RENUNGAN JUPITER

Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam, di atas batu yang hitam, di malam yang amat kelam.

Arsip untuk Januari, 2008

Tips & Trik Menulis Feature

Ditulis oleh jupiter di/pada Januari 31, 2008

Apa itu feature? Sebenarnya kalo Anda membaca buku-buku tentang jurnalistik, belum ada rumusan tunggal tentang feature. Masing-masing ahli jurnalistik belum sepakat. Menurut penulis buku Jurnalistik Praktis, Asep Syamsul M Romli, ada beberapa ciri khas dari feature:

1. Tulisan yang mengandung unsur human interest. Tulisan feature memberikan penekanan pada fakta-fakta yang dianggap mampu menggugah emosi—menghibur, memunculkan empati dan keharuan. Dengan kata lain, sebuah feature juga harus mengandung segi human interest atau human touch—menyentuh rasa manusiawi. Karenanya, feature termasuk kategori soft news (berita ringan) yang pemahamannya lebih menggunakan emosi.

2. Tulisan tersebut mengandung unsur sastra. Satu hal penting dalam sebuah feature adalah ia harus mengandung unsur sastra. Feature ditulis dengan cara atau gaya menulis fiksi. Karenanya, tulisan feature mirip dengan sebuah cerpen atau novel—bacaan ringan dan menyenangkan—namun tetap informatif dan faktual. Karenanya pula, seorang penulis feature pada prinsipnya adalah seorang yang sedang bercerita.

Bagaimana trik atau cara menulis feature?

Sebetulnya hampir sama dengan teknik menulis artikel lainnya, hanya saja dalam menulis feature kita dituntut untuk lebih ‘menyentuh’ dan memberikan nuansa lain dari sekadar sebuah berita. Itu sebabnya, feature bisa berfungsi sebagai penjelasan atau tambahan untuk berita yang sudah disiarkan sebelumnya, memberi latar belakang suatu peristiwa, menyentuh perasaan dan mengharukan, menghidangkan informasi dengan menghibur, juga bisa mengungkap sesuatu yang belum tersiar sebagai berita.

Yang perlu mendapat perhatian dalam penulisan feature ini, adalah lead yang menarik. Nah, lead dalam feature inilah yang sepertinya penting, meski bukan pokok memang. Bahkan jangan lupa, selain lead, kita juga harus membuat tubuh dan endingnya dari tulisan tersebut. Sangat boleh jadi ‘ending’ sebuah feature sama pentingnya dengan lead. Jadi rasa-rasanya harus bisa menarik dan menggoda pembaca. Misalnya memberikan kesimpulan atau mungkin ada ‘celetukan’ atau sindiran yang menggoda pembaca. Di sinilah editor biasanya paling pusing untuk memotong tulisan jenis feature, nggak gampang lho. Sama sulitnya dengan ‘mengobrak-abrik’ naskah cerpen. Kenapa? Karena semua bagian dalam feature itu penting. Itu saja.

Nah, harus diakui bahwa yang terpenting dalam pembuatan tulisan berjenis feature ini adalah lead. Kekuatannya ada di sana. Lead ibarat pembuka jalan. Jadi upayakan benar-benar menarik dan mengundang rasa penasaran pembaca untuk terus membaca. Sebab, gagal dalam menuliskan lead pembaca bisa ogah meneruskan membaca. Gagal berarti kehilangan daya pikat. Itu sebabnya, penulis feature harus pintar betul menggunakan kalimatnya. Bahasa rapi, terjaga, bagus dan kelihaian dalam cara memancing itu haruslah jitu. Memang sih, tak ada teori yang baku tentang menulis lead sebuah feature. Semuanya berdasarkan pengalaman dan juga perkembangan.

Mencari Lead Menarik untuk Penulisan Feature

Lead, alias teras berita adalah sebuah tulisan pembuka yang menjadi titik penting bagi pembaca. Lead yang menarik, sangat boleh jadi akan merangsang pembaca untuk terus membaca isi berita atau artikel yang kita buat. Kalo lead-nya kurang menarik, pembaca akan mengucapkan “wassalam” saja. Mereka merasa cukup membaca sebatas judul, atau satu kalimat atau alinea di depan yang tak menarik itu. Jadi, perlu mendapat perhatian juga supaya tulisan yang kita buat mampu menggoda pembaca untuk melanjutkan bacaannya. Yup, boleh dibilang selain judul, lead adalah jajanan yang ‘wajib’ memikat hati pembaca. Itu sebabnya, lead menjadi begitu penting, meski tidak pokok tentunya.
Dibanding berita lurus, tulisan jenis feature konon kabarnya paling banyak disukai wartawan untuk menulisnya. Untuk membuat lead bagi jenis tulisan feature, ada beberapa contoh lead yang biasa digunakan banyak wartawan (saya sarikan dari berbagai sumber. Ini juga pernah dimuat di buku saya: Menjadi Penulis Hebat, Idea Pustaka, 2003):

