RENUNGAN JUPITER

Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam, di atas batu yang hitam, di malam yang amat kelam.

Arsip untuk Agustus, 2007

Sister Act – Jupiter

Ditulis oleh jupiter di/pada Agustus 30, 2007

Sister Act
Thursday, August 30, 2007
Oleh: Jupiter

Bagai anak kecil yang baru pertama kali merasakan manisnya gula-gula, itu yang terjadi padaku setelah mendapat pengalaman pertama yang sangat membekas bersama Kak Vita. Rasa manisnya seolah tak pernah hilang dalam ingatanku. Semenjak kejadian itu aku jadi seperti orang gila. Selalu senyum-senyum sendiri.

Begitu melekatnya pengalaman indah itu dalam benakku. Sampai pada suatu hari aku pernah mengungkapkan rasa ketagihanku tersebut kepada Kak Vita, dan dengan polosnya aku menawarkan diri untuk menjadi kekasih keduanya setelah Dina sahabatku. Namun jawaban Kak Vita sungguh mengecewakan. Meski dia telah disakiti sedemikian rupa oleh Dina, namun dia tetap bertekad untuk mempertahankan cintanya kepada playbutch yang juga sahabatku tersebut.

Dengan perasaan bersalah, Kak Vita menjelaskan kepadaku. Meski sebenarnya dia sendiri sudah merasa selalu nyaman berada di dekatku, dia menekankan lagi, kalau sebenarnya dia sudah menganggap aku sebagai adiknya sendiri. Dan dia meminta maaf karena tanpa segaja telah membelokkan orientasi seksku. Ah, jawaban yang sungguh tidak aku harapkan. Aku hanya menundukkan kepala, lesu!

Hampa terasa hidupku tanpa dirimu… belum sempat aku merampungkan duetku dengan Ari Lasso, tiba-tiba ada ketukan halus di pintu kamar kosku. Tanpa mengecilkan volume VCD player-ku, dengan malas aku beranjak untuk membuka pintu.

”Hai… lagi ngapain? Betah banget sih di kamar? Dari tadi diteriakin, nggak keluar-keluar. Di ruang tamu ada yang nyari tuh!” Silvi teman kosku menjelaskan, matanya mencoba mengintip ke dalam kamar.

Setengah penasaran aku berjalan ke ruang tamu. Di sofa tamu kulihat Kak Vita, Dina, dan seorang gadis yang tidak aku kenal.

”Wah-wah-wah… putri tidur kita sudah bangun rupanya?!” sambut Kak Vita dan Dina secara hampir bersamaan. Selanjutnya mereka mengenalkanku pada gadis manis yang ada di antara mereka, yang ternyata tak lain adalah adik kandung Kak Vita yang sedang liburan kuliah dan akan mengikuti program KKN yang diselenggarakan di tempat kerjaku.

Kemudian Kak Vita menjelaskan maksud kedatangan mereka, yang ternyata mau menitipkan adiknya tersebut, untuk bisa kos sekamar denganku. Menurut mereka tempat kosku ini merupakan tempat yang paling nyaman, dibanding tempat kos lain yang sebelumnya mereka datangi. Dan kebetulan di rumah kosku ini memang sudah tidak ada kamar yang kosong lagi.

Sejenak aku terdiam. Sebetulnya aku ingin menolak permintaan mereka, tapi aku menjadi nggak tega setelah melihat travel bag yang dibawanya.

Setelah seminggu sekamar dengan Vini, perlahan keceriaanku mulai hadir kembali. Ternyata karakter Vini bertolak belakang sekali dengan kakaknya. Dia merupakan gadis yang sangat lincah dan mempunyai wawasan sangat luas bagi gadis seumuran kami yang baru menginjak usia 23 tahun.

Malam minggu berikutnya, Vini mengajakku untuk menemani dia pulang ke rumah orangtuanya yang kebetulan hanya beda satu kota dan hanya memakan waktu satu jam perjalanan saja dari tempat kos kami. Tanpa pikir panjang, saat itu aku langsung mengiyakan ajakannya dengan harapan akan bertemu dengan Kak Vita di sana.

