RENUNGAN JUPITER

Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam, di atas batu yang hitam, di malam yang amat kelam.

Arsip untuk September, 2007

One Hour and Thirty Minutes – Jupiter

Ditulis oleh jupiter di/pada September 25, 2007

One Hour and Thirty Minutes
Tuesday, September 25, 2007
Oleh : Jupiter

Beberapa menit lagi bongkahan besi yang terangkai sangat canggih akan segera membawaku meninggalkan kebisingan kota. Kutebar pandangan ke setiap sudut. Sesaat aku mengagumi kejeniusan yang terpampang di hadapan. Puluhan bahkan mungkin ratusan tangan yang sangat terlatih telah menata serta menyulapnya sehingga menjadi satu rangkaian yang sangat sempurna.

Aku menghadirkan satu ucap syukur kepada sang maha pencipta. Subhanallah…

Tiga perempuan berseragam cantik mulai bergaya di depan banyak pasang mata, yang menatap keluwesan gerakan mereka dalam memperagakan segala fasilitas keselamatan. Ada yang menatap dengan saksama, karena mungkin merupakan pengalaman pertama buat mereka. Ada juga yang memandang sebelah mata, karena menganggap itu sudah basi. Sementara tidak sedikit yang menikmatinya sebagai pemandangan indah pemeraga yang sayang untuk dilewatkan begitu saja. Pada kesempatan ini, aku termasuk pada kategori terakhir.

Seseorang dari tiga menarik perhatianku. Keramahan yang ditampilkannya sama sekali tidak dibuat-buat. Senyum tulus yang ditebar membuat mataku enggan melewatkan segala keluwesan yang disuguhkannya. Aku sangat terpikat. Senyumnya, binar matanya, keluwesannya, kelembutan tutur sapanya, terakhir aura keluguan yang terpancar dengan sangat jelas, membuatku semakin penasaran.

Seketika naluriku mulai bekerja, hasrat untuk bisa mengenal lebih dekat membuatku melancarkan cara untuk bisa sekadar menarik perhatiannya. Dari mulai memesan minuman serta makanan yang ditawarkannya, sampai menanyakan beberapa hal yang sebetulnya sudah aku ketahui. Asyiknya menikmati pancaran pesonanya dengan lebih dekat. Mataku tak berkedip memerhatikan setiap gerakan bibir saat memberikan penjelasan.

Setiap ada kesempatan, aku terus-menerus menatap takjub. Sampai akhirnya aku menangkap kekikukan tubuhnya yang mulai terlihat saat melayani penumpang yang berada di deretan kursi di dekatku. Hm, aku yakin dia mulai merasakan perhatianku kepadanya. Senyumnya berubah menjadi senyum yang malu-malu setiap berpapasan mata dengan tatapan pemburuku. Yes! Hahaha… Kena dia. Lamunan mulai berkembang dalam pikiran yang sebetulnya sedang suntuk.

”Permisi Mbak, barangkali ada sampah?” sapaan halus seketika membuyarkan lamunanku. Senyumnya membuatku mendadak jadi salah tingkah.

”Oh… ada… ada. Sebentar,” sahutku kemudian, sambil mencoba membereskan sisa makanan yang belum sempat aku habiskan. Karena terburu-buru, tanpa sengaja aku menumpahkan gelas jus jeruk di jok kursi sebelah yang kebetulan memang kosong.

”Aduh! Maaf ya, Mbak!” sesalku, sambil mencoba membersihkan noda yang diakibatkan tumpahan jus tersebut. Sial, kenapa aku jadi grogi begini? Dia hanya mengangguk sambil tetap tersenyum, kemudian membantuku membersihkan sisa noda tersebut.

”Jadi ngerepotin deh!” kataku kemudian, setelah berhasil menenangkan diri lagi. ”Sudah lama jadi pramugari di sini, Mbak?” tanyaku iseng, di sela-sela kesibukan kami membersihkan noda tersebut.