Lead Ringkasan:
Lead ini hampir mirip dengan berita biasa, bedanya, yang ditulis adalah inti ceritanya. Banyak penulis feature menulis lead gaya ini karena gampang. Misal: Usia tua bukan halangan bagi Bu Maryam untuk tetap bertahan jualan gado-gado di kantin sekolah kita. Ia, dengan semangat tinggi bertekad menghidupi anaknya agar bisa sekolah seperti yang lain. Dan seterusnya…. Pembaca sudah bisa menebak, yang mau ditulis adalah penjual makanan bernama Bu Maryam yang sudah tua.

Lead Bercerita:
Lead ini menciptakan suatu suasana dan membenamkan pembaca seperti ikut jadi tokohnya. Misal: Anak berseragam putih-abu itu menenteng balok kayu. Sorot matanya tajam bagai elang mengincar mangsanya. Sejurus kemudian ia memberi komando untuk menyerang lawannya dari sekolah lain. Tawuran pun tak bisa dihindari lagi. Warga sekitar kejadian, yang kebanyakan ibu-ibu ketakutan menyaksikan drama itu… Pembaca masih bertanya apa yang terjadi. Padahal feature itu bercerita tentang maraknya tawuran pelajar yang selama ini selalu bikin resah. Ini akan mengundang rasa penasaran pembaca untuk terus membaca tulisan tersebut.

Lead Deskriptif:
Lead ini menceritakan gambaran kepada pembaca tentang suatu tokoh atau suatu kejadian. Penulis yang hendak menulis profil seseorang, biasanya seneng banget bikin lead kayak begini. Misal: Sesekali wanita tua itu mengelap keringatnya yang mengucur dengan ujung kebayanya, ia terus mengulek bumbu pecel. Sementara anak-anak sekolah sibuk berebutan membeli gorengan di kantin sekolah itu. Meski banyak anak yang suka curang dengan tidak membayar dagangannya, Bu Maryam tak pernah ambil pusing, “Mungkin dia tidak punya uang”, katanya suatu saat….. dst….Pembaca mudah terhanyut oleh lead begini, apalagi penulisnya ingin membuat kisah Bu Maryam yang bak pelangi.

Lead Pertanyaan:
Lead ini menantang rasa ingin tahu pembaca, asal dipergunakan dengan tepat dan pertanyaannya wajar saja. Lead begini sebaiknya satu alinea dan satu kalimat, dan kalimat berikutnya sudah alinea baru. Misal: Untuk apa mereka berjihad ke Irak? Memang ada yang sinis dengan dibukanya pendaftaran relawan untuk berjihad ke Irak, menyusul invasi AS dan sekutunya ke negeri seribu satu malam itu 20 Maret lalu. Bahkan pemerintah pun menanggapi dingin rencana tersebut bahkan ada yang pejabat yang mengatakan “konyol” terhadap rencana tersebut…dst….Pembaca kemudian disuguhi feature tentang rencana relawan yang akan berjihad ke Irak.

Lead Nyentrik:
Lead ini nyentrik, ekstrim, bisa berbentuk puisi atau sepotong kata-kata pendek. Hanya baik jika seluruh cerita bergaya lincah dan hidup cara penyajiannya. Misal:
Hancurkan Amerika!
Tangkap Bush!
Bush Teroris!
Tegakkan Khilafah
Hancurkan demokrasi!
Teriakan itu bersahut-sahutan dari ribuan pendemo di depan Kedubes AS dalam unjuk rasa menentang invasi AS dan sekutunya ke Irak …. dst…. Pembaca akan disuguhi feature tentang tuntutan para pengunjuk rasa tersebut.

