak tersisa.

“Mungkin benar apa yang kamu katakan, Zweeth. Aku memang hanya manusia biasa yang tidak bisa menepati janji. Karena aku tidak pernah bisa menduga apa yang akan terjadi di kemudian hari, dan aku tidak mempunyai kuasa untuk menghentikan laju sang waktu. Mungkin saat ini, aku memang harus bisa merelakan kepergianmu. Aku sama sekali tidak mempunyai hak menahanmu untuk tetap tinggal, kecuali apabila kamu sendiri yang menginginkannya” Gumam Kent dengan sangat lirih. Ia telah menyadari kelemahannya sebagai manusia yang tidak akan pernah bisa sempurna, meskipun ia sudah berusaha sekuat tenaga.

“Selamat tinggal, Kent. Terima kasih sudah menjaga dan merawat sapu terbangku. Aku akan melanjutkan perjalananku, mencari kelinci putih yang dulu hilang.” ujar Zweeth tanpa menoleh sedikitpun ke arah Kent. Selanjutnya ia melesat bersama sapu terbangnya, meninggalkan Kent yang masih terduduk lesu sambil menatap kepergian Zweeth yang tanpa ia sadari telah membawa serta hatinya.

Selamat jalan, Zweeth. Walau sesaat, kehadiranmu telah membuktikan bahwa sampai kapanpun aku tidak akan pernah sanggup menghapus, apalagi membuang rasa cinta serta rasa sayangku padamu. Akan selalu aku simpan semua perasaan indah ini dan tak akan pernah aku bagi kepada siapapun. Terima kasih, sayang. Semoga kelinci putih itu bisa segera kamu temukan, karena hanya dialah satu-satunya saksi dan bukti kalau cinta kita pernah ada dan tidak pernah salah. Bisik Kent dalam hatinya yang kembali diselimuti kehampaan.

Perlahan Kent membaringkan tubuh lemasnya, pandangannya menatap kosong ke luar jendela. Meski sosok Zweeth sudah tidak terlihat, namun ia telah memutuskan untuk tidak pernah menutup jendela itu selamanya. Sebagai manusia biasa, ia hanya bisa berharap dan berharap terus, walau harapannya kini sudah menjadi harapan kosong.

Kent memang sudah merelakan Zweeth. Namun ia tidak akan pernah sanggup untuk mengikhlaskan kepergiannya, karena hatinya sudah ikut terbang bersama kekasih yang sudah enggan untuk mendampingi sisa hidupnya itu. Alunan lembut alm. Chrisye menyertai penantiannya yang tidak akan pernah berujung;

Ampuni aku yang telah memasuki kehidupan kalian
Mencoba mencari celah dalam hatimu

Aku tahu ku tak kan bisa
Menjadi seperti yang engkau minta
Namun selama nafas berhembus
Aku kan mencoba…

(Jupiter doc/28Mar08)

***

Ditulis dalam Coretanku | Leave a Comment »

Realita oh Realita

Ditulis oleh jupiter di/pada Maret 31, 2008

Realita oh Realita
Oleh : Jupiter

Aku baru saja keluar sebagai pemenang dari pertempuranku melawan penyakit hati, ketika tiba-tiba tiga ponselku menjerit dengan kompak.

“Assalammualaikum!” jawabku di ponsel pertama

“Wa, besok kamu datang ke hotel Anu, ya! Ada Seminar buruh se-Jabar yang mengundang serikat kita. Kamu sudah ditunjuk sebagai wakil dari perusahaan kita didampingi si Fany!” Sembur Edo tanpa menjawab salamku terlebih dahulu.

“Apa? Seminar buruh? Hei! Kamu gak lagi amnesia kan? Aku kan sudah bukan kharyawan di situ lagi! kok aku yang ditunjuk sebagai wakil perusahaan, sih?” kataku bingung, menanggapi perintah kerja yang sebetulnya sudah bukan tanggung jawabku, sejak acara perpisahan serta upacara serah terima jabatanku dengan mereka setahun yang lalu.

“Justru itu, tema seminar nanti kebetulan mengangkat masalah yang dulu pernah kamu ajukan. Kawan-kawan kita gak ada yang menguasai masalah yang akan di bahas nanti. Lagi pula si Fany kan orang baru, mana berani dia presentasi di depan orang banyak dan asing seperti itu. Bisa mati berdiri, dia. O’ya, masalah status kamu yang sudah bukan kharyawan. Tenang saja, yang nanti hadir di sana belum ada yang tahu, kok. Mau ya, wa?! Pleaseee, demi nama baik kawan-kawan di serikat kita.” Bujuk Edo, dengan memanfaatkan embel-embel solidaritas yang selalu sanggup melemahkan penolakanku.

“Aduuuh, gimana sih, kalian. Aku gak enak kalau nanti sampai ada yang tahu, kalau aku sudah bukan bagian dari kalian lagi.”

“Udaaah, kalau yang itu gak usah dipikirin. Pak Ketua sendiri kok yang jadi jaminannya kalau status kamu sampai bocor. Sekarang ini, beliau kan sudah menjabat sebagai wakil Ketua di Pusat juga.” Jelas Edo meyakinkan keraguanku.

Selanjutnya tanpa menunggu kepastian kesanggupanku lagi, Edo langsung memberikan informasi mengenai segala perlengkapan yang harus aku bawa dan aku siapkan untuk bahan presentasi di seminar nanti. Berikut undangan serta id peserta seminar yang menurutnya akan segera di kirim melalui Fany.

Fhiuhhh! Aku menghembus nafas berat, ketika pada akhirnya Edo menyelesaikan pidato yang tiba-tiba membuat pening kepalaku itu. Inilah salah satu kelemahan yang belum bisa aku enyahkan. Pada saat terdesak seperti ini, ternyata aku masih belum bisa menyuarakan isi hatiku yang sebetulnya menolak tugas yang sudah bukan tanggung jawabku tersebut.

Perasaan tidak enak terhadap kawan-kawan lama, juga rasa iba melihat ketidak mampuan mereka dalam melanjutkan tanggung jawab kerjaku. Akhirnya kembali membuat aku terjebak dalam pertikaian di dalam diri yang baru saja berhasil aku menangkan.

Masih dengan air muka kebingungan, aku melirik ponsel kedua yang ternyata masih berkedip, meninggalkan satu pesan singkat dari salah satu sahabat lamaku juga. “Lagi sibuk, ya? Telpon balik, dunk! Penting!”

Hmm, ada apa lagi, ya? tanyaku dalam hati, sebelum akhirnya aku me-reccal no. nya Widi. “Ada apa, Wid?” tanyaku pada Widi yang dijawab dengan tarikan nafas beratnya.

“Sudah dengar kabar tentang kak Dina, belum?” Widi balik bertanya padaku mengenai sahabat terbaikku yang sempat meninggalkan akhir yang kurang baik itu.

“Hmm, belum! Emang ada apa dengan dia? Dia baik-baik saja, kan?” tanyaku dengan nada yang menunjukan keenggananku untuk membahas dia lagi.

“Justru sebaliknya, kabar dia lagi buruk banget. Sejak kak Dewa keluar, dia makin liar. Sebulan ini dia sudah tidak pernah masuk kerja lagi. Kata anak buahnya sih alasannya sakit, tapi gak ada yang tahu dia sakit apa? Menurut informasi terakhir dari manager personalia, sepertinya dia mau kena PHK. Kasihan banget kan, kak!” penjelasan Widi ini seketika langsung mencairkan keenggananku

“Ups! Kok bisa sampai separah itu, sih? Emang dia sakit apa? Kalo dia memang sakit, dia kan bisa minta surat rujukan dari dokter yang nangani penyakitnya. Kalau sudah ada bukti, mana mungkin perusahaan bisa begitu saja PHK dia. Empat belas tahun, loh! dia sudah berbakti di situ!” ujarku sedikit emosi, mendengar berita yang sangat mengejutkan mengenai kondisi ‘mantan’ sahabatku itu. Walau telah meninggalkan kesan yang kurang baik, tapi entah mengapa, aku masih perduli pada nasibnya yang tidak seberuntung aku, yang mendapat kebijaksanaan ketika mengajukan pensiun dini setahun yang lalu.

“Itulah masalahnya, kak. Menurut informasi yang aku dengar. Dia itu sakitnya bukan “sembarangan”, jadi tidak bisa menunjukan bukti bahwa dia itu benar-benar sedang sakit.” Jelas Widi makin membuat aku kebingungan.

“Bukan sembarangan? Maksudnya?” tanyaku penasaran.

“Menurut informasi dari anak buahnya, sakitnya dia itu karena “dibikin sama orang”. Kakak sendiri tahu, kan?! Dari dulu dia itu banyak sekali musuhnya. Perusahaan mana sih, yang mau nerima surat rujukan dari DUKUN?!” jelas Widi dengan nada suara yang terdengar miris.

“Hmm, iya juga, sih. Terus kalau dia sampai di PHK, kebijaksanaan dari perusahaan atas jasa dia selama ini, bagaimana?” tanyaku sambil membayangkan kembali raut kekecewaan serta kemarahan di wajah Dina, ketika mengetahui surat pengajuan pensiun dininya tidak disetujui, bahkan dengan sengaja malah dirobek oleh atasannya di depan wajahnya sendiri. Karena dianggap belum memenuhi syarat dalam segi usia, padahal usianya tidak beda jauh denganku.

“Katanya sih, paling tinggi dia dapat penghargaan masa kerja sebesar empat belas kali gaji pokok. Setelah dihitung-hitung oleh orang HRD, tunjangan masa kerja dia itu masih minus.” Lanjut Widi memberikan penjelasan yang semakin membuat aku bingung.

“Minus gimana?”

“Minus kalau dipake buat nutup hutangnya ke koperasi. Itu loh, pinjaman yang di ambil buat beli Honda Jazz yang tabrakan sehari setelah keluar pengumuman siapa-siapa saja yang di setujui pengajuan pensiun dini yang dulu.”

“HAH?? Jadi, mobil itu dia beli pake duit pinjaman? Kirain dulu itu, dia beneran dapat uang warisan dari orang tuanya. Habis dia ngomongnya ke aku begitu, sih!” ujarku betul-betul kaget.

“Dia itu dari dulu emang paling gengsi sama kak Dewa. Mana mau sih, dia keliatan lebih rendah dari kakak. Segala cara dia halalkan hanya untuk sekedar menaikan gengsinya di depan kakak.” Lanjut widi memberikan penjelasan yang membuat aku mengerutkan dahi.

“Ya ampun, Wid. Kok kamu bisa punya pikiran seperti itu? Emang aku seperti apa, sih? Mana pernah aku manas-manasin dia. Malah sebaliknya, dari dulu aku yang selalu ngingetin dia untuk bisa menghentikan sifat nge-boss nya itu.”

“Iya, kita semua juga tahu. Makanya kata teman-teman, cuma kakak yang bisa bantu dia untuk bisa ‘benar’ lagi. Omongan kita-kita sih, mana ada yang bisa nembus kepala dia yang sudah lebih keras dari batu karang itu. Dari dulu, cuma omongan kakak yang bisa meluluhkan kekerasan hati dia.” Kata-kata Widi ini membuat aku seketika membayangkan kembali kisah manis persahabatan kami dulu, sebelum akhirnya dinodai oleh petualangan cintanya yang telah menghadirkan sosok perempuan ‘bermuka dua’.

“Begitu ya? terus sekarang kondisinya gimana? Kamu sudah ketemu sama dia, kan?” tanyaku mulai paham arah pembicaraan Widi, yang ujung-ujungnya pasti minta aku untuk masuk lagi ke dalam lingkaran hidup ‘mantan’ sahabatku yang sudah semakin kusut, karena tidak pernah bisa mengatur gaya hidup ‘liar’nya itu.

“Sudah, kemarin. Kondisi dia betul-betul sangat memprihatinkan. Jauh banget dari sosok keren dia yang dulu. Badannya habis, hartanya habis dan parahnya lagi, semangat hidupnya sepertinya sudah mulai habis juga!”

“Waduh! Terus menurut kalian, aku harus bagaimana? Bukannya aku gak kasihan, tapi aku masih trauma sama kasus yang dulu. Kalian tahu sendiri, bagaimana pengorbananku dulu untuk menyadarkan tingkah konyolnya dia. Aku gak mau sampai terjebak lagi ke dalam lubang yang sama. Pada dasarnya, segala masalah dia itu hanya bisa diselesaikan, kalau dia sendiri sudah ada kemauan untuk berubah. Sedekat-dekatnya aku, tetap saja aku hanya sebatas orang luar. Itu kata-kata terakhir dari dia yang sudah buat aku sadar.”

Mendengar alasan keberatanku. Widi tidak berani mendesak aku lagi untuk mencoba melakukan pendekatan, kepada Dina yang menurutnya sudah seperti mayat hidup itu. Kami pun mengakhiri pembicaraan yang pada akhirnya meninggalkan satu beban lagi di kepalaku. Beban moral sebagai sahabat yang dulu sudah pernah tidak di anggap.

Dengan malas, kubuka satu message yang masuk ke ponsel ketiga yang ternyata dikirim oleh salah satu rekan bisnisku. “Ibu yth. Mohon pengertiannya sehubungan dengan pembayaran yang tidak bisa kami lakukan pada bulan ini.”

PLAK! Aku memukul jidat sendiri.

Lengkap sudah ujian kesabaranku hari ini! Untuk kali ini, bukan hanya perang bathin yang harus aku hadapi. Tapi perang sesungguhnya yang terjadi di dalam kehidupan nyataku. Betul-betul tantangan hidup yang seketika membuat berat lagi isi kepalaku. (Jupiter doc/26Mar0 8)

***

Ditulis dalam Coretanku | Leave a Comment »

The Golden Age of Classical Myths – Part. 7

Ditulis oleh jupiter di/pada Maret 31, 2008

Neptune (Poseidon)

Neptune adalah dewa penguasa samudra, saudara Jupiter yang dijuluki si pengguncang bumi. Dengan trisulanya dia dapat menimbulkan badai yang menghempaskan kapal-kapal, namun dapat pula mendatangkan berkat bagi para pelaut.

Bagi bangsa Yunani Kuno, yang merupakan bangsa maritim, Neptune adalah personifikasi dari sifat-sifat lautan itu sendiri. Di kala tenang lautan merupakan sumber kekayaan yang amat berharga, namun di kala bergolak dapat berarti bencana bagi yang mengarunginya. Karena itu Neptune terkadang dilukiskan kejam terkadang murah hati.

Neptune berkuasa atas lautan dan semua perairan di permukaan bumi menggantikan Oceanus sejak Jupiter bertahta di Olympus. Permaisurinya adalah Amphitrite, putri dewa laut Nereus dengan dewi laut Doris.

Nereus dan Doris memiliki lima puluh orang putri yang disebut para Nereid. Di antara para Nereid yang terkenal adalah Amphitrite, Thetis, dan Galatea.

Suatu hari, di kala Neptune menjelajah samudra di atas keretanya yang ditarik kuda-kuda putih, dia melihat Amphitrite beserta saudari-saudarinya sedang bermain-main bersama makhluk-makhluk penghuni lautan lainnya. Neptune langsung jatuh hati melihatnya.

Namun rupanya Amphitrite justru ngeri melihat sosok Neptune yang menakutkan sehingga dia lari bersembunyi ke ujung dunia untuk menghindarinya. Neptune menjadi murka dan memukulkan trisulanya ke permukaan air sehingga timbullah badai dahsyat berbulan-bulan lamanya, sampai Jupiter bertindak mengirimkan serombongan lumba-lumba yang menuntun Neptune ke tempat Amphitrite.

Akhirnya Amphitrite bersedia menjadi istri Neptune dan menjadi ratu samudra. Perkawinan mereka dikaruniai dua orang putra, yaitu Triton dan Proteus.

Pasangan ini sering menjelajah samudra bersama di atas kereta yang ditarik kuda-kuda putih diiringi para Nereid lainnya, dengan lumba-lumba berloncatan riang serta burung-burung laut yang memekik girang beterbangan di sekeliling mereka. Arak-arakan tersebut dipimpin oleh Triton yang meniup sangkakala kerangnya yang dapat menimbulkan atau menentramkan badai.

Neptune dilukiskan sebagai pria berambut ikal keperakan dengan janggut panjang berwarna sama memakai jubah bersilang sebelah di dada. Mengenakan mahkota di atas kepalanya dan menggengam trisula di tangannya.

Amphitrite dilukiskan sebagai wanita cantik yang berhiaskan kalung mutiara di leher dan pergelangan tangan, sementara di atas kepalanya dia mengenakan mahkota dari rangkaian tetumbuhan laut. Triton dilukiskan sebagai pemuda tampan yang berekor ikan sedang meniup sangkakala kerangnya.

Kota yang disucikan bagi Neptune adalah Corinth dan Samos. Sebelumnya dia menginginkan Attica namun rupanya Minerva yang lebih beruntung mendapatkannya, lalu Argos namun Juno yang menjadi pemiliknya, dan kemudian Delphi yang menjadi milik Apollo.

Ketika memperebutkan Attica dengan Minerva, Neptune menjanjikan kota tersebut akan menjadi kota pelabuhan yang termasyhur, sedangkan Minerva memberikan tanaman zaitun yang banyak kegunaannya bagi penduduk Attica. Cecrops, Raja Attica, tak dapat memutuskan hal tersebut sehingga dewa-dewi Olympus turun tangan memutuskan. Keputusan dewa-dewi Olympus menempatkan Neptune di pihak yang kalah.

Hal ini menimbulkan murka Neptune sehingga Attica kemudian dilanda bencana dari laut. Akhirnya amarah Neptune mereda setelah kaum wanita Attica dihukum harus kehilangan hak-hak mereka dalam pemerintahan.

Pluto (Hades)

Pluto adalah saudara Jupiter yang menjadi raja di kerajaan orang mati, Hades. Kerajaan Hades yang terletak di bawah bumi adalah tempat jiwa-jiwa orang mati menantikan penghakiman atas diri mereka.

Jiwa-jiwa yang baik akan tinggal di Padang Elysium dan mengalami kebahagiaan abadi setelah penghakiman, sedangkan jiwa-jiwa yang jahat akan disiksa sampai kekal di Tartarus.

Sebelum mencapai Hades yang gerbangnya dijaga Cerberus, anjing yang berkepala tiga, suatu jiwa harus menyeberangi Sungai Styx, yang airnya berkekuatan gaib karena menjadi tempat dewa-dewi bersumpah, dengan mengendarai perahu yang dikemudikan oleh seorang dewa bernama Charon.

Di Hades selain Pluto dan permaisurinya, Proserpine, juga tinggal Justitia, dewi keadilan yang memakai penutup mata dan membawa pedang serta neraca di tangannya, yang menjatuhkan keputusan bagi setiap jiwa. Justitia dalam menjatuhkan keputusannya dibantu oleh tiga hakim Hades, yaitu Aeacus, Minos, dan Rhadamanthis.

Para Fury adalah tiga dewi pembalasan yang bertugas menghukum jiwa-jiwa yang jahat. Mereka adalah Alecto, Megaera, dan Tisiphone yang berdiri di sekitar tahta Pluto dan Proserpine.

Selain itu masih ada dewa-dewa lain yang juga tinggal di Hades, yaitu Mors, dewa maut; Somnus, dewa tidur, saudara kembar Mors, keduanya adalah putra Nox; dan Morpheus, putra Somnus, yang merupakan dewa mimpi.

Pluto dilukiskan sebagai pria berambut dan berjanggut kelabu, di tangannya tergenggam dwisulanya yang digunakannya untuk membelah bumi, saat berkunjung ke permukaan bumi dengan mengendarai keretanya yang dihela kuda-kuda hitam. Nama Pluto sendiri berarti ‘pembawa kekayaan’ karena dia adalah raja di bawah permukaan bumi, di mana tersimpan banyak kekayaan yang tak ternilai.

Proserpine dilukiskan sebagai wanita muda jelita bermahkotakan rangkaian bunga, memakai gaun yang semarak serta membawa cornucopia (tanduk kelimpahan) yang sarat dengan buah-buahan, lambang kekayaan, di tangannya.

Charon dilukiskan sebagai seorang berjubah dan berkerudung hitam dengan tangan-tangan kurus yang memegang kayuh perahu jiwa-jiwa. Wajahnya tak terlihat karena terselubung kerudung hitamnya. (jupiter doc)

to be continued…

The Greek names of the classical deities:
Jupiter: Zeus
Juno: Hera
Minerva: Pallas Athena
Mars: Ares
Venus: Aphrodite
Vulcan: Hephaestus
Mercury: Hermes
Diana: Artemis
Latona: Leto
Aesculapius: Asclepius
Meditrina: Epione
Juventus: Ivy/Hebe
Lucina: Eileithyia
Ceres: Demeter
Vesta: Hestia
Neptune: Poseidon
Pluto/Dis: Hades
Proserpine: Persephone/Kore
Mors: Thanatos
Somnus: Hypnos
Morpheus: Oneiros
Cupid: Eros
Hermione: Harmonia
Discordia: Eris
Sol: Helios
Luna: Selene
Aurora: Eos
Lucifer: Phosphor
Vesper: Hesperus
Bacchus: Dionysus
Saturn: Chronos
Cybele: Rhea
Caelus: Uranus
Terra/Tellus: Gaia/Gea
Amor: Agape
Dia: Emera
Justitia: Themis
Pax: Irene
Victoria: Nike
Fortis: Bia
Fury: Eumenides/Erinnies
Parcae/Fata: Moirae
Grace: Charites
Felicitas/Fortuna: Tyche
Ver: Thallo (Tunas)
Aestas: Auxo (Tumbuh)
Autumna: Karpo (Masak)
Hyem: Chionia (Salju)
Aquilo: Boreas
Favonius: Zephyr
Eurus: Argestes
Auster: Notus
Catamite: Ganymede
Hercules: Heracles/Alcides
Arianna: Ariadne

(Sumber:Forum KG/Legenda Dewa&Dewi Yunani/Hansel/Jupiter doc/April’08)

Ditulis dalam Myth Stories | Bertanda: | Leave a Comment »