RENUNGAN JUPITER

Keikhlasan itu umpama seekor semut hitam, di atas batu yang hitam, di malam yang amat kelam.

Arsip untuk Juli, 2007

Toilet Cinta – Jupiter

Ditulis oleh jupiter di/pada Juli 16, 2007

Toilet Cinta
Monday, July 16, 2007
(*untuk pembaca dewasa)
Oleh: Jupiter

Dering ponselku berbunyi. Kuangkat dan kusapa dengan lembut. Sapaku dijawab tak kalah lembut. Sejenak aku tertegun mendengar suaranya. Dia bertanya apa aku baik-baik saja? Terbata aku menjawab, aku nggak baik! Setengah tahun aku merindukan suaranya, setengah tahun pula aku mencoba memendam segala perasaanku. Aku kira dia sudah melupakanku.

Aih. Ternyata diamnya hanya untuk mengumpulkan keberanian.

Selanjutnya dia bilang dia sangat menyayangiku. Aku melambung. Cihuuuuy! Perlahan kukatakan hal yang sama. Kemudian dia mengakhiri telepon dengan janji untuk segera menemuiku. Tuhan, terima kasih, ternyata cintaku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku buru-buru menyiapkan kamar tamu untuk menyambut kehadirannya. Aku menciptakan nuansa biru. Biru adalah warna rindu. Sore pun tiba dengan cepat. Tak sabar kupacu mobil bututku untuk menjemputnya.

Setelah hampir satu jam aku menunggu, aroma tubuhnya mulai menusuk hidungku. Nah, pasti itu dia! Sesosok gadis berperawakan ramping dengan raut wajah menawan yang selama ini selalu menyelimuti hati dan pikiranku melangkah gemulai melewati pintu kedatangan. Dia mengenakan kaus hitam dengan celana blue jeans yang agak ketat, menonjolkan lekuk tubuhnya. Hm, pemandangan yang indah. Dia mencari-cariku melalui mata lentiknya. Dia terus melangkah, kelihatan gelisah banget, menuju deretan kursi tunggu yang letaknya nggak jauh dari tempatku bersandar. Tangan kirinya menyeret travel bag hitam mungil, sementara tangan kanannya mulai menekan-nekan keypad ponsel, meneleponku.

Tiba-tiba rasa isengku mampir. Kutekan keypad penolakan.

Seketika kulihat raut wajahnya berubah masam. Dia mencoba lagi menghubungiku. Namun tetap kutolak panggilan teleponnya. Dengan kesal dia mengempaskan tubuhnya di kursi tunggu. Sebaris umpatan kesal mampir di ponselku melalui SMS. Aku tidak bisa menahan geli. Kubalas dengan sebaris kebohongan seolah aku masih terjebak macet di jalan dan baru setengah jam lagi aku baru bisa menyambut kedatangannya. Sesaat bibir tipisnya merengut.

Lima menit kemudian dia mulai beranjak. Dia menghampiri toilet umum yang letaknya tidak jauh dari pintu kedatangan. Dengan berjinjit layaknya pencuri yang tengah mengintai mangsanya, perlahan kuikuti terus dari belakang. Mungkin keberuntungan memang sedang berpihak padaku karena secara kebetulan toilet yang biasanya ramai kali itu benar-benar sangat sepi. Hanya aku, dia, dan seorang penjaga toilet yang kebetulan sedang menjalankan tugasnya membersihkan lantai.

Perlahan aku menghampiri penjaga toilet. Setelah membisikkan pesan singkat dan menyelipkan dua lembar uang tutup mulut, aku mulai berjinjit lagi mengikuti mangsaku. Ketika mangsaku mulai memasuki toilet, serentak aku langsung menyergapnya dari belakang. Kubisikan ucapkan selamat datang di telinganya. Sesaat dia mau berontak dan mencoba berteriak, namun secepat kilat kubalikkan tubuhnya hingga wajah kami pun langsung berhadapan.

Begitu beradu tatap, teriakannya menjadi tertahan. Aroma tubuhnya yang menusuk hidungku spontan membangkitkan adrenalin darahku yang memang sudah lama menahan kerinduan pada si pencuri hatiku ini. Aku mengecup dahinya. Masih dengan mimik muka kaget, perlahan bibir tipisnya mulai bergerak seolah mau mengatakan sesuatu. Belum sempat barisan kata itu keluar, kukecup bibir itu. Sesaat kurasakan ketegangan tubuh yang ada di pelukanku mulai mencair; dia mulai merespons ciumanku.

Perlahan aku mendorong pintu toilet yang masih terbuka lebar itu dengan satu kaki. Kecupan kami berubah menjadi pagutan yang sangat hangat. Kedua tangannya yang masih terjuntai karena kekagetannya tadi perlahan mulai merangkul leher dan punggungku. Napas kami pun mulai memburu, bagaikan dua makhluk yang sama-sama tengah mencoba untuk menuntaskan dahaganya. Gerakan kami bertambah liar dalam gejolak hasrat.