”Hmm… ini pengalaman terbang pertama sa…” jawabannya terhenti ketika secara tidak sengaja tangan kami bersentuhan. Sedetik kami saling memandang.

”Ta, kopi satu!” Panggilan dari pramugari seniornya, serentak membuat kami jadi gelagapan. Dengan tergesa-gesa, pramugari yang ternyata bernama Anita itu, segera meninggalkan aku yang sedang terpana akibat tegangan tinggi yang baru lewat.

Sesaat Anita sudah sibuk lagi dengan pekerjaannya, melayani beberapa penumpang. Aku menarik napas, mencoba meredakkan detak jantungku yang telah terpompa lebih cepat. Fiuh! Mimpi apa aku kemarin malam? Hehehe.

Akh… rasa rindu itu kembali menyelinap di dalam diri. Seandainya malam ini kekasih bisa terbang bersamaku, seandainya keadaan tidak sekacau yang sudah kami alami… Kupalingkan pandangan ke arah lingkaran kaca di samping, mencoba mencermati hamparan titik-titik kecil cahaya di antara kegelapan malam yang menyelimuti ibukota.

Perlahan aku keluarkan pulpen dan secarik kertas memo dari dalam tas pinggang. Ak menundukkan kepala, menulis beberapa baris kalimat yang tiba-tiba mampir di kepala,

Kesedihan itu laksana hujan pada siang hari;
kehadirannya meluluhkan kesukacitaan
Kebahagiaan itu ibarat pelangi pada senja;
keindahannya hanya sesaat namun melenakan.

Tepat jam 20.30 WIB, pesawat yang membawaku pulang mendarat mulus di bandara Soekarno Hatta. Alhamdulillah… kembali satu ucap syukur keluar dari bibirku.

Aku tersenyum ketika melewati beberapa pramugari yang berbaris memberikan ucapan terima kasih dengan ramah kepada semua penumpang. Aku berhenti sejenak di depan Anita, membisikkan sebaris ucapan terima kasih pribadiku sambil menyelipkan secarik memo tadi di antara jemari lentiknya.

Aku pun melangkah keluar dari pesawat.

@Jupiter, SepociKopi, 2007

Ditulis dalam Coretanku, Sepocikopi archives | Leave a Comment »

One Hour and Thirty Minutes – Jupiter

Ditulis oleh jupiter di/pada September 25, 2007

One Hour and Thirty Minutes
Tuesday, September 25, 2007
Oleh : Jupiter

Beberapa menit lagi bongkahan besi yang terangkai sangat canggih akan segera membawaku meninggalkan kebisingan kota. Kutebar pandangan ke setiap sudut. Sesaat aku mengagumi kejeniusan yang terpampang di hadapan. Puluhan bahkan mungkin ratusan tangan yang sangat terlatih telah menata serta menyulapnya sehingga menjadi satu rangkaian yang sangat sempurna.

Aku menghadirkan satu ucap syukur kepada sang maha pencipta. Subhanallah…

Tiga perempuan berseragam cantik mulai bergaya di depan banyak pasang mata, yang menatap keluwesan gerakan mereka dalam memperagakan segala fasilitas keselamatan. Ada yang menatap dengan saksama, karena mungkin merupakan pengalaman pertama buat mereka. Ada juga yang memandang sebelah mata, karena menganggap itu sudah basi. Sementara tidak sedikit yang menikmatinya sebagai pemandangan indah pemeraga yang sayang untuk dilewatkan begitu saja. Pada kesempatan ini, aku termasuk pada kategori terakhir.

Seseorang dari tiga menarik perhatianku. Keramahan yang ditampilkannya sama sekali tidak dibuat-buat. Senyum tulus yang ditebar membuat mataku enggan melewatkan segala keluwesan yang disuguhkannya. Aku sangat terpikat. Senyumnya, binar matanya, keluwesannya, kelembutan tutur sapanya, terakhir aura keluguan yang terpancar dengan sangat jelas, membuatku semakin penasaran.

