RENUNGAN JUPITER

Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam, di atas batu yang hitam, di malam yang amat kelam.

Arsip untuk Desember, 2007

The Golden Age of Classical Myths – Part. 4

Ditulis oleh jupiter di/pada Desember 31, 2007

Apollo and Diana (Artemis)

Apollo dan Diana adalah putra-putri kembar dari Jupiter dan Latona, putri Coeus dan Phoebe. Apollo adalah dewa terang dan musik serta pelindung para gembala dan peramal, sedangkan Diana adalah dewi malam purnama dan perburuan.

Kisah kelahiran Apollo dan Diana adalah sebagai berikut:

Latona yang menjadi korban kecemburuan Juno harus berkelana sampai ke ujung dunia untuk menghindari kejaran monster Python, yang dikirim Juno, dalam keadaan hamil tua. Berbagai tempat yang telah disinggahinya seperti Lesbos, Attica, dan Chios menolak kehadirannya karena takut akan murka Juno.

Sampai akhirnya, tibalah Latona di sebuah pulau terapung yang bernama Delos. Dia kemudian memohon agar diizinkan melahirkan bayinya di pulau tersebut. Begitu Latona selesai mengucapkan permohonannya, Jupiter atau Neptune mengirimkan rantai berlian untuk mengikat pulau tersebut pada dasar samudra. Segera para peri penghuni pulau tersebut membantu persalinan Latona.

Sembilan hari sembilan malam lamanya Latona menderita kesakitan dalam persalinannya. Pada fajar hari kesepuluh lahirlah dua bayi dari rahimnya, Apollo dan Diana. Pada hari ketiga setelah kelahiran mereka, Apollo dan Diana telah tumbuh menjadi pemuda yang cakap dan gadis yang cantik.

Apollo mendatangi Python yang telah mengancam ibunya di Gunung Parnassus kemudian membunuhnya dengan busur dan panah emasnya.

Jupiter gembira menyaksikan keperkasaan putranya. Dia mengangkat Apollo dan Diana ke Olympus dan menjadikan keduanya dewa-dewi penghuni Olympus dengan memberi mereka Ambrosia dan Nectar.

Apollo dilukiskan sebagai pria muda yang tampan berambut keemasan. Dia menjadi dewa terang dan musik serta pelindung para gembala dan peramal. Tempat-tempat yang dianggap suci baginya adalah Delos, tempatnya dilahirkan dan Delphi di mana terdapat orakel yang menyingkap keputusan-keputusan dewata lewat pendeta wanitanya yang disebut pythia atau sibyl. Meskipun begitu kadang-kadang dia sering pergi mengunjungi ibunya yang berdiam di Negeri Hyperborea.

Sebagai dewa yang rupawan, Apollo memiliki banyak kekasih, baik pria (yang terkenal adalah Hyacynthus yang tewas saat berlatih melempar cakram bersama Apollo akibat kecemburuan Favonius yang juga mencintainya, kemudian oleh Apollo tubuhnya diubah menjadi bunga hyacynth) maupun wanita, namun demikian pernah pula dia mengalami kekecewaan ditolak oleh wanita yang dia cintai. Di antara mereka adalah: Daphne, Marpessa, dan Cassandra.

Kisah cinta Apollo pada Daphne yang tak kesampaian adalah sebagai berikut:

Pada suatu hari Apollo sedang berlatih memanah di lereng Gunung Parnassus. Tiba-tiba Cupid, putra Venus, datang dan ikut-ikutan membidikkan panahnya ke sasaran panah Apollo. Apollo menjadi gusar dan mengusirnya. Merasa terhina Cupid kemudian berniat membalas Apollo. Ditunggunya kesempatan untuk mempermainkan Apollo tiba.

Ketika itu Daphne, putri dewa Sungai Peneus, sedang memetik bunga bersama dayang-dayangnya di tempat Apollo berlatih. Melihat hal tersebut Cupid segera membidikkan panah penimbul cintanya pada Apollo yang seketika itu jatuh hati pada Daphne. Sedangkan pada diri Daphne Cupid membidikkan panah penolak cinta, sehingga dia justru ketakutan melihat Apollo.

Daphne berlari menghindari Apollo yang bermaksud mendekatinya. Semakin Apollo berusaha, semakin kencang pula Daphne berlari. Sampai akhirnya, tibalah dia di tepian sungai dan memohon pada ayahnya agar menyembunyikannya dari pandangan Apollo. Peneus kemudian mengubah putrinya menjadi sebatang pohon, yang kini dikenal sebagai pohon laurel atau pohon salam.