Harapan tinggal menjadi harapan. Ternyata minggu ini kak Vita tidak pulang ke rumah orang tuanya dengan alasan kesehatan Dina yang membutuhkan perhatiannya. Kembali aku merasa sangat kecewa. Rasa cemburu seketika memenuhi pikiranku. Aku mencoba menarik nafas dalam-dalam mencoba melepaskan penat yang tiba-tiba menyerangku.

Malamnya rencana jalan-jalan ke pusat kota kami batalkan. Setelah makan malam bersama keluarga, kami berdua langsung masuk kamar dengan alasan mau istirahat. Malam itu kami hanya menghabiskan waktu sambil menonton beberapa film romance remaja yang menjadi koleksi VCD-nya Vini.

Ketika sedang asyik mengikuti alur cerita dari film yang sedang kami tonton, tiba-tiba kudengar tarikan berat napas Vini yang berbaring di sebelahku. Serentak aku langsung memalingkan wajah dari film tersebut. Ups! Kulihat wajah Vini sudah bersimbah air mata. Aku menjadi bingung dibuatnya. Film remaja yang sedang kami tonton adalah film romance komedi.

”Hei! Ada apa, Vin?” tanyaku kebingungan, yang disambut gelengan kepala oleh Vini. Jiwa pelindungku seketika keluar, kucoba menenangkan Vini dengan menarik kepalanya untuk bersandar di bahuku.

Beberapa menit kemudian Vini mulai mengungkapkan kesedihannya, yang membuat aku tersentak. Ternyata selama ini Vini memendam perasaan kepada sahabatku Dina yang sudah menjadi kekasih kakaknya. What? Aku benar-benar kaget. Di mataku Dina sama sekali tidak mempunyai kelebihan yang menonjol, dia hanya gadis tomboi biasa yang teramat sangat percaya diri dengan segala ketomboiannya itu. Gila! Beruntung sekali si Dina mendapatkan ketulusan cinta dari kakak-beradik.

Beberapa jam kemudian, Vini mulai merasa lega setelah mencurahkan segala perasaannya kepadaku. Tanpa sadar kami mulai terlelap. Sampai kemudian aku dikagetkan oleh hembusan napas di kupingku. Dengan enggan kucoba membuka kelopak mataku yang masih terasa sangat berat. Belum sepenuhnya aku membuka mata, tiba-tiba Vini langsung mencium lembut bibirku.

Hari masih sangat pagi, ketika tiba-tiba kudengar ada ketukan lumayan keras di pintu kamar. Vini serentak membuat kami terbangun kaget begitu mendapati tubuh kami berdua sedang berpelukan.

Setelah kejadian yang sama sekali tidak kami rencanakan tersebut, Vini meminta maaf kepadaku. Aku hanya tersenyum sambil mengangguk sebagai tanda aku mengerti atas segala kekhilafannya, yang sebetulnya telah memberikan pengalaman baru setelah pengalamanku bersama kakaknya. Pengalaman yang membuatku merasa yakin kalau aku benar-benar lesbian.

@Jupiter, SepociKopi, 2007

Ditulis dalam Coretanku, Sepocikopi archives | Leave a Comment »

Sister Act – Jupiter

Ditulis oleh jupiter di/pada Agustus 30, 2007

Sister Act
Thursday, August 30, 2007
Oleh: Jupiter

Bagai anak kecil yang baru pertama kali merasakan manisnya gula-gula, itu yang terjadi padaku setelah mendapat pengalaman pertama yang sangat membekas bersama Kak Vita. Rasa manisnya seolah tak pernah hilang dalam ingatanku. Semenjak kejadian itu aku jadi seperti orang gila. Selalu senyum-senyum sendiri.

