RENUNGAN JUPITER

Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam, di atas batu yang hitam, di malam yang amat kelam.

Arsip untuk Februari, 2008

Terlahir Kembali

Ditulis oleh jupiter di/pada Februari 15, 2008

Terlahir Kembali
Oleh : Jupiter

Hari ini bukan hari pertama yang tidak cerah. Sinar matahari yang biasanya dengan bebas menerobos masuk melalui sela-sela dedaunan dan jatuh di semak-semak, seolah tertutup oleh mendung yang menutup dan mencegah sinar hangatnya merasuk ke tubuh.

Aku masih terbaring lemas di mulut sebuah gua, di atas dedaunan yang sudah mengering dan mulai lembab sebagai alas. Tubuhku mulai menggigil ketika dihadapkan pada satu kenyataan, bahwa matahari memang tak selamanya memendarkan sinar. Suatu saat akan ada awan hitam yang menenggelamkan cahaya terangnya. Aku ingin keluar, tapi tenagaku sudah habis terkuras.

Hatiku masih menyimpan benih-bening kasih-sayang, ketika berulang kali telingaku terngiang kembali kalimat-kalimat itu, kalimat penuh cibiran dan cacian yang terselubung melalui sapaan penuh kehangatan. Pada akhirnya akupun menjadi maklum, segala kekacauan ini tak akan pernah bisa diselesaikan dengan jalan damai.

Jeda hening telah menjadi seribu jarum yang menusuk dan menikam pekanya hatiku, yang selalu dibebani oleh perasaan bersalah atas segala kekacauan yang telah terjadi. Beberapa minggu selepas kepergiannya, kelam merambat terasa sangat lambat. Embun yang turun membuat aku malas untuk bergerak. Bandul jam seakan berhenti berdetak. Menghentikan nafsu makanku dan membuat mataku enggan untuk terpejam barang sejenak.

Kini aku telah berhasil memadamkan bara api yang selama satu purnama ini, tak pernah berhenti bergejolak di dada dan membuat panas ruang di kepala. Aku sudah berusaha dengan berbagai cara untuk sekedar menundukan kepala serta membungkukan tubuh di hadapan mereka. Namun segala usahaku menjadi sia-sia, karena mereka ternyata sudah tidak memperdulikan keberadaanku.

Aku menunduk, mencoba menahan sekuat tenaga agar air mata ini tidak mengalir lagi. Dadaku terasa sesak dan setiap tarikan napasku menjadi terasa berat. Namun kali ini aku tidak boleh menitikan air mata lagi, air mataku terlalu berharga untuk sebuah keangkuhan. Aku harus bisa menerimanya dengan lapang, karena segala yang awalnya tidak ada, pada akhirnya akan kembali hilang ditelan sebuah ketiadaan.

***

Aku sedang asik menikmati keindahan hutan dan merenungi segala tamparan kehidupan. Ketika tiba-tiba dari balik semak-semak, muncul seekor kijang yang berbulu seperti emas dengan binar matanya yang sangat cerah, melemparkan senyum yang sangat tulus kepadaku. Senyum yang mengingatkan aku kepada seseorang yang pernah mengisi hatiku beberapa tahun yang silam. Kijang yang ternyata merupakan penjelmaan Marica dalam cerita Rama & Sinta itu perlahan datang menghampiriku.

“Apa yang membuatmu jadi seperti ini?” tanya Kijang Marica, mengejutkan aku yang masih terpana menatap kecantikannya.

Wow!! Kijang cantik ini bisa berbicara? pikirku takjub, tanpa melepaskan tatapan kekagumanku pada segala keindahan yang menyelimuti tubuh cantiknya.

“Lihat dirimu. Sebetulnya kamu sehat, kamu masih bisa melakukan segala hal untuk menjemput impianmu. Kamu tidak seharusnya hanya meratapi nasib seperti ini. Ingat! Waktumu tinggal sedikit, jangan kamu buang percuma seperti ini!” kata kijang itu lagi, mencoba membuka mata hatiku yang telah terlalu lama larut dalam sebuah ruang yang sangat gelap.

“Mereka sudah tidak mau bermain lagi denganku, karena sayapku sudah terlanjur robek.” Jawabku pada akhirnya dengan suara yang sangat lirih.

“Hmm… kamu masih bisa berbagi dengan yang lain. Dunia ini terlalu indah kalau kamu habiskan untuk menyesali sesuatu yang sudah pergi. Bermainlah bersamaku, aku akan menemanimu mencari madu untuk bekal di perjalanan panjangmu nanti.”

Perlahan aku mulai bangun dari tiduran malasku. Sesaat kemudian, aku dan Kijang cantik tersebut berpandangan. Mataku terpana, mulutku menganga, ketika melihat dua pasang sayap putih berbulu lembut menyembul di bagian punggung Kijang yang berbulu keemasan itu.

Dengan lirikan mata lentiknya, Kijang bersayap lembut itu memberikan isyarat agar aku segera naik ke punggungnya. Sesaat aku bingung, pandanganku kabur oleh air mata keharuan yang mulai menggenang di kedua sudut mataku.

“Cepatlah naik! Kita harus segera berangkat ke satu tempat, dimana tersimpan semangkuk obat yang bisa menyembuhkan segala luka di hatimu.”