Ketika Apollo sampai ke tempat itu, dia tidak menjumpai Daphne. Hanya dijumpainya sebatang pohon laurel berdiri dengan kokoh di tempatnya. Apollo yakin bahwa pohon itu adalah penjelmaan pujaan hatinya yang telah menolak cintanya. Hatinya berduka, namun dia tetap tidak dapat menepis rasa cintanya pada Daphne. Dipetiknya beberapa ranting pohon tersebut dan dirangkai daun-daunnya menjadi mahkota yang kemudian dikenakan di atas kepalanya. Sejak saat itu Apollo selalu tampak mengenakan mahkota dari rangkaian daun laurel untuk mengenang cinta pertama yang gagal diraihnya. Karena Apollo adalah dewa musik, maka penghargaan atas prestasi dalam bidang seni di zaman dahulu, seringkali berupa mahkota dari rangkaian daun laurel.

Apollo mempunyai beberapa orang putra, namun yang paling terkenal adalah Aesculapius, putranya dari Peri Coronis, yang menjadi dewa kedokteran. Konon Aesculapius bahkan mampu membangkitkan orang dari kematian, sehingga Pluto mengadukan hal ini pada Jupiter, karena jumlah jiwa-jiwa di Hades semakin berkurang. Jupiter murka mendengar pengaduan tersebut, sehingga mengirim Aesculapius ke Hades. Namun meski telah berada di Hades, Aesculapius tetap dapat menolong orang-orang yang membutuhkannya. Maka orang memujanya sebagai dewa kedokteran bersama istrinya, Meditrina, dewi pengobatan, dan kedua orang putri mereka, yaitu Hygea, dewi kebersihan, dan Panacea, dewi penyembuhan.

Figur Kristus sebagai Gembala Baik dalam seni Kristen, awalnya diilhami oleh Apollo pelindung para penggembala. Diana, saudari kembar Apollo, dilukiskan sebagai gadis cantik memakai gaun pendek, dan menyandang busur serta panah di punggungnya.

Ketika bersama saudaranya diangkat ke Olympus oleh Jupiter, Diana memohon kepada Jupiter agar diizinkan tetap perawan. Hal tersebut disebabkan karena dia adalah dewi yang sangat angkuh dan keras hati. Dia menganggap tak seorang pria pun yang sepadan dengan dirinya. Meskipun begitu dia menyayangi pemuda Hippolytus, karena pemuda tersebut mencintai kuda dan perburuan sama seperti dirinya.

Sebagai seorang dewi yang angkuh, dia tak pernah membiarkan makhluk fana manapun yang menghina dirinya serta dewa-dewi lainnya tak terhukum. Dialah yang membunuh putra-putra raksasa Aloeus, karena mereka sesumbar akan menculik dirinya. Dialah yang mengutuk Acteon, cucu Raja Cadmus dari Thebes, menjadi rusa, yang kemudian mati dicabik-cabik anjing pemburunya sendiri, hanya karena tanpa sengaja melihatnya mandi. Diana jugalah yang bersama Apollo membunuh putra-putri Ratu Niobe dari Thebes, karena sang ratu telah mengatakan sesuatu yang melukai hati Latona.

Meskipun demikian banyak kota yang disucikan baginya, yang penduduknya memujanya sebagai dewi kesuburan, di antaranya Ephesus (Kisah Para Rasul 19:20-41) dan Tauris.

Dalam perburuannya dia selalu disertai oleh peri-peri jelita sebagai pengiringnya, di antara mereka adalah Hyale, Nephele, Crocale, Echo, dan Callisto. Echo kemudian dikutuknya untuk selalu mengulang kata-kata terakhir yang didengarnya, karena Echo telah membocorkan rahasia pada hewan-hewan di hutan, bahwa Diana akan berburu keesokan harinya. Sedangkan Callisto diusirnya karena didapatinya hamil oleh Jupiter. Hal tersebut menimbulkan murka Juno, sehingga Juno mengutuk Callisto dan putranya, Arcas, menjadi beruang. Kemudian Jupiter menempatkan mereka di angkasa menjadi rasi bintang Ursa Mayor dan Ursa Minor (Beruang Besar dan Beruang Kecil).