Begitu melekatnya pengalaman indah itu dalam benakku. Sampai pada suatu hari aku pernah mengungkapkan rasa ketagihanku tersebut kepada Kak Vita, dan dengan polosnya aku menawarkan diri untuk menjadi kekasih keduanya setelah Dina sahabatku. Namun jawaban Kak Vita sungguh mengecewakan. Meski dia telah disakiti sedemikian rupa oleh Dina, namun dia tetap bertekad untuk mempertahankan cintanya kepada playbutch yang juga sahabatku tersebut.

Dengan perasaan bersalah, Kak Vita menjelaskan kepadaku. Meski sebenarnya dia sendiri sudah merasa selalu nyaman berada di dekatku, dia menekankan lagi, kalau sebenarnya dia sudah menganggap aku sebagai adiknya sendiri. Dan dia meminta maaf karena tanpa segaja telah membelokkan orientasi seksku. Ah, jawaban yang sungguh tidak aku harapkan. Aku hanya menundukkan kepala, lesu!

Hampa terasa hidupku tanpa dirimu… belum sempat aku merampungkan duetku dengan Ari Lasso, tiba-tiba ada ketukan halus di pintu kamar kosku. Tanpa mengecilkan volume VCD player-ku, dengan malas aku beranjak untuk membuka pintu.

”Hai… lagi ngapain? Betah banget sih di kamar? Dari tadi diteriakin, nggak keluar-keluar. Di ruang tamu ada yang nyari tuh!” Silvi teman kosku menjelaskan, matanya mencoba mengintip ke dalam kamar.

Setengah penasaran aku berjalan ke ruang tamu. Di sofa tamu kulihat Kak Vita, Dina, dan seorang gadis yang tidak aku kenal.

”Wah-wah-wah… putri tidur kita sudah bangun rupanya?!” sambut Kak Vita dan Dina secara hampir bersamaan. Selanjutnya mereka mengenalkanku pada gadis manis yang ada di antara mereka, yang ternyata tak lain adalah adik kandung Kak Vita yang sedang liburan kuliah dan akan mengikuti program KKN yang diselenggarakan di tempat kerjaku.

Kemudian Kak Vita menjelaskan maksud kedatangan mereka, yang ternyata mau menitipkan adiknya tersebut, untuk bisa kos sekamar denganku. Menurut mereka tempat kosku ini merupakan tempat yang paling nyaman, dibanding tempat kos lain yang sebelumnya mereka datangi. Dan kebetulan di rumah kosku ini memang sudah tidak ada kamar yang kosong lagi.

Sejenak aku terdiam. Sebetulnya aku ingin menolak permintaan mereka, tapi aku menjadi nggak tega setelah melihat travel bag yang dibawanya.

Setelah seminggu sekamar dengan Vini, perlahan keceriaanku mulai hadir kembali. Ternyata karakter Vini bertolak belakang sekali dengan kakaknya. Dia merupakan gadis yang sangat lincah dan mempunyai wawasan sangat luas bagi gadis seumuran kami yang baru menginjak usia 23 tahun.

Malam minggu berikutnya, Vini mengajakku untuk menemani dia pulang ke rumah orangtuanya yang kebetulan hanya beda satu kota dan hanya memakan waktu satu jam perjalanan saja dari tempat kos kami. Tanpa pikir panjang, saat itu aku langsung mengiyakan ajakannya dengan harapan akan bertemu dengan Kak Vita di sana.

Harapan tinggal menjadi harapan. Ternyata minggu ini kak Vita tidak pulang ke rumah orang tuanya dengan alasan kesehatan Dina yang membutuhkan perhatiannya. Kembali aku merasa sangat kecewa. Rasa cemburu seketika memenuhi pikiranku. Aku mencoba menarik nafas dalam-dalam mencoba melepaskan penat yang tiba-tiba menyerangku.