Melihat sorot mata penuh kehangatan dan dengan berbekal harapan baru, dengan sangat hati-hati akhirnya aku memberanikan diri untuk naik ke atas punggung emasnya. Punggung yang terasa sangat lembut mengalahkan kelembutan peraduanku sendiri.

Beberapa saat kemudian, kami terbang melesat bersama angin, menembus kerimbunan hutan, menuju satu cakrawala kebebasan. Tubuh kami melayang-layang di angkasa. Sampai pada akhirnya kami berhenti di sebuah istana yang terletak di hamparan putihnya awan.

Aku menjejakkan kaki di negeri yang sangat indah ini. Dari balik putihnya awan, sejenak aku mencoba menikmati keindahan yang terpampang di hadapan. Mengagumi gumpalan-gumpalan putih yang menjadi simbol kedamaian. Tiba-tiba pandanganku tertuju pada satu titik yang seketika membuatku susah untuk bernafas.

Nun jauh di bawah sana, di antara kerimbunan hutan pinus yang berubah seperti hamparan permadani hijau. Aku melihat seekor kelinci putih sedang bermain dengan riang gembira bersama seekor rubah berbulu abu, di tengah padang ilalang yang sedang bermekaran. Keceriaan mereka nampak begitu nyata.

Tiba-tiba aku merasakan sakit yang amat sangat. Mulai dari ujung jari kakiku, lalu merambat naik ke ulu hati, terus naik, argh!!! Aku tidak tahan lagi, ketika rasa sakit itu sampai ke leherku, aku tercekik!

“Tak ada yang sempurna di dunia ini, yang ada hanyalah fatamorgana yang menghembus dan menguap bagai kabut kemudian lambat laun akan musnah.” kata Kijang bersayap dengan suara yang sangat bijak, sesaat setelah ia merebahkan tubuhnya di atas hamparan awan yang sangat lembut. Tatapan matanya mengikuti arah pandanganku. Kemudian balik menatap lembut ke dalam pupil mataku dan menembus ke satu ruang hatiku yang paling dalam.

“Kenapa kamu membawaku kesini? apakah kamu memang sengaja ingin membuat hatiku sakit lagi?” tanyaku setelah berhasil meredakan gejolak yang tiba-tiba menguasai hatiku lagi.

“Sudah satu purnama lebih aku melihatmu terpuruk seperti ini, menyesali sesuatu yang sebetulnya sama sekali tidak pantas untuk kamu sesali. Lihat mereka! Mereka nampak sangat ceria, apakah kebahagiaan seperti itu yang kamu tangisi?” tanyanya kemudian dengan suara yang terdengar sangat lembut.

“Tapi aku masih mencintai dia. Yang terjadi di antara kami sebetulnya hanya merupakan kesalah pahaman. Aku sama sekali tidak pernah berniat untuk meninggalkannya. Aku hanya memberinya sedikit ruang agar dia bisa merasakan keindahan yang lain selain bersamaku.” Ucapku lirih, menyesali kekacauan yang telah terjadi yang pada akhirnya menjadi tidak terkendali.

“Sudahlah! Tak usah kamu sesali lagi. Sudah tidak ada gunanya kamu bersedih. Toh kamu sudah melihat sendiri, saat ini orang yang kamu cintai sudah menemukan kebahagiannya. Menyesali cinta yang memang sudah enggan tinggal, laksana menghisap madu di ujung pedang. Kamu tidak akan pernah mendapatkan apapun dari sana, selain kesedihan serta rasa perih yang terus keluar dari luka yang sengaja kamu biarkan meradang.”

Sesaat aku tertegun mendengar kalimat pencerahan yang mengalirkan satu rasa hangat jauh ke lubuk hatiku. Dari sorot mata bening “Malaikat Penghiburku” ini, tiba-tiba aku melihat ada seberkas sinar putih menembus mataku, sinar itu sinar terputih dan terhangat yang pernah aku lihat dan aku rasakan selama aku hidup.

Perlahan sinar itu menyebar ke seluruh ruang di jiwa, mengusap lembut luka yang selama ini selalu aku pelihara. Seketika rasa hangat memenuhi sekujur tubuhku, menyegarkan hati, pikiran dan AJAIB! Luka yang telah meradang di hatiku selama lebih dari satu purnama, seketika langsung menguap. Berganti dengan satu rasa hangat yang kemudian menghadirkan kesadaranku.

“Ya, kamu benar, sobat. Tidak sepantasnya aku bertindak sebodoh ini. Kesedihanku sama sekali tidak beralasan. Aku sudah terlalu lama menutup rapat pintu hatiku hanya untuk dia yang sama sekali tidak pantas untuk aku tunggu. Saat ini sepenuhnya aku sudah sadar, kalau kebahagiaan dia yang sesungguhnya ternyata bukan bersamaku.”

Kijang berbulu keemasan itu, melemparkan senyum terhangatnya. Entah dapat dari mana, tiba-tiba dari balik sayap lembutnya, dia mengeluarkan sebuah mangkuk berisi madu dari bunga yang baru mekar di pinggir hutan yang berada di negeri impian. Madu yang selalu aku impikan dan aku khayalkan, namun tak pernah ada kesempatan untuk sekedar mengecapnya walau hanya setitik. Saat ini Kijang “Malaikat Penghiburku” ini, memberikan aku madu bukan hanya setitik, tapi semangkuk. Dan itu ia berikan hanya untuk diriku.