Lead Menuding:
Lead ini berusaha berkomunikasi langsung dengan pembaca dan ciri-cirinya adalah ada kata “Anda” atau “Saudara” (bisa juga Kamu). Pembaca sengaja dibawa untuk menjadi bagian cerita, walau pembaca itu tidak terlibat pada persoalan. Misal: Kamu jangan bangga dulu punya HP oke. Meski kemana-mana nenteng ponsel yang fiturnya seabrek, boleh jadi kamu buta tentang teknologi telgam ini dst….

Lead Kutipan:
Lead ini bisa menarik jika kutipannya harus memusatkan diri pada inti cerita berikutnya. Dan tidak klise. Misal: “Saya akan terus berjuang sampai titik darah yang penghabisan. Lebih baik mati daripada menanggung derita karena dijajah Israel,” kata seorang pemuda Palestina dengan lantangnya saat membakar bendera Israel di Tepi Barat dalam sebuah demonstrasi yang digelar ratusan pejuang Palestina itu… dan seterusnya. Pembaca kemudian digiring pada kisah perjuangan rakyat Palestina.

Lead Gabungan:
Ini adalah gabungan dari beberapa jenis lead tadi. Misal: “Saya tak pernah merasa gentar menghadapi serbuan AS dan sekutunya” kata Saddam Husein dalam pidato yang berapi-api itu. Ia tetap tersenyum cerah dan melambai-lambaikan tangannya di hadapan ribuan rakyat Irak di sela-sela pidatonya itu…. Ini gabungan lead kutipan dan deskriptif. Dan lead apa pun bisa digabung-gabungkan.

(Sumber : PenulisLepas.com/Konsultasi Penulisan /O. Solihin/Jupiter doc/Feb08)

Ditulis dalam Tips & Trik | Bertanda: | Leave a Comment »

The Golden Age of Classical Myths – Part. 5

Ditulis oleh jupiter di/pada Januari 31, 2008

Mercury (Hermes) and Iris


Mercury adalah duta dewata, dewa pelindung perdagangan, penggembala, bahkan pencuri, putra Jupiter dari Maia, putri Atlas, dewi padang-padang bunga. Bagaimana kisahnya sampai dia menjadi dewa pelindung pencuri adalah sebagai berikut:

Konon saat berada dalam buaiannya setelah dilahirkan, Mercury telah memikirkan bagaimana mencuri ternak ayahnya yang digembalakan oleh Apollo, dewa terang dan musik, di Pyrrhea.

Niatnya tersebut kemudian memang dilaksanakannya dan sempat membuat Apollo kebingungan mencari ternak yang dipercayakan kepadanya karena Mercury memasang sepatu-sepatu ternak tersebut secara terbalik sehingga berlawanan arah dengan tempatnya menyembunyikan hasil curiannya di Peloponnesus.

Akhirnya Apollo tahu bahwa pencurinya adalah dewa kecil yang baru saja dilahirkan itu. Segera dia membawa Mercury ke hadapan Jupiter dan melaporkan ulahnya kepada Bapa Semesta Alam tersebut. Di hadapan ayahnya Mercury tidak berani menyangkali perbuatannya. Dia menunjukkan tempat persembunyian hasil curiannya kepada Apollo.

Hampir saja Apollo murka ketika mengetahui dirinya telah tertipu oleh seorang bayi yang baru lahir, namun Mercury kemudian memberikan lira ciptaannya kepada Apollo untuk meredakan amarahnya karena dia tahu betapa Apollo mencintai musik. Apollo begitu gembira menerima hadiah tersebut. Amarahnya pada Mercury langsung mereda berganti rasa sayang. Sejak saat itu jarang sekali orang melihat Apollo tanpa lira pemberian Mercury tersebut.

Namun demikian Mercury tidak jera-jeranya melakukan pencurian. Pernah dia mencuri tombak Mars, trisula Neptune, bahkan petir ayahnya. Untung saja Mercury segera mengembalikannya begitu melihat murka ayahnya, kalau tidak tentu dia menjadi sasaran amarah Jupiter.

Meskipun begitu kebiasaan Mercury tersebut tidak selamanya merugikan. Pernah dia menyelamatkan ayahnya yang urat-uratnya dipotong oleh monster Typhoon dengan mencuri dan menyerahkannya kembali pada Jupiter.

Setelah dewasa Mercury diangkat menjadi duta dewata karena kefasihannya berbicara dan bersilat lidah. Apollo memberikan tongkat berujung ular berkepala dua yang disebut caduceus yang menambah kemampuannya tersebut.