Hampir dua puluh menit kami saling memberikan kehangatan di tubuh masing-masing, sampai akhirnya erangan halus mulai keluar dari bibirnya. Spontan kupagut bibir itu! Biar nggak berisik. Entah sudah berapa puluh kali kutekan tombol penyiram closet untuk menyamarkan kerusuhan yang kami buat. Tubuh kami mengejang bersamaan. Kali ini sensasinya benar-benar memabukkan.

Kami berdekapan sangat erat, hingga napas kami mulai berangsur normal kembali. Perlahan dia mulai merenggangkan pelukannya. Aku memalingkan wajah, mencoba menatap air mukanya yang memancarkan aura seksi. Senyum yang begitu manis tersungging di bibir. Sorot matanya seolah mencoba untuk menyusuri setiap mimik bingung di wajahku.

”Kamu beneran Dewaku, kan?” Spontan dia tertawa geli setelah bertanya seperti itu.

Aku juga ikut tertawa.

“Kamu jahat! Tega banget sih? Tadi aku sempet bete sama kamu. Emang enak, udah semangat, taunya disuruh nunggu setengah jam lagi. Huh, sedih tau!” serbunya lagi sambil melancarkan cubitan.

“Aduh! Udah dong nyubitnya. Aku ngaku salah deh. Ampun, Nyonya!”

Dia cemberut. Wah, wajahnya manis sekali kalau lagi begitu.

”Udah ah, keluar yuk! Nggak lucu lho kalau kita mesti nginep di sini!” ajakku sambil membuka pintu toilet dengan kaki, sementara kedua tanganku tetap merangkul pinggangnya, seolah enggan menyudahi kemesraan kami barusan.

Benar saja! Begitu kami keluar, penjaga toilet yg sudah aku suap, langsung memberikan isyarat kalau waktu yang aku sewa sudah selesai. Dengan mengacungkan ibu jari aku menjawab peringatannya. Beberapa menit kemudian toilet yg tadinya sepi mulai ramai lagi. Beberapa ibu-ibu masuk sambil bersungut-sungut kesal. Sepintas mereka menatap bingung ke arah kami yang sedang asyik membasuh muka. Kami membalas tatapan bingung mereka dengan senyuman yang sangat manis. Setelah merasa segar, kami pun keluar. Di pintu toilet kulihat penjaga yang tadi kusuap tersenyum melihat keceriaanku. Kuhampiri dia lalu kuselipkan lagi selembar lima puluh ribuan sebagai ungkapan rasa terima kasihku atas segala pengertiannya. Kami pun berlalu meninggalkan toilet cinta itu sambil cekikikan. (Jupiter doc/Juli 2007)

Ditulis dalam Coretanku, Sepocikopi archives | Leave a Comment »

Toilet Cinta – Jupiter

Ditulis oleh jupiter di/pada Juli 16, 2007

Toilet Cinta
Monday, July 16, 2007
(*untuk pembaca dewasa)
Oleh: Jupiter

Dering ponselku berbunyi. Kuangkat dan kusapa dengan lembut. Sapaku dijawab tak kalah lembut. Sejenak aku tertegun mendengar suaranya. Dia bertanya apa aku baik-baik saja? Terbata aku menjawab, aku nggak baik! Setengah tahun aku merindukan suaranya, setengah tahun pula aku mencoba memendam segala perasaanku. Aku kira dia sudah melupakanku.

Aih. Ternyata diamnya hanya untuk mengumpulkan keberanian.

Selanjutnya dia bilang dia sangat menyayangiku. Aku melambung. Cihuuuuy! Perlahan kukatakan hal yang sama. Kemudian dia mengakhiri telepon dengan janji untuk segera menemuiku. Tuhan, terima kasih, ternyata cintaku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku buru-buru menyiapkan kamar tamu untuk menyambut kehadirannya. Aku menciptakan nuansa biru. Biru adalah warna rindu. Sore pun tiba dengan cepat. Tak sabar kupacu mobil bututku untuk menjemputnya.

Setelah hampir satu jam aku menunggu, aroma tubuhnya mulai menusuk hidungku. Nah, pasti itu dia! Sesosok gadis berperawakan ramping dengan raut wajah menawan yang selama ini selalu menyelimuti hati dan pikiranku melangkah gemulai melewati pintu kedatangan. Dia mengenakan kaus hitam dengan celana blue jeans yang agak ketat, menonjolkan lekuk tubuhnya. Hm, pemandangan yang indah. Dia mencari-cariku melalui mata lentiknya. Dia terus melangkah, kelihatan gelisah banget, menuju deretan kursi tunggu yang letaknya nggak jauh dari tempatku bersandar. Tangan kirinya menyeret travel bag hitam mungil, sementara tangan kanannya mulai menekan-nekan keypad ponsel, meneleponku.

Tiba-tiba rasa isengku mampir. Kutekan keypad penolakan.

Seketika kulihat raut wajahnya berubah masam. Dia mencoba lagi menghubungiku. Namun tetap kutolak panggilan teleponnya. Dengan kesal dia mengempaskan tubuhnya di kursi tunggu. Sebaris umpatan kesal mampir di ponselku melalui SMS. Aku tidak bisa menahan geli. Kubalas dengan sebaris kebohongan seolah aku masih terjebak macet di jalan dan baru setengah jam lagi aku baru bisa menyambut kedatangannya. Sesaat bibir tipisnya merengut.