Malamnya rencana jalan-jalan ke pusat kota kami batalkan. Setelah makan malam bersama keluarga, kami berdua langsung masuk kamar dengan alasan mau istirahat. Malam itu kami hanya menghabiskan waktu sambil menonton beberapa film romance remaja yang menjadi koleksi VCD-nya Vini.

Ketika sedang asyik mengikuti alur cerita dari film yang sedang kami tonton, tiba-tiba kudengar tarikan berat napas Vini yang berbaring di sebelahku. Serentak aku langsung memalingkan wajah dari film tersebut. Ups! Kulihat wajah Vini sudah bersimbah air mata. Aku menjadi bingung dibuatnya. Film remaja yang sedang kami tonton adalah film romance komedi.

”Hei! Ada apa, Vin?” tanyaku kebingungan, yang disambut gelengan kepala oleh Vini. Jiwa pelindungku seketika keluar, kucoba menenangkan Vini dengan menarik kepalanya untuk bersandar di bahuku.

Beberapa menit kemudian Vini mulai mengungkapkan kesedihannya, yang membuat aku tersentak. Ternyata selama ini Vini memendam perasaan kepada sahabatku Dina yang sudah menjadi kekasih kakaknya. What? Aku benar-benar kaget. Di mataku Dina sama sekali tidak mempunyai kelebihan yang menonjol, dia hanya gadis tomboi biasa yang teramat sangat percaya diri dengan segala ketomboiannya itu. Gila! Beruntung sekali si Dina mendapatkan ketulusan cinta dari kakak-beradik.

Beberapa jam kemudian, Vini mulai merasa lega setelah mencurahkan segala perasaannya kepadaku. Tanpa sadar kami mulai terlelap. Sampai kemudian aku dikagetkan oleh hembusan napas di kupingku. Dengan enggan kucoba membuka kelopak mataku yang masih terasa sangat berat. Belum sepenuhnya aku membuka mata, tiba-tiba Vini langsung mencium lembut bibirku.

Hari masih sangat pagi, ketika tiba-tiba kudengar ada ketukan lumayan keras di pintu kamar. Vini serentak membuat kami terbangun kaget begitu mendapati tubuh kami berdua sedang berpelukan.

Setelah kejadian yang sama sekali tidak kami rencanakan tersebut, Vini meminta maaf kepadaku. Aku hanya tersenyum sambil mengangguk sebagai tanda aku mengerti atas segala kekhilafannya, yang sebetulnya telah memberikan pengalaman baru setelah pengalamanku bersama kakaknya. Pengalaman yang membuatku merasa yakin kalau aku benar-benar lesbian.

@Jupiter, SepociKopi, 2007

Ditulis dalam Coretanku | Bertanda: | Leave a Comment »

The Constraint of Freedom – Jupiter

Ditulis oleh jupiter di/pada Agustus 21, 2007

The Constraint of Freedom
Tuesday, August 21, 2007
Oleh: Jupiter

17 Agustus 2007. Hari ini, di sini. Inilah hari yang seharusnya menggoreskan satu cerita indah tentang arti kata ’merdeka’. Hari istimewa yang sudah kami nantikan selama hampir dua minggu memberikan ironi yang berbeda. Akhirnya kami dipaksa untuk menerima kenyataan pahit bahwa sesungguhnya cinta yang kami punya selamanya tidak akan pernah bisa terwujud nyata.

Mungkin kekasihku telah disuntik sejenis racun anti kebebasan. Mereka yang menyebut diri ”keluarga terkasih” tega menjebloskan kekasih ke dalam satu jeruji rumah tangga yang teramat sangat pengap. Kebebasan? Astaga. Bagi kami, kata itu adalah kata yang sangat mahal harganya. Jangankan mempunyai dan menikmatinya, sekadar mengemisnya pun kami tak sanggup.

17 Agustus 2007. Hari ini, di sini. Di dataran kota yang sama, yang hanya berjarak 200 meter dari istana emas yang memenjarakan kekasih, aku check in. Setelah menabung sekian lama, akhirnya aku berani membumbungkan sayapku tinggi-tinggi, terbang melintas ratusan kota dan desa, menuju kota terkenal di Sumatra, kota tempat kekasih merajut mimpi bertemu denganku.

