Kelinci, Gipsi, dan Setangkup Ciuman
Thursday, October 18, 2007
Oleh : Jupiter
Malam ini, dinginnya kotaku sama sekali tak terasa. Peluh tak hentinya bercucuran, membasahi sekujur tubuh. Gila! Aku benar-benar mandi keringat. Ada apa gerangan dengan alam ini?
Sepintas aku mencoba mengintip jendela BMG. Menurut ramalan cuaca mereka, malam ini kotaku berawan (Akhh… manusia! Sepintar-pintarnya mereka, tetap saja tidak akan pernah bisa memprediksi segala sesuatu yang menjadi kehendakNya). Kulirik jam yang ternyata menunjukkan waktu dini hari. Waduh! Sebentar lagi, aku harus sudah bergelut dengan segala perabotan di dapur lagi. Ramadhan kali ini aku dituntut untuk bisa multi fungsi. Menjadi kepala dan ibu rumah tangga sekaligus.
Cepat-cepat kualihkan lagi konsentrasiku pada proyekku. Sejenak aku mencoba memikirkan langkah selanjutnya yang mesti aku kerjakan. Blank! Otakku sama sekali tidak mau di ajak kompromi. Tak satupun ide baru mampir dalam kepalaku. Kunyalakan sebatang mild, berharap dengan begitu ide-ide brilian segera terpancing keluar. Namun teriring kepulan asap yang aku hembuskan, tidak ada apa-apa. Nihil!
Dari alam bawah sadar, tiba-tiba aku mendengar suara. Suara misteri yang menggema di telinga. Semakin lama terasa semakin dekat menghampiri. Sejenak aku terdiam, tanpa sengaja ekor mataku menangkap cahaya yang berkelebat. Apa itu?? Penasaran aku berdiri, mencoba menghampiri asal datangnya cahaya tersebut. Ah terlambat. Cahaya itu lenyap.
Aku kembali duduk di singgasana yang sudah tidak empuk lagi. Kepulan asap ketiga yang baru aku embuskan, membuat nafasku jadi tersedak ketika kurasakan ada satu benda tajam menusuk (maaf) pantatku. ADUHH!!! Sepontan aku terlompat. Apa lagi nih, gumamku, sambil menjumput satu benda yang ternyata, sebuah jarum yang menancap di bagian pinggir singasanaku. Sesaat aku mencoba memutar otak, mengingat-ingat segala sesuatu yang sudah aku lakukan sepanjang hari, sehingga bisa-bisanya jarum ini tergeletak di singgasanaku.
Cahaya putih yang tadi tiba-tiba berkelebat kembali. Kali ini aku tidak mau kecolongan. Dengan sigap aku mengikuti arah cahaya tadi. Nasib baik ada di pihakku. Di pojok loteng rumahku, kulihat sesosok makhluk jelita berpakaian ala gipsi, menatapku dengan penuh kehangatan. Kedua tangannya memeluk seekor kelinci putih, sementara kedua kakinya mengepit sebuah sapu. Sambil tersenyum, dia mulai melayang mendekatiku. Sekejap aku terpana, menatap keindahan yang hadir di hadapan.
Setelah berdekatan, tanpa sungkan-sungkan gadis jelita itu langsung mengecup lembut kedua pipiku. Diambilnya jarum di sela jepitan jemari tanganku.
“Ini punyaku. Saat terbang tadi tanpa sengaja jarum ini tejatuh dari saku bajuku,” Dia tersenyum. “Maaf sudah mengganggu! Aku harus segera pulang, dan mengembalikkan kelinci ini kembali ke bulan.”
“Tunggu! Aku-“
“Sampai nanti!”
Ketika untuk kedua kalinya gadis jelita itu mengecup lembut kedua pipiku. Aku masih tidak bisa berkata-kata. Aku hanya diam terpana, menyaksikan dia terbang ke udara secepat kilat.
***
Jupie masih terpaku menatap sosok tubuh yang dipantulkan oleh cermin lemarinya. Sosok itu memakai baju yang dipinjamkannya, tanpa mengenakan penutup payudara. Baju yang tidak sesuai dengan ukuran tubuh si gipsi, membuat tubuh itu makin nampak kecil, kedodoran. Leher baju itu menggantung di bahu si gipsi menampilkan bagian atas dadanya. Jantung Jupie semakin berdebar-debar.
“Sudah beres. Sekarang kamu boleh berbalik.” ujarnya malu-malu sambil menatap punggung Jupie yang perlahan mulai berbalik.
“Waah!!! Kebesaran, ya?” komentar Jupie setelah membalikkan tubuhnya. “Maaf, ya, hanya pakaian itu yang aku punya.” lanjut Jupie penuh penyesalan.
“Ssst… Ini sudah lebih dari cukup kok. Seharusnya aku berterimakasih buat kebaikan kamu.” Zweeth tersenyum sambil menempelkan jari telunjuknya di bibir Jupie.
Tatapan mata mereka saling beradu. Ada perasaan hangat mengaliri hati dua insan tersebut. Mata mereka seakan bicara hal-hal yang tidak terkatakan, seakan memahami ada sesuatu yang terjadi, tapi tidak bisa dimengerti. Entah siapa yang memulai, tiba-tiba tangan mereka sudah saling bergenggaman. Genggaman sangat erat yang mengalirkan ribuan volt sampai kepembuluh darah, jantung, hati, otak, tulang sumsum. Dari ujung kaki hingga ujung rambut, getaran yang di akibatkannya, menghadirkan satu sensasi yang sangat hebat. Pengalaman sensasional yang baru pertama kali dialami Zweeth.
“Kamu kelihatan lelah sekali, Zweeth. Sudah waktunya tidur,” desis Jupie lirih karena menahan debaran jantungnya, seraya merapikan anak rambut yang menjuntai lemas di kening Zweeth.
Tanpa melepaskan genggaman tangan, mereka mulai memasuki peraduan. Setelah terlebih dulu menutupi tubuh mereka dengan selimut hingga ke bawah dada, perlahan mereka berbaring sambil berhadapan. Saling menatap lembut satu sama lain. Jupie memeluk Zweeth, sedetik kemudian tiba-tiba kuatir Zweeth marah. Ragu-ragu, ditatapnya mata indah Zweeth dengan tatapan penyesalan. Ketika didapatinya semburat merah yang merona di kedua pipi Zweeth, rasa sesal itu tiba-tiba sirna.
Zweeth terlihat malu-malu. Jupie terpesona. Perlahan diangkatnya dagu Zweeth, sorot matanya menatap tajam penuh makna. Perlahan tapi pasti, wajah mereka semakin lama semakin mendekat, sampai akhirnya kedua bibir mereka beradu. Sekejap kedua insan itu tenggelam ke dunia lain. Dunia yang penuh dengan aneka warna pelangi. Saling berciuman, Zweeth merasakan tubuhnya melayang dan telah sampai di bulan, tapi tidak bersama kelincinya.
Jam 3.00 dini hari. Udara di luar telah berubah menjadi dingin. Jupie tidur bergelung di balik selimut, senyum tersungging di bibirnya.
@Jupiter, SepociKopi, 2007