“Wow! Apakah aku sedang bermimpi?” tanyaku tidak percaya pada apa yang aku lihat.

“Minumlah! Setelah semua kenyataan pahit yang telah kamu jalani, kamu pantas mendapatkan serta merasakan rasa manisnya. Madu itu akan segera menghapus segala kesedihanmu dan memberikan satu harapan baru, agar langkahmu menjadi lebih ringan untuk melangkah ke depan.”

Dengan tangan gemetar, aku menerima semangkuk madu impian itu. Seketika air mata kebahagiaan menitik dari kedua sudut kelopak mataku. Ku lihat Kijang bersayap lembut tersenyum dan menganggukan kepalanya, seolah memberi kekuatan ketika aku mulai merasakan aliran lengket dan manis yang terkecap hangat di lidah, membasahi tenggorokan yang sudah lama kering kemudian menyegarkan kembali sekujur tubuhku.

Beberapa detik kemudian aku merasa “terlahir kembali”. Penantian yang membuahkan suatu kehampaan seketika langsung sirna, berganti seberkas cahaya sang mentari yang membimbing dan membawaku dari alam penantian menuju keindahan singgasana nirwana.

Pada akhirnya aku bisa merasa lega. Ternyata kebahagiaanku sesungguhnya adalah ketika aku bisa menyaksikan kebahagiaan orang yang aku cintai. Tiba-tiba aku merasa malu pada diri sendiri. Aku malu pada kebodohanku yang telah terlalu lama menutup pintu hatiku demi sebuah harga diri.

Ini adalah hari terindah di dalam hidupku, hari yang penuh dengan kesadaran akan arti sebuah kebahagiaan. Hari dimana aku bisa bangkit setelah tenggelam di lautan ketidak pastian. Hari dimana semangkuk madu kehangatan telah sanggup menjadi penawar luka yang telah lama meradang. Hari dimana seberkas cahaya kasih telah berhasil merajut dan meluruskan kembali gumpalan benang yang sudah terlanjur kusut.

Terima kasih “Malaikat Penghiburku”. Kehadiranmu telah membuka mata hatiku yang sempat buta. Kini akan aku jelang hari “kelahiranku yang kedua” dan aku akan berubah menjadi orang yang berbeda. Meski nirwana ini mungkin hanya untuk sementara, namun rasa manis madu yang telah kamu berikan, akan selalu aku jaga dan aku pelihara. Agar kelak tidak ada lagi kabut yang menyelimuti diri dan menghalangi kehangatan sinar mentari pagi. (Jupiter doc/15Feb08)

***

Ditulis dalam Coretanku | Leave a Comment »

Terlahir Kembali

Ditulis oleh jupiter di/pada Februari 15, 2008

Terlahir Kembali
Oleh : Jupiter

Hari ini bukan hari pertama yang tidak cerah. Sinar matahari yang biasanya dengan bebas menerobos masuk melalui sela-sela dedaunan dan jatuh di semak-semak, seolah tertutup oleh mendung yang menutup dan mencegah sinar hangatnya merasuk ke tubuh.

Aku masih terbaring lemas di mulut sebuah gua, di atas dedaunan yang sudah mengering dan mulai lembab sebagai alas. Tubuhku mulai menggigil ketika dihadapkan pada satu kenyataan, bahwa matahari memang tak selamanya memendarkan sinar. Suatu saat akan ada awan hitam yang menenggelamkan cahaya terangnya. Aku ingin keluar, tapi tenagaku sudah habis terkuras.

Hatiku masih menyimpan benih-bening kasih-sayang, ketika berulang kali telingaku terngiang kembali kalimat-kalimat itu, kalimat penuh cibiran dan cacian yang terselubung melalui sapaan penuh kehangatan. Pada akhirnya akupun menjadi maklum, segala kekacauan ini tak akan pernah bisa diselesaikan dengan jalan damai.

Jeda hening telah menjadi seribu jarum yang menusuk dan menikam pekanya hatiku, yang selalu dibebani oleh perasaan bersalah atas segala kekacauan yang telah terjadi. Beberapa minggu selepas kepergiannya, kelam merambat terasa sangat lambat. Embun yang turun membuat aku malas untuk bergerak. Bandul jam seakan berhenti berdetak. Menghentikan nafsu makanku dan membuat mataku enggan untuk terpejam barang sejenak.

Kini aku telah berhasil memadamkan bara api yang selama satu purnama ini, tak pernah berhenti bergejolak di dada dan membuat panas ruang di kepala. Aku sudah berusaha dengan berbagai cara untuk sekedar menundukan kepala serta membungkukan tubuh di hadapan mereka. Namun segala usahaku menjadi sia-sia, karena mereka ternyata sudah tidak memperdulikan keberadaanku.

Aku menunduk, mencoba menahan sekuat tenaga agar air mata ini tidak mengalir lagi. Dadaku terasa sesak dan setiap tarikan napasku menjadi terasa berat. Namun kali ini aku tidak boleh menitikan air mata lagi, air mataku terlalu berharga untuk sebuah keangkuhan. Aku harus bisa menerimanya dengan lapang, karena segala yang awalnya tidak ada, pada akhirnya akan kembali hilang ditelan sebuah ketiadaan.