Dalam taksi yang membawaku ke hotel, ponselku menjerit. Sepotong SMS masuk. Dari kekasih. Aku membaca cepat, seketika hatiku berdarah. Kelopak mataku memanas menahan desakan buliran air mata. Inilah bunyi SMS itu.

My parents finally know. I think I am coming out now. I am sorry, forgive me. I didn’t mean to make you suffered by them.

Aku termangu.

Kekasih merupakan sosok perempuan yang mempunyai banyak potensi. Pendidikan serta keterampilan yang dimilikinya merupakan cermin dari kemajuan zaman. Namun semua itu menjadi sia-sia. Tak ada seorang pun diperbolehkan untuk melihat, merasakan, apalagi menikmati segala keindahan yang dimilikinya.

Seperti Siti Nurbaya, dia dinikahkan dengan Datuk Maringgih. Di balik istana emasnya, dia menggigil dalam Gua Rumah Tangga kamuflase, yang dikibarkan untuk mengusung kehormatan keluarga besar. Tak ada cinta, tak tersentuh hasrat. Hak merdekanya telah dirampas secara paksa. Di era globalisasi, di mana teknologi sudah menjadi santapan sehari-hari, cerita hidup kekasih memang sulit untuk dipahami.

Di hotel, aku hanya bisa menunggu. Tak ada yang bisa aku perbuat selain bersabar. Sunyi, sepi dan hampa. Bibirku bergetar hebat, menahan geram yang mulai tak sanggup kutahan. Mendadak aku yakin, perjalananku yang telah melintasi hamparan samudra serta rimbunnya hutan Sumatra sama sekali tidak akan membuahkan hasil.

Dia tidak diizinkan pergi oleh bundanya, bahkan untuk sekadar menengokku di hotel. Cinta kami dianggap hina dan nista oleh mereka. Tiga hari aku nggak bisa melakukan apa-apa, hanya bengong dan menunggu. Kekasih berusaha berontak, nekat mengunjungiku. Tapi pertemuan lima belas menit kami menjadi hambar karena ternyata suaminya berhasil memergoki kami berdua di kamar hotel. Hhhh… Kutatap wajah suaminya. Tampaknya dia adalah lelaki yang baik hati. Tapi kekosongan jiwanya terpancar sangat jelas sehingga membuatku turut iba. Dia tidak ada bedanya dengan kondisiku.

17 Agustus 2007. Hari ini, di sini. Di satu kota yang menjunjung tinggi nilai agama, aku dihadapkan pada satu kenyataan pahit yang mengiris hati dan melecehkan perjuangan pahlawan perempuan Indonesia. Bayang-bayang impian tentang pertemuan penuh kebahagiaan kami kandas. Kekasih dipenjara di rumahnya. Aku diinterogasi bak seorang pencuri ketahuan mencuri ayam. Padahal tidak ada niat jahat sedikit pun. Hatiku penuh cinta.

Abang kekasih sepenuhnya menyalahkanku, sebagai perempuan perusak rumah tangga orang. Mereka mengancam akan melibatkan pihak berwajib jika aku tidak mengakhiri hubunganku dengannya. Dengan tetap menjaga ketenangan, aku terpaksa harus berbohong, mengatakan aku tidak tahu apa yang mereka maksud. Kukatakan bahwa aku dan kekasih adalah teman, titik. Aku datang ke kota ini dengan tujuan bisnis, bukan pertemuan romantis ala sepasang lesbian yang saling kesengsem. Meski harus bohong, tapi itu bohong demi kebaikan. Karena kalau saat itu aku jujur, aku takut terjadi hal yang lebih buruk pada kekasihku. Saat itu, kuhadapi kemarahan mereka dengan sangat tenang dan sama sekali tidak ada rasa gentar!