Seketika naluriku mulai bekerja, hasrat untuk bisa mengenal lebih dekat membuatku melancarkan cara untuk bisa sekadar menarik perhatiannya. Dari mulai memesan minuman serta makanan yang ditawarkannya, sampai menanyakan beberapa hal yang sebetulnya sudah aku ketahui. Asyiknya menikmati pancaran pesonanya dengan lebih dekat. Mataku tak berkedip memerhatikan setiap gerakan bibir saat memberikan penjelasan.

Setiap ada kesempatan, aku terus-menerus menatap takjub. Sampai akhirnya aku menangkap kekikukan tubuhnya yang mulai terlihat saat melayani penumpang yang berada di deretan kursi di dekatku. Hm, aku yakin dia mulai merasakan perhatianku kepadanya. Senyumnya berubah menjadi senyum yang malu-malu setiap berpapasan mata dengan tatapan pemburuku. Yes! Hahaha… Kena dia. Lamunan mulai berkembang dalam pikiran yang sebetulnya sedang suntuk.

”Permisi Mbak, barangkali ada sampah?” sapaan halus seketika membuyarkan lamunanku. Senyumnya membuatku mendadak jadi salah tingkah.

”Oh… ada… ada. Sebentar,” sahutku kemudian, sambil mencoba membereskan sisa makanan yang belum sempat aku habiskan. Karena terburu-buru, tanpa sengaja aku menumpahkan gelas jus jeruk di jok kursi sebelah yang kebetulan memang kosong.

”Aduh! Maaf ya, Mbak!” sesalku, sambil mencoba membersihkan noda yang diakibatkan tumpahan jus tersebut. Sial, kenapa aku jadi grogi begini? Dia hanya mengangguk sambil tetap tersenyum, kemudian membantuku membersihkan sisa noda tersebut.

”Jadi ngerepotin deh!” kataku kemudian, setelah berhasil menenangkan diri lagi. ”Sudah lama jadi pramugari di sini, Mbak?” tanyaku iseng, di sela-sela kesibukan kami membersihkan noda tersebut.

”Hmm… ini pengalaman terbang pertama sa…” jawabannya terhenti ketika secara tidak sengaja tangan kami bersentuhan. Sedetik kami saling memandang.

”Ta, kopi satu!” Panggilan dari pramugari seniornya, serentak membuat kami jadi gelagapan. Dengan tergesa-gesa, pramugari yang ternyata bernama Anita itu, segera meninggalkan aku yang sedang terpana akibat tegangan tinggi yang baru lewat.

Sesaat Anita sudah sibuk lagi dengan pekerjaannya, melayani beberapa penumpang. Aku menarik napas, mencoba meredakkan detak jantungku yang telah terpompa lebih cepat. Fiuh! Mimpi apa aku kemarin malam? Hehehe.

Akh… rasa rindu itu kembali menyelinap di dalam diri. Seandainya malam ini kekasih bisa terbang bersamaku, seandainya keadaan tidak sekacau yang sudah kami alami… Kupalingkan pandangan ke arah lingkaran kaca di samping, mencoba mencermati hamparan titik-titik kecil cahaya di antara kegelapan malam yang menyelimuti ibukota.

Perlahan aku keluarkan pulpen dan secarik kertas memo dari dalam tas pinggang. Ak menundukkan kepala, menulis beberapa baris kalimat yang tiba-tiba mampir di kepala,

Kesedihan itu laksana hujan pada siang hari;
kehadirannya meluluhkan kesukacitaan
Kebahagiaan itu ibarat pelangi pada senja;
keindahannya hanya sesaat namun melenakan.

Tepat jam 20.30 WIB, pesawat yang membawaku pulang mendarat mulus di bandara Soekarno Hatta. Alhamdulillah… kembali satu ucap syukur keluar dari bibirku.