Untuk memperlancar tugasnya, para dewa memberinya helm dan sandal bersayap agar dapat bergerak cepat melaksanakan perintah-perintah para dewa. Mercurylah yang bertugas menyampaikan amanat para dewa kepada umat manusia. Dia jugalah yang bertugas menghantar jiwa-jiwa menuju ke Hades.

Bila para dewa mempunyai Mercury sebagai duta, maka para dewi pun memiliki seorang duta, yaitu Iris, dewi pelangi.

Iris adalah putri Thaumas dan Electra dan cucu Terra dan Pontus. Iris menjadi duta para dewi, khususnya Juno, karena memiliki sayap sehingga dapat terbang secepat kilat dan tak seorangpun yang menyadari bahwa Iris telah lewat jika tidak meninggalkan jejak berupa cahaya berwarna-warni di udara.

Konon Iris pulalah yang ditugasi menjaga harta benda dewa-dewi Olympus, sehingga orang sering mengatakan ada guci emas di ujung pelangi. Iris dicintai oleh segenap penghuni Olympus karena dia begitu cermat dalam melaksanakan tugasnya melayani mereka.

Iris dilukiskan sebagai wanita muda jelita berambut keemasan, bermata biru, pipinya berseri bagaikan mahkota bunga mawar merah muda, mengenakan gaun putih serta bersayap, seperti bidadari dalam seni Kristen. (Jupiter doc.)

to be continued…

The Greek names of the classical deities:
Jupiter: Zeus
Juno: Hera
Minerva: Pallas Athena
Mars: Ares
Venus: Aphrodite
Vulcan: Hephaestus
Mercury: Hermes
Diana: Artemis
Latona: Leto
Aesculapius: Asclepius
Meditrina: Epione
Juventus: Ivy/Hebe
Lucina: Eileithyia
Ceres: Demeter
Vesta: Hestia
Neptune: Poseidon
Pluto/Dis: Hades
Proserpine: Persephone/Kore
Mors: Thanatos
Somnus: Hypnos
Morpheus: Oneiros
Cupid: Eros
Hermione: Harmonia
Discordia: Eris
Sol: Helios
Luna: Selene
Aurora: Eos
Lucifer: Phosphor
Vesper: Hesperus
Bacchus: Dionysus
Saturn: Chronos
Cybele: Rhea
Caelus: Uranus
Terra/Tellus: Gaia/Gea
Amor: Agape
Dia: Emera
Justitia: Themis
Pax: Irene
Victoria: Nike
Fortis: Bia
Fury: Eumenides/Erinnies
Parcae/Fata: Moirae
Grace: Charites
Felicitas/Fortuna: Tyche
Ver: Thallo (Tunas)
Aestas: Auxo (Tumbuh)
Autumna: Karpo (Masak)
Hyem: Chionia (Salju)
Aquilo: Boreas
Favonius: Zephyr
Eurus: Argestes
Auster: Notus
Catamite: Ganymede
Hercules: Heracles/Alcides
Arianna: Ariadne

(Sumber:Forum KG/Legenda Dewa&Dewi Yunani/Hansel/Jupiter doc/Feb08)

Ditulis dalam Myth Stories | Bertanda: | Leave a Comment »

Kuda vs Elang

Ditulis oleh jupiter di/pada Januari 29, 2008

Kuda vs Elang
Oleh : Jupiter

Beberapa tahun yang lalu, seorang sahabat pernah iseng memperkenalkan teman barunya kepadaku. Malam itu merupakan malam pesta ulang tahun kekasihnya.

Setelah melewati puncak acara, tiba-tiba dia membisikan sesuatu ke telingaku. Awalnya aku tidak langsung menyetujui rencana gilanya itu. Namun karena dia mengancam akan pergi sendiri, sementara saat itu sudah lewat tengah malam dan dia dalam kondisi setengah mabuk, akhirnya dengan terpaksa aku harus menyetujui ajakannya.

Setelah menyelinap dan mengendap-endap, akhirnya kami berhasil melepaskan diri dari hiruk pikuknya pesta. Dengan semangat 45, sahabatku itu langsung menancap Kawasaki Ninjanya ke satu tempat, kira-kira 15 menit dari tempat pesta.