Maafkan aku, kekasih. Aku tahu dia pasti akan menangis semalaman, sampai matanya sembap. Aku tak sempat melihat bilur tubuh dan lengannya yang lebam disebabkan oleh cekalan tangan perkasa dari tujuh orang. Cekalan yang bertujuan agar kekasih tidak nekat kabur bersamaku. Kata kekasih, tubuhnya sakit, tapi lebih sakit lagi jiwanya.

Sementara aku? Gara-gara interogasi mereka, aku ketinggalan pesawat. Untung Air Asia mempunyai kursi kosong pada jam berikutnya, sehingga aku tetap bisa pulang. Aku tidak dapat membayangkan apa lagi yang harus kuhadapi jika aku harus tinggal sehari lagi.

17 Agustus 2007. Hari ini, di sini. Kemerdekaan menjadi barang usang bagiku dan kekasih. Lupakan kebebasan. Lupakan freedom. Yang kupunya hanyalah kertas kumal yang isinya tulisan tanganku. Tulisan dari jari-jari gemetar dan kertas yang penuh air mata. Tulisan kacau balau. Berantakan, tentang arti kata merdeka yang sesungguhnya…

@Jupiter, SepociKopi, 2007

Ditulis dalam Coretanku, Sepocikopi archives | Leave a Comment »

The Constraint of Freedom – Jupiter

Ditulis oleh jupiter di/pada Agustus 21, 2007

The Constraint of Freedom
Tuesday, August 21, 2007
Oleh: Jupiter

17 Agustus 2007. Hari ini, di sini. Inilah hari yang seharusnya menggoreskan satu cerita indah tentang arti kata ’merdeka’. Hari istimewa yang sudah kami nantikan selama hampir dua minggu memberikan ironi yang berbeda. Akhirnya kami dipaksa untuk menerima kenyataan pahit bahwa sesungguhnya cinta yang kami punya selamanya tidak akan pernah bisa terwujud nyata.

Mungkin kekasihku telah disuntik sejenis racun anti kebebasan. Mereka yang menyebut diri ”keluarga terkasih” tega menjebloskan kekasih ke dalam satu jeruji rumah tangga yang teramat sangat pengap. Kebebasan? Astaga. Bagi kami, kata itu adalah kata yang sangat mahal harganya. Jangankan mempunyai dan menikmatinya, sekadar mengemisnya pun kami tak sanggup.

17 Agustus 2007. Hari ini, di sini. Di dataran kota yang sama, yang hanya berjarak 200 meter dari istana emas yang memenjarakan kekasih, aku check in. Setelah menabung sekian lama, akhirnya aku berani membumbungkan sayapku tinggi-tinggi, terbang melintas ratusan kota dan desa, menuju kota terkenal di Sumatra, kota tempat kekasih merajut mimpi bertemu denganku.

Dalam taksi yang membawaku ke hotel, ponselku menjerit. Sepotong SMS masuk. Dari kekasih. Aku membaca cepat, seketika hatiku berdarah. Kelopak mataku memanas menahan desakan buliran air mata. Inilah bunyi SMS itu.

My parents finally know. I think I am coming out now. I am sorry, forgive me. I didn’t mean to make you suffered by them.

Aku termangu.

Kekasih merupakan sosok perempuan yang mempunyai banyak potensi. Pendidikan serta keterampilan yang dimilikinya merupakan cermin dari kemajuan zaman. Namun semua itu menjadi sia-sia. Tak ada seorang pun diperbolehkan untuk melihat, merasakan, apalagi menikmati segala keindahan yang dimilikinya.

Seperti Siti Nurbaya, dia dinikahkan dengan Datuk Maringgih. Di balik istana emasnya, dia menggigil dalam Gua Rumah Tangga kamuflase, yang dikibarkan untuk mengusung kehormatan keluarga besar. Tak ada cinta, tak tersentuh hasrat. Hak merdekanya telah dirampas secara paksa. Di era globalisasi, di mana teknologi sudah menjadi santapan sehari-hari, cerita hidup kekasih memang sulit untuk dipahami.