Aku tersenyum ketika melewati beberapa pramugari yang berbaris memberikan ucapan terima kasih dengan ramah kepada semua penumpang. Aku berhenti sejenak di depan Anita, membisikkan sebaris ucapan terima kasih pribadiku sambil menyelipkan secarik memo tadi di antara jemari lentiknya.

Aku pun melangkah keluar dari pesawat.

@Jupiter, SepociKopi, 2007

Ditulis dalam Coretanku | Bertanda: | Leave a Comment »

Kuntum Luruh – Jupiter

Ditulis oleh jupiter di/pada September 11, 2007

Kuntum Luruh
Tuesday, September 11, 2007
Oleh: Jupiter

Beranjak dewasa, ketika aku mulai mengadu nasib di luar kota, aku menemukan ternyata sebagian dari sahabatku mempunyai perbedaan yang serupa. Berdasarkan kisah cinta mereka, aku mendapat keberanian untuk mulai mendekati sosok gadis yang selama ini selalu aku puja.

Awalnya dia tidak mempunyai perasaan yang sama, dia hanya menganggap aku sebagai kakak. Namun seiring berjalannya waktu dan karena gigihnya perjuanganku, perlahan gadis yang aku puja mulai menunjukan gelagat yang sama. Berkat kesabaranku dalam meluluhkan keteguhan hatinya, tidak sampai satu bulan, akhirnya dia membalas menggenggam erat uluran kasih yang aku tawarkan.

Sembilan tahun kami menjalani hidup bersama dengan penuh rasa bahagia.

Ya. Sembilan tahun.

Komitmen kami yang tidak saling mengekang kebebasan dan selalu menjunjung tinggi kepercayaan telah membuat tahun-tahun yang kami jalani begitu terasa sangat nyaman dan melenakan. Meski tak jarang ada perbedaan-perbedaan kecil yang menimbulkan rasa sensi di hati kami. Namun semua itu malah semakin membuat kami tidak dapat terpisahkan. Virus ketergantungan mewarnai hubungan kami.

Walau begitu, kerahasiahan hubungan kami tetap tersimpan dengan sangat rapi. Keakraban kami di mata keluarga besar membuat mereka percaya kalau kebersamaan itu memang wajar adanya, layaknya hubungan antar saudara.

Seiring bertambahnya usia, satu per satu masalah mulai muncul. Pertanyaan demi pertanyaan mulai memojokkan status kesendirian kami. Di mata keluarga, kami dianggap sudah sangat matang untuk membina satu keluarga yang ”sebenarnya”.

Tekanan yang lebih besar muncul dari keluarga besarku. Di usiaku yang sudah menginjak kepala tiga dan di antara enam bersaudara, tinggal aku sendiri yang masih tetap mempertahankan kelajanganku. Meski aku selalu berkelit dengan berdalih belum menemukan calon pasangan yang sesuai, namun lama kelamaan mereka mulai curiga pada kedekatanku dengan partner, yang memang selalu aku manjakan.

Segala cara mereka lancarkan, agar aku bersedia untuk segera berumah tangga. Mulai dari pembahasan di dalam keluarga seputar pembukaan aura jodohku sampai bantuan orang-orang yang dianggap bisa mengusir ”bala” pada hubungan kami, yang mulai dianggap sudah di luar batas kewajaran.

Berdasarkan informasi dari salah satu saudara yang pro pada kedekatan kami, ternyata keluarga besarku mulai menimpakan kesalahan ”kesendirianku” pada partner, yang sebelumnya sudah mereka perlakukan sebagai anggota keluarga sendiri. Tanpa sepengetahuanku, mereka meminta partner untuk mulai mengurangi porsi kebersamaan kami. Partner sama sekali tidak pernah mengutarakan hal ini kepadaku. Dia hanya mengambil sikap diam, dan selalu menolak apabila aku ajak mengunjungi orang tuaku.