Di depan salah satu rumah kost, dia berhenti dan kemudian memberikan aba-aba kepadaku kalau kami sudah sampai ke tempat yang tadi dibisikannya. Aku yang masih bingung, hanya diam sambil memperhatikan gerak geriknya memarkirkan Ninja kesayangannya. Selanjutnya dengan gaya super santainya dia mengajakku mendekati salah satu pintu kamar kost.

“Malem non, ini titipan si non tadi!” sapaan seorang bapak tua, tiba-tiba mengejutkan kami berdua.

“O’ya, makasih banyak ya, pak.” jawab sahabatku sambil menerima satu kantong plastik yang disodorkan oleh si bapak tua tadi.

“Kembaliannya ada di dalam kantong ya, non.” Lanjut si bapak sambil menunjuk kantong plastik yang sudah berpindah tangan. Sahabatku mengangguk sambil merogohkan tangannya ke dalam kantong plastik yang sudah berada di tangannya.

“Ini buat nambahin jajan si dul. Makasih banyak ya, pak.” Kata sahabatku sambil menyelipkan lembaran dua puluh ribuan ke tangan bapak tua tadi. Sesaat aku melihat senyum sumringah dari pekatnya bibir si bapak, sebelum dia berlalu dan meninggalkan kami berdua.

“Penjaga kost! tenang aja udah cs, kok!” jelas sahabatku ringan, begitu melihat mimik muka kebingungan di wajahku.

Dari balik saku jaket, dia mengeluarkan anak kunci. Dengan hati-hati diputarnya anak kunci tersebut, “Klik” kemudian dia tersenyum penuh misteri sambil memberikan isyarat kepadaku untuk ikut masuk.

“Kakak? Kok nggak nelpon dulu sih?” serbu seorang gadis, begitu kami berdua masuk ke dalam kamar tersebut. Gadis berkulit putih dengan rambut ikal sepunggung itu terlihat kaget melihat kedatangan kami yang tiba-tiba.

Hmmm… lumayan seksi. Gumamku dalam hati, begitu melihat penampilan gadis berkaos you can see dengan celana pendek street tersebut, sambil melemparkan senyum penuh arti ke arah sahabatku yang tiba-tiba menyikut lenganku genit.

“Ini pesenan kamu, de. kamu belum makan malam, kan?” sahut sahabatku tanpa mengacuhkan teguran si gadis yang mendadak kebangun dari tidurnya itu.

“Ya, belum lah… lama banget, sih? Katanya acaranya cuma bentar, bete tau nungguin kakak, mana telponnya pake acara dimatiin segala lagi. Jahat banget sih, kak!” sahut gadis berusia sekitar dua puluh tahunan itu sambil melancarkan cubitan ke pinggang sahabatku, kesal.

Sepintas saja aku bisa melihat keakraban yang sudah terjalin diantara mereka. Dari kemanjaan si gadis, aku bisa tahu apa yang membuat sahabatku ini nekad kabur dari pesta ulang tahun kekasihnya tadi.

“Hehehe… sorry-sorry, yang penting sekarang kakak kan udah di sini, ayo dimakan tuh satenya, ntar keburu dingin.” kata sahabatku, sambil sibuk mengeluarkan isi kantong plastik yang diterimanya dari penjaga kost tadi.

“O’ya, ini kak dewa yang kakak ceritain kemarin. Dia yang ngebantuin kakak kabur dari pesta tadi.” Lanjut sahabatku sambil mengedipkan mata lentiknya ke arahku yang masih berdiri bingung menyaksikan keakraban mereka.

“Dewa” sapaku ramah, menyambut uluran lembut tangan si calon korban sahabatku ini.

“Linda. Apa khabar, kak? Sorry kamarnya berantakan banget.” Jawab Linda sambil memamerkan senyum lugunya.

Setelah hampir satu jam kami bercanda sambil menyantap ludes sate yang sebelumnya telah dipesan melalui penjaga kost. Akhirnya aku mengingatkan sahabatku kalau kita sebetulnya sedang dalam kondisi buron. Meski dengan berat hati, akhirnya Linda mengijinkan kami untuk kembali ke pesta ultah saingannya tersebut.

“Gila lo, ye! Siapa lagi tuh, dia?” tanyaku ketika kami sudah meluncur pulang.

“Hehehe… gimana menurut pendapat, lo? Cantik kan?” bukannya menjawab pertanyaanku, sahabatku malah memamerkan senyum playbutchnya melalui spion.