Di hotel, aku hanya bisa menunggu. Tak ada yang bisa aku perbuat selain bersabar. Sunyi, sepi dan hampa. Bibirku bergetar hebat, menahan geram yang mulai tak sanggup kutahan. Mendadak aku yakin, perjalananku yang telah melintasi hamparan samudra serta rimbunnya hutan Sumatra sama sekali tidak akan membuahkan hasil.

Dia tidak diizinkan pergi oleh bundanya, bahkan untuk sekadar menengokku di hotel. Cinta kami dianggap hina dan nista oleh mereka. Tiga hari aku nggak bisa melakukan apa-apa, hanya bengong dan menunggu. Kekasih berusaha berontak, nekat mengunjungiku. Tapi pertemuan lima belas menit kami menjadi hambar karena ternyata suaminya berhasil memergoki kami berdua di kamar hotel. Hhhh… Kutatap wajah suaminya. Tampaknya dia adalah lelaki yang baik hati. Tapi kekosongan jiwanya terpancar sangat jelas sehingga membuatku turut iba. Dia tidak ada bedanya dengan kondisiku.

17 Agustus 2007. Hari ini, di sini. Di satu kota yang menjunjung tinggi nilai agama, aku dihadapkan pada satu kenyataan pahit yang mengiris hati dan melecehkan perjuangan pahlawan perempuan Indonesia. Bayang-bayang impian tentang pertemuan penuh kebahagiaan kami kandas. Kekasih dipenjara di rumahnya. Aku diinterogasi bak seorang pencuri ketahuan mencuri ayam. Padahal tidak ada niat jahat sedikit pun. Hatiku penuh cinta.

Abang kekasih sepenuhnya menyalahkanku, sebagai perempuan perusak rumah tangga orang. Mereka mengancam akan melibatkan pihak berwajib jika aku tidak mengakhiri hubunganku dengannya. Dengan tetap menjaga ketenangan, aku terpaksa harus berbohong, mengatakan aku tidak tahu apa yang mereka maksud. Kukatakan bahwa aku dan kekasih adalah teman, titik. Aku datang ke kota ini dengan tujuan bisnis, bukan pertemuan romantis ala sepasang lesbian yang saling kesengsem. Meski harus bohong, tapi itu bohong demi kebaikan. Karena kalau saat itu aku jujur, aku takut terjadi hal yang lebih buruk pada kekasihku. Saat itu, kuhadapi kemarahan mereka dengan sangat tenang dan sama sekali tidak ada rasa gentar!

Maafkan aku, kekasih. Aku tahu dia pasti akan menangis semalaman, sampai matanya sembap. Aku tak sempat melihat bilur tubuh dan lengannya yang lebam disebabkan oleh cekalan tangan perkasa dari tujuh orang. Cekalan yang bertujuan agar kekasih tidak nekat kabur bersamaku. Kata kekasih, tubuhnya sakit, tapi lebih sakit lagi jiwanya.

Sementara aku? Gara-gara interogasi mereka, aku ketinggalan pesawat. Untung Air Asia mempunyai kursi kosong pada jam berikutnya, sehingga aku tetap bisa pulang. Aku tidak dapat membayangkan apa lagi yang harus kuhadapi jika aku harus tinggal sehari lagi.

17 Agustus 2007. Hari ini, di sini. Kemerdekaan menjadi barang usang bagiku dan kekasih. Lupakan kebebasan. Lupakan freedom. Yang kupunya hanyalah kertas kumal yang isinya tulisan tanganku. Tulisan dari jari-jari gemetar dan kertas yang penuh air mata. Tulisan kacau balau. Berantakan, tentang arti kata merdeka yang sesungguhnya…

@Jupiter, SepociKopi, 2007

Ditulis dalam Coretanku | Bertanda: | Leave a Comment »