Berawal dari dilema yang terus-menerus mewarnai hubungan kami, perlahan keterbukaan di antara kami mulai berkurang. Meski masih bersama, namun kami menjadi semakin jarang berbicara, terutama kalau sudah menyangkut masalah keluarga. Sampai pada akhirnya secara terang-terangan partner mulai mencoba menjalin hubungan dengan seorang pria asing, yang notabene adalah salah satu customer di perusahaan tempat kami bekerja.

Mengetahui hal tersebut, aku benar-benar merasa terpukul. Namun aku tak bisa berbuat apa-apa untuk mencegah pelariannya tersebut. Aku sangat memahami perasaan sakit hati partner akibat tudingan yang dilancarkan oleh keluargaku. Sepertinya dia ingin membuktikan pada keluargaku kalau kebersamaan kami ini bukan lantaran dia sudah tidak dilirik oleh lawan jenis.

Tiga bulan partner menjalin hubungan dengan pria asing customer kami tersebut. Dan selama itu pula rahasia demi rahasia mulai mewarnai kebersamaan kami. Perlahan, kepercayaan di antara kami mulai memudar.

Pada suatu malam seorang pria asing yang dikenalnya melalui salah satu Friendster, datang bertamu ke rumah kami. Dia sengaja datang dari negaranya, untuk berkencan dengan partner. Singkat cerita mereka pergi berkencan ke daerah pantai yang letaknya berada di ujung ibu kota. Malam itu aku masih tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan ketika mereka pamit pun, aku hanya sanggup mengecup kening partner serta berpesan untuk hati-hati dalam menjaga diri. Saat itu partner hanya tersenyum. Sepintas kulihat sorot matanya begitu berbeda, seolah ada kabut yang menyelimuti cerianya.

Sepeninggal mereka, aku langsung terpuruk luruh di dalam sepinya kamarku. Aku benar-benar merasa menjadi pecundang karena tak mampu lagi menghibur dan melindungi orang yang sangat aku sayang. Semenjak saat itu aku tak pernah berhenti menyalahkan diri sendiri dan perlahan-lahan kehilangan rasa percaya diri.

Hampir setahun keadaan seperti itu terus berlanjut. Dilema perdebatan keluarga yang kami hadapi telah sanggup menciptakan jarak pada kebersamaan kami. Tanpa kami sadari, kami telah berubah menjadi sosok orang-orang yang selama ini selalu kami hindari. Aku berubah menjadi sosok orang yang sangat pendiam dan selalu menutup diri, sementara partner berubah menjadi sosok gadis liar, yang seolah tak pernah bosan terus berganti pasangan.

Awal tahun 2005, atas nama saling introspeksi diri dan dengan tujuan agar tidak saling menyakiti. Akhirnya dengan berat hati kami sepakat untuk berpisah sementara. Kami tidak sadar, kalau ternyata kesepakatan yang telah kami pilih tersebut merupakan kesalahan kami yang sangat fatal.

Tahun pertama, kami masih bisa saling mengungkapkan rasa sayang meski hanya melalui fasilitas jaringan.

Tahun kedua, keakraban di antara kami sudah mulai terasa hambar. Semakin hari aku semakin tidak bisa mengerti jalan pikiran partner.

Tahun ketiga, petualangannya dengan berbagai macam lelaki, perlahan tapi pasti telah sanggup menumbuhkan rasa jijik di dalam diriku. Walau tak bisa kupungkiri, rasa sayangku kepada partner tak pernah berubah. Namun aku mulai kehilangan semangat untuk bisa memperbaiki hubungan kami kembali.

Di antara petualangannya, partner mulai menaburiku dengan berbagai dalil yang mengatas namakan larangan agama.

