One Hour and Thirty Minutes
Tuesday, September 25, 2007
Oleh : Jupiter
Beberapa menit lagi bongkahan besi yang terangkai sangat canggih akan segera membawaku meninggalkan kebisingan kota. Kutebar pandangan ke setiap sudut. Sesaat aku mengagumi kejeniusan yang terpampang di hadapan. Puluhan bahkan mungkin ratusan tangan yang sangat terlatih telah menata serta menyulapnya sehingga menjadi satu rangkaian yang sangat sempurna.
Aku menghadirkan satu ucap syukur kepada sang maha pencipta. Subhanallah…
Tiga perempuan berseragam cantik mulai bergaya di depan banyak pasang mata, yang menatap keluwesan gerakan mereka dalam memperagakan segala fasilitas keselamatan. Ada yang menatap dengan saksama, karena mungkin merupakan pengalaman pertama buat mereka. Ada juga yang memandang sebelah mata, karena menganggap itu sudah basi. Sementara tidak sedikit yang menikmatinya sebagai pemandangan indah pemeraga yang sayang untuk dilewatkan begitu saja. Pada kesempatan ini, aku termasuk pada kategori terakhir.
Seseorang dari tiga menarik perhatianku. Keramahan yang ditampilkannya sama sekali tidak dibuat-buat. Senyum tulus yang ditebar membuat mataku enggan melewatkan segala keluwesan yang disuguhkannya. Aku sangat terpikat. Senyumnya, binar matanya, keluwesannya, kelembutan tutur sapanya, terakhir aura keluguan yang terpancar dengan sangat jelas, membuatku semakin penasaran.
Seketika naluriku mulai bekerja, hasrat untuk bisa mengenal lebih dekat membuatku melancarkan cara untuk bisa sekadar menarik perhatiannya. Dari mulai memesan minuman serta makanan yang ditawarkannya, sampai menanyakan beberapa hal yang sebetulnya sudah aku ketahui. Asyiknya menikmati pancaran pesonanya dengan lebih dekat. Mataku tak berkedip memerhatikan setiap gerakan bibir saat memberikan penjelasan.
Setiap ada kesempatan, aku terus-menerus menatap takjub. Sampai akhirnya aku menangkap kekikukan tubuhnya yang mulai terlihat saat melayani penumpang yang berada di deretan kursi di dekatku. Hm, aku yakin dia mulai merasakan perhatianku kepadanya. Senyumnya berubah menjadi senyum yang malu-malu setiap berpapasan mata dengan tatapan pemburuku. Yes! Hahaha… Kena dia. Lamunan mulai berkembang dalam pikiran yang sebetulnya sedang suntuk.
”Permisi Mbak, barangkali ada sampah?” sapaan halus seketika membuyarkan lamunanku. Senyumnya membuatku mendadak jadi salah tingkah.
”Oh… ada… ada. Sebentar,” sahutku kemudian, sambil mencoba membereskan sisa makanan yang belum sempat aku habiskan. Karena terburu-buru, tanpa sengaja aku menumpahkan gelas jus jeruk di jok kursi sebelah yang kebetulan memang kosong.
”Aduh! Maaf ya, Mbak!” sesalku, sambil mencoba membersihkan noda yang diakibatkan tumpahan jus tersebut. Sial, kenapa aku jadi grogi begini? Dia hanya mengangguk sambil tetap tersenyum, kemudian membantuku membersihkan sisa noda tersebut.
”Jadi ngerepotin deh!” kataku kemudian, setelah berhasil menenangkan diri lagi. ”Sudah lama jadi pramugari di sini, Mbak?” tanyaku iseng, di sela-sela kesibukan kami membersihkan noda tersebut.
”Hmm… ini pengalaman terbang pertama sa…” jawabannya terhenti ketika secara tidak sengaja tangan kami bersentuhan. Sedetik kami saling memandang.
”Ta, kopi satu!” Panggilan dari pramugari seniornya, serentak membuat kami jadi gelagapan. Dengan tergesa-gesa, pramugari yang ternyata bernama Anita itu, segera meninggalkan aku yang sedang terpana akibat tegangan tinggi yang baru lewat.
Sesaat Anita sudah sibuk lagi dengan pekerjaannya, melayani beberapa penumpang. Aku menarik napas, mencoba meredakkan detak jantungku yang telah terpompa lebih cepat. Fiuh! Mimpi apa aku kemarin malam? Hehehe.
Akh… rasa rindu itu kembali menyelinap di dalam diri. Seandainya malam ini kekasih bisa terbang bersamaku, seandainya keadaan tidak sekacau yang sudah kami alami… Kupalingkan pandangan ke arah lingkaran kaca di samping, mencoba mencermati hamparan titik-titik kecil cahaya di antara kegelapan malam yang menyelimuti ibukota.
Perlahan aku keluarkan pulpen dan secarik kertas memo dari dalam tas pinggang. Ak menundukkan kepala, menulis beberapa baris kalimat yang tiba-tiba mampir di kepala,
Kesedihan itu laksana hujan pada siang hari;
kehadirannya meluluhkan kesukacitaan
Kebahagiaan itu ibarat pelangi pada senja;
keindahannya hanya sesaat namun melenakan.
Tepat jam 20.30 WIB, pesawat yang membawaku pulang mendarat mulus di bandara Soekarno Hatta. Alhamdulillah… kembali satu ucap syukur keluar dari bibirku.
Aku tersenyum ketika melewati beberapa pramugari yang berbaris memberikan ucapan terima kasih dengan ramah kepada semua penumpang. Aku berhenti sejenak di depan Anita, membisikkan sebaris ucapan terima kasih pribadiku sambil menyelipkan secarik memo tadi di antara jemari lentiknya.
Aku pun melangkah keluar dari pesawat.
@Jupiter, SepociKopi, 2007