Kijang dan beruang adalah hewan favorit Diana. Oleh sebab itu dia pernah berselisih dengan Hercules saat Hercules bermaksud menangkap Kijang Cerinea yang menjadi kesayangannya, serta menghukum penduduk Vavron dengan wabah karena membunuh beruang peliharaannya. (Jupiter doc.)

to be continued…

The Greek names of the classical deities:
Jupiter: Zeus
Juno: Hera
Minerva: Pallas Athena
Mars: Ares
Venus: Aphrodite
Vulcan: Hephaestus
Mercury: Hermes
Diana: Artemis
Latona: Leto
Aesculapius: Asclepius
Meditrina: Epione
Juventus: Ivy/Hebe
Lucina: Eileithyia
Ceres: Demeter
Vesta: Hestia
Neptune: Poseidon
Pluto/Dis: Hades
Proserpine: Persephone/Kore
Mors: Thanatos
Somnus: Hypnos
Morpheus: Oneiros
Cupid: Eros
Hermione: Harmonia
Discordia: Eris
Sol: Helios
Luna: Selene
Aurora: Eos
Lucifer: Phosphor
Vesper: Hesperus
Bacchus: Dionysus
Saturn: Chronos
Cybele: Rhea
Caelus: Uranus
Terra/Tellus: Gaia/Gea
Amor: Agape
Dia: Emera
Justitia: Themis
Pax: Irene
Victoria: Nike
Fortis: Bia
Fury: Eumenides/Erinnies
Parcae/Fata: Moirae
Grace: Charites
Felicitas/Fortuna: Tyche
Ver: Thallo (Tunas)
Aestas: Auxo (Tumbuh)
Autumna: Karpo (Masak)
Hyem: Chionia (Salju)
Aquilo: Boreas
Favonius: Zephyr
Eurus: Argestes
Auster: Notus
Catamite: Ganymede
Hercules: Heracles/Alcides
Arianna: Ariadne

(Sumber:Forum KG/Legenda Dewa&Dewi Yunani/Hansel/Jupiter doc/Jan/08)

Ditulis dalam Myth Stories | Bertanda: | Leave a Comment »

Kisah Seekor Anak Elang – Kau Tak Akan Tahu!

Ditulis oleh jupiter di/pada Desember 31, 2007

Kau Tak Akan Tahu!

Alkisah di suatu negeri burung, tinggallah bermacam-macam keluarga burung. Mulai dari yang kecil hingga yang besar. Mulai dari yang bersuara lembut hingga yang bersuara menggelegar. Mereka tinggal di suatu pulau nun jauh di balik bukit pegunungan.

Sebenarnya selain jenis burung masih ada hewan lain yang hidup di sana. Namun sesuai namanya negeri burung, yang berkuasa dari kelompok burung. Semua jenis burung ganas, seperti, burung pemakan bangkai, burung Kondor, burung elang dan rajawali adalah para penjaga yang bertugas melindungi dan menjaga keselamatan penghung negeri burung.

Burung-burung kecil bersuara merdu, bertugas sebagai penghibur. Kicau mereka selalu terdengar sepanjang hari, selaras dengan desau angin dan gesekan daun. Burung-burung berbulu warna warni, pemberi keindahan.

Mereka bertugas bekeliling negri melebarkan sayapnya, agar warna-warni bulunya terlihat semua penghuni. Keindahan warnanya menimbulkan kegembiraan. Dan rasa gembira bisa menular bagai virus, sehingga semua penghuni merasa senang.

Pada suatu ketika, seekor induk elang tengah mengerami telur-telurnya. Setiap pagi elang jantan datang membawa makanan untuk induk elang. Akhirnya, di satu pagi musim dingin telur-telur mulai menetas. Ada 3 anak elang yang nampak kuat berdiri. Dua anak elang hanya mampu mengeluarkan kepalanya dari cangkang telur harus berakhir dalam paruh sang ayah.

Dengan tangkas, elang jantan mengoyak cangkang telur lalu mematuk-matuk calon anak yang tak jadi. Perlahan-lahan sang induk memberikan potongan-potongan tubuh anaknya ke dalam paruh mungil anak-anak elang. Kejam…? Ini hanya masalah kepraktisan. Untuk apa terbang dan mencari makan jauh-jauh jika ada daging bangkai di dalam sarang. Sebagai hewan, elang hanya mempunyai naluri dan akal tanpa nurani. Inilah yang membedakan manusia dan hewan.

Waktu berjalan terus, hari berganti hari. Anak-anak elang yang berbentuk jelek karena tak berbulu, kini mulai menampakkan keasliannya. Bulu-bulu halus mulai menutupi daging di tubuh masing-masing. Kaki kecil anak-anak elang sudah mampu berdiri tegak. Walau kedua sayapnya belum tumbuh sempurna.

Induk elang dan elang jantan, bergantian menjaga sarang. Memastikan tak ada ular yang mengincar anak-anak elang dan memastikan anak-anak elang tak jatuh dari sarang yang berada di ketinggian pohon.