“Hmmm… masih cantikan si Dinda kemana-mana, lah.” Sahutku ketus.

“Gw benar-benar gak ngerti ama jalan pikiran, lo. Sebetulnya lo nyari apa lagi, sih?” Si Dinda tuh kurang apa lagi, coba? udah cantik, baik, sayang banget lagi ama, lo.” lanjutku, meluapkan kebingungan pada jiwa petualang sahabatku yang gak pernah ada habisnya itu.

“Iya sih! Tapi you know lah… si Dinda memang punya segalanya. Tapi dia itu udah terlalu jinak, gak ada tantangan lagi buat, gw.” Jawab sahabatku dengan nada yang sama sekali tidak merasa bersalah.

“Dasar raja minyak! Kirain dah sembuh.” Sahutku kesal, sambil melayangkan pukulan ringan ke atas helmnya.

“Kenapa sih, lo gak pernah bisa hidup rukun kayak kita?” tanyaku lagi, menyesali kegemarannya yang tidak pernah jera berpetualang.

“Itulah bedanya lo ama gw! Lo selalu merasa nyaman hanya memakai kacamata kuda. Sementara gw? Gw lebih enjoy pake kacamata elang, bebas menclok sana sini, oy! Huahaha….”

Sepeti biasa, akhirnya tawa kamipun memecah keheningan jalanan ibukota di waktu dini hari. Tawa sepasang sahabat, yang sangat berbeda karakter juga prinsip hidup, tetapi selalu kompak dalam menyimpan segala rahasia yang ada di dalam diri masing-masing. (Jupiter doc./Jan’08)

***

Ditulis dalam Coretanku | 1 Komentar »

Kuda vs Elang

Ditulis oleh jupiter di/pada Januari 29, 2008

Kuda vs Elang
Oleh : Jupiter

Beberapa tahun yang lalu, seorang sahabat pernah iseng memperkenalkan teman barunya kepadaku. Malam itu merupakan malam pesta ulang tahun kekasihnya.

Setelah melewati puncak acara, tiba-tiba dia membisikan sesuatu ke telingaku. Awalnya aku tidak langsung menyetujui rencana gilanya itu. Namun karena dia mengancam akan pergi sendiri, sementara saat itu sudah lewat tengah malam dan dia dalam kondisi setengah mabuk, akhirnya dengan terpaksa aku harus menyetujui ajakannya.

Setelah menyelinap dan mengendap-endap, akhirnya kami berhasil melepaskan diri dari hiruk pikuknya pesta. Dengan semangat 45, sahabatku itu langsung menancap Kawasaki Ninjanya ke satu tempat, kira-kira 15 menit dari tempat pesta.

Di depan salah satu rumah kost, dia berhenti dan kemudian memberikan aba-aba kepadaku kalau kami sudah sampai ke tempat yang tadi dibisikannya. Aku yang masih bingung, hanya diam sambil memperhatikan gerak geriknya memarkirkan Ninja kesayangannya. Selanjutnya dengan gaya super santainya dia mengajakku mendekati salah satu pintu kamar kost.

“Malem non, ini titipan si non tadi!” sapaan seorang bapak tua, tiba-tiba mengejutkan kami berdua.

“O’ya, makasih banyak ya, pak.” jawab sahabatku sambil menerima satu kantong plastik yang disodorkan oleh si bapak tua tadi.

“Kembaliannya ada di dalam kantong ya, non.” Lanjut si bapak sambil menunjuk kantong plastik yang sudah berpindah tangan. Sahabatku mengangguk sambil merogohkan tangannya ke dalam kantong plastik yang sudah berada di tangannya.

“Ini buat nambahin jajan si dul. Makasih banyak ya, pak.” Kata sahabatku sambil menyelipkan lembaran dua puluh ribuan ke tangan bapak tua tadi. Sesaat aku melihat senyum sumringah dari pekatnya bibir si bapak, sebelum dia berlalu dan meninggalkan kami berdua.

“Penjaga kost! tenang aja udah cs, kok!” jelas sahabatku ringan, begitu melihat mimik muka kebingungan di wajahku.

Dari balik saku jaket, dia mengeluarkan anak kunci. Dengan hati-hati diputarnya anak kunci tersebut, “Klik” kemudian dia tersenyum penuh misteri sambil memberikan isyarat kepadaku untuk ikut masuk.