Dalam sendiri, kugoreskan sebaris tanya kepada Sang Maha Pencipta. Benarkah segala rasa yang aku punya, hanya merupakan ujian semata? Mengapa dorongan hasratnya begitu kuat, hingga membuat aku selalu merasa tersiksa?

@Jupiter, SepociKopi, 2007

Ditulis dalam Coretanku, Sepocikopi archives | Leave a Comment »

Kuntum Luruh – Jupiter

Ditulis oleh jupiter di/pada September 11, 2007

Kuntum Luruh
Tuesday, September 11, 2007
Oleh: Jupiter

Beranjak dewasa, ketika aku mulai mengadu nasib di luar kota, aku menemukan ternyata sebagian dari sahabatku mempunyai perbedaan yang serupa. Berdasarkan kisah cinta mereka, aku mendapat keberanian untuk mulai mendekati sosok gadis yang selama ini selalu aku puja.

Awalnya dia tidak mempunyai perasaan yang sama, dia hanya menganggap aku sebagai kakak. Namun seiring berjalannya waktu dan karena gigihnya perjuanganku, perlahan gadis yang aku puja mulai menunjukan gelagat yang sama. Berkat kesabaranku dalam meluluhkan keteguhan hatinya, tidak sampai satu bulan, akhirnya dia membalas menggenggam erat uluran kasih yang aku tawarkan.

Sembilan tahun kami menjalani hidup bersama dengan penuh rasa bahagia.

Ya. Sembilan tahun.

Komitmen kami yang tidak saling mengekang kebebasan dan selalu menjunjung tinggi kepercayaan telah membuat tahun-tahun yang kami jalani begitu terasa sangat nyaman dan melenakan. Meski tak jarang ada perbedaan-perbedaan kecil yang menimbulkan rasa sensi di hati kami. Namun semua itu malah semakin membuat kami tidak dapat terpisahkan. Virus ketergantungan mewarnai hubungan kami.

Walau begitu, kerahasiahan hubungan kami tetap tersimpan dengan sangat rapi. Keakraban kami di mata keluarga besar membuat mereka percaya kalau kebersamaan itu memang wajar adanya, layaknya hubungan antar saudara.

Seiring bertambahnya usia, satu per satu masalah mulai muncul. Pertanyaan demi pertanyaan mulai memojokkan status kesendirian kami. Di mata keluarga, kami dianggap sudah sangat matang untuk membina satu keluarga yang ”sebenarnya”.

Tekanan yang lebih besar muncul dari keluarga besarku. Di usiaku yang sudah menginjak kepala tiga dan di antara enam bersaudara, tinggal aku sendiri yang masih tetap mempertahankan kelajanganku. Meski aku selalu berkelit dengan berdalih belum menemukan calon pasangan yang sesuai, namun lama kelamaan mereka mulai curiga pada kedekatanku dengan partner, yang memang selalu aku manjakan.

Segala cara mereka lancarkan, agar aku bersedia untuk segera berumah tangga. Mulai dari pembahasan di dalam keluarga seputar pembukaan aura jodohku sampai bantuan orang-orang yang dianggap bisa mengusir ”bala” pada hubungan kami, yang mulai dianggap sudah di luar batas kewajaran.

Berdasarkan informasi dari salah satu saudara yang pro pada kedekatan kami, ternyata keluarga besarku mulai menimpakan kesalahan ”kesendirianku” pada partner, yang sebelumnya sudah mereka perlakukan sebagai anggota keluarga sendiri. Tanpa sepengetahuanku, mereka meminta partner untuk mulai mengurangi porsi kebersamaan kami. Partner sama sekali tidak pernah mengutarakan hal ini kepadaku. Dia hanya mengambil sikap diam, dan selalu menolak apabila aku ajak mengunjungi orang tuaku.