Suatu pagi, saat induk elang akan mencari makan dan bergantian dengan elang jantan menjaga sarang. Salah seekor anak elang bertanya:

”Kapankah aku bisa terbang seperti ayah dan ibu?”

Induk elang dan elang jantan tersenyum, bertukar pandang lalu elang jantan berkata: ”Waktunya akan tiba, anakku. Jadi sebelum waktu itu tiba, makanlah yang banyak dan pastikan tubuhmu sehat serta kuat”. Usai sang elang jantan berkata, induk elang merentangkan sayapnya lalu mengepakkan kuat-kuat.

Hanya dalam hitungan yang cepat, induk elang tampak menjauhi sarang. Terlihat bagai sebilah papan berawarna coklat melayang di awan. Anak-anak elang, masuk di bawah sayap elang jantan. Mencari kehangatan kasih sang jantan.

Waktu berjalan terus, musim telah berganti dari musim dingin ke musim semi. Seluruh permukaan pulau mulai menampakan warna-warni dedaunan. Bahkan sinar mentari memberi sentuhan warna yang indah.

Anak-anak elang pun sudah semakin besar dan sayapnya mulai ditumbuhi bulu-bulu kasar. Suatu ketika seeor anak elang berdiri di tepi sarang, ketika ada angin kencang, kakinya tak kuat mencengkram tepi sarang sehingga ia meluncur ke bawah. Induk elang langsung merentangkan sayang dan mendekati sang anak seraya berkata: ”Rentangkan dan kepakan sayapmu kuat-kuat!”

Tapi rasa takut dan panik menguasai si anak elang karenanya ia tak mendengar apa yang dikatakan ibunya. Elang jantan menukik cepat dari jauh dan membiarkan sayapnya terentang tepat sebelum si anak mendarat di tanah. Sayap elang jantan menjadi alas pendaratan darurat si anak elang.

Si anak elang yang masih diliputi rasa panik dan takut tak mampu bergerak. Tubuhnya bergetar hebat. Induk elang, dengan kasih memeluk sang anak. Menyelipkan di bawah sayapnya dan memberikan kehangatan. Sesudah si anak tenang dan tak gemetar, induk elang dan elang jantan membawa si anak kembali ke sarang.

Peristiwa itu menimbulkan rasa trauma pada si anak elang. Jangankan berlatih terbang dengan merentangkan dan mengepakkan sayap. Berdiri di tepi sarang saja ia sangat takut. Kedua saudaranya sudah mulai terbang dalam jarak pendek. Hal pertama yang diajarkan induk dan elang dan elang jantan adalah berusaha agar tidak mendarat keras di dataran.

Lama berselang setelah melihat e dua saudaranya berlatih, si elang yang pernah jatuh bertanya pada ibunya:

”Adakah jaminan aku tidak akan jatuh lagi?”

”Selama aku dan ayahmu ada, kamilah jaminanmu!” jawab si induk elang dengan penuh kasih.

”Tapi aku takut!’ ujar si anak

”Kami tahu, karenanya kami ta memaksa.” Jawab si induk elang lagi.

”Lalu apa yang harus kulakukan agar aku beraai?” tanya si anak

”Untuk berani, kamu harus menghilangkan rasa takut!”

”Bagaimana caranya?”

”Percayalah pada kami!” Ujar elang jantan yang tiba-tiba sudah berada di tepi sarang.

Si anak diam dan hanya memandang jauh ke tengah lautan. Tiba-tiba si anak elang bertanya lagi.

”Menurut ibu dan ayah, apakah aku mampu terbang keseberang lautan?”

Dengan tenang si elang jantan berkata: ”Anakku kalau kau tak pernah merentangkan dan mengepakkan sayapmu, kami tidak pernah tahu, apakah kamu mampu atau tidak. Karena yang tahu hanya dirimu sendiri!”

Lalu si induk elang menambahkan: ”Mulailah dari sekarang, karena langkah kecilmu akan menjadi awal perubahan hidupmu. Semua perubahan di mulai dari langkah awal, anakku!”

Si anak elang diam tertegun, memandang takjub pada induk elang dan elang jantan. Kini ia sadar, tak ada yang tahu kemampuan dirinya selain dirinya sendiri. Kedua orang tuanya hanya memberikan jaminan mereka ada dan selalu ada, jika si anak memerlukan.

Didorong rasa bahagia akan cinta kasih orang tuanya, si elang kecil berjanji akan berlatih dan mencoba. Ketika akhirnya ia menggantikan elang jantan menjadi pemimpin keselamatan para penghuni negeri burung, maka tahulah ia, bahwa kesuksesan yang diraihnya adalah di mulai saat tekad terbangun untuk melangkah. Sukses itu tak pernah ada kalau hanya sebatas tekad. Tapi tekad itu harus diwujudan dengan tindakan nyata walau di mulai dari langkah yang kecil.