***

Aku sedang asik menikmati keindahan hutan dan merenungi segala tamparan kehidupan. Ketika tiba-tiba dari balik semak-semak, muncul seekor kijang yang berbulu seperti emas dengan binar matanya yang sangat cerah, melemparkan senyum yang sangat tulus kepadaku. Senyum yang mengingatkan aku kepada seseorang yang pernah mengisi hatiku beberapa tahun yang silam. Kijang yang ternyata merupakan penjelmaan Marica dalam cerita Rama & Sinta itu perlahan datang menghampiriku.

“Apa yang membuatmu jadi seperti ini?” tanya Kijang Marica, mengejutkan aku yang masih terpana menatap kecantikannya.

Wow!! Kijang cantik ini bisa berbicara? pikirku takjub, tanpa melepaskan tatapan kekagumanku pada segala keindahan yang menyelimuti tubuh cantiknya.

“Lihat dirimu. Sebetulnya kamu sehat, kamu masih bisa melakukan segala hal untuk menjemput impianmu. Kamu tidak seharusnya hanya meratapi nasib seperti ini. Ingat! Waktumu tinggal sedikit, jangan kamu buang percuma seperti ini!” kata kijang itu lagi, mencoba membuka mata hatiku yang telah terlalu lama larut dalam sebuah ruang yang sangat gelap.

“Mereka sudah tidak mau bermain lagi denganku, karena sayapku sudah terlanjur robek.” Jawabku pada akhirnya dengan suara yang sangat lirih.

“Hmm… kamu masih bisa berbagi dengan yang lain. Dunia ini terlalu indah kalau kamu habiskan untuk menyesali sesuatu yang sudah pergi. Bermainlah bersamaku, aku akan menemanimu mencari madu untuk bekal di perjalanan panjangmu nanti.”

Perlahan aku mulai bangun dari tiduran malasku. Sesaat kemudian, aku dan Kijang cantik tersebut berpandangan. Mataku terpana, mulutku menganga, ketika melihat dua pasang sayap putih berbulu lembut menyembul di bagian punggung Kijang yang berbulu keemasan itu.

Dengan lirikan mata lentiknya, Kijang bersayap lembut itu memberikan isyarat agar aku segera naik ke punggungnya. Sesaat aku bingung, pandanganku kabur oleh air mata keharuan yang mulai menggenang di kedua sudut mataku.

“Cepatlah naik! Kita harus segera berangkat ke satu tempat, dimana tersimpan semangkuk obat yang bisa menyembuhkan segala luka di hatimu.”

Melihat sorot mata penuh kehangatan dan dengan berbekal harapan baru, dengan sangat hati-hati akhirnya aku memberanikan diri untuk naik ke atas punggung emasnya. Punggung yang terasa sangat lembut mengalahkan kelembutan peraduanku sendiri.

Beberapa saat kemudian, kami terbang melesat bersama angin, menembus kerimbunan hutan, menuju satu cakrawala kebebasan. Tubuh kami melayang-layang di angkasa. Sampai pada akhirnya kami berhenti di sebuah istana yang terletak di hamparan putihnya awan.

Aku menjejakkan kaki di negeri yang sangat indah ini. Dari balik putihnya awan, sejenak aku mencoba menikmati keindahan yang terpampang di hadapan. Mengagumi gumpalan-gumpalan putih yang menjadi simbol kedamaian. Tiba-tiba pandanganku tertuju pada satu titik yang seketika membuatku susah untuk bernafas.

Nun jauh di bawah sana, di antara kerimbunan hutan pinus yang berubah seperti hamparan permadani hijau. Aku melihat seekor kelinci putih sedang bermain dengan riang gembira bersama seekor rubah berbulu abu, di tengah padang ilalang yang sedang bermekaran. Keceriaan mereka nampak begitu nyata.

Tiba-tiba aku merasakan sakit yang amat sangat. Mulai dari ujung jari kakiku, lalu merambat naik ke ulu hati, terus naik, argh!!! Aku tidak tahan lagi, ketika rasa sakit itu sampai ke leherku, aku tercekik!

“Tak ada yang sempurna di dunia ini, yang ada hanyalah fatamorgana yang menghembus dan menguap bagai kabut kemudian lambat laun akan musnah.” kata Kijang bersayap dengan suara yang sangat bijak, sesaat setelah ia merebahkan tubuhnya di atas hamparan awan yang sangat lembut. Tatapan matanya mengikuti arah pandanganku. Kemudian balik menatap lembut ke dalam pupil mataku dan menembus ke satu ruang hatiku yang paling dalam.

“Kenapa kamu membawaku kesini? apakah kamu memang sengaja ingin membuat hatiku sakit lagi?” tanyaku setelah berhasil meredakan gejolak yang tiba-tiba menguasai hatiku lagi.

“Sudah satu purnama lebih aku melihatmu terpuruk seperti ini, menyesali sesuatu yang sebetulnya sama sekali tidak pantas untuk kamu sesali. Lihat mereka! Mereka nampak sangat ceria, apakah kebahagiaan seperti itu yang kamu tangisi?” tanyanya kemudian dengan suara yang terdengar sangat lembut.

“Tapi aku masih mencintai dia. Yang terjadi di antara kami sebetulnya hanya merupakan kesalah pahaman. Aku sama sekali tidak pernah berniat untuk meninggalkannya. Aku hanya memberinya sedikit ruang agar dia bisa merasakan keindahan yang lain selain bersamaku.” Ucapku lirih, menyesali kekacauan yang telah terjadi yang pada akhirnya menjadi tidak terkendali.