Lima menit kemudian dia mulai beranjak. Dia menghampiri toilet umum yang letaknya tidak jauh dari pintu kedatangan. Dengan berjinjit layaknya pencuri yang tengah mengintai mangsanya, perlahan kuikuti terus dari belakang. Mungkin keberuntungan memang sedang berpihak padaku karena secara kebetulan toilet yang biasanya ramai kali itu benar-benar sangat sepi. Hanya aku, dia, dan seorang penjaga toilet yang kebetulan sedang menjalankan tugasnya membersihkan lantai.

Perlahan aku menghampiri penjaga toilet. Setelah membisikkan pesan singkat dan menyelipkan dua lembar uang tutup mulut, aku mulai berjinjit lagi mengikuti mangsaku. Ketika mangsaku mulai memasuki toilet, serentak aku langsung menyergapnya dari belakang. Kubisikan ucapkan selamat datang di telinganya. Sesaat dia mau berontak dan mencoba berteriak, namun secepat kilat kubalikkan tubuhnya hingga wajah kami pun langsung berhadapan.

Begitu beradu tatap, teriakannya menjadi tertahan. Aroma tubuhnya yang menusuk hidungku spontan membangkitkan adrenalin darahku yang memang sudah lama menahan kerinduan pada si pencuri hatiku ini. Aku mengecup dahinya. Masih dengan mimik muka kaget, perlahan bibir tipisnya mulai bergerak seolah mau mengatakan sesuatu. Belum sempat barisan kata itu keluar, kukecup bibir itu. Sesaat kurasakan ketegangan tubuh yang ada di pelukanku mulai mencair; dia mulai merespons ciumanku.

Perlahan aku mendorong pintu toilet yang masih terbuka lebar itu dengan satu kaki. Kecupan kami berubah menjadi pagutan yang sangat hangat. Kedua tangannya yang masih terjuntai karena kekagetannya tadi perlahan mulai merangkul leher dan punggungku. Napas kami pun mulai memburu, bagaikan dua makhluk yang sama-sama tengah mencoba untuk menuntaskan dahaganya. Gerakan kami bertambah liar dalam gejolak hasrat.

Hampir dua puluh menit kami saling memberikan kehangatan di tubuh masing-masing, sampai akhirnya erangan halus mulai keluar dari bibirnya. Spontan kupagut bibir itu! Biar nggak berisik. Entah sudah berapa puluh kali kutekan tombol penyiram closet untuk menyamarkan kerusuhan yang kami buat. Tubuh kami mengejang bersamaan. Kali ini sensasinya benar-benar memabukkan.

Kami berdekapan sangat erat, hingga napas kami mulai berangsur normal kembali. Perlahan dia mulai merenggangkan pelukannya. Aku memalingkan wajah, mencoba menatap air mukanya yang memancarkan aura seksi. Senyum yang begitu manis tersungging di bibir. Sorot matanya seolah mencoba untuk menyusuri setiap mimik bingung di wajahku.

”Kamu beneran Dewaku, kan?” Spontan dia tertawa geli setelah bertanya seperti itu.

Aku juga ikut tertawa.

“Kamu jahat! Tega banget sih? Tadi aku sempet bete sama kamu. Emang enak, udah semangat, taunya disuruh nunggu setengah jam lagi. Huh, sedih tau!” serbunya lagi sambil melancarkan cubitan.

“Aduh! Udah dong nyubitnya. Aku ngaku salah deh. Ampun, Nyonya!”

Dia cemberut. Wah, wajahnya manis sekali kalau lagi begitu.

”Udah ah, keluar yuk! Nggak lucu lho kalau kita mesti nginep di sini!” ajakku sambil membuka pintu toilet dengan kaki, sementara kedua tanganku tetap merangkul pinggangnya, seolah enggan menyudahi kemesraan kami barusan.

Benar saja! Begitu kami keluar, penjaga toilet yg sudah aku suap, langsung memberikan isyarat kalau waktu yang aku sewa sudah selesai. Dengan mengacungkan ibu jari aku menjawab peringatannya. Beberapa menit kemudian toilet yg tadinya sepi mulai ramai lagi. Beberapa ibu-ibu masuk sambil bersungut-sungut kesal. Sepintas mereka menatap bingung ke arah kami yang sedang asyik membasuh muka. Kami membalas tatapan bingung mereka dengan senyuman yang sangat manis. Setelah merasa segar, kami pun keluar. Di pintu toilet kulihat penjaga yang tadi kusuap tersenyum melihat keceriaanku. Kuhampiri dia lalu kuselipkan lagi selembar lima puluh ribuan sebagai ungkapan rasa terima kasihku atas segala pengertiannya. Kami pun berlalu meninggalkan toilet cinta itu sambil cekikikan. (Jupiter doc/Juli 2007)

Ditulis dalam Coretanku | Bertanda: | Leave a Comment »