Awal mula pohon ialah benih.
Hidup memerlukan pengorbananan.
Pengorbanan memerlukan perjuangan.
Perjuangan memerlukan ketabahan.
Ketabahan memerlukan keyakinan.
Keyakinan pula menentukan kejayaan.
Kejayaan pula akan menentukan kebahagiaan.

Perjalanan seribu batu, bermula dari satu langkah.
(Lao Tze)

(HPK doc/Pencerahan/Jan08)

Ditulis dalam Pencerahan | Bertanda: | Leave a Comment »

Perjalanan Hidup Kerang

Ditulis oleh jupiter di/pada Desember 28, 2007

Pada suatu hari seekor anak kerang di dasar laut mengadu dan mengaduh pada ibunya sebab sebutir pasir tajam memasuki tubuhnya yang merah dan lembek.

“Anakku,” kata sang ibu sambil bercucuran air mata, “Tuhan tidak memberikan pada kita bangsa kerang sebuah tangan pun, sehingga Ibu tak bisa menolongmu. Sakit sekali, aku tahu anakku. Tetapi terimalah itu sebagai takdir alam.” “Kuatkan hatimu. Jangan terlalu lincah lagi.

Kerahkan semangatmu melawan rasa ngilu dan nyeri yang menggigit. Balutlah pasir itu dengan getah perutmu. Hanya itu yang bisa kau perbuat”, kata ibunya dengan sendu dan lembut.

Anak kerang pun melakukan nasihat bundanya. Ada hasilnya, tetapi rasa sakit bukan alang kepalang.

Kadang di tengah kesakitannya, ia meragukan nasihat ibunya. Dengan air mata ia bertahan, bertahun-tahun lamanya. Tetapi tanpa disadarinya sebutir mutiara mulai terbentuk dalam dagingnya. Makin lama makin halus.

Rasa sakit pun makin berkurang. Dan semakin lama mutiaranya semakin besar. Rasa sakit menjadi terasa lebih wajar.

Akhirnya sesudah sekian tahun, sebutir mutiara besar, utuh mengkilap, dan berharga mahal pun terbentuk dengan sempurna.Penderitaannya berubah menjadi mutiara ; air matanya berubah menjadi sangat berharga. Dirinya kini, sebagai hasil derita bertahun-tahun, lebih berharga daripada sejuta kerang lain yang cuma disantap orang sebagai kerang rebus di pinggir jalan. (hpk doc.)

Ditulis dalam Pencerahan | Leave a Comment »

Perjalanan Hidup Kerang

Ditulis oleh jupiter di/pada Desember 27, 2007

Pada suatu hari seekor anak kerang di dasar laut mengadu dan mengaduh pada ibunya sebab sebutir pasir tajam memasuki tubuhnya yang merah dan lembek.

“Anakku,” kata sang ibu sambil bercucuran air mata, “Tuhan tidak memberikan pada kita bangsa kerang sebuah tangan pun, sehingga Ibu tak bisa menolongmu. Sakit sekali, aku tahu anakku. Tetapi terimalah itu sebagai takdir alam.” “Kuatkan hatimu. Jangan terlalu lincah lagi.

Kerahkan semangatmu melawan rasa ngilu dan nyeri yang menggigit. Balutlah pasir itu dengan getah perutmu. Hanya itu yang bisa kau perbuat”, kata ibunya dengan sendu dan lembut.

Anak kerang pun melakukan nasihat bundanya. Ada hasilnya, tetapi rasa sakit bukan alang kepalang.

Kadang di tengah kesakitannya, ia meragukan nasihat ibunya. Dengan air mata ia bertahan, bertahun-tahun lamanya. Tetapi tanpa disadarinya sebutir mutiara mulai terbentuk dalam dagingnya. Makin lama makin halus.

Rasa sakit pun makin berkurang. Dan semakin lama mutiaranya semakin besar. Rasa sakit menjadi terasa lebih wajar.

Akhirnya sesudah sekian tahun, sebutir mutiara besar, utuh mengkilap, dan berharga mahal pun terbentuk dengan sempurna.Penderitaannya berubah menjadi mutiara ; air matanya berubah menjadi sangat berharga. Dirinya kini, sebagai hasil derita bertahun-tahun, lebih berharga daripada sejuta kerang lain yang cuma disantap orang sebagai kerang rebus di pinggir jalan. (hpk doc.)

Ditulis dalam Pencerahan | Bertanda: | Leave a Comment »