“Sudahlah! Tak usah kamu sesali lagi. Sudah tidak ada gunanya kamu bersedih. Toh kamu sudah melihat sendiri, saat ini orang yang kamu cintai sudah menemukan kebahagiannya. Menyesali cinta yang memang sudah enggan tinggal, laksana menghisap madu di ujung pedang. Kamu tidak akan pernah mendapatkan apapun dari sana, selain kesedihan serta rasa perih yang terus keluar dari luka yang sengaja kamu biarkan meradang.”

Sesaat aku tertegun mendengar kalimat pencerahan yang mengalirkan satu rasa hangat jauh ke lubuk hatiku. Dari sorot mata bening “Malaikat Penghiburku” ini, tiba-tiba aku melihat ada seberkas sinar putih menembus mataku, sinar itu sinar terputih dan terhangat yang pernah aku lihat dan aku rasakan selama aku hidup.

Perlahan sinar itu menyebar ke seluruh ruang di jiwa, mengusap lembut luka yang selama ini selalu aku pelihara. Seketika rasa hangat memenuhi sekujur tubuhku, menyegarkan hati, pikiran dan AJAIB! Luka yang telah meradang di hatiku selama lebih dari satu purnama, seketika langsung menguap. Berganti dengan satu rasa hangat yang kemudian menghadirkan kesadaranku.

“Ya, kamu benar, sobat. Tidak sepantasnya aku bertindak sebodoh ini. Kesedihanku sama sekali tidak beralasan. Aku sudah terlalu lama menutup rapat pintu hatiku hanya untuk dia yang sama sekali tidak pantas untuk aku tunggu. Saat ini sepenuhnya aku sudah sadar, kalau kebahagiaan dia yang sesungguhnya ternyata bukan bersamaku.”

Kijang berbulu keemasan itu, melemparkan senyum terhangatnya. Entah dapat dari mana, tiba-tiba dari balik sayap lembutnya, dia mengeluarkan sebuah mangkuk berisi madu dari bunga yang baru mekar di pinggir hutan yang berada di negeri impian. Madu yang selalu aku impikan dan aku khayalkan, namun tak pernah ada kesempatan untuk sekedar mengecapnya walau hanya setitik. Saat ini Kijang “Malaikat Penghiburku” ini, memberikan aku madu bukan hanya setitik, tapi semangkuk. Dan itu ia berikan hanya untuk diriku.

“Wow! Apakah aku sedang bermimpi?” tanyaku tidak percaya pada apa yang aku lihat.

“Minumlah! Setelah semua kenyataan pahit yang telah kamu jalani, kamu pantas mendapatkan serta merasakan rasa manisnya. Madu itu akan segera menghapus segala kesedihanmu dan memberikan satu harapan baru, agar langkahmu menjadi lebih ringan untuk melangkah ke depan.”

Dengan tangan gemetar, aku menerima semangkuk madu impian itu. Seketika air mata kebahagiaan menitik dari kedua sudut kelopak mataku. Ku lihat Kijang bersayap lembut tersenyum dan menganggukan kepalanya, seolah memberi kekuatan ketika aku mulai merasakan aliran lengket dan manis yang terkecap hangat di lidah, membasahi tenggorokan yang sudah lama kering kemudian menyegarkan kembali sekujur tubuhku.

Beberapa detik kemudian aku merasa “terlahir kembali”. Penantian yang membuahkan suatu kehampaan seketika langsung sirna, berganti seberkas cahaya sang mentari yang membimbing dan membawaku dari alam penantian menuju keindahan singgasana nirwana.

Pada akhirnya aku bisa merasa lega. Ternyata kebahagiaanku sesungguhnya adalah ketika aku bisa menyaksikan kebahagiaan orang yang aku cintai. Tiba-tiba aku merasa malu pada diri sendiri. Aku malu pada kebodohanku yang telah terlalu lama menutup pintu hatiku demi sebuah harga diri.

Ini adalah hari terindah di dalam hidupku, hari yang penuh dengan kesadaran akan arti sebuah kebahagiaan. Hari dimana aku bisa bangkit setelah tenggelam di lautan ketidak pastian. Hari dimana semangkuk madu kehangatan telah sanggup menjadi penawar luka yang telah lama meradang. Hari dimana seberkas cahaya kasih telah berhasil merajut dan meluruskan kembali gumpalan benang yang sudah terlanjur kusut.

Terima kasih “Malaikat Penghiburku”. Kehadiranmu telah membuka mata hatiku yang sempat buta. Kini akan aku jelang hari “kelahiranku yang kedua” dan aku akan berubah menjadi orang yang berbeda. Meski nirwana ini mungkin hanya untuk sementara, namun rasa manis madu yang telah kamu berikan, akan selalu aku jaga dan aku pelihara. Agar kelak tidak ada lagi kabut yang menyelimuti diri dan menghalangi kehangatan sinar mentari pagi. (Jupiter doc/15Feb08)

***

Ditulis dalam Coretanku | Leave a Comment »

Selamat Hari Kasih Sayang

Ditulis oleh jupiter di/pada Februari 14, 2008

Selamat Hari Kasih Sayang
Oleh : Jupiter

Sore itu aku duduk seorang diri di atas genteng. Menikmati garis batas horizon yang membentang tegas, antara batas langit dan bumi yang memancar eksotik oleh keindahan maha karya sunset. Memandang bagaimana ruang dan waktu bersekutu, menjelmakan keindahan alam di bening mataku.