“Kakak? Kok nggak nelpon dulu sih?” serbu seorang gadis, begitu kami berdua masuk ke dalam kamar tersebut. Gadis berkulit putih dengan rambut ikal sepunggung itu terlihat kaget melihat kedatangan kami yang tiba-tiba.

Hmmm… lumayan seksi. Gumamku dalam hati, begitu melihat penampilan gadis berkaos you can see dengan celana pendek street tersebut, sambil melemparkan senyum penuh arti ke arah sahabatku yang tiba-tiba menyikut lenganku genit.

“Ini pesenan kamu, de. kamu belum makan malam, kan?” sahut sahabatku tanpa mengacuhkan teguran si gadis yang mendadak kebangun dari tidurnya itu.

“Ya, belum lah… lama banget, sih? Katanya acaranya cuma bentar, bete tau nungguin kakak, mana telponnya pake acara dimatiin segala lagi. Jahat banget sih, kak!” sahut gadis berusia sekitar dua puluh tahunan itu sambil melancarkan cubitan ke pinggang sahabatku, kesal.

Sepintas saja aku bisa melihat keakraban yang sudah terjalin diantara mereka. Dari kemanjaan si gadis, aku bisa tahu apa yang membuat sahabatku ini nekad kabur dari pesta ulang tahun kekasihnya tadi.

“Hehehe… sorry-sorry, yang penting sekarang kakak kan udah di sini, ayo dimakan tuh satenya, ntar keburu dingin.” kata sahabatku, sambil sibuk mengeluarkan isi kantong plastik yang diterimanya dari penjaga kost tadi.

“O’ya, ini kak dewa yang kakak ceritain kemarin. Dia yang ngebantuin kakak kabur dari pesta tadi.” Lanjut sahabatku sambil mengedipkan mata lentiknya ke arahku yang masih berdiri bingung menyaksikan keakraban mereka.

“Dewa” sapaku ramah, menyambut uluran lembut tangan si calon korban sahabatku ini.

“Linda. Apa khabar, kak? Sorry kamarnya berantakan banget.” Jawab Linda sambil memamerkan senyum lugunya.

Setelah hampir satu jam kami bercanda sambil menyantap ludes sate yang sebelumnya telah dipesan melalui penjaga kost. Akhirnya aku mengingatkan sahabatku kalau kita sebetulnya sedang dalam kondisi buron. Meski dengan berat hati, akhirnya Linda mengijinkan kami untuk kembali ke pesta ultah saingannya tersebut.

“Gila lo, ye! Siapa lagi tuh, dia?” tanyaku ketika kami sudah meluncur pulang.

“Hehehe… gimana menurut pendapat, lo? Cantik kan?” bukannya menjawab pertanyaanku, sahabatku malah memamerkan senyum playbutchnya melalui spion.

“Hmmm… masih cantikan si Dinda kemana-mana, lah.” Sahutku ketus.

“Gw benar-benar gak ngerti ama jalan pikiran, lo. Sebetulnya lo nyari apa lagi, sih?” Si Dinda tuh kurang apa lagi, coba? udah cantik, baik, sayang banget lagi ama, lo.” lanjutku, meluapkan kebingungan pada jiwa petualang sahabatku yang gak pernah ada habisnya itu.

“Iya sih! Tapi you know lah… si Dinda memang punya segalanya. Tapi dia itu udah terlalu jinak, gak ada tantangan lagi buat, gw.” Jawab sahabatku dengan nada yang sama sekali tidak merasa bersalah.

“Dasar raja minyak! Kirain dah sembuh.” Sahutku kesal, sambil melayangkan pukulan ringan ke atas helmnya.

“Kenapa sih, lo gak pernah bisa hidup rukun kayak kita?” tanyaku lagi, menyesali kegemarannya yang tidak pernah jera berpetualang.

“Itulah bedanya lo ama gw! Lo selalu merasa nyaman hanya memakai kacamata kuda. Sementara gw? Gw lebih enjoy pake kacamata elang, bebas menclok sana sini, oy! Huahaha….”

Sepeti biasa, akhirnya tawa kamipun memecah keheningan jalanan ibukota di waktu dini hari. Tawa sepasang sahabat, yang sangat berbeda karakter juga prinsip hidup, tetapi selalu kompak dalam menyimpan segala rahasia yang ada di dalam diri masing-masing. (Jupiter doc./Jan’08)

***

Ditulis dalam Coretanku | 1 Komentar »