Berawal dari dilema yang terus-menerus mewarnai hubungan kami, perlahan keterbukaan di antara kami mulai berkurang. Meski masih bersama, namun kami menjadi semakin jarang berbicara, terutama kalau sudah menyangkut masalah keluarga. Sampai pada akhirnya secara terang-terangan partner mulai mencoba menjalin hubungan dengan seorang pria asing, yang notabene adalah salah satu customer di perusahaan tempat kami bekerja.

Mengetahui hal tersebut, aku benar-benar merasa terpukul. Namun aku tak bisa berbuat apa-apa untuk mencegah pelariannya tersebut. Aku sangat memahami perasaan sakit hati partner akibat tudingan yang dilancarkan oleh keluargaku. Sepertinya dia ingin membuktikan pada keluargaku kalau kebersamaan kami ini bukan lantaran dia sudah tidak dilirik oleh lawan jenis.

Tiga bulan partner menjalin hubungan dengan pria asing customer kami tersebut. Dan selama itu pula rahasia demi rahasia mulai mewarnai kebersamaan kami. Perlahan, kepercayaan di antara kami mulai memudar.

Pada suatu malam seorang pria asing yang dikenalnya melalui salah satu Friendster, datang bertamu ke rumah kami. Dia sengaja datang dari negaranya, untuk berkencan dengan partner. Singkat cerita mereka pergi berkencan ke daerah pantai yang letaknya berada di ujung ibu kota. Malam itu aku masih tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan ketika mereka pamit pun, aku hanya sanggup mengecup kening partner serta berpesan untuk hati-hati dalam menjaga diri. Saat itu partner hanya tersenyum. Sepintas kulihat sorot matanya begitu berbeda, seolah ada kabut yang menyelimuti cerianya.

Sepeninggal mereka, aku langsung terpuruk luruh di dalam sepinya kamarku. Aku benar-benar merasa menjadi pecundang karena tak mampu lagi menghibur dan melindungi orang yang sangat aku sayang. Semenjak saat itu aku tak pernah berhenti menyalahkan diri sendiri dan perlahan-lahan kehilangan rasa percaya diri.

Hampir setahun keadaan seperti itu terus berlanjut. Dilema perdebatan keluarga yang kami hadapi telah sanggup menciptakan jarak pada kebersamaan kami. Tanpa kami sadari, kami telah berubah menjadi sosok orang-orang yang selama ini selalu kami hindari. Aku berubah menjadi sosok orang yang sangat pendiam dan selalu menutup diri, sementara partner berubah menjadi sosok gadis liar, yang seolah tak pernah bosan terus berganti pasangan.

Awal tahun 2005, atas nama saling introspeksi diri dan dengan tujuan agar tidak saling menyakiti. Akhirnya dengan berat hati kami sepakat untuk berpisah sementara. Kami tidak sadar, kalau ternyata kesepakatan yang telah kami pilih tersebut merupakan kesalahan kami yang sangat fatal.

Tahun pertama, kami masih bisa saling mengungkapkan rasa sayang meski hanya melalui fasilitas jaringan.

Tahun kedua, keakraban di antara kami sudah mulai terasa hambar. Semakin hari aku semakin tidak bisa mengerti jalan pikiran partner.

Tahun ketiga, petualangannya dengan berbagai macam lelaki, perlahan tapi pasti telah sanggup menumbuhkan rasa jijik di dalam diriku. Walau tak bisa kupungkiri, rasa sayangku kepada partner tak pernah berubah. Namun aku mulai kehilangan semangat untuk bisa memperbaiki hubungan kami kembali.

Di antara petualangannya, partner mulai menaburiku dengan berbagai dalil yang mengatas namakan larangan agama.

Dalam sendiri, kugoreskan sebaris tanya kepada Sang Maha Pencipta. Benarkah segala rasa yang aku punya, hanya merupakan ujian semata? Mengapa dorongan hasratnya begitu kuat, hingga membuat aku selalu merasa tersiksa?

@Jupiter, SepociKopi, 2007

Ditulis dalam Coretanku | Bertanda: | Leave a Comment »