Bola matahari yang berwarna merah perlahan mulai tenggelam dan menghilang pada lengkung langit barat, meninggalkan warna keemasan senja yang perlahan memudar. Seperti mata yang lelah memandang dunia. Seketika langit mulai menghitam bersama datangnya “Penguasa Malam”.

Aku masih duduk terdiam di atas genteng, membayangkan kehidupan yang kelak akan aku jelang, merasakan hembusan angin yang mulai lembab dan basah. Tubuhku terhempas pada samudera kepasrahan. Aku terlonjak kaget, ketika seekor kelelawar menukik tajam di hadapan. Sayap lebarnya menggelepar layaknya seekor ayam yang hendak disembelih di tempat penjagalan.

Tanganku gemetar ketika mencoba menggapai tubuh tak berdaya kelelawar, di bagian bawah genteng. Benarkah ini seekor kelelawar? Atau mungkin hanya kelelawar jadi-jadian?

Ragu, perlahan ku angkat tubuh kelelawar. Matanya melotot tajam, tubuhnya meronta dari genggaman. Kelelawar malang itu berusaha untuk melawan, sepertinya dia enggan menerima belas kasihanku. Namun aku tetap bertahan untuk menolong kelelawar yang sedang terjebak nasib sial.

Ketika kepak rontaannya mulai melemah, kulihat ada luka di sayap lebarnya. Luka yang menebarkan bau amis darah. Luka yang seketika mengingatkan aku pada satu peristiwa, satu purnama kebelakang. Seketika aku merasa ada mata pedang yang menghunjam dadaku. Seperti kelelawar inilah, keadaanku dulu. Terluka di salah satu bagian sayap lebarku akibat sabetan pedang penguasa malam.

Dulu setiap malam aku menjelma menjadi setangkai bunga ilalang berwarna kuning yang hampir mengering. Duduk terdiam di atas genteng sambil menebarkan bunga-bunga kerinduan yang menunggu untuk diterbangkan oleh angin. Bunga-bunga rindu itu tumbuh dan berkembang dalam ketiadaan, tercampak dalam keterasingan, terbang melayang tanpa pernah tahu arah tujuan.

Dulu aku selalu menjerit lirih setiap senja menjelang. Tak berdaya melawan keadaan dengan luka yang terus meradang.

Pada satu kesempatan diantara temaram cahaya rembulan. Sebaris tanya hinggap di kepala; Benarkah aku terlahir dan tumbuh dari belai kasih dan sayang? Sebaris tanya ini selalu terlontar kemudian kembali terserap ke dalam diri. Aku tak pernah punya keberanian untuk menanyakannya kepada bunda.

Terkadang aku menyesali sebuah proses kelahiran yang telah menumbuhkan perbedaan. Perbedaan yang tidak pernah disadari oleh orang-orang di sekitarku. Perbedaan yang selalu aku coba tekan dan aku padamkan, karena terlalu takut melanggar aturan. Perbedaan yang pada akhirnya mengurungku di dalam dunia khayalan, yang selalu sanggup menerbangkan anganku jauh ke negeri impian. Negeri para bidadari yang penuh kelembutan.

Aku terlena dalam pesona kecantikan yang tersebar. Bunga-bunga yang tumbuh dan berkembang di negeri impian ini sungguh membuat mataku enggan terpejam. Warna-warni bunga mawar yang berpadu dengan keindahan alam semakin menambah suasana teduh. Rasa lelah setelah mengarungi berbagai ujian kehidupan seolah menguap, berganti larva pijar yang bergolak di dalam damainya jiwaku.

Aku masih terkagum-kagum memandang takjup segala keindahan yang terpampang, ketika seorang bidadari tersenyum dan menghampiriku. Jemari lentiknya mengulurkan setangkai bunga mawar yang belum mekar.

“Ini untukmu, rawatlah mawar ini agar kelak dapat mengharumkan seluruh ruang di hatimu,” ucapnya lembut di telingaku.

Sesaat aku tertegun, menikmati senyum yang terlihat begitu tulus serta sorot mata lentiknya yang menebarkan rasa hangat di dadaku. Menerbangkan anganku jauh meninggalkan tubuh ilalangku yang mulai terkulai layu.

“Indah sekali mawar ini! Benarkah ini untukku?” tanyaku tak percaya sambil menatap takjub mawar merah cantik yang sudah berpindah ke dalam genggaman tanganku.

Bidadari cantik itu tersenyum dan menganggukan kepalanya dengan sangat anggun. Kemudian perlahan terbang kembali, meninggalkan aku yang masih tertegun tidak percaya pada segala keajaiban yang menyapa.

Selang beberapa minggu kemudian, bunga mawar itu mulai bertunas. Kuncup-kuncupnya mulai bermekaran, menebarkan bau harum yang semerbak dan memenuhi segenap ruang di hatiku. Kelopak-kelopak mawar merahnya begitu anggun bergoyang dan menggodaku dalam remang cahaya petang. Untuk kesekian kalinya, aku kembali terlena. Tubuhku ringan melayang dan enggan untuk kembali pulang.

Sampai pada suatu pagi, tanpa sengaja aku menggengam tangkainya terlalu kuat. Seketika duri yang menyelimuti kecantikannya melukai tanganku, menggoreskan luka memanjang di hatiku. Beberapa detik kemudian rasa perih mulai merebak ke seluruh ruang di jiwaku. Bau amis darah yang selanjutnya menutupi keharuman bunga mawar mulai mengaburkan pikiran jernihku. Tanpa berpikir panjang lagi, aku langsung mencampakan bunga mawar itu.

Seketika kesadaran memenuhi ruang di jiwaku. Keindahan dunia bidadari mulai mengabur berganti hamparan padang ilalang yang penuh dengan bebatuan cadas yang membentang.

Aku harus segera pulang! Gumanku ditengah kesakitan.

Negeri bidadari ini tidak pernah benar-benar ada. Negeri indah ini hanyalah buah dari khayalan serta imajinasiku semata. Aku harus segera kembali ke dunia nyata! Gumanku lagi sambil beranjak terbang, meninggalkan segala keindahan semu yang terhampar di negeri impian.

Selanjutnya aku mulai membenci bunga mawar, dia memang selalu terlihat cantik dan menggoda. Namun duri yang membalut tangkainya selalu membuat hatiku terluka.

Dalam perjalanan pulang, darah yang mengalir di hatiku perlahan mulai mengering. Bau amis yang tersebarpun mulai menguap. Kini aku sudah jauh terbang meninggalkan bunga mawar yang tertinggal di belakang. Namun ternyata keharumannya masih tersisa dan tetap bertahan dalam satu ruang yang sangat jauh di lubuk hatiku.

Pada dasarnya aku tidak pernah sudi bersahabat dengan setan-setan penyebar kebencian, dan aku sudah terlalu letih untuk melawan keangkuhan yang selalu bersarang di dalam diri. Keharuman bunga mawar ini akan aku simpan sebagai kenangan yang tak akan pernah aku lupakan.

Pagi mulai menjelang, ketika aku mengobati luka pada sayap lebar kelelawar yang malang. Sesaat aku melihat sorot matanya memancarkan binar keharuan. Aku tersenyum dan membisikan sebaris ucapan tulus dari lubuk hatiku yang selalu lekat dengan sunyi;

“Aku akan merawatmu dengan aroma bunga mawar yang masih tertinggal. Selamat Hari Kasih Sayang. Semoga kesehatan, keselamatan serta kebahagian selalu menyertai malam-malammu ke depan.” (Jupiter doc/14Feb0 8)

***

Ditulis dalam Coretanku | Leave a Comment »

Selamat Hari Kasih Sayang

Ditulis oleh jupiter di/pada Februari 13, 2008

Selamat Hari Kasih Sayang
Oleh : Jupiter

Sore itu aku duduk seorang diri di atas genteng. Menikmati garis batas horizon yang membentang tegas, antara batas langit dan bumi yang memancar eksotik oleh keindahan maha karya sunset. Memandang bagaimana ruang dan waktu bersekutu, menjelmakan keindahan alam di bening mataku.

Bola matahari yang berwarna merah perlahan mulai tenggelam dan menghilang pada lengkung langit barat, meninggalkan warna keemasan senja yang perlahan memudar. Seperti mata yang lelah memandang dunia. Seketika langit mulai menghitam bersama datangnya “Penguasa Malam”.

Aku masih duduk terdiam di atas genteng, membayangkan kehidupan yang kelak akan aku jelang, merasakan hembusan angin yang mulai lembab dan basah. Tubuhku terhempas pada samudera kepasrahan. Aku terlonjak kaget, ketika seekor kelelawar menukik tajam di hadapan. Sayap lebarnya menggelepar layaknya seekor ayam yang hendak disembelih di tempat penjagalan.

Tanganku gemetar ketika mencoba menggapai tubuh tak berdaya kelelawar, di bagian bawah genteng. Benarkah ini seekor kelelawar? Atau mungkin hanya kelelawar jadi-jadian?

Ragu, perlahan ku angkat tubuh kelelawar. Matanya melotot tajam, tubuhnya meronta dari genggaman. Kelelawar malang itu berusaha untuk melawan, sepertinya dia enggan menerima belas kasihanku. Namun aku tetap bertahan untuk menolong kelelawar yang sedang terjebak nasib sial.

Ketika kepak rontaannya mulai melemah, kulihat ada luka di sayap lebarnya. Luka yang menebarkan bau amis darah. Luka yang seketika mengingatkan aku pada satu peristiwa, satu purnama kebelakang. Seketika aku merasa ada mata pedang yang menghunjam dadaku. Seperti kelelawar inilah, keadaanku dulu. Terluka di salah satu bagian sayap lebarku akibat sabetan pedang penguasa malam.

Dulu setiap malam aku menjelma menjadi setangkai bunga ilalang berwarna kuning yang hampir mengering. Duduk terdiam di atas genteng sambil menebarkan bunga-bunga kerinduan yang menunggu untuk diterbangkan oleh angin. Bunga-bunga rindu itu tumbuh dan berkembang dalam ketiadaan, tercampak dalam keterasingan, terbang melayang tanpa pernah tahu arah tujuan.

Dulu aku selalu menjerit lirih setiap senja menjelang. Tak berdaya melawan keadaan dengan luka yang terus meradang.

Pada satu kesempatan diantara temaram cahaya rembulan. Sebaris tanya hinggap di kepala; Benarkah aku terlahir dan tumbuh dari belai kasih dan sayang? Sebaris tanya ini selalu terlontar kemudian kembali terserap ke dalam diri. Aku tak pernah punya keberanian untuk menanyakannya kepada bunda.

Terkadang aku menyesali sebuah proses kelahiran yang telah menumbuhkan perbedaan. Perbedaan yang tidak pernah disadari oleh orang-orang di sekitarku. Perbedaan yang selalu aku coba tekan dan aku padamkan, karena terlalu takut melanggar aturan. Perbedaan yang pada akhirnya mengurungku di dalam dunia khayalan, yang selalu sanggup menerbangkan anganku jauh ke negeri impian. Negeri para bidadari yang penuh kelembutan.

Aku terlena dalam pesona kecantikan yang tersebar. Bunga-bunga yang tumbuh dan berkembang di negeri impian ini sungguh membuat mataku enggan terpejam. Warna-warni bunga mawar yang berpadu dengan keindahan alam semakin menambah suasana teduh. Rasa lelah setelah mengarungi berbagai ujian kehidupan seolah menguap, berganti larva pijar yang bergolak di dalam damainya jiwaku.

Aku masih terkagum-kagum memandang takjup segala keindahan yang terpampang, ketika seorang bidadari tersenyum dan menghampiriku. Jemari lentiknya mengulurkan setangkai bunga mawar yang belum mekar.

“Ini untukmu, rawatlah mawar ini agar kelak dapat mengharumkan seluruh ruang di hatimu,” ucapnya lembut di telingaku.

Sesaat aku tertegun, menikmati senyum yang terlihat begitu tulus serta sorot mata lentiknya yang menebarkan rasa hangat di dadaku. Menerbangkan anganku jauh meninggalkan tubuh ilalangku yang mulai terkulai layu.

“Indah sekali mawar ini! Benarkah ini untukku?” tanyaku tak percaya sambil menatap takjub mawar merah cantik yang sudah berpindah ke dalam genggaman tanganku.

Bidadari cantik itu tersenyum dan menganggukan kepalanya dengan sangat anggun. Kemudian perlahan terbang kembali, meninggalkan aku yang masih tertegun tidak percaya pada segala keajaiban yang menyapa.

Selang beberapa minggu kemudian, bunga mawar itu mulai bertunas. Kuncup-kuncupnya mulai bermekaran, menebarkan bau harum yang semerbak dan memenuhi segenap ruang di hatiku. Kelopak-kelopak mawar merahnya begitu anggun bergoyang dan menggodaku dalam remang cahaya petang. Untuk kesekian kalinya, aku kembali terlena. Tubuhku ringan melayang dan enggan untuk kembali pulang.

Sampai pada suatu pagi, tanpa sengaja aku menggengam tangkainya terlalu kuat. Seketika duri yang menyelimuti kecantikannya melukai tanganku, menggoreskan luka memanjang di hatiku. Beberapa detik kemudian rasa perih mulai merebak ke seluruh ruang di jiwaku. Bau amis darah yang selanjutnya menutupi keharuman bunga mawar mulai mengaburkan pikiran jernihku. Tanpa berpikir panjang lagi, aku langsung mencampakan bunga mawar itu.

Seketika kesadaran memenuhi ruang di jiwaku. Keindahan dunia bidadari mulai mengabur berganti hamparan padang ilalang yang penuh dengan bebatuan cadas yang membentang.

Aku harus segera pulang! Gumanku ditengah kesakitan.

Negeri bidadari ini tidak pernah benar-benar ada. Negeri indah ini hanyalah buah dari khayalan serta imajinasiku semata. Aku harus segera kembali ke dunia nyata! Gumanku lagi sambil beranjak terbang, meninggalkan segala keindahan semu yang terhampar di negeri impian.

Selanjutnya aku mulai membenci bunga mawar, dia memang selalu terlihat cantik dan menggoda. Namun duri yang membalut tangkainya selalu membuat hatiku terluka.

Dalam perjalanan pulang, darah yang mengalir di hatiku perlahan mulai mengering. Bau amis yang tersebarpun mulai menguap. Kini aku sudah jauh terbang meninggalkan bunga mawar yang tertinggal di belakang. Namun ternyata keharumannya masih tersisa dan tetap bertahan dalam satu ruang yang sangat jauh di lubuk hatiku.

Pada dasarnya aku tidak pernah sudi bersahabat dengan setan-setan penyebar kebencian, dan aku sudah terlalu letih untuk melawan keangkuhan yang selalu bersarang di dalam diri. Keharuman bunga mawar ini akan aku simpan sebagai kenangan yang tak akan pernah aku lupakan.

Pagi mulai menjelang, ketika aku mengobati luka pada sayap lebar kelelawar yang malang. Sesaat aku melihat sorot matanya memancarkan binar keharuan. Aku tersenyum dan membisikan sebaris ucapan tulus dari lubuk hatiku yang selalu lekat dengan sunyi;

“Aku akan merawatmu dengan aroma bunga mawar yang masih tertinggal. Selamat Hari Kasih Sayang. Semoga kesehatan, keselamatan serta kebahagian selalu menyertai malam-malammu ke depan.” (Jupiter doc/14Feb0 8)

***

Ditulis dalam Coretanku | Leave